
Bara membawa Rea masuk ke dalam butik, disana ia disambut langsung oleh Manager untuk memperlihatkan koleksi terbaik gaun pengantin butik itu.
"Andai nikahnya gak dadakan, aku bakal pesen gaun sesuai kemauan kamu," bisik Bara.
"Ini sudah lebih dari cukup, Mas. Gaunnya indah banget, jadi mikir ini mimpi bukan sih?" Rea justru mencubit-cubit pipinya hingga berhasil membuat Bara ingin tertawa.
"Kamu lucu."
"Ih, ngeledek terus."
"Pak Bara, sebelah sini." Manager menginterupsi Rea dan Bara agar mengikutinya.
Mereka berjalan, masuk ke dalam dimana dipenuhi macam-macam gaun pengantin putih dengan model berbeda-beda.
"Bagus banget," gumam Rea.
"Silahkan, suatu kehormatan orang penting seperti Pak Bara memilih butik kami," ujar Manajer dengan sopan.
"Tolong bantu pilihkan yang cocok untuk calon istri saya, Mbak!" titah Bara, sebab ia hanya akan menilai nanti saat Rea sudah mencoba mana yang cocok.
"Baik, Pak. Mari, Bu!" ajak Manager.
Rea hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah Manager itu.
"Mana yang anda suka, Bu?" tanya Manager dengan sopan.
"Tolong jangan panggil Bu, kok kesannya saya tua ya, Mbak." Rea meringis, terus terang merasa risih saat mendapat panggilan Ibu di usianya yang masih dua puluh dua tahun.
"Baik, Nyonya!"
"Ah, apalagi itu. Saya masih terlalu kecil untuk panggilannya, tolong panggil Rea saja!" tolak Rea agar perbincangan mereka tak begitu kaku.
"Mbak Rea," ujar Manager butik, Rea hanya bisa menghela napas.
"Lebih baik ketimbang panggilan yang tadi," ujar Rea dan Manager hanya membalasnya dengan senyum. Ia menurut langkah Manager, melihat-lihat gaun mana yang cocok untuknya.
Manager itu tampak berfikir sambil meneliti wajah dan tubuh Rea.
"Hmmm..."
"Apa tubuhku jelek?" tanya Rea membuat sang Manager lagi-lagi tersenyum karena kepolosan seorang calon istri Bara Alnav.
"Tidak, tubuh anda sangat bagus, Bu!"
"Ibu lagi, haisshhh..." Rea mencibir, tiba-tiba tubuh Bara sudah berada di belakangnya membuat Rea tersentak.
"Mas, ngagetin!"
"Kamu pasti bingung, biar aku yang pilihkan beberapa." Bara berujar dengan tenang, ia pun memilih beberapa sementara Manager meminta para pelayan untuk membantu Rea mencoba gaunnya.
"kamu coba dulu sayang," bisik Bara.
Rea hanya bisa menurut, lantas menuju ruang ganti sementara Bara menunggu di depan.
"Bara? Bara ya?" sapa seorang wanita, menepuk pelan pundak Bara. Ia sudah memperhatikan laki-laki itu sejak tadi, memastikan bahwa apa yang ia lihat memang benar.
Bara menoleh, lalu terkejut.
"El?"
Wanita itu tersenyum manis, ini pertama kalinya sejak berpisah mereka bertemu.
"Cocok nggak, Mas?" tanya Rea setelah keluar dari kamar ganti. Namun, Rea seketika diam melihat Bara bersama seorang wanita dan yang membuatnya kesal sama sekali tak mendengar ucapannya.
Rea mendadak lesu, ia kembali masuk ke kamar ganti.
"Apa kabar? sepertinya kamu begitu senggang sampai di hari dan jam kerja berada di butik?" tanya Eliza.
"Aku menemani..." Bara menoleh ke kamar ganti dan tak melihat Rea keluar.
"Sebentar, aku tinggal dulu." Bara pamit, akan tetapi Eliza mencekal pergelangan tangan laki-laki itu.
"Ah maaf, tapi ada hal penting yang sudah lama ingin aku bicarakan. Bisa kita mengobrol sebentar saja? kebetulan kita bertemu," ujar Eliza.
"Hal penting apa?" tanya Bara.
"Aku tidak bisa membicarakannya disini, terlalu ramai."
"Penting banget kah?" tanya Bara.
Eliza mengangguk.
Bara menghela napas, "berikan nomor ponselmu, kita bisa bertemu lain kali."
Rea keluar dengan memasang wajah kesal, ia menghampiri Bara dengan gaun pengantin akan tetapi langkah tegap layaknya mau perang.
"Sayang, aku nungguin dari tadi." Rea berkacak pinggang, dan Bara menoleh terkejut.
"Astaga, sayang. Maaf, aku jadi membuatmu kesal." Bara mengusap kepala Rea, ia tahu gadis itu sekarang sangat kesal karenanya.
"Sayang?" Eliza terkejut.
"Oh, iya. El, kenalkan ini calon istriku," ujar Bara membuat Eliza membola.
Rea sedikit enggan, akan tetapi karena tak enak dengan Bara akhirnya ia menjabat tangan wanita itu.
"Eliza."
"Rea."
"Dahlah, aku mau ganti baju." Rea berlalu dengan masih menahan kedongkolannya.
"Astaga Bara, jadi kamu cerai?" tanya Eliza, karena ia juga cukup tahu Bara menikah dengan Najira.
"Hm begitulah, aku tinggal dulu!" Bara menyusul Rea. Ia langsung membuka pintu kamar ganti hingga membuat Rea memekik.
"Mas, main masuk aja!"
"Tidak ada yang melarang," ujar Bara.
"Sudahlah sana, dia mantanmu kan?"
"Kamu cemburu, kita tadi gak sengaja bertemu," jelas Bara.
"Bertemu juga untuk apa bertukar nomor ponsel? mau menjalin hubungan lagi? jangan-jangan dia sekarang janda dan mau balik lagi sama kamu," sinis Rea.
"Enggak sayang, kamu kalau cemburu bikin gemes."
"Hmmm..."
"Jadi kamu pilih yang mana?" tanya Bara.
Rea menunjuk satu gaun pilihannya, dan Bara mengangguk setuju.
Mereka pun keluar dan mendapati Eliza masih berada di butik itu.
"Bara."
Rea mendekus sebal, mendengar wanita itu memanggil Bara dengan lembut.
"Ya El?"
Eliza menatap Bara, "jadi kamu beneran sudah bercerai dengan wanita itu?"
Eliza masih tak percaya, dan Bara hanya mengangguk sebagai jawaban sebab di sampingnya wajah Rea sudah sangat tidak bersahabat.
"Baguslah, dan selamat untuk gadis sampingmu." Eliza tersenyum.
Detik berikutnya, Rea menatap Eliza dengan dahi mengernyit sedang Bara hanya bisa menggaruk kepalanya merasakan oase udara yang semakin panas.
"Aku sering melihat istrimu keluar masuk apartemen tapi bukan dengan dirimu, apa itu penyebab perceraian kalian?" tanya Eliza.
"Mbak Eliza, ini masalah pribadi kami, jika kamu bertanya hanya karena butuh jawaban dari rasa penasaran kamu, mending stop! Kita masih banyak urusan," ujar Rea menarik tangan Bara.
Eliza hanya bisa menatap sang mantan menjauh bersama seorang gadis dengan tangan terlipat di dada.
"Ck! Padahal jika iya, aku hanya ingin menertawakanmu di tempat," gumam Eliza, menggelengkan kepala dengan senyum remeh meski Bara sudah menghilang dari pandangan.
"Rea, kamu galak banget kalau cemburu!"
"Siapa yang cemburu, aku hanya malas! Mas Bara apa nggak ngerasa kalau dia mau nertawain kamu, mau ngeledek kamu karena sudah meninggalkannya dulu dan menikahi Mba Najira yang berujung cerai. Apa Mas pikir setelah meninggalkannya dulu, dia masih bisa bersikap baik?"
"Buktinya dia baik Rea."
"Dia hanya pura-pura baik, Mas."
"Hm, sudahlah. Jangan bahas orang lain, dia hanyalah masalalu tak penting," bujuk Bara, ia meraih tangan Rea dan mengajaknya masuk ke mobil.
"Kita tadi cuma coba baju?" tanya Rea.
"Ya, orangku akan mengaturnya."
Rea mengangguk-ngangguk, ia mulai paham kehidupan orang kaya. Hanya, masih tidak suka jika dirinya dipanggil Ibu, Nyonya atau Nona, ia lebih suka di panggil Rea, hya Rea.