SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
104. Sugar season 2



Hari minggu harusnya menjadi momen tenang bagi Reivan. Terlepas dari penatnya kerjaan kantor yang tak pernah habis. Belum lagi beberapa berkas yang harus ia cek bersama Arsen di rumah. Mantan duda setengah mateng itu hampir tak memiliki waktu tenang di hidupnya. Apalagi sejak kehilangan Alira. Reivan selalu menyibukkan diri dengan kerja, kerja, dan kerja. Bekerja adalah satu pelariannya melupakan Alira. Sosoknya yang begitu berarti di dalam hati membuat Reivan kesulitan move on kemarin-kemarin.


Hal itu juga yang membuat Sarah, sang mama yang kurang menyukai Alira. Sarah keberatan dengan profesi Alira sebagai model karena kebanyakan wanita yang memiliki profesi itu selalu punya scandal di dalamnya.


Pun dengan Aderald, dia juga kurang menyukai istri pertama Reivander.


Flash back on,


"Alira kamu sudah tidak perawan?" tanya Reivander dengan kening mengkerut.


"Sorry, kalau aku nggak jujur. Tapi apa kamu akan marah? Reivan, kamu bilang sejak pertama kali kita saling jatuh cinta kamu akan menerimaku?"


"Aku terima kamu, hanya kaget aja kenapa kamu nggak bilang dari awal?"


"Kalau aku bilang dari awal, apa kamu tetap mau nikahin aku?"


Reivan termenung, ia lantas mengingat kembali ucapan kedua orang tuanya.


"Suka tidak suka, aku akan menikahi Alira!" Suara lantang Reivan memecah kebisuan dua orang tuanya di ruang tamu.


"Ya terserah! Kamu sudah dewasa kan, Alira pilihanmu. Meskipun kami kurang setuju, kami juga tidak akan menghalangi kalian. Menikahlah, tapi ingat. Kamu tidak bisa memaksa kami untuk pura-pura menyukainya. Reivan, profesi model itu sangat riskan dengan scandal." Aderald mengutarakan isi hatinya.


"Kalau aku tahu kamu bakalan sedih, lebih baik dari awal aku jujur. Jadi kita nggak perlu menikah. Meskipun aku sangat mencintai kamu sayang!" Alira menunduk.


"He, kamu ngomong apaan sih! Aku tuh sayang dan cinta sama kamu. Apa yang ada di diri kamu, apapun itu aku terima." Reivan mengusap kepala Alira lantas mendaratkan kecupan singkat disana.


Flash back off.


"Lira..." Reivan terbangun, keringat membasahi dahi. Napasnya sampai ngos-ngosan. Bersamaan dengan Sarah yang sudah membobol kamarnya dan berkacak pinggang.


"Ma," panggil Reivan. Ia memang tahu Mamanya akan datang. Hanya masih tak menyangka akan sepagi ini.


Alesya menggeliat, ia melotot sempurna melihat tubuhnya dan Reivan tak berjarak.


"Mas, kok..." Sejurus kemudian, Alesya teringat semalam mati lampu dan ia sendiri yang meminta Reivan menemaninya tidur di ranjang.


"Kalian, pasangan tidak sah. Bangun pagi dalam keadaan saling memeluk. Enak ya?" sindir Sarah.


"Ma, tapi..."


"Apa? Jadi dia Nona Alesya yang dibilang Arsen." Sarah menghela napas, kali ini tatapan matanya beralih tajam ke arah Reivander.


"Maaf Tante, tapi kami bukan pasangan me sum seperti yang ada di pikiran Tante! kami sudah menikah, dan..."


"Menikah? Menikahmu itu. Mana ada pasangan menikah tanpa meminta restu orang tuanya?" omel Sarah.


Alesya mengangguk, ia turun setelah membasuh wajahnya.


"Reivan, siapa gadis itu? Darimana kamu memgenalnya? Apa dia seorang model?" cerca Sarah.


"Dia istriku Ma. Ceritanya panjang," ujar Reivan mendesah pelan.


"Ya ceritakan, mama mau dengar. Cih sepanjang apa? Mungkin itu hanya akal-akalanmu saja!" Sarah bersedekap dada.


"Mama ingat Galen? Keponakan Alira? Dia awalnya adalah calon istri Galen. Aku datang memberi Galen kejutan sekaligus silaturahmi dengan Bara."


"Bara??" tanya Sarah.


"Iya, Ma!"


"Hm..." Sarah mengangguk-ngangguk.


"Lalu?" tanyanya lagi masih belum puas mendengar penjelasan Reivan yang berbelit.


"Aku menggantikan Galen menikahi Alesya karena Galen tak datang. Ia malah melakukan scandal dengan sahabat Alesya. Jadi, pernikahan kami juga belum resmi. Nunggu restu mama turun," ujar Reivander.


Sarah terdiam, ia malah bangkit tanpa menjawab Reivander. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang tengah berkutat di dapur. Kebetulan letak dapur bisa dilihat dari lantai atas dan Sarah bisa melihat dengan jelas bagaimana Alesya melayani putranya.


"Berapa umurnya? Dia terlihat cekatan dan dewasa?" tanya Sarah.


"Dua puluh dua tahun, Ma!"


"Apa? Kau menikahi seorang bocah? Jangan bilang dia masih kuliah. Astaga kau bahkan menikahi wanita seumuran dengan Richi. Tidak-tidak, bahkan Richi adikmu lebih tua darinya."


Bersama pelayan, Alesya menyiapkan sarapan pagi. Bukan Roti atau sanwich melainkan nasi, beberapa lauk salah satunya udang goreng krispy. Alesya juga memasak sayur tumis. Masakan sederhana khas rumahan itu adalah menu sehari-hari di rumah orang tuanya.


"Silahkan Tante," ucap Alesya mempersilahkan Reivan dan Sarah sarapan. Karena semua sudah siap.


"Hm." Singkat Sarah.


Alesya kembali diam, setelah membersihkan diri ia ikut bergabung. Ale juga melayani Reivander di meja makan. Hal yang akhir-akhir ini ia anggap sebagai tugas menjadi istri. Menyiapkan apapun keperluan Reivan kecuali perihal ranjang.


Sarah menatap Alesya dan Reivan bergantian, "sore nanti, Papamu akan menyusul kesini. Kita akan menginap dua atau tiga hari jadi..."


"Menginap, Ma?" Reivan seperti keberatan.


Namun, tidak dengan Alesya. Ia malah terlihat santai menghadapi Sarah.