SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 76



"Istriku sedang apa?" tanya Bara yang baru saja turun. Hari masih gelap, sebab ia terbangun jam empat pagi dan mendapati Rea tak berada di sisinya hingga membuat ia turun untuk mencari keberadaan Rea.


"Aku lapar, gak tau kenapa laper banget!"


"Oh, laper. Tapi ini kan kamu bisa bangunin aku," ujar Bara.


"Aku nggak mau ngrepotin Mas Bara terus!"


Bara tak menjawab, ia memeluk Rea dari belakang.


"Besok Bibi Liam akan datang, dia akan melayani keperluan kamu disini," ujar Bara.


"Benarkah?" tanya Rea.


Bara mengangguk, "tapi Bibi akan pulang jika sudah selesai makan malam," bisik Bara tepat di belakang telinga Rea.


"Bibi Liam tidak menginap?" tanya Rea.


"Tentu tidak, dia tinggal di daerah sini dan anak-anaknya masih sekolah," ujar Bara.


"Baiklah, kalau nggak sampai malam pun juga gak apa-apa, aku bisa masak sendiri buat kamu, Mas."


"Aku nggak mau kamu capek-capek sayang. Masak boleh, tapi tetep harus jaga kondisi dan kesehatan kamu. Nanti kalau kamu beneran sehat dan udah nggak mual-mual lagi, aku akan ajak kamu jalan-jalan," janji Bara.


"Tapi setahuku orang hamil nggak boleh perjalanan jauh," ucap Rea.


"Boleh, kata siapa nggak boleh? itu artis Indonesia banyak yang hamil liburan ke luar negeri, semua itu tergantung kondisi badan kita. Dan satu, pikiran kita nggak boleh stress dan banyak masalah."


"Hm, begitu ya?"


"Iya, kalau masalah kita nggak ada jalan keluarnya, solusinya ya kita yang keluar jalan-jalan!" Bara menciumi pipi Rea membuat konsentrasi akan memasaknya seketika buyar.


"Mas stop, anak kamu lapar ini," gerutu Rea.


"Yaudah kamu duduk, serahin semuanya sama chef Bara!"


"Hah?" Rea terbengong.


"Kenapa, ragu sama masakan Mamasmu ini?" Bara menaik turunkan alis setelah membimbing Rea agar duduk santai di kursi dan membiarkannya beraksi.


"Nggak aku,-" Rea terdiam, ia justru senang Bara mau memasak untuknya.


Dengan gesit suaminya itu memotong-motong sayur dan daging sebab Rea sudah menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sup disana hingga memudahkan Bara memasak.


Beberapa menit kemudian aroma wangi masakan menguar, Rea semakin tak sabar untuk makan meski masih terlalu pagi.


"Duh baunya, makin laper kan." Rea mendekat ke arah Bara tak sabar.


"Ada kan nasinya? takutnya aku udah masak lupa gak masak nasi hehe," ujar Bara.


"Ada kok, aku sudah masak. Mas makan sekalian ya, biar aku ada temennya!" pinta Rea.


Bara mengangguk, sebenarnya ia jarang sekali sarapan pagi. Di pernikahan sebelumnya ia lebih sering menikmati sarapannya dengan segelas susu dan roti selai. Namun, bersama dengan Rea mulai sekarang mungkin paginya akan lebih banyak berwarna.


Bara masih menikmati libur pengantinnya, siang ini mereka ada janji dengan dokter obgyn untuk periksa.


Namun, dahinya seketika mengkerut saat Joan menyodorkan amlop coklat titipan Aron pagi tadi sebelum berangkat ke kantor.


"Apa itu yang?" tanya Rea.


Bara mengedikkan bahu, "entah, coba buka bentar! kata Joan ada yang mengirim ini ke rumah Papa."


Bara meminta Rea masuk ke dalam mobil, kemudian membuka amplop itu sebelum berangkat ke rumah sakit.


"Dari siapa?" Rea semakin penasaran.


"Hah, kok bisa?" tanya Rea.


"Bisa dong, memangnya siapa yang berani tak menurutiku haha, kemarin aku memang kasih paham dua orang itu jika benar-benar menyesali perbuatannya sama kamu, gak disangka kan?"


"Tapi ini, astaga!" Rea masih tak percaya.


"Aku hanya menyuruh mereka menulis maaf 1000 kali dengan materai, itu masih belum cukup sebenarnya sebagai hukuman. Ya karena sepertinya mereka benar tobat, ya sudah terpaksa kita juga harus memaafkan bukan?"


Rea terdiam.


Bara mengambil kembali kertas itu dan hendak melemparkannya keluar.


"Jangan Mas, kita simpan saja haha kali berguna suatu saat nanti," ujar Rea.


"Oh iya ya, ya sudah kamu yang simpan. Asal jangan disimpan di buku memory kamu!"


Deg.


"Buku memoryku, Mas Bara baca?"


"Hm, begitulah."


"Aaaa... Mas Bara ih, harusnya buang aja waktu itu, kenapa juga aku lupa?"


Yang penting mereka sudah tidak ada di hati kamu, itu sudah cukup Rea. Aku gak peduli mau kamu masih ada buku memory itu atau nggak, toh buku itu di Bandung kan bukan kamu bawa kemana-mana?"


"Iya sih, Mas. Yaudah berangkat yuk," ajak Rea.


"Siap." Bara melesatkan mobilnya menuju rumah sakit, tak butuh waktu lama untuk Bara mengurus pendaftaran kini mereka sudah berada di depan ruangan dokter obgyn untuk mengantri.


Melihat beberapa Ibu hamil dengan perut membuncit tanpa suami di sisinya membuat Rea sedih.


Diam-diam memegangi tangan Bara yang duduk di sisinya.


"Mas, janji ya anterin aku periksa sampai anak kita lahir," bisik Rea.


"Iya, pasti. Aku nggak akan biarin kamu sendirian kok."


"Kasian Ibu-ibu itu," ucap Rea sedih.


"Iya-iya udah ya, yang penting aku temenin kamu. Mungkin suaminya sedang sibuk atau mungkin..." Bara terdiam, ia menenangkan Rea yang tak berkedip dan malah berkaca-kaca.


"Takutnya mereka istri yang dicerai pas lagi hamil terus berjuang sendiri seperti novel yang aku baca," terang Rea lagi.


"Hm, kamu kayaknya harus ganti hobi. Jangan terlalu sering baca novel sayang, nanti kebawa perasaan. Mending baca isi hati aku," gumam Bara mengusap-usap bahu Rea.


"Ish, Mas aku serius."


"Aku juga serius loh, ini buktinya gak ketawa!" Bara memasang ekspresi datar agar Rea percaya padanya. Hingga tibalah giliran Rea masuk untuk diperiksa.


Bara dengan sigap berada di samping istrinya saat Rea berbaring untuk pemeriksaan USG, tiba-tiba sudut matanya basah dan pandangannya tak lepas dari layar monitor yang menampilkan kantung kecil di dalam kandungan Rea.


Bara benar-benar terharu, ada makhluk kecil yang tubuh di rahim istrinya. Bukan berlebihan, hanya ia merasa sangat bahagia dan beruntung diberikan kesempatan untuk merasakan bahagianya menjadi suami dan calon ayah.


Setelah berkonsultasi dengan Dokter serta mendapat pembekalan resep, mereka kembali pulang.


Senang, haru, bahagia, syukur bercampur jadi satu. Bara sengaja meminta print foto hasil USG untuk ia pasang di bingkai.


"Calon anakku nih." Bara mengusap perut datar Rea setelah masuk ke dalam mobil.


Ada perasaan hangat yang tak bisa Rea jelaskan saat Bara mengusap-usap perut datarnya. Yang pasti, ia tak akan menyia-nyiakan laki-laki sebaik Bara.


Namun, kedepannya Rea juga harus banyak belajar lagi bersikap lebih dewasa mengingat usianya dan Bara terpaut jauh, Rea tak ingin Bara kerepotan dengan sikapnya yang kadang sangat childish.