SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 77



Hari yang Najira tunggu pun tiba, ia kini duduk manis di depan cermin dengan tubuh terbalut kebaya putih sederhana hasil rancangannya sendiri. Sebuah pernikahan sederhana yang sebenarnya menjadi salah satu impian setelah bercerai.


"Sudah cantik, Mba. Saya yakin calon suami anda pasti akan terkesima!" terang seorang wanita yang bertugas memake-up dirinya.


"Terima kasih," ucap Najira, ia keluar dan bersiap untuk akad, sayang hingga detik ini adik dari calon suaminya masih belum tiba hingga ia hanya ditemani karyawan butik sebagai pendamping.


Hingga langkahnya terhenti di depan sana, dimana Revan dan keluarganya menunggu.


Najira duduk di sisi Revan, dadanya bergemuruh hebat selama prosesi akad dimulai.


Sahhhh!


Teriakan para saksi menjadi penegas bahwa saat ini ia telah sah menjadi istri Revan Andika.


Pernikahan yang ia inginkan tanpa satu orangpun pihak keluarga di sisinya membuat Najira hanya mampu menghela napas panjang.


Ia harus membeli wali sebab tak ada satupun sanak saudara yang menikahkannya.


Lahir dari keturunan tunggal dan tak memiliki siapapun lagi membuatnya menghela napas, merasa miris dan tak pernah berfikir jika pernikahannya kali ini sedikit menemui kerumitan. Beruntung, Revan tak menyerah dan selalu berada di sisinya. Meski begitu, Najira masih diliputi banyak kecemasan kedepannya.


"Mulai sekarang, kami adalah keluargamu. Ibu adalah Ibumu dan Ayah adalah ayahmu," tegas Neya setelah acara sungkeman berakhir.


Tidak seperti Bara dan Rea, pernikahan mereka hanya diadakan di gedung biasa dengan harga sewa ramah kantong. Meski begitu, Revan bahagia sebab hari ini impiannya mempersunting Najira terwujud.


"Makasih Ibu, Ayah. Makasih sudah menerima Najira menjadi bagian dari kalian."


Setelah memeluk Neya, ia beralih mencium punggung tangan Alex.


"Jadikan masalalu sebagaimana pelajaran yang bisa kita ambil untuk bekal kedepannya. Berbahagialah kalian dan semoga selalu dilimpahi banyak-banyak nikmat," ujar Alex.


"Ibu, ada kabar dari Rea?" tanya Revan, pagi tadi adik kecilnya itu mengabarkan sedang on the way bersama Bara. Namun, hingga akad usai mereka masih belum menampakkan diri di acara.


"Gimana, Mas?" tanya Najira yang juga ikut khawatir.


"Mungkin macet sayang, Jakarta - Bandung kan lumayan jauh."


"Ya sudah kita lanjut acara kumpul-kumpulnya, Ayah dan Ibu akan menyambut beberapa tamu!" ujar Alex.


Revan mengangguk, tak berselang lama rombongan karyawan kantornya datang, begitupun atasan yang menyempatkan diri hadir di pernikahannya jauh-jauh dari Jakarta.


"Selamat, Revan Andika. Kamu sudah naik jabatan satu tingkat menjadi suami orang," ujar atasannya dengan wajah kaku akan tetapi nada bicara bercanda.


"Haha terima kasih, Pak. Makasih banyak sudah menyempatkan hadir di acara saya yang gak seberapa ini," ujar Revan.


"Sama-sama, lekas diberi momongan ya kalian. Anak-anak kecil sekarang lucu-lucu, Van. Banyak anak banyak rezeki, hahah!''


"Aamiin, semoga. Saya juga sudah sangat menginginkan anak, Pak!" ujar Revan jujur.


Deg.


Najira yang berada tepat di samping Revan hanya bisa terdiam beku. Ingatan memorynya berputar kala ia pernah memeriksakan diri dan kemungkinan dirinya bisa hamil lagi hanyalah 5 persen.


"Bagimana kalau Mas Revan tau hasil tes itu? apa aku harus jujur, atau aku harus menyembunyikannya rapat-rapat dari Mas Revan agar dia tidak meninggalkanku. Sepertinya memang harus begitu, aku tak mungkin jujur dalam waktu dekat ini, biarlah. Mungkin lebih baik jika Mas Revan tidak tahu sama sekali," batin Najira.


"Mikirin apa?" tanya Revan setengah berbisik.


"Hm, itu. Kenapa Rea dan Mas Bara masih belum datang?" tanya Najira beralasan, padahal sedari tadi pikirannya bukan terfokus pada hal itu, melainkan keinginan Revan untuk segera punya momongan, ia harus bagaimana menghadapinya nanti?


"Mungkin sebentar lagi," ujar Revan.


Benar saja, Bara dan Rea tergesa masuk begitu sampai di tempat acara pernikahan Revan dan Najira.


"Maaf kami terlambat," ujar Bara dan Rea, mereka menghampiri Alex dan Neya lebih dulu kemudian beralih menghampiri Revan dan Najira.


"Selamat ya, Mas, Mba, maaf tadi ban kami bocor di jalan, sementara mau berangkat kemarin Mas Bara sedang banyak kerjaan," ujar Rea memberi alasan.


"Makasih ya, Rea. Kamu sehat kan?" tanya Revan menelisik wajah adiknya.


"Hm, iya sehat kok. Hanya capek akhir-akhir ini." Rea memeluk abangnya sekali lagi untuk mengucapkan selamat.


"Selamat ya, Mba. Baik-baik lah sama Mas Revan dan diberkahi kebahagiaan untuk kalian!" Rea memeluk Najira.


"Makasih Rea, makasih sudah mau datang!"


"Selamat!" ujar singkat Bara ke Revan dan Najira. Tak banyak kata, Bara hanya butuh seperlunya karena ia bukan tipe orang yang suka berbasa basi.


"Kami kesana dulu!" ucap Rea, menarik Bara untuk memilih tempat duduk.


"Kenapa? ada yang sakit?" tanya Bara khawatir.


"Nggak, hanya sedikit mual dengan wangi-wangian bunga!"


"Yaudah aku ambilin minum dulu, mau jalan ke tempat makan juga nggak mungkin, disana rame dan masih mengantri."


Bara bangkit, tak berselang lama ia kembali membawa air putih untuk Rea, walaupun ia harus meminta tolong pada pihak catring untuk mencarinya lebih dulu.


"Hffhhh... Sudah lebih baik," gumam Rea.


Acara demi acara pun terlewat, seperti matahari yang mulai meninggi, hari semakin panas dan waktu istirahat tiba. Revan dan Najira masih kerepotan menyambut beberapa tamu, begitupun Alex dan Neya. Meski acara jauh dari kata mewah akan tetapi baik Alex maupun Revan punya banyak teman bisnis dan kerja.


***


Setelah berpamitan, Bara memutuskan mengajak Rea keliling bandung sebelum bermalam. Rea memang tak ingin menginap sebab akhir-akhir ini pagi harinya mual parah dan tak ingin membuat kedua orang tuanya tahu. Rea masih belum siap untuk itu meski Bara terus menyakinkan.


Sambil menunggu malam, Bara mengajak Rea jalan-jalan ke wisata lembang.


Di lembang bukan hanya terlihat indah meski malam hari tapi juga mengagumkan, banyak orang-orang berkunjung baik dari luar kota maupun daerah sebab Lembang menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di Bandung.


"Aku belum pernah kesini, akhirnya kesampaian." Rea bergumam senang, saat Bara mengajaknya masuk ke lembang wonderland, tempat yang menjadi tujuan pertama mereka begitu sampai di lembang.


Lembang Wonderland menawarkan pengalaman seperti berada di negeri dongeng, Lembang Wonderland yang didesain layaknya negeri dongeng, lengkap dengan bangunan unik, rumah pohon, jembatan dari permen, hinga negeri salju membuat Rea merasa seperti mimpi. Senyumnya terus mengembang terlebih saat beberapa potretnya tanpa sengaja diambil Bara.


"Ini perjalanan pertama kita sebagai suami istri!" ucap mereka sambil mengambadikan video bersama.