
Seribu wajah goda aku
Yang ku ingat hanya wajah kamu
Janjiku tak pernah main-main
Sekali kamu tetap kamu
Aku tak perlu bahasa apapun
Untuk mengungkap aku cinta kamu
Aku tak pernah beristirahat
Untuk mencintai kamu sesuai janjiku.
(Promise - Melly.G)
"Terima kasih Tuhan, perempuan ini asyik!" batin Bara yang bersyukur karena keberadaan Rea di sisinya, di hidupnya. Setiap gerak wanita itu menjadi favoritnya. Secinta itu? mungkin memang terlalu cepat, tapi kita tidak pernah tahu kemana pada akhirnya hati seseorang berlabuh. Bara selalu merasa Rea adalah pelangi yang mewarnai hidupnya. Maka, janji dalam hati untuk menjadikan Rea yang terakhir telah ia sematkan.
***
"Bu..." sapa Revan pada Ibunya yang tengah duduk di teras samping, wanita paruh baya itu menoleh dan mendapati putra pertamanya datang, ia bahkan tak mendengar suara mobil Revan karena fokus pada novel yang ia baca. Hya, hobi Neya dan putrinya sama. Bedanya Neya lebih suka novel online di aplikasi, sementara Rea lebih suka versi buku.
"Revan, kenapa nggak bilang kalau mau pulang?" tanya Neya kemudian bangkit dan memeluk putranya.
Wanita cantik itu melihat ke arah Najira lalu melepas pelukan, "kamu pasti kekasihnya Revan ya?" sapa Neya dengan seulas senyum.
"Siang Tante," sapa Najira.
"Siang, siapa namamu sayang? ayo masuk-masuk. Kalian nggak ajak Rea sekalian?"
"Najira, Tante."
"Wah, nama yang cantik! Sama seperti orangnya, pantas Revan tergila-gila hehe."
"Tante bisa saja, nggak juga kok." Najira tersenyum, hatinya menghangat melihat sikap Ibunya Revan yang welcome padanya.
"Nggak apanya, buktinya Anak Ibu ini merengek pas telpon minta dibolehin nikah sama kamu," ujar Neya blak-blakan, ia menggandeng Najira dan mengajaknya menuju dapur tanpa canggung.
Najira tersenyum kikuk, entah kenapa ia merasa sangat malu dan grogi menghadapi orang tua Revan.
"Apa sih, Bu. Aku nggak merengek, cuma lagi berusaha. Rea nanti menyusul, Bu!" ujar Revan.
Baru juga selesai bicara, kembali sebuah mobil berhenti dan bisa Revan tebak itu adalah mobil milik Bara.
"Aduh Rea dateng ya? mana Ibu nggak ada apa-apa di rumah, belum masak. Gimana ini Revan?" panik Neya.
"Yaudah Ibu masak dulu gih, biar dibantuin sama Najira. Dia jago masak loh, Bu!"
"Wah kebetulan sayang, tapi apa nggak ngrepotin?" tanya Neya.
"Nggak sama sekali Tante, Nana malah seneng."
"Yaudah, Bu. Nanti biar Rea kalau udah istirahat nyusul ke dapur. Aku telepon Ayah dulu."
"Oke oke, jangan lupa sambut adikmu!" pinta Neya.
Rea dan Bara baru saja sampai, sepasang kekasih itu turun kemudian Bara memutar tubuh membuka pintu belakang untuk mengeluarkan barang bawaannya. Bara sempat mengajak Rea membeli sesuatu untuk orang rumah, makanan dan sedikit camilan untuk calon mertua.
"Mas Revan sudah sampai, tapi kok sepi ya Mas?" dahi Rea mengernyit heran.
"Mungkin di belakang." Bara menarik sudut bibirnya, ini kedua kalinya Bara datang. Bara berharap, ini menjadi awal dari segalanya bukan akhir.
"Ibu..." Suara melengking Rea dari pintu.
"Syukurlah kalian sampai. Rea, ajak Bara ke ruang tamu untuk istirahat. Aku mau telepon Ayah dulu."
"Oke, Mas."
***
"Masak apa, Bu? Itu Mas Bara udah datang, sambut dulu gih!" ucap Rea kepada ibunya yang berada di dapur dan melihat Neya tengah sibuk berkutat. Dan membuat Rea sedikit jengkel adalah keakraban Ibunya dengan Najira, si calon kakak ipar.
"Benarkah, yaudah kamu bantuin kakak kamu ya sayang buatkan minuman untuk mereka." Neya meninggalkan dapur menuju ruang tamu.
"Hai, Rea." Najira menyapa dengan senyuman.
"Hai, Mba."
"Nggak apa-apa. Mba cukup buatin minum buat Mas Revan saja." Rea memaksakan senyum, lantas membuatkan minuman untuk Bara.
Najira mengangguk, akan tetapi pandangannya terfokus pada kalung dan cincin yang dikenakan Rea. Cincin desain limited edition salah satu gerai ternama di Jakarta.
Najira tersenyum miris, kenapa setelah berpisah dengannya Bara menjadi begitu romantis? menjadi begitu perhatian, padahal Rea hanya kekasihnya bukan istrinya?
Memang benar, perasaannya lebih condong ke Revan, akan tetapi jika boleh memilih bisakah bukan Rea yang menjadi istri Bara. Bisakah ia dan Bara berjauhan selamanya?
"Ayo, Mba kita ke depan. Nggak enak aku tamu masa bantuin di dapur," ajak Rea.
"Eh, iya tadi cuma bantuin Tante masak dikit kok."
"Hm."
Rea menuju ruang tamu, ia senang karena melihat Bara bisa akrab dengan Ibu dan Revan, kakaknya.
"Ini minumnya, Mas." Rea meletakkannya tepat di hadapan Bara.
"Buat Mas mana Rea?" protes Revan.
"Ada, dibuatin Mba Najira, nanti juga kesini."
Revan terdiam, bahkan untuk minuman saja kenapa harus sendiri-sendiri yang membuatkan, kenapa bukan Rea atau Najira saja? salah satu diantara mereka? sesulit itukah?
"Oh ya, Ayah kalian masih lama datangnya? bukannya dari Mall kesini ga jauh?" tanya Neya.
"Ayah ngapain di Mall?" tanya Revan.
"Ayah kan sekarang ngurus toko yang di Mall baru itu, toko kue yang lama sudah ada orang kepercayaan. Berdoa saja semoga semakin banyak cabangnya."
"Jadi Om Alex buka toko di Mall Baru Bandung, Tante?" tanya Bara.
Neya mengangguk antusias, sementara Bara, Rea dan Revan saling pandang.
Bara mengisyaratkan pada Rea dan Revan untuk diam. Sementara Najira, ia memang belum tahu jikalau orang tua Bara lah pemilik Mall Baru Bandung.
"Ayah datang..." Alex berteriak diambang pintu membuat yang lain seketika menoleh.
"Kayaknya kamu itu mirip Ayah banget ya," bisik Bara pada Rea.
"Hihi, mirip dikit kok Mas! Aku aslinya kalem, apalagi kalau sama kamu," balas Rea berbisik.
"Saling kalemnya kan, Re."
"Wah ada tamu ya?" tanya Alex kemudian ikut bergabung di ruang tamu.
"Oh, ya ada sedikit oleh-oleh dari Jakarta. Semoga Om dan Tante suka," ucap Bara.
"Wah, makasih ya. Kok repot-repot nak Bara?" tanya Neya dan alex bersamaan.
"Tidak Repot kok Om, Tante."
Najira pun turut menyapa Alex dan bergabung disana setelah membuatkan Revan minukan. Kini, suasana mulai menegang saat Revan dan Bara mulai mengutarakan niatnya.
"Aku takut Mas," ujar Najira setengah berbisik.
"Tenang saja!" lirih Revan.
Sama halnya dengan Najira, Bara dan Rea juga berpandangan berulang kali dengan tangan diam-diam saling menggenggam.
"Aku berencana menikah dengan Najira, Ayah, Ibu!" ucap Revan setelah berulang kali menghela napas.
"Dan saya, mohon izin untuk menjadikan Rea istri saya, Om, Tante!" ucap Bara dengan penuh keseriusan.
Deg!
Alex dan Neya terkejut. Masalah Revan, mereka sudah mendengar rencana dari putranya akan tetapi soal Rea?
"Kenapa mendadak sekali? Itu, maksudku kenapa kalian tiba-tiba barengan begini?" Tatapan Alex memicing curiga, terutama kepada putrinya Rea.
"Kamu tidak sedang hamil kan, Rea?" tanya Alex hingga membuat mereka yang disana terkejut dengan pertanyaan spontan Alex itu.
"Hamil? apa memang Rea hamil sampai Mas Bara memutuskan segera melamarnya?" batin Najira bertanya-tanya, ia hanya tahu mereka akan ke Bandung sama-sama.
Perihal niat Bara, ia sedikit terkejut akan hal itu.