SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
103. Sugar season 2



Dukk!


"Aduh, Ale sakit!" pekik Reivan saat Alesya melawan dengan menendang juniornya.


"Makanya jangan usil," cibir Ale. Reivander sudah melepaskan bekapan tangannya.


"Aduhh, sakit ini, yang kamu tendang itu aset masa depan!" Reivan meringis. Memang dasar, anak Bara satu ini di luar ekspetasinya.


"Jadi mandi nggak? Awas aku mau lewat!"


"Ya ampun, Le! Gak kasian, dia habis kamu tendang! Tanggung jawab," ujar Reivander.


Alesya tak perduli, melihat Reivan terus meringis, ia menggeser tubuh kekar itu dan membuka pintu kamar mandi.


"Wlekkk!"


Alesya berhasil keluar. Akan tetapi saat lebih dari setengah jam Reivan belum selesai mandi membuatnya dilanda khawatir.


"Ck! Jangan-jangan pingsan? Atau... Apa aku menendangnya terlalu keras?" batin Alesya. Ia mencoba mengingat adegan absurd saat lututnya menendang keras dan ya, kemungkinan tepat sasaran. Bukankah kelemahan laki-laki ada pada adik kecilnya?


Tok tok tok...


Ale memutuskan mengetuk pintu kamar mandi.


"Mas, kamu nggak pingsan kan?" panggil Ale dari luar.


"Apa? Aku gak bisa jalan," pekik Reivan menahan tawanya.


Sontak Ale kembali mengetuk pintu dari luar, "buka, biar aku papah!" merasa bersalah, karena telah menendang junior Reivan.


Ceklek! Reivan sudah berdiri dengan handuk yang melilit pinggangnya. Berjalan kesusahan menghampiri Alesya. Meski hanya berakting, ia harus totalitas melakukannya demi masa depan si junior.


"Si juno sampe gak mau berdiri gara-gara kamu!" omelnya kemudian. Sontak arah pandang Alesya tersesat.


"Emang biasanya berdiri?" tanyanya dengan Kening mengkerut.


"Ya, papah aku!" Reivan meminta Alesya mendekat. Mau tak mau Alesya memapahnya keluar.


Ia menyiapkan pakaian untuk Reivan, memilah milih mana yang cocok di lemari ganti. Sementara Reivan malah sibuk memperhatikannya dari ujung ranjang.


Benar kata Bara dulu, ia terlalu sibuk mencintai Alira sampai tak tahu banyak makhluk Tuhan yang pantas ia dapatkan. Salah satunya, ya Alesya.


"Ini, pakai ini!" Alesya menyodorkan piyama berwarna hitam.


"Aku udah lama nggak pakai piyama kalau malam," protes Reivan.


"Kenapa? Inget mantan?"


Reivan gelagapan, "sok tahu! Yaudah sini." Reivan mengambil piyama di tangan Alesya.


"Kamu hadap sana lah, aku mau ganti! Gak mungkin kan aku ke kamar mandi atau ruang ganti dalam keadaan gini!"


"Aku tunggu aja di luar!"


Alesya keluar kamar, ia melihat Arsen sedang berada di dapur. Lantas, ia memilih turun.


"Bikin apa?" tanya Alesya membuyarkan lamunan Arsen.


"Eh, Nona!" Arsen tampak kikuk.


Tanpa menunggu jawaban Arsen, Alesya mendekat untuk melihat apa yang sedang dilakukan pria itu.


"Aleeeee," teriak Reivan dari lantai atas. Alesya langsung naik mendengar teriakan tak berakhlak itu.


"Apa? aku baru saja sampai bawah dan kamu? Ck ck ck sungguh menyebalkan sekali."


Reivan meminta Alesya mendekat, laki-laki itu sudah berjalan normal layaknya tak kesakitan.


Namun, Ale lebih penasaran apa yang akan disampaikan laki-laki itu padanya.


"Ada apa? Aku baru mau ngobrol sama Arsen. Kamu sudah teriak-teriak."


Alesya menurut, ia pun ikut duduk akan tetapi memberikan sedikit jarak dengan Reivan.


"Aku masih punya orang tua, dan sampai sekarang mereka belum tahu aku menikah lagi. Aku akan mengurus pernikahan kita, tapu setelah kamu berhasil meluluhkan mama. Dia,--" Reivander menjeda ucapannya. Meski ragu, ia tetap harus mengatakan yang sejujurnya pada Alesya.


"Dia kenapa? Mamamu kenapa?"


"Galak! Mamaku agak galak, dan besok mereka akan datang kesini. Ke rumah kita," ujar Reivan menjelaskan.


"Rumah kita," batin Alesya. Ia malah blank mendengar penuturan Reivan seolah mereka adalah sepasang sungguhan.


"Oke. Aku akan berusaha menyambut mereka dengan baik. Tapi, maaf kalau nantinya mengecewakan kamu!" Alesya bukan gadis yang penakut. Namun, menghadapi mertua apalagi pria seperfect Reivan tentu bukanlah hal yang mudah.


"Tak apa, kita berjuang sama-sama! Kalau gitu, kamu tidur! Sudah malam, hujan juga lagi turun." Reivan meraih bantal, ia akan tidur di sofa sementara Alesya tidur di ranjang.


Darrr!


Suara petir bersaut-sautan. Cahaya temaram lampu tidur kamar semakin menambah kesan horor. Alesya bergelung dengan selimut tebal akan tetapi hal itu tak membuatnya kehilangan rasa takut. Bagaimanapun Alesya hanyalah seorang perempuan, apalagi dinding kamar yang mengarah balkon sebagian menggunakan kaca. Gorden berwarna cream transparan membuat kilat diluaran sana terlihat kontras.


"Mas!" panggil Alesya. Reivan sama sekali tak terusik, ia terlelap begitu pulas tanpa tahu saat ini Alesya berusaha menepis rasa takut.


Darrr...


Lampu mati semakin membuat Ale terjenggat kaget.


"Mas, aaaa..."


Alesya melompat dari ranjang, berusaha meraih Reivan. Setelah samar menemukan sang suami, ia mengguncang keras tubuhnya.


"Hiks... Mas aku takut, bangun dong!" Alesya merengek layaknya bocah.


Reivan mengusap matanya, berusaha meraih kesadaran.


Ale?


Pikiran Reivan langsung tertuju pada gadis itu, dalam gelapnya temaram malam. Reivan melihat Alesya menangis ketakutan.


Satu hal yang ada dalam pikiran Reivan, istrinya takut gelap dan petir.


"Sini, ayo ku temani tidur!" ajak Reivan, ia meraih Alesya yang terduduk lemas dan membawanya ke ranjang. Mereka tidur berdua. Alesya mulai tenang meski hujan dan petir masih belum mereda. Namun, keberadaan Reivan di sampingnya membuat Alesya tak butuh waktu lama untuk melelap. Bahu dan pelukan yang nyaman nyatanya berhasil mengusir rasa takut yang bersarang. Hingga pagi menjelang mereka masih lelap dengan tidurnya yang nyaman.


"Reivan," Panggil seorang wanita paruh baya menerobos kediaman Reivan pagi buta. Bahkan ia menggedor paksa pintu utama setelah membuat satpam jaga kepanikan.


"Mungkin Tuan masih tidur, Nyonya!" ucap Satpam mencoba mereda panggilan Mama dari Tuannya.


Sarah hanya bisa menghela napas panjang, wajar kalau putranya belum bangun. Ia datang pagi buta dihari minggu, hari dimana Reivander istirahat dari kesibukannya di kantor.


"Ya sudah, buka saja pintunya!"


Ceklek, pintu terbuka. Arsen membulatkan mata, akan tetapi sejurus kemudian ia bersalaman dengan Nyonya Sarah dan mempersilahkannya masuk.


"Tuan masih tidur Nyonya, tapi..." Arsen menjeda ucapannya. Apalagi saat melihat binar senyum tercetak di wajah Sarah.


"Akhirnya foto-foto Alira turun juga!" pekik Sarah.


"Ya, Nyonya! Karena Nona Alesya tak menyukainya," ucap Arsen sejurus kemudian mengatupkan bibir.


"Ma ti, aku keceplosan!" batin Arsen merutuk.


"Nona Alesya? Siapa?" Sarah mengernyit bingung. Sejurus kemudian ia menuju lantai atas bermaksud menginterogasi sang putra.


"Reivander!" pekiknya menggedor pintu.


"Eh, tak dikunci sepertinya!" Sarah mencoba membuka kamar Reivan yang memang lupa tak dikunci semalam.


"Astaga, Reivander!" pekik Sarah syok sekaligus terkejut saat melihat putranya lelap dengan seorang wanita di pelukan.


"Reivan! Anak durhaka, bangun. Bangun kalian, pasangan me sum, tidak tahu aturan!" omel Sarah seraya memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan.