SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
108. Sugar season 2



Reivan kembali ke ranjang, Alesya tampak berantakan dengan balutan selimut. Dan rupanya sejak selesai pertempuran tak lanjut tadi, Alesya langsung terlelap.


Dengan segera Reivan menyusul tidur. Namun, sebelum itu ia sempat memakaikan baju terusan pendek agar tubuh istrinya tak polos meski tertutup oleh selimut.


"Maaf," gumam Reivan pelan. ia tahu Alesya sangat kesakitan tadi terbukti saat ini punggungnya terasa sangat perih karena cakaran ganas Alesya tadi.


Kecupan singkat di kening sebelum Reivan benar-benar ikut terlelap.


Pukul lima pagi, Alesya terbangun. Menyadari tubuhnya telah memakai baju, ia lantas menatap Reivan. Suaminya itu terlelap nyaman di sebelahnya tanpa pergerakan pertanda tidurnya begitu pulas. Dengan tertatih Ale berusaha berjalan ke kamar mandi. Sakit sekaligus perih terasa, akan tetapi ia harus bangun untuk membuat sarapan kemudian ke kampus menjalani aktivitasnya sebagai mahasiswa.


Ale mandi pagi sekalian bebersih barulah ia turun.


Rupanya, Sang mertua sudah menyiapkan sarapan pagi disana.


"Pagi, Ma!" Sapa Alesya, dengan gesit ia membantu Sarah menata makanan di meja.


"Pagi, Mama udah bikin sarapan buat kita semua. Kamu naik lagi, bagunin Reivan. Kangan sampai terlambat ke kantor, hari ini kamu ada jadwal apa?" tanya Sarah. Sejujurnya ia ingin sekali menghabiskan waktu bersama Alesya sebelum kembali ke rumah utama.


"Ale ada kuliah sih, Ma. Tapi cuma dua jam kok."


"Yah, padahal Mama pengen ngajak kamu jalan."


"Gimana kalau pulang kuliah nanti, Ma?" tawar Alesya. Ia tak ingin mengecewakan Sarah.


"Boleh, nanti Mama jemput kamu! Mana nomer ponselnya?"


Alesya pun bertukar nomor ponsel dengan Sarah.


Setengah tujuh, Alesya ke lantai atas bermaksud membangunkan Reivan. Namun, agaknya karena kejadian tadi malam, Ale sedikit merasa ngilu saat jalan.


"Kamu sakit?" Tanya Sarah saat melihat ekspresi Alesya tak seperti biasanya.


"Ehm, cuma masuk angin, Ma! Semalam kan hujan, dan aku paling nggak kuat sama dingin," alibi Alesya.


"Aku ke Mas Reivan dulu, Ma!"


Sarah mengangguk, sementara Alesya sudah sampai di lantai atas segera masuk kamar.


"Ternyata sudah bangun," gumam Alesya saat mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


Lantas, Ale membuka lemari dan menyiapkan baju untuk suaminya.


Reivan keluar bertela njang dada, ia membiarkan sisa air shower masih membasahi bagian tubuhnya. Hanya handuk putih yang melilit tubuh bawah.


Greppp!


Reivan tiba-tiba memeluk Alesya dari belakang.


"Mas," gumam Alesya. Mengingat kejadian semalam membuatnya sungguh malu menghadapi suami sendiri.


"Apa? Ayo lagi," bisik Reivander di telinga.


"Dasar me sum!" pekik Alesya.


Reivan mengetatkan pelukannya, ia seolah lupa jika sang istri bisa melakukan apapun padanya termasuk saat ini. Alesya menggigit tangannya demi bisa lepas dari pelukan menyesatkan.


"Ale, kamu kok jadi hobi gigit sekarang," pekik Reivan. Alesya memanyunkan bibir.


"Mas yang mulai!" tuduhnya berkacak pinggang. Alesya membongkar sebagian isi koper yang belum dipindah ke lemari lantas mengambil pakaiannya. Setelan rajut pas body dengan bawahan kulot warna lemon.


Alesya ke kamar mandi mengganti pakaian, sementara Reivan dengan santai memakai bajunya disana.


"Mas, ihhh!" pekiknya kala melihat Reivan berganti pakaian di kamar.


"Semalam juga sudah lihat," santai Reivan membuat pipi Alesya langsung merah.


"Ini tuh fashion ya, Mas! Lagian mata Mas gak minus kan, dada leter gini dibilang over," gerutu Alesya.


"Ck! tapi tetap aja, aku gak suka kamu dilihat orang," ucap Reivan tanpa sadar mulai posesif.


"Astaga! Karungin aja sekalian, Mas!" dumel Alesya. Meski sempat berdebat mereka akhirnya turun juga untuk sarapan.


Sudah ada Sarah, Richi dan Aderald di meja.


"Pagi, Pa, Ma, Rich!" sapa Reivan bersama Alesya. Sementara Arsen memilih sarapan di kantor nantinya dan menunggu Reivander di depan.


Sarapan berlalu dengan hening, akan tetapi tak berlangsung lama saat Richi menawarkan diri mengantar Alesya karena tujuan mereka yang searah.


"Kakak ipar, mau bareng? Udah jam segini, lagian Mas Reivan pasti keburu meeting di kantor!" Richi melihat jam di pergelangan tangannya.


Alesya menoleh ke arah Reivan, "yaudah, nitip sekalian Rich! Aku ada banyak hal yang harus diselesaikan sebelum cuti," ujar Reivan.


"Gak apa-apa kan? Bareng Richi?" tanya Reivan menatap Alesya.


Alesya mengangguk setuju, ia sekalian meminta izin pulang nanti pergi dengan Mama Sarah.


***


Sepanjang jalan Richi dan Alesya lebih banyak diam, bukan karena tak memiliki topik obrolan yang seru. Richi hanya membatasi diri, apalagi ia dan Alesya hanya berjarak dua tahun. Mereka bisa jadi teman akrab, tapi hal itu tidak baik untuk Mas Reivan yang notabenenya posesif pada pasangan.


Richi menghentikan mobilnya tepat di depan universitas dimana Alesya menimba ilmu. Ia bahkan rela turun membukakan pintu mobil untuk kakak iparnya.


"Thanks ya Rich, hati-hati!" Alesya melambaikan tangannya.


Sontak hal itu tak lepas dari pandangan Putra yang berada tak jauh dari tempat Alesya berada.


"Hello, welcome back Ratu!" sapa Putra dengan senyum lebar. Ia celingukan berharap tak menemukan keberadaan Galen di sekitar Alesya.


"Apaan sih, Putrooo! Gak jelas," gerutu Ale meninggalkan putra begitu saja.


Putra yang gigih menjadi paparazi kampus pun seolah tak ingin kehilangan sumber beritanya. Ia membuntuti Alesya layaknya anak ayam pada induknya.


"Putrooo! Aku mau ke wc, ngapain kamu ngintil hah?" pekik Alesya sebal.


"Hihi, aku cuma mau wawancara eklusif aja sama kamu, Al! Beberapa hari ini kan habis absen, yang kata anak-anak kamu jalan bareng sama Om-om." Putra cengengesan menatap Alesya.


"Terus yang kamu lihat tadi Om-om nggak?" Alesya mencibir. Dalam hati merutuk karena sudah memanfaatkan Richi sebagai tamengnya menghadapi gosip di kampus.


"Mungkin mereka yang buta kali," gumam Putra yang melihat dengan matanya sendiri Alesya diantar sama cowok ganteng.


"Nah kan, makanya jangan jadi paparazi gadungan!" dumel Alesya.


Ia meninggalkan Putra yang kebingungan di lorong kampus.


Meski sambutan teman-temannya tak mengenakan, Alesya tetap bersikap cuek dan menjalani mata kuliah dengan baik. Sampai saat menunggu Mama Sarah di depan universitas, Galen tiba-tiba menarik tangannya ke tempat yang sepi.


"Al, please kasih aku kesempatan! Karla sudah pergi jauh dari sini, dari kita dan aku,-- aku janji akan setia sama kamu asal kamu mau kasih kesempatan aku memperbaiki semuanya!" Galen memegang tangan Alesya, tatapan mata memohon berharap Alesya mau mengampuni dan kembali padanya sekali lagi.


"Galen, aku sudah bilang kan sama kamu! nggak ada kesempatan lagi, nggak ada! Kamu pikir setelah berhasil mengacaukan semuanya, Papa dan Mamaku bakal ngizinin kamu buat hadir lagi dalam hidupku?" pekik Alesya.


Galen menunduk, "semua salah Karla, Alesya!"


"Salah Karla? Terus kamu? Seandainya Karla hamil? Apa yang akan kamu lakuin? Lepas dari tanggung jawab gitu? Dan aku! Aku sama sekali tak tertarik dengan laki-laki yang sudah pernah tidur dengan sahabatku, bahkan di malam sebelum hari pernikahan kita!" Alesya meluapkan semuanya, ia bahkan sampai lepas kendali menampar Galen.


"Satu-satunya kesialanku adalah pernah mencintai laki-laki sebreng sek kamu!"


Alesya tertunduk lemas, ia menangis, menangis di hadapan Galen berharap laki-laki itu sadar kalau dirinya sendirilah penyebab semuanya hancur, termasuk hati Alesya.