SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
121. Sugar season 2



Lain dengan sepasang pasutri yang bertanya tanya di luar sana. Kenaan dengan santainya menunggui seorang dokter cantik. Sudah berulang kali Vallen meninggalkannya demi mengurusi pasien. Padahal hari ini, Vallen janji akan menyanggupi permintaan Kenaan bertemu dengan orang tua laki-laki itu.


"Vall, sudah selesai? Mau langsung pulang atau..." Ardy menggantung ucapannya kala melihat seorang lelaki keluar dari ruangan Vallen.


"Aku hampir saja mau pulang karena terlalu lama nunggu, gak enak sumpah!" keluh Kenaan dengan wajah kusutnya.


"Oh, sorry. Ar aku duluan ya," pamit Vallen tersenyum ramah pada rekannya. Ardy mematung seperkian menit, baru saja berniat mengejar cinta tapi seketika terpatahkan oleh fakta kalau wanita pujaannya sudah memiliki tambatan hati.


Vallen meraih tangan Kenaan dan berjalan beriringan ke arah parkiran.


"Jadi ke rumahku kan?" tuntut Kenaan.


"Tapi minimal kita aku ganti baju dulu," keluh Vallen menatap dirinya sendiri yang masih mengenakan pakaian dokter.


"Oke!"


Sebenarnya hubungan mereka belum sampai tahap spesial. Bukan pacaran layaknya orang-orang tapi karena beberapa waktu yang lalu Kenaan mabuk dan terlibat one night stand bersama Vallen membuat pemuda yang belum pernah mengenal cinta itu langsung bertindak cepat. Sialnya, wanita yang Kenaan tiduri itu adalah teman SMA-nya.


"Ken!"


"Hm, ya?" Kenaan menoleh dan mengernyit melihat wajah Vallen yang tampak berat.


"Apa harus kita segera nikah, rasanya aneh." Vallen menunduk memainkan jari-jarinya. Mendadak ragu, mendadak takut dan mendadak tremor karena memikirkan akan menikah dengan teman sekolahnya dulu. Meski tak dipungkiri, Vallen mengagumi sosok Kenaan dalam hati.


"Aku harus tanggung jawab!" tegas Kenaan sekali lagi.


"Sebelum terlambat, jadi ku mohon jangan menolak lagi. Vall, aneh ya! Kadang sepasang manusia itu dipertemukan dengan cara tak terduga." Mereka masih di area parkiran, di dalam mobil dengan pandangan mata sama-sama lurus ke depan.


"Kamu ada wanita lain yang kamu sukai?" tebak Vallen.


"Ya, tapi sekarang aku sadar perasaan itu bukan cinta. Melainkan rasa kasian, sebatas kasian karena nasibnya yang jelek." Kenaan terkekeh, hal itu semakin membuat Vallen kebingungan.


"Aku sempat berfikir menyukai sahabat adikku sebelum kejadian buruk itu beruntun terbongkar. Scandalnya dengan mantan adikku hingga hamil dan sekarang? Saat mereka menikah,--"


"Kamu sakit hati?" Vallen menaikkan alisnya.


"No! Aku justru merasa lega, lega sekali. Dan saat ketemu kamu di club aku seperti melihat hantu! Jantungku berdegup kencang." Kenaan tergelak membuat Vallen mencebik.


"Hantu, ck! Sejelek itukah aku Ken!" desisnya tak terima.


"Hantu masalalu, aku masih normal Vallen! Gak tau kenapa malam itu se tan lebih mendominasi hidupku kayaknya hingga kita berakhir di ranjang!"


"Sok-sokan nyalahin se tan!"


"Aku jadi flash back ke masa SMA, kamu sering merhatiin aku kan kalau lagi main basket," seru Kenaan jumawa.


Mendadak Vallen gugup, dulu dia hanya menganggap Kenaan adalah crush-nya yang tak pernah tergapai dan sekarang dengan mudahnya menawarkan pernikahan. Then, siapa yang gak akan seneng sih?


***


Di kediaman Bara, pasutri yang baru pulang dari rumah sakit itu membuat kehebohan dengan menyebarkan berita yang dilihatnya pada sang mama.


"Abang tuh masuk ke ruangan dokter, lebih tepatnya ruang pribadi gitu, Ma!"


Bukannya mengabarkan hasil pemeriksaan kehamilan ia malah sibuk bercerita soal Kenaan.


"Konsultasi kali Al," pikir Reivan.


"No, Mas! Aku yakin gak sesimple itu. Apalagi kita udah ngintip lumayan lama dan gak keluar-keluar," dumel Ale. Rea menyodorkan air putih ke hadapan putrinya. Langsung dihabiskan oleh Alesya hingga tandas mengingat sedari tadi kepanasan.


"Oh mungkin,--" Rea tak melanjutkan kalimatnya memilih melihat siapa yang datang di depan sana. Matanya membulat demi melihat Kenaan datang membawa seorang gadis cantik.


"Mam, Kenalin ini Vallen. Pacarku!" membuat Vallen dengan spontan menyalami Rea dan tersenyum kalem.


"Wah, ayo masuk!"


Baru saja beberapa langkah hampir sampai di ruang tamu, Alesya sudah lebih dulu melihatnya.


Dan dokter Vallen adalah salah satu dokter yang praktik di rumah sakit tempat Alesya periksa. Meskipun Vallen bukan dokter bagian Obgyn, tadi Ale sempat membaca sekilas nama yang ada di atas pintu.


"Kan bener kan! Abang diam-diam udah punya calon istri," sambutnya langsung membuat Kenaan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kamu malah diam-diam nikah," sindirnya membuat Ale merengut.


Vallen hanya tersenyum kaku, setelah berkenalan dengan Alesya dan suaminya. Ia memilih jalur aman dengan duduk di dekat Rea dan mengobrol dengan calon mertuanya.


"Udah sayang. Jangan dikecengin melulu kasian," bujuk Reivan. "Pikirin juga anak kita, dari tadi kamu belum makan! Mau ku buatkan sesuatu?" tawar Reivan.


"Nyidam, Van! Turutin tar ileran lho anaknya," seru Rea.


"Eh, tapi aku belum pernah manjat pohon! Tapi yaudah ayo, kamu tungguin di bawah pohonnya!" pinta Reivan.


Membiarkan pasutri gaje ke belakang rumah. Kenaan bicara serius dengan Rea, mengutarakan niatnya menikahi Vallen sesegera mungkin. Ia juga sudah memberitahu Bara sebelumnya akan tetapi melihat reaksi tak terkejut sang mama sudah pasti wanita kesayangannya itu tahu apa yang Kenaan ceritakan pada sang papa.


"Maafin anak mama ya, Vall!" begitulah akhirnya Rea buka suara.


"Ini salah kita berdua tante," jawab Vallen.


"Tapi tetap aja kalian harus segera menikah, bagi kami pantang lari dari tanggung jawab." Rea mengulas senyumnya. Bukan memakhlumi dosa sang anak bukan, ia hanya mengambil jalan tengah dan bersikap sebagai ibu yang dewasa.


"Kalau bisa kalian menikah bulan ini!" serunya membuat Kenaan dan Vallen mengangguk, toh ini memang rencana mereka meski jadinya di luar ekspetasi karena Rea ingin pesta pernikahan mereka digelar meriah.


Sementara Alesya yang melihat Reivan kesusahan memanjat pun tergelak di bawah tak kuasa menahan tawa.


"Ih ganteng doang manjat pohon gak bisa," cibirnya.


"Sabar! Ini juga lagi naik, coba kamu jadi pohonnya pasti aku bisa dengan mudah manjat," jawab Reivan membuat Alesya memanyun.


"Me sum!"


"Hahaha, gak salah kan aku Al. Kalau manjat kamu mah meski sehari lima kali juga kecil," serunya jumawa, terkekeh diatas saja. Baru memetik dua buah tiba-tiba...


Brukkk!


Reivan terjatuh saking senangnya bisa memetik mangga. Encok-encok sekalian tuh!


"Aduh sakit Al, tolongin!" Muka Reivan memerah. Sakitnya tak seberapa, tapi lebih ke malu. Definisi karma kontan membuatnya pura-pura kesakitan agar sang istri tak mencibirnya.


"Ya ampun Mas, hati-hati makanya. Ada yang patah nggak?" tanya Ale khawatir.


"Ada sayang ada." Reivan menunjuk hatinya membuat Alesya urung menolong sang suami.


"Gaje!"


Dan nikmat mana lagi yang harus Alesya dustakan, mengingat di kehamilan pertama apa-apa Reivan menurutinya. Meskipun permintaan Alesya yang aneh-aneh. Mulai dari mangga cocol garem, nasi goreng with foto seseabangnya. Bahkan beli rujak yang harus Reivan sendiri meraciknya.


Hingga satu bulan berlalu, tepat usia kehamilannya dua bulan Kenaan menikah dengan Vallen.


Pergelaran pesta terjadi di rumah yang sudah mereka sulap menjadi singgasana pengantin untuk dua mempelai. Ketidak adanya orang tua Vallen membuat Kenaan semakin mantap menyegerakan niatnya.


Sahhh!


Kata yang sungguh Kenaan dan Vallen nantikan setelah dari satu jam sebelumnya jantung mereka tak baik-baik saja. Keduanya tersenyum lega di pelaminan dengan tangan saling bertaut.


Pun dengan Alesya dan Reivan yang semakin lengket kaya permen karet.


Karla menyempatkan datang, hubungannya dengan Galen jauh lebih baik sekarang. Hanya saja sejak kehilangan janinnya, Karla divonis susah memiliki keturunan. Demi menebus kesalahannya, Liora tak akan mempermasalahkan hal itu dan membiarkan anak dan menantunya bahagia. Pun dengan Galen yang tak pernah menuntut apapun lagi dari Karla. Mereka memilih tinggal terpisah dengan Liora dan Wilson.


"Kalau nikah saling cinta auranya beda ya?" gumam Alesya mengingat momen kala ia dan Reivan menikah.


"Hm, gak perduli kita dulu menikah seperti apa! Yang jelas sekarang aku cinta kamu Alesya. Aku cinta kamu dan anak kita," bisik Reivan. Sontak Alesya merona malu.


"Aku juga cinta sama kamu, Mas! Cinta banget malah," balas Alesya. Di sudut pesta, Reivan sempat-sempatnya mengelus perut rata sang istri. Menunduk dan menciumnya seolah dunia milik berdua.


"Sayang, pengen nengok anak kita," bisik Reivan.


"Ck! Belum juga kelar pestanya!"


Reivan hanya menyeringai tanpa ba bi bu, ia menggendong Alesya dan membawanya kabur dari pesta tak perduli tatapan para tamu yang melihatnya aneh.


TIMIT.


Hay akhirnya kita sampai di penghujung kisah Alesya. Maaf kalau endingnya kurang sempurna, author masih belajar dan terus belajar. Semoga kalian sukašŸ¤—


Btw mampir yuk ke karya baruku. MY LOVELY, SAHARA, bisa cek di profil ya! Jangan lupa follow untuk dapat info update karya terbaruku😘


BLUR :


Sahara tak pernah menyangka akan pernyataan cinta Cakra yang tiba-tiba. Berjalan bersama komitmen tanpa pacaran, sanggupkah mereka bertahan di atas gempuran hubungan rumit kedua orang tua Cakra dan Sagara yang ternyata adalah ayah kandung Sahara.


Apakah Cakra dan Sahara akan bersatu?