SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 65



Bara semakin merapatkan tubuhnya, senang sekali membuat wajah Rea panik padahal ia sendiri sedikit kesusahan bergerak maju. Meski begitu, rona merah di pipi Rea menghilangkan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Kamu gak kangen sama aku, hm? Mumpung Mama sama Papa lagi sibuk ngurusin ulet bulu gimana kalau..." Bara menggantung ucapannya, ia memperhatikan wajah Rea dari jarak dekat, tangannya naik menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik itu.


"Jangan gila, Mas." Panik Rea, ia tak ingin terjebak hal konyol di rumah Bara, sekangen apapun dirinya. Rea terlalu takut, Rea tak ingin dicap buruk jika orang tua Bara tahu kelakuan mereka.


"Aku nggak sedang gila, tapi aku kangen."


"Mas." Rea berusaha mendorong tubuh Bara hingga laki-laki itu hampir jatuh.


"Kau jahat sekali, sayang!"


"Aku akan keluar," ujar Rea membuka pintu, akan tetapi terkejut saat mendapati ruang tengah hening. Kemana orang tua Bara?


Bara hanya menatap punggung Rea dengan senyum seringai, Rea ternyata masih polos dan lugu.


"Bibi, kemana Tante Rosa dan Om Aron?" tanya Rea kepada Art yang berada di dapur.


"Nona, mereka buru-buru pergi untuk mengurus sesuatu setelah Non Alea pergi tadi," ujar Art.


"Apa membutuhkan sesuatu, Nyonya berpesan agar Non Rea istirahat menemani Pak Bara di kamar."


"Baik, Bi. Aku hanya sedikit haus," ujar Rea.


"Akan saya bawakan minuman untuk Non Rea," ujar Bibi.


"Makasih, Bi. Maaf merepotkan," ujar Rea sebelum kembali ke kamar dimana Bara berada.


Di dapur, bisik-bisik pun mulai. Dimana mereka membicarakan tentang Najira dan Rea.


"Gak nyangka ya, Pak Bara langsung dapat baru setelah bercerai dengan Bu Najira." Inem tampak berfikir, bicara dengan rekannya sambil membayangkan kelebihan Najira dan Rea, kekasih baru tuannya.


"Sudah, jangan banyak bicara, Nem. Antar minuman ini ke kamar Pak Bara," titah Bibi.


"Dih Bibi, antar saja sendiri. Tugasku kan cuma bersih-bersih," tolak Inem, art yang terbilang masih muda lantaran belum berumah tangga.


"Lagak kamu, Nem. Mentang gak ada Tuan dan Nyonya besar. Awas aja kalau gara-gara kamu ngomongin Pak Bara kami jadi ikut kena imbasnya," ketus Maya.


"Halah, sok jaim kamu, May. Padahal juga naksir kan sama Pak Bara," sungut Inem.


"Sudah, May. Biarin aja Inem. Kamu antar minuman dan camilannya ke kamar Pak Bara," titah Bibi.


"Oke beres."


Maya pergi, ia mengetuk pintu berulang-ulang sebelum akhirnya Rea bangkit dan membukanya.


"Ini minumannya, Nona."


"Makasih, Mbak." Rea meraih nampan, tak membiarkan Maya masuk.


"Sama-sama." Maya sempat melirik ke dalam, ia melihat Tuannya sedang tertidur dalam posisi miring.


Maya berlalu pergi, sementara Rea masuk dan menutup pintu.


"Mas."


Bara menoleh, ia memang pura-pura tidur atas permintaan Rea. Sebab tak ingin art Bara berfikir macam-macam, terlebih ketika sepasang kekasih di dalam kamar dalam keadaan mata terbuka.


"Kamu ini kebanyakan mikir sayang, mereka bukan orang yang suka mengurusi urusan orang lain apalagi tuannya."


"Aku merasa nggak enak, serba nggak enak."


"Biasakan diri kamu, bukankah sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya disini," ujar Bara. Ia menepuk-nepuk ranjang samping agar Rea mendekat ke arahnya.


"Aku haus, mau minum bentar." Seolah tahu apa kemauan Bara, tapi ia sungguh haus jadi memilih duduk di sofa menikmati orange jus dari Maya.


"Hm, haus banget ya? habis ngapain?" goda Bara membuat Rea seketika hampir tersedak.


"Mas..." Rea menekuk wajahnya malu, sebab sedari tadi Bara terus menerus menggodanya.


Rea kesal, akan tetapi tak bisa untuk marah dengan Bara.


"Habis ngapain juga bukannya sama kamu, Mas." Rea menandaskan minumannya, lantas mendekat ke arah Bara.


"Dia benar-benar harus diberi pelajaran," batin Rea.


"Dengan senang, sini." Bara menarik Rea hingga tubuh mereka rapat, saat hendak mencium pipi, Rea memalingkan wajahnya hingga bibir mereka bertemu.


Cup,


Rea tak menyiakan kesempatan untuk menggoda Bara, permainan kali ini ia yang berisiatif lebih dulu menggoda laki-laki itu.


"Mau menggodaku, kau masih harus banyak belajar sayang," bisik Bara.


"Baiklah, aku tidak akan segan lagi, Mas." Rea meraba leher Bara hingga ke tengkuk belakang lalu menekannya, mencium sekali lagi sebelum akhirnya bangkit tiba-tiba.


"Aku harus pulang, Mas."


"Rea," desis Bara, saat gadis itu telah menggodanya dan kini? bahkan Rea memutuskan ingin pulang.


"Tidak bisa," protes Bara.


"Mendekatlah, kau menyiksaku Rea."


Rea menghela napas, mendekat lagi dan mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu.


"Akan lebih tersiksa jika bermain dalam keadaan sakit, aku takut kamu kenapa-napa," bisik Rea.


"Aku pulang, Mas. Salam buat calon Mama dan Papa," pamit Rea.


"Kau..." Bara tak bisa berkutik, ia hanya bisa pasrah saat Rea berlari meninggalkannya.


Dengan langkah pelan ia menyusul keluar, dan Rea benar-benar pulang membuat Bara seketika jengkel.


"Awas saja, sudah berani menggodaku akan habis jika bertemu nanti," batin Bara.


***


Setelah melewati pemulihan beberap hari, kini tubuh Bara sudah bisa melakukan aktivitas apapun termasuk kembali ke kantor. Namun, hari ini Aron tak memintanya datang. Sang Papa justru memintanya mengajak Rea ke butik untuk fiting baju dan Aron tak akan membiarkan Bara memegang kemudi sementara waktu.


"Sayang, tunggu pembalasanku." Bara tersenyum smrik, ia sengaja menunggu Rea di depan kampus saat jam kuliah gadis itu usai.


"Mas Bara," ucap Rea tak percaya laki-laki itu datang menjemputnya.


"Hm, jangan menatapku seperti itu, aku sudah sembuh dan sudah bisa memakanmu," bisik Bara, ia meraih jemari mungil itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Kita ke butik jalan XX, Pak."


"Butik Mba Najira?" tanya Rea sebab yang ia dengar butik calon kakak iparnya juga berada di daerah itu.


"Bukan sayang."


Rea terdiam, dalam hati bernapas lega.


Tak berselang lama, mereka sampai di sebuah butik megah. Rea kembali dibuat takjub sementara Bara hanya terkekeh melihat kepolosan calon istrinya.


Sebelum turun, Bara menggenggam pergelangan tangan Rea.


"Keluar dulu, Pak! titah Bara pada sang supir.


"Baik, Tuan."


Bara menatap Rea lekat-lekat, "kamu yakin beneran siap nikah? aku gak maksa cepet-cepet walau tanggal sudah ditentukan orang tua kita?"


Rea mengangguk,


"Beneran? gak akan nyesel?"


Rea menggeleng,


"Jawab, Rea. Aku butuh kepastian."


"Aku dah siap, Mas. Beneran dan gak akan menyesal, kalaupun iya menyesal itu karena kenapa kita gak dipertemukan dari awal saja!"


"Jadi kamu maunya aku yang perjaka?" tanya Bara.


"Eh, ya nggak gitu juga, Mas."


"Lupakan, ayo masuk. Aku ingin lihat secantik apa calon pengantinku!" Bara menarik Rea keluar mobil untuk menuju butik.