
Alur maju mundur cantik sayang!
***
Kilas balik pertemuan Reivan dan Alesya.
Brakkk!
Pintu hotel terbuka, dengan sedikit kepayahan Reivan melempar tubuh Alesya ke atas ranjang.
Glekkk...
Dress gadis itu tersingkap hingga memperlihatkan pa ha putih mulus milik Alesya. Reivan menelan salivanya berat lantas segera menutupnya dengan selimut.
"Ugh... Panas! Tolong," rintih Alesya, menggeliat tak nyaman. Bahkan selimut yang digunakan Reivan untuk menutupi sebagian dari tubuhnya terlempar ke bawah karena ulah Alesya.
"Hallo Arsen, selidiki wanita yang bersamaku ini!" perintah Reivan lewat sambungan telepon.
Baru saja Arsen merebahkan tubuh lelahnya, perintah dari atasan datang. Seolah Reivan tak ingin barang sebentar membuatnya istirahat.
"Baik, Tuan!"
Telepon terputus sepihak, membuat Arsen ingin rasanya melempar ponselnya hingga lenyap.
"Tuan sia lan," gerutunya berdecak.
Reivan tambah pusing saat melihat wanita di hadapannya itu terus menggoda, mele nguh kepanasan dan meminta tolong. Barangkali memang benar ia sedang dalam pengaruh obat perang sang.
"Tolong,---" gumaman tak jelas Alesya menarik perhatian. Namun, Reivan memilih tak gegabah.
Alesya menarik tubuh Reivan yang tak fokus karena menunggu info dari Arsen.
"Ck!" decakan tanpa sadar lolos saat Alesya menarik Reivan hingga jatuh tepat di atas gadis itu.
"Siapa namamu?" cerca Reivander. Jujur saja, kelakuan gadis ini telah berhasil membangkitkan gair*h Reivander.
"Ale, Alesya Damara Alnav." Bibir Alesya menyeringai tipis sementara matanya sudah sayu menahan hasr*at akhibat obat perang sang.
Reivan bangkit, melempar ponselnya ke sembarang arah lantas menyeret Alesya.
"Tuan, hey kenapa kau kasar sekali!" pekiknya kesakitan.
Reivan tak perduli, tak sabar ia membopong Ale ke arah kamar mandi dan mengguyurnya dengan banyak air dingin.
"Sadarlah!" teriaknya.
Disela-sela membantu Alesya dan menahan hasratnya sendiri, ketukan pintu terdengar keras. Reivan meninggalkan Alesya di kamar mandi dan membuka pintu kamar hotelnya.
"Tuan," sapa Arsen membungkuk.
"Gadis ini adalah Alesya, Alesya Damara Alnav. Putri kedua Pak Bara dan Ibu Rea. Juga calon istri Galen," ujar Arsen yang sebenarnya sama terkejut seperti tuan-nya.
"Apa? Calon istri Galen?" tanya Reivan tak sabar.
"Ck! Ya sudah, kamu balik ke kamarmu!" perintah Reivan diangguki oleh Arsen.
Setelah memastikan Reivander menutup pintu, Arsen mengaga tak percaya.
"Tuan pasti pusing telah meniduri calon istri ponakannya," gumam Arsen. Ia melihat atas ranjang berantakan tadi, otaknya kemana-mana. Namun, untuk bertanya langsung pada Reivan, nyalinya sudah menciut.
Alesya menggigil, akan tetapi siraman Reivan mampu mengembalikan sebagian kesadarannya. Saat menyadari situasi rumit yang menimpanya, Alesya memerah antara malu dan menahan amarah.
"Tuan, bisakah meminjamkanku bajumu?" mohon Alesya dengan tubuh sudah menggigil.
"Pakai ini untuk membungkus tubuhmu! Aku akan keluar mengambil baju ganti," titah Reivan diangguki kepala Alesya.
Reivan kembali ke parkiran setelah meminta kunci mobil pada Arsen, sungguh meski mudah baginya mengeluarkan perintah. Tak sampai hati bagi Reivan mengganggu jam istirahat Arsen.
Alesya mengangguk, rupanya om-om di hadapannya saat ini bukan pria hidung belang seperti yang ada di novel-novel. Haruskah Ale merasa bersyukur karena tertolong olehnya.
***
Kediaman Bara.
"Ayo Ale, salam sama suamimu!" tegur Mama Rea saat menyadari putrinya malah termenung menatap Reivander tak berkedip.
"Iya," lirih Ale lalu dengan gerakan impulsif meraih tangan Reivander dan mendaratkan kecupan singkat di punggung tangannya.
Sungguh drama pertama yang menyedihkan, bagaimana tidak? Calon suaminya tak datang dan sekarang dia malah menikah dengan pria yang terpaut jauh dengan usianya sekarang.
"Galen, tunggu aku membalasmu!" batin Alesya merutuki sang mantan bahkan menyumpahinya dalam hati.
Pernikahan dadakan tanpa persiapan Reivan, karena niat awal kedatangannya adalah menghadiri pernikahan Putri Bara dengan Galen.
Kedua orang tua Galen sendiri tak datang saat tahu anaknya membuat ulah, mereka terlalu malu pada Bara hingga tak datang sama sekali bahkan tuk sekedar minta maaf.
Tak ada yang tahu jika pengantin prianya ganti, Reivan pun hanya bisa melakoni ijab sah tanpa mengurus surat-surat mengingat segalanya tertulis atas nama Galen.
Di tempat lain, Galen menyesali kebodohannya di malam sebelum menikahi Alesya. Karla membuatnya mabuk berat dan berakhir di kamar hotel tanpa sehelai benang dan terbangun dalam keadaan hari sudah siang.
"Galen," panggil Karla. Mengusap lembut punggung polos itu penuh damba. Seharusnya rencana Karla menghancurkan pernikahan Galen dan Alesya berhasil karena video panas semalam yang Karla kirim pagi-pagi tadi ke nomor Alesya.
Galen membalikkan badannya, menatap nyalang ke arah Karla bahkan tangan kekarnya mencengkram kuat dagu Karla.
"Puas? Puas sudah membuat Alesya membenciku seumur hidupnya? Wanita macam apa kamu?" teriak Galen menggema.
Galen menyeringai, ia mengungkung Karla dan kembali menggagahinya dengan paksa.
"Kamu pikir, kamu spesial dalam hidupku? Lihatlah dirimu yang menyedihkan! Dibanding dengan Alesya, kamu hanya seonggok sampah pemuas nafsuku, ingat itu! Meskipun pernikahanku dengan Alesya batal, aku juga tidak akan menikah dengan ja lang sepertimu," desis Galen emosi. Tubuhnya maju mundur seiring lelehan air mata keluar dari sudut mata Karla.
Menyesal? Jawabannya tentu saja tidak. Jika dirinya tak bisa mendapatkan bahagia bersama Galen apalagi Alesya? Karla tidak akan pernah rela.
"Akh, sakit Galen!" pekik Karla menahan sakit karena junior Galen melesak ganas ke dalam tubuhnya tanpa ampun dan jeda.
Setelah mencapai puncak nirwana, Galen bangkit dan meninggalkan Karla begitu saja.
Membersihkan dirinya, setelah selesai Galen keluar dengan pakaian lengkap.
Ia lempar segepok uang di depan Karla "bayaranmu hari ini," desisnya sebelum benar-benar pergi dari hotel meninggalkan Karla sendirian.
"Ck! Galen-Galen, kamu fikir setelah video panas 19 detik kita tersebar kamu akan selamat? Tidak sama sekali, kamu akan merasakan dibuang layaknya sebuah sampah yang tak dibutuhkan lagi." Senyum seringai terbit di bibir Karla. Perse tan dengan pernikahan sahabatnya yang hancur berantakan oleh ulah egoisnya.
~~
"Ini kamar kita," ujar Alesya mengajak Reivan untuk istirahat setelah rangkaian acara selesai.
Pesta yang tadinya akan live publik terpaksa tergelar sederhana. Bara juga melarang para tamu undangan menyebar luas segala bentuk foto atau video pernikahan putrinya ke sosial media.
Meski harus mengalami beberapa kerugian materi, Bara tetap tersenyum lega melihat putrinya menikah. Walau ia ragu, hubungan seperti apa yang akan dijalani oleh Alesya dan Reivander nantinya.
Namun, melihat mereka naik ke lantai atas berdua membuat beban di pikiran Bara sedikit berkurang. Sebagai ayah yang sangat mencintai putrinya, Bara mengerti perasaan Alesya.
Kenaan masih murung karena Alesya bertindak gegabah menikah dengan laki-laki lain. Ia sedari tadi menampilkan ekspresi datar, berusaha menahan emosinya agar tak meledak di tempat.
"Sudah selesai kan, Pa?" tanya Kenaan tak sabar.
"Kamu mau kemana? Jangan bilang mau mencari si breng sek Galen?" tebak Bara.
Kenaan mengangguk bersama helaan napas kasar.
"Ken, istirahatlah dulu! Hal itu biar Papa dan Mama yang urus, iyakan Pa!" ujar Rea diangguki Bara.
Kenaan mengangguk lesu.