SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
112. Sugar season 2



Sepasang pengantin menghempas tubuh lelahnya di ranjang. Alesya berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya karena rasa mual yang mendera.


Hoekk... Hoekk... Hoek...


Alesya sampai menyalakan kran agar air mengalir meredam suara muntahannya. Namun, hal itu tak berlangsung lama saat pinjatan lembut menenangkan terasa di tengkuk.


"Gimana? Apa masih mual?" tanya Reivan. Jelas sekali wajahnya tergambar rasa khawatir. Mengingat sedari pagi, Alesya menolak makan apapun.


"Sudah lebih baik, kayaknya asam lambungku naik karena tak makan. Huff, malah jadi merepotkan semua orang," Ujar Alesya. Ia membasuh wajah, membersihkan sisa-sisa make up.


"Mas tolong bukain kancingnya," pinta Alesya. Ia sampai lupa jikalau masih mengenakan gaun pengantin.


"Boleh," seru Reivan. Tangannya dengan cekatan membuka kancing gaun pengantin Alesya. Tak ada niat terselubung baginya, karena rasa khawatir yang lebih dominan ketimbang nafsu sesat.


"Harusnya tadi kamu makan, walau dikit. Pengantin juga butuh asupan," seru Reivan menasehati.


Rea yang khawatir dengan putrinya yang menghilang sebelum acara usai pun mencari keberadaan kamar pengantin Reivan dan Alesya.


Ting tong.


Reivan segera membuka pintu, "Ehm, Ma?" meski kaku, Reivan berusaha memanggil Rea dengan sebutan Mama. Konyol memang, tapi benang takdir kadang sedamage itu.


"Mana putriku?" tanya Rea. Menerobos masuk dan mendapati Alesya terduduk dengan wajah pucat, ia bahkan sudah mengganti gaun pengantinnya dengan gaun tidur satin yang telah disiapkan Reivan.


"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Rea. Alesya menggeleng lemah.


"Boleh nggak Ma, kalau habis ini aku tidur aja?" tawarnya memohon.


Rea mengangguk, lalu menoleh pada Reivan.


"Apa masih ada acara malam?" tanya Rea.


"Ada sih, Ma! Tapi keadaan Alesya kaya gini."


"Ya kamu temenin anakku dong, acara nanti biar kami semua yang handle, lagian mereka pasti ngerti. Oh ya, apa Alesya hamil?" tanya Rea hampir membuat mata Alesya dan Reivan melotot sempurna.


"Hamil?" tanya keduanya kemudian kompak menggeleng. Bagaimana mau hamil kalau buatnya saja baru setengah jadi alias baru login langsung logout.


"Kenapa? Bukannya, ahhh..." mendadak Rea menghitung tanggal dan hari dengan jari-jarinya. Sontak Reivan dan Alesya membantah hal itu.


"Gimana mau hamil kalau tabur benih aja belum," seloroh Reivan tanpa filter.


Alesya melotot ke arah Reivan, seketika Rea menatap heran mereka bergantian.


"Jangan bilang kalian? ah astaga. Anak muda sekarang memang banyak gengsi malu-malu meong!"


"Bukan belum, tapi hampir."


"Mas!" pekik Alesya.


"Hahahah..." tawa Reivan pecah. Rea menggelengkan kepala, mengabaikan menantu somplaknya dan memilih cek ricek badan Alesya.


"Apa perlu dokter?" tawar Rea.


Alesya menggeleng.


"Aku gak apa-apa, Ma!"


"Kalau gitu, Mama ke Papamu dulu. Masih banyak tamu di luar."


***


Reivan mendekati Alesya, istrinya itu tampak muram seperti tisu bekas, kusut sangat kusut.


"Kenapa? Masih sakit? Bagian mana yang sakit?" cerca Reivan.


"Perut aku sakit, Mas! Jangan-jangan beneran hamil ini, gimana kuliahku kalau aku beneran hamil."


Takkk...


Reivan menyentil dahi istrinya itu, "mana ada hamil?"


"Hah? Kenapa? Kan bisa aja hamil," kekeh Alesya.


"Sudah tidur saja kalau lelah, nanti malam Arsen bakal bawa dokter kesini untuk periksa. Apakah kamu beneran hamil atau nggak!" Reivan mendadak kalem, mendadak dewasa meski sedikit tertular konyol.


Suasana di luar masih sangat ramai, makhlum saja banyak kolega dan rekan bisnis Reivan yang datang. Namun, sang pengantin malah tak bisa sekedar menyambut. Alhasil, Aderald dan Bara yang mengambil alih pesta.


"Gimana, Ma? Keadaan Alesya?" tanya Bara.


"Huftt, sepertinya hamil." jawaban Rea sontak mengundang Sarah dan Aderald mendekat.


"Hamil? Bagus dong, akhirnya kita dapat cucu!" seru Sarah sumringah.


"Ini masih sepertinya jeng, soalnya mereka nggak mau ngaku!"


***


Malam harinya, Arsen benar-benar mencari dokter terbaik untuk Alesya.


Tok tok tok...


Arsen mengetuk pintu, Reivan dengan segera membukanya.


"Tuan ini dokter yang anda minta."


Reivan mengangguk dan mempersilahkan dokter itu masuk.


Alesya masih rebahan dengan selimut sebatas perut. Dokter mendekat untuk menggunakan stetoskop memeriksa keadaan Alesya. Belum juga menyentuh da da, mata Reivan sudah melotot sempurna.


"Stop, jangan sentuh istriku!" seru Reivan. Meski terdengar gila, ia tak ingin Alesya disentuh pria lain sekalipun itu dokter.


"Tuan tapi,--"


"Arsen bawa dia keluar, kalau cuma mau sentuh da da istriku, aku sendiri juga bisa."


"Mas!" Alesya memijat pelipisnya saking tambah pusing.


"Apa? mana yang sakit?"


"Bodo, aku mau tidur!" kesal Alesya.


Namun, definisi tidur selama ada Reivan tak benar-benar membuat Alesya tidur. Meski mata Reivan terpejam di sebelahnya, tengah malam pria itu justru cosplay jadi dokter-dokteran.


Tangan kekar Reivan merayap kemana-mana bahkan masuk diantara gaun satin yang dipakainya.


"Ini tidur apa pura-pura, masak tangannya kemana-mana," dumel Alesya.


Saat hendak mendaki bukit kembar miliknya, Alesya menarik tangan Reivan dengan pelan dan...


Happp...


"Auhhh! An-jir, kenapa digigit Ale!" seru Reivan yang ternyata matanya dari tadi pura-pura merem untuk mengambil kesempatan.


"Kirain apa tadi, habis Mas merem gitu!"


Grepp...


"Itu namanya kode etik ninu ninu, masa nggak paham suami mau apa?" kesal Reivan. Masih mengibaskan tangannya bekas gigitan Alesya.


"Mas aku tuh lagi sakit lho," ujar Alesya memelas.


"Iya iya, tadi kan cuma tes drive ulang! Pemanasan," alibi Reivan. Ia menarik selimut dan kembali tidur dengan wajah menatap ke samping menghindari Alesya.


Rasa bersalah menyergap, membuat Alesya serba salah. Ditolak, endingnya dobel dosa. Diterima, badannya sedang tidak sefrekuensi, alias remuk.


Dengan tidak menurunkan harga diri, Alesya tidur memeluk Reivan. Tak berselang lama, Reivan mengubah posisi menghadap ke arahnya.


"Mas sudah siapin tiket terbang ke lombok, Dek!"


"Hm, kuliah Mas!"


"Gimana kalau ditunda dulu? Satu tahun, paling tidak sampai kita punya bayi," pinta Reivan.