SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 84



Dor dor dor...


Amel menggedor pintu kamar kakaknya dengan brutal sebab sejak ia menceramainya kemarin kakaknya jadi sulit diajak ngobrol.


"Berisik Amel suramel," maki Selena dari dalam.


"Buka, atau aku dobrak nih! Mau info tentang Mas Revan gak?" teriak Amel tak kalah keras.


"Satu dua ti..."


Ceklek!


Selena membuka pintu dengan kasar.


"Apa?"


Amel nyelonong masuk, menghempas tubuhnya di atas ranjang.


"Masih ingat temanku Rea?" tanya Amel.


"Mana ku tahu, aku kan gak pernah di rumah. Selalu sibuk urusan kerja!" Selena memutar bola matanya malas.


"Yang sering kesini sama Amy dulu!"


"Hm." singkat Selena.


"Adik kandungnya Mas Revan, kamu nih ham hem terus. Rea itu bisa jadi kunci kakak dapatin hatinya Mas Revan," ujar Amel bersemangat.


"Susah, mau ngarepin gimana. Pak Revan ibarat gunung es balok. Udahlah kalau kamu nikah duluan gak apa-apa, aku lagi nggak mikir cinta-cintaan. Nggak mau maksa diri juga, takut cuma dijadikan pelarian." terang Selena.


"Tapi nggak nyesel nolak Mas Tama kan?" tanya Amel.


Selena menggeleng, "Tama bukan tipe aku, aku nggak suka cowok yang gak ada gregetnya!"


"Hilih, ada kali cuma kakak aja nggak tau!" Amel melangkah keluar kamar sang kakak dengan kesal.


Namun, sebenarnya ia sungguh kasian dengan Selena sebab harus menyukai laki-laki seperti kakaknya Rea yang kemungkinan susah melepas masa lalunya.


Beruntung Tama tak terburu mengajaknya menikah, mereka sepakat menunda agar baik dirinya maupun Tama bisa saling mendewasakan diri dan memantaskan diri lebih dulu sebelum melakoni rumah tangga seperti Bara dan Rea.


Intinya, untuk saat ini Tama dan Amel lebih memilih menikmati waktu pacaran mereka lebih dulu.


***


Hey, rupa-rupanya kau benar fotocopy-an diriku ya? sungguh, aku jadi tak sabar untuk segera bertemu denganmu. Semakin bertambahnya hari, bulan dan waktu. Kami, aku dan Mamamu semakin menantikan kehadiranmu saat kami dengar pergerakanmu di dalam sana. Apa kamu sedang menyapa Papa gantengmu ini Baby boy?'


"Makin buncit makin seksi ya sayang, banyak-banyak makan ya biar baby kita sehat. Pagi ini mau keliling kemana? jalan kaki ke taman deket sini boleh lah sebelum aku ngantor," ujar Bara.


"Aku mau ngadem di taman deket sini, Mas. Yang banyak anak-anak TK disana kalau pagi-pagi."


"Oke, ayo jalan kalau begitu!"


Rea mengangguk, ia meraih tangan Bara yang akan menggandengnya keluar rumah.


Tak terasa waktu cepat berlalu, hari terus berganti dan bulan bergulir dengan cepat. Bara sangat menikmati perannya sebagai suami siap siaga dengan menuruti segala kemauan sang istri, apapun itu.


"Pelan-pelan aja Rea."


"Iya iya, Mas. Aku juga udah pelan lho ini," ucapnya menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap Bara yang semakin protektif.


"Mas liat deh, banyak anak-anak kan. Seneng banget liatnya, jadi gak sabar." Rea menunjuk segerombolan anak TK yang sedang bermain di area taman bersama gurunya.


"Iya, sayang. Semoga anak kita sehat dan lahir dengan lancar nantinya!"


"Udah jam tujuh, Mas. Pulang aja dulu, kan harus ke kantor."


"Yaudah ayo kita pulang," ajak Bara.


Laki-laki itu semakin tak bisa menahan euforianya saat tahu hasil USG anak mereka laki-laki, si calon penerus keluarga Alnav.


Kini usia kehamilan Rea memasuki usia delapan bulan, perutnya semakin buncit akan tetapi tubuhnya masih tetap langsing dan seksi di mata Bara.


"Ibu telepon sayang, kamu nggak bawa ponsel ya?" tanya Bara begitu mereka sampai di gerbang pintu masuk rumah.


"Nggak ada, mau taruh dimana kan aku pakai daster sayang!"


"Oh iya ya, hehehe." Bara cengengesan, ia mengajak Rea masuk kemudian mengangkat telepon dari mertuanya.


"Hallo, nak Bara? gimana kabar Rea, sehat kan?" tanya Neya.


"Sehat Ibu, dedeknya juga sehat."


"Syukurlah, nanti kalau mau lahiran kabarin Ibu ya. Ibu mau nemenin putri kesayangan Ibu," ujar Neya.


"Baik, Bu. Nanti kalau gak maju pertengahan bulan depan harusnya, Bu!"


"Oke, Nak. Nanti Ibu persiapkan semuanya. Sudah membeli perlengkapan bayi?" tanya Neya, membuat Bara dan Rea seketika menepuk jidatnya dan kompak menjawab.


"Belum, Ibu kan masih lama!" jawab Rea.


"Sebulan lagi Rea, mumpung masih bisa beli siapin walau beberapa kan udah mau lahir juga nggak apa-apa beli perlengkapannya. Nanti kalau terlalu mepet kalian juga yang repot."


"Iya, Ibu sayang. Nanti Rea nunggu Mas Bara libur, sekarang mau kerja dulu dia. Teleponnya Rea tutup yah."


"Iya, sayang. Jaga kesehatan!" sambung Neya.


Sejak tahu perihal hamilnya, Neya hampir setiap hari menelepon entah itu sekedar Rea makan apa? bagaimana keadaannya? bahkan, sampai saat ini yang Neya tahu adalah Rea hamil langsung setelah menikah sebab baik orang tua Bara atau Revan tak pernah membocorkan kehamilan Rea yang lebih dulu.


Rea dan Bara menikmati sarapan bersama, satu jam setelahnya Bara berangkat ke kantor sementara Rea di rumah bersama bibi Liam.


"Surprizeeeee..." Amel, Amy masuk setelah Bara keluar membuat Rea yang mengantar sang suami sampai depan pintu kerkejut dengan kemunculan tiga wanita cantik.


"Eh ini..." Rea tampak berfikir sejenak dan memgingat-ingat.


"Kak Selena, ingat kan?" tanya Amel dengan senyum lebar, sementara Selena hanya mengangguk canggung.


"Inget, iya inget. Kakak kamu yang super gila pekerjaan itu kan, eh!" Rea seketika menutup mulutnya dan meringis.


"Iya bener, sampai sekarang pun masih gila. Cuma ya beda lah penyebabnya. Kasih tak sampai." cibir Amel.


"Ih apaan sih," elak Selena.


Sudah-sudah. Rea boleh masuk," ujar Amy memupus perdebatan.


"Ah iya ayo ayo masuk. Maaf ya, bumil agak lola," ujar Rea mempersilahkan mereka bertiga masuk.


Baik Amel dan Amy senang, Rea baik-baik saja dan terlihat sangat dekat. Namun, selain ingin melihat keadaan Rea, Amel juga harus membantu sang kakak mengejar cinta lewat jalur restu sang adik dari Revan Andika.


"Kalian udah sarapan belum, sarapan gih. Bi Liam masak banyak loh," tawar Rea.


"Udah kenyang tadi makan cinta sama Mas Tama hahaha," ujar Amel terkekeh dan turut memancing tawa Rea dan Amy.


"Apa kabar kak Sel, kerja dimana?" tanya Rea.


"Di DM Group, Rea."


Rea mengangguk-nggangguk, merasa familiar dengan DM Group, akan tetapi sulit baginya mengingat.


"Kak Selena ini dulunya teman kerja Mas Revan, Rea."


"Astaga, pantes kaya pernah denger DM Group!" Rea seketika menepuk jidatnya.


"He'em. Btw, apa kabar Kakak kamu? dulu kami lumayan akrab loh, gak nyangka dia memilih resingh."


"Mungkin baik, Kakak jarang ke Jakarta sekarang. Apalagi kan istrinya sudah meninggal, tapi masih sering kesini kok, entah itu sekedar pulang ke apartemen atau main kesini," ujar Rea.


"Masih belum bisa move on ya, Rea?" tanya Amy.


"Belum kayaknya, entah sampai kapan kakakku begitu!" Rea menunduk sedih.


Lain halnya dengan Selena, ia berharap dalam hati dekatnya ia dengan Amy dan Amel juga Rea bisa memberikan kesempatan untuknya bertemu dengan laki-laki itu.