
"Udah, Dans. Rea udah pergi juga gak perlu sandiwara," lirih Kanaya.
Saat Danis pertama kali memakaikan helm di kepalanya, saat itu juga Kanaya menangkap sosok Rea masuk ke Supermarket. Merutuki diri yang hampir melayang karena sikap laki-laki itu sejak menemukannya dalam kondisi paling buruk di hotel, Kanaya sempat tersentuh. Namun, kembali ia menjatuhkan perasaannya agar tidak hanyut dalam drama Danis.
Karena di dunia ini, hanya ada dua model laki-laki, baik dan breng sek!
Laki-laki baik bisa menjadi breng sek, begitupun sebaliknya bukan? akan tetapi hal seperti itu butuh proses lama, bahkan mungkin butuh pukulan terberat agar sadar lebih dulu.
Danis bukan orang yang mudah berubah, dan Kanaya yakin laki-laki itu sedang bersandiwara.
"Rea?" Danis mengernyitkan kening.
Kanaya hanya mengangguk, Danis menatap sekeliling dan tak menemukan apapun. Lantas ia meminta Kanaya naik ke atas motornya untuk segera pergi.
"Dans, sampai saat ini aku masih merasa aneh sama sikap kamu! Sikap kamu yang kaya gini justru bikin aku semakin jadi orang yang jahat."
Danis hanya diam, ia sendiri tak mengerti kenapa tiba-tiba begitu empati kepada Kanaya, yang jelas sejak malam itu ia selalu dihantui rasa bersalah karena membiarkan Kanaya dijual ayah tirinya. Padahal dia jelas-jelas melihat sendiri Kanaya diseret paksa, ia melihat sendiri bagaimana gadis di belakangnya ini berusaha memberontak.
"Soal itu, Rea yang memberitahuku dimana keberadaanmu. Aku tidak ada maksud apapun, hanya merasa malam itu aku begitu bodoh membiarkanmu diseret Om Erlangga."
"Anterin aku pulang," ujar Kanaya.
"Tidak akan, pria tua itu pasti akan kembali melemparmu demi uang!" tegas Danis.
"Lantas? bukankah sudah biasa bagiku, mau aku bersikap sebaik apapun, aku hanyalah gadis kotor."
"Terserah, tapi aku tidak akan mengantarmu ke rumah neraka itu. Pulang ke rumahku, aku akan bilang pada Mama."
***
Capek ya?
Terus-terusan kangen sama kamu, tapi belum bisa ketemu!
Rea~
Rea, ia menatap kalender seharga lima belas ribuan yang menggantung di dinding kamar kosnya, lalu melingkari satu tanggal disana. Bukan sedang membuat pengingat, hanya membuat lingkaran kecil di angka tersebut. Esok, usianya sudah genap dua puluh dua, dan seperti biasa ia hanya akan mengunci diri di dalam kamar sebagai perayaan. Tak akan membiarkan siapapun datang termasuk kakaknya Revan.
Rea tak mau berharap kepada siapapun termasuk Bara, baginya keberadaan laki-laki itu di sisinya sudah cukup menjadi kado yang sangat indah. Sebelumnya, selain dengan keluarga ia berharap bisa menghabiskan hari spesialnya dengan kekasih. Namun, sejak hari dimana ia merasa kecewa, Rea tak mau lagi berharap apapun dari tanggal itu.
"Rea, mau bareng nggak?" suara Amel menggelegar.
"Kalian berangkat lah, aku bolos." Rea menjawab tanpa membuka pintu.
"Oh, oke." Amel tak bertanya lebih lanjut lagi, pun juga dengan Amy.
Setelah suara kedua sahabatnya tak lagi terdengar, Rea pun membuka pintu.
Ia menatap ke sekeliling dan ternyata sudah sangat sepi.
Menghela napas kemudian kembali menutup pintu untuk melanjutkan tidurnya.
"Tam, kado ulang tahun bagusnya apa?" tanya Bara begitu selesai meeting pagi tadi.
"Apa? tas, sepatu, cincin, apalagi..." Tama tampak berfikir.
"Oh oke, kamu handle pekerjaan hari ini dan bilang ke Papa aku ada urusan." Bara pamit tanpa menunggu jawaban Tama untuk mengiyakan.
"Shittt... Aku kan juga butuh waktu buat kencan," decak Tama menatap punggung Bara dengan sebal akan tetapi tak bisa menolak.
"Kemana Bara?" tanya Aron yang tiba-tiba muncul di belakang Tama.
"Kenapa tergesa sekali pergi?" sambungnya lagi.
"Eh, Itu Pak. Bara ada urusan katanya."
"Oh, kalau begitu kamu yang temani saya ke Bandung siang ini," ujar Aron kemudian berlalu melewati Tama.
"Ck! Papa dan Anak sama saja, suka menindas kaum bawah." rutuk Tama dalam hati.
Tama kembali ke ruangannya dengan wajah muram.
"Misi, Pak! Ini dokumen yang harusnya di periksa Pak Bara, karena hari ini beliau ada urusan jadi tadi berpesan untuk menyerahkannya pada Bapak," ujar seorang karyawan wanita dari divisi pemasaran.
"Hm, taruh disitu!" titah Tama, wanita itu mengangguk lalu pamit.
Tama hanya bisa memandang setumpuk dokumen itu dengan tubuh lemas.
***
Bara mencoba menghubungi Rea setelah keluar dari perusahaan. Namun, sudah kesekian kalinya panggilan itu tak terjawab membuat Bara kesulitan menebak dimana kekasihnya saat ini.
"Dia pasti kesal karena beberapa hari tak bertemu, gitu ya kalau orang kangen bawaannya ngambek terus," gumam Bara.
Bara tak lupa membooking sebuah restorant bernuansa romantis dan mempersiapkan semuanya disana.
Setelah dirasa cukup, ia melajukan kembali mobilnya menuju tempat Rea.
Tok... tok... tok...
Bara mengetuk pintu kamar kos Rea dengan tak sabar, tak ada sahutan. Namun, samar ia mendengar suara pintu akan terbuka.
Ceklek...
"Mas Bara," gumam Rea setelah sadar karena bangun tidur, ia bahkan masih memakai piyama pendek dan belum mandi sedari pagi.
"Natural banget sayang kalau lagi bangun tidur," sapa Bara dengan senyum.
"Aaa... Mas tunggu di luar!" Rea langsung menutup pintu sebelum Bara masuk ke dalam kamar kosnya.
Menyadari saat ini wajahnya begitu berantakan, Rea langsung melihat diri di depan kaca.
"Aaa... Mas Bara jelek," pekiknya malu.
"Duh, ini wajah gak ada akhlak banget sih, ketemu Mas Bara malah kucel begini," rutuk Rea segera masuk ke kamar mandi.
"Aku tunggu, Re. Jangan lama-lama."
Bara memutuskan menunggu di teras kos, ia sedang malas masuk ke kamarnya. Tak berselang lama Rea keluar, wajahnya sudah lebih segar dan cantik dengan polesan lipstik tipis berwarna nude.
"Ayo ikut aku," ajak Bara tak sabar menarik tangan Rea.
"Aku ambil tas dulu bentar. Mas, mau ngajak kemana emang?"
"Kemana-mana, keliling dunia kalau perlu," goda Bara.
"Ish mana mungkin!"
"Mungkin nanti, setelah kita menikah."
Deg.
Jantung Rea berdetak kencang. Dengar suara Bara aja udah buat dia ketar ketir apalagi saat laki-laki itu melontarkan kata 'setelah kita menikah', ingin rasanya Rea memeluk laki-laki itu segera.
"Heii, mikirin apa?" tanya Bara yang melihat Rea terbengong, bahkan saat dirinya membukakan pintu mobil.
"Mikirin kamu, Mas. Kemarin-kemarin beneran gak ada waktu buat ketemu aku bukan sih? tanya Rea cemberut, ia menghempas tubuh dengan kesal ke dalam mobil.
"Iya sibuk, gimanapun kan rumah itu aku kasih ke Najira. Tapi dia kekeh hasil penjualan dibagi dua, dan aku juga gak bisa nolak pas dia minta aku bertemu dengan pembelinya langsung!" jelas Bara.
"Kan bisa ditransfer, dia bisa mengurusnya sendiri kan, Mas."
"Iya tahu, kamu kalau lagi cemburu galak juga ya," goda Bara.
"Hufff..." kesal Rea.
Bara mendekatkan tubuhnya bermaksud membantu Rea memasangkan seatbelt, akan tetapi yang terjadi malah kekasihnya itu memejamkan mata sambil memalingkan wajahnya.
"Itu definisi minta cium tapi gengsi bukan sih?" batin Bara gemas sendiri melihat ekspresi Rea.
Ceklek.
"Hah?" Rea membuka mata, tak terjadi apapun. Bara bahkan sama sekali tak menciumnya membuat ia sedikit heran sekaligus kecewa.
"Ehm, ngapain tadi?" tanya Bara tak kuasa untuk tak menggoda Rea.
"Bukan apa-apa, Mas. Dah gih berangkat."
Rea menatap keluar jendela mobil, sebelum Bara melajukan mobilnya, ia mencondongkan tubuh dan menarik tengkuk Rea hingga gadis itu menoleh.
Cup! Kecupan singkat Bara daratkan di bibir gadis itu.
"Maaf ya, kalau aku ngangenin. Lain kali kalau kangen, sebut namaku tiga kali. Jangan ngambek-ngambekan, nanti cantiknya ilang," ujar Bara seraya merapikan anak rambut Rea.