SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 89



"Ada yang bisa aku bantu, Ibu? Rea, Tante?" tanya Revan menghampiri sang Ibu yang repot menyiapkan beberapa bingkisan makanan bersama Mamanya Bara dan Adiknya.


"Kebetulan, kamu temenin Joan nganter ini ke tetangga-tetangga sekitar ya, Revan."


Revan mengangguk, ia sedikit mulai akrab dengan kedua orang tua Bara sejak kematian istrinya. Entah, ia sendiri sejujurnya sangat tak enak, akan tetapi lebih tak enak lagi jika Revan menghindar. Terlebih adiknya diperlakukan istimewa di keluarga Alnav.


"Kak Re, biar Rea aja yang anter. Kamu sama Joan ke rumah Amel terus rumah Amy sama Devan buat nganter ini ya, aku udah siapin."


"Hah rumah Amel ya, Re?"


Rea mengangguk, ia memang sengaja meminta kakaknya pergi kesana.


"Terus kamu sama siapa sayang?" tanya Rosa ke Rea.


"Sama Mas Bara, Ma. Biar akrab juga sama tetangga-tetangga disini, kan dari awal tinggal belum sempat sapa."


"Kenaan sama siapa?" tanya Neya, sebab saat ini dirinya dan Rosa sibuk mempersiapkan bingkisan.


"Sama dua kakek kerennya dong, kan calon CEO. Jadi sudah belajar sejak bayi," ucap Bara seraya terkekeh.


"Udah ayo sayang, biar cepat selesai."


Bara dan Rea pamit, membawa beberapa bingkisan ke dalam mobil.


Sementara membiarkan Papa Aron dan Ayah Alex menjadi pengasuh dadakan Kenaan.


"Semoga saja rencanaku berhasil ya, Mas. Kasian Kak Revan, baru juga nikah udah duda mana susah move on!" Rea menghela napas, ia duduk di sisi kiri kemudi.


"Semoga, tapi sepertinya kakakmu itu kepalang cuek, lebih mirip kulkas dingin. Heran aku, bisa kepincut sama Najira." Bara mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Mas juga pernah kepincut kan, pake bawa-bawa heran, hm. Mba Najira itu mantan istri, Mas lho." Rea menekuk wajahnya.


"Cuma mantan, sayang." Bara menggaruk kepalanya, sepertinya ia sudah salah bicara.


"Sama aja, Mas."


"Hm, jadi lagi mode cemburu ni? cemburu sama mantan aku, kamu, Rea? Aduh sayang..." Bara menghentikan mobilnya, padahal ia baru sampai di ujung jalan rumah.


Menarik tangan Rea, dan menempelkannya di dada.


"Pegang hati aku kalau kamu nggak percaya, disini cuma ada nama kamu lho! Rea Anandita sayang cinta kasihku."


"Apaan gombal!" Rea tersipu malu mendengar kata-kata Bara.


"Gombal juga kamu sayang, kamu mau, kamu cinta. Aku gak butuh yang lain," ujar Bara. Ia menarik tubuh Rea dan mencium bibirnya dengan lembut. Bak gayung bersambut Bara semakin bersemangat saat Rea membalas ciumannya.


"Mas ini di mobil," ujar Rea setelah ciuman mereka terlepas.


"Memang sayang!"


"Malu ketahuan orang!"


"Kan kacanya gelap, gak akan ada yang tahu kok. Bahkan kalau kita melanjutkannya disini," ujar Bara terkekeh.


"Ishhhh, mana bisa sekarang! Gak sabar banget kamu, Mas."


Pletakk!


Bara menyentil pelan kening Rea, "pikirannya kemana coba, istriku ini me sum kali."


"Ishhhh, emang lanjut apa?" tanya Rea.


"Lanjut jalanlah sayang, kan mau bagi bingkisan." Bara terkekeh, senang sekali bisa menggoda istrinya.


"Ishhhh, aku kira." Rea tertunduk malu.


Mereka pun mulai membagi bingkisan satu persatu ke tetangga sekitar rumah barunya juga sekitar rumah besar Alnav. Bara dan Rea sangat kompak dalam hal apapun, terbukti untuk mengunjungi rumah satu ke satunya mereka tetap lakukan berdua, bersama-sama hingga siapapun yang melihat akan merasa iri.


Ucapan selamat satu persatu terlantun. Baik bara maupun Rea berharap doa-doa dari mereka untuk Kenaan dan rumah tangganya kembali baik ke mereka.


Bukankah sebuah kebaikan akan berbuah kebaikan? dan Bara sangat beruntung menjadi salah satu dari yang merasakan kebaikan itu. Dikelilingi orang-orang tersayangnya, dipermudah karir dan dipertemukan dengan orang yang tepat adalah impian sederhananya dulu. Meski jalan tak selalu mulus, meski harus naik turun bahkan mendaki terjal, Bara sudah mengalami.


Selanjutnya, ia hanya ingin hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, bersama Kenaan dan juga orang-orang tersayangnya.


"Akhirnya," ucap Rea bernapas lega.


"Hm, aku senang. Semoga Kenaan dan istriku selalu diberkahi sehat." Doa Bara.


"Semoga suamiku juga." Rea menatap Bara dengan senyum tersungging di bibir setelah mereka selesai membagi bingkisan.


Rea hanya tersenyum mendengar kata cinta Bara, terasa manis di telinga hingga membuat bibirnya hanya mampu membalas dengan senyum manisnya.


"Gak di jawab, jawab dong!"


Rea menatap sekeliling, lalu mengangguk.


Ingin rasanya Bara protes, tapi tangannya lebih suka bertindak lalu membawa sang istri masuk ke dalam mobil.


"Ayo di jawab," pinta Bara.


"I love you so much, Mas Bara! Udah kan, sekarang mana hadiahnya," ucap Rea, menarik-narik tangan Bara seperti anak kecil.


"Hadiahnya cium, ini." Bara mendaratkan ciuman di kening Rea sebelum akhirnya melajukan mobilnya kembali untuk pulang.


***


Dua bulan berlalu, Tama dan Amel menikmati momennya sebagai pengantin baru dengan berbulan madu. Sementara Rea, karena Tama cuti untuk waktu agak lama, Bara jadi lebih sering pulang malam dan hal itu membuatnya uring-uringan. Bukan kesal dengan suaminya, tapi Rea merasa waktu pertemuannya dengan Bara semakin singkat meski tinggal dalam satu rumah.


"Janji deh, habis menangin tender ini kita liburan."


"Jangan janji deh, Mas. Aku takut kecewa kalau nggak jadi." Rea cemberut, meski Bara bukan tipe suami ingkar janji, tapi akhir-akhir ini suaminya sering mendapat tugas dadakan dari Papa mertua yang membuat ia dan Bara kesulitan quality time meski di hari minggu.


"Iya iya, pokoknya aku akan buktiin. Aku ajak kamu sama Kenaan liburan yang jauh," ujar Bara serius, ia sudah punya banyak rencana. NTT adalah pilihan terbaik mengajak Rea dan Kenaan liburan.


"Jangan jauh-jauh, Kenaan masih kecil."


"Iya iya, pokoknya yang aman buat Kenaan sayang." Bara menciumi pucuk kepala Rea berulang-ulang.


"Makasih, Mas."


"Gimana kakak kamu? ada peningkatan?" tanya Bara.


Rea menggeleng, "nggak ada! Amel sendiri bilang, Kak Selena hampir menyerah. Tiap bertemu obrolan mereka nggak lebih dari ini itu, nggak, iya, tidak, hm." Rea mempraktekkan gaya bicara Revan akhir-akhir ini, sebab Kakaknya sudah benar-benar menjelma menjadi es balok yang dingin.


"Tapi setidaknya, dengan adanya kakakmu di Jakarta. Selena lebih mudah mengejarnya bukan?"


Rea menghela napas, kemudian menggeleng.


"Tak apa, biarkan saja, Rea. Orang kan beda-beda, mungkin kakakmu perlu banyak waktu untuk berfikir, untuk membuka lembaran baru. Jika hari itu tiba, kenangan lama yang sudah ia tutup tak akan ada kesempatan terbuka lagi."


Rea hanya mematung mendengar ucapan Bara, semakin lama pria itu semakin menunjukkan sikap bijaknya bukan hanya sebagai suami, tapi juga tempatnya berbagi dalam hal apapun termasuk keluh kesahnya.


"Kalian mau honeymoon?" tanya Rosa bersemangat.


Bara dan Rea mengangguk kompak. Aron yang sedang menggendong Kenaan tak terkejut.


"Baguslah, kalian kan belum sempat. Biar Kenaan kami yang jaga, iyakan Pa?"


"Nggak, Ma!" kompak Bara dan Rea.


"Kenaan ikut dengan kami, Ma, Pa!"


"Hah?" Aron dan Rosa seketika saling pandang.


"Siapa yang akan jaga Kenaan?" tanya Rosa tak setuju.


"Tentu kami, kami orang tuanya Kenaan. Astaga Mama, Papa."


"Itu namanya bukan bulan madu Bara, Rea?" tanya Aron.


"Memang bukan, kami kan liburan keluarga."


"Baiklah, terserah kalian. Asal jangan lengah menjaga cucuku. Jaga baik-baik!"


"Siap, iya deh iya yang lebih khawatir sama Kenaan." Bara mulai kekanakan, mencemburui anaknya sendiri.


"Iyalah, Kenaan cucuku. Meski kalian ganti dengan cucu yang lain, tetap yang aku utamakan Kenaan." tegas Aron sekali lagi memancing tawa Rosa.


Bara sendiri merasa ngilu mendengarnya, ia hingga saat ini bahkan belum berani menyentuh sang istri lebih, masih membayangkan kepala Kenaan keluar dan tangis Rea saat berjuang melahirkan membuatnya tak hanya harus menahan diri tapi juga belajar menjadi laki-laki yang lebih sabar.


Hallo semua, apa kabar? salam santun🙏🏻 mungkin tinggal satu atau dua part lagi Bara dan Rea akan tamat.


Namun, akan ada beberapa bonus chapter Revan dan Selena.


Semoga kalian tetap sabar menanti meski jarang up, karena aku sedang nyiapin endingnya biar mateng😘🤭


jangan lupa tinggalkan like komen dan vote sebanyak-banyaknya~