SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
111. Sugar season 2



Dua jam sebelumnya,


Karla memesan taksi online menuju kediaman Alesya. Namun, sampai disana malah disuguhkan pemandangan banyak mobil iring-iringan pergi. Mendadak, Karla penasaran kemana perginya mobil-mobil itu.


"Pak, ikutin mobil mereka ya!" pinta Karla diangguki langsung oleh supir taksi.


Mobil Kenaan, kedua orang tuanya dan keluarga besar melaju menuju hotel tempat dimana Alesya dan Reivan menikah lagi.


"What ada acara apa?" gumam Karla saat tahu mereka masuk ke dalam hotel mewah.


Ia turun dari taksi dan diam-diam mengikuti kemana perginya keluarga Alnav.


***


Dan disinilah Karla, menyelinap diantara para tamu undangan yang hadir sambil memakai masker. Duduk di ujung agar tak terlihat oleh si pemilik acara. Beruntung, ia datang tepat di belakang keluarga Alnav. Jadi penjaga keamanan tak menanyakan keberadaan kartu undangan miliknya.


"Wait, jadi..." Karla hampir mengumpat saat melihat sepasang pasutri tengah tersenyum lebar menyambut tamu-tamu undangan.


Siapa lagi kalau bukan Alesya dan Reivan, bahkan Alesya terus menggenggam tangan Reivan sejak mereka duduk di singgasana pelaminan.


"Ck, dari Galen pindah ke Om-om, emang dasar ya!" gerutu Karla dalam hati.


Namun, umpatan itu tak berlangsung lama saat Karla mengingat nasibnya sendiri yang entah.


Ia menunduk dalam, uang delapan puluh juta itu memang belum berkurang banyak. Namun, menukar Galen dengan uang sesungguhnya membuat hati Karla hancur. Apalagi saat tahu dirinya mengandung.


Entah seperti apa nanti hidupnya, yang jelas Karla tak akan menghilangkan janin buah cintanya dengan Galen.


Reivan diam-diam selalu mencuri pandang ke arah Alesya. Wanita itu tampak cantik dan manis di matanya entah sejak kapan. Reivan rasa mata dan jantungnya mulai bermasalah.


Rasa lega sekaligus haru menyeruak. Alesya tak pernah menyangka akan benar-benar melabuhkan hatinya untuk Reivan. Mungkin belum untuk saat ini, tapi cinta seiring waktu mungkin akan hadir diantara mereka seiring sembuhnya luka di hati.


Mereka kini telah menjadi sepasang suami istri sah di mata hukum dan agama.


"Jangan menunduk, Al!" bisik Reivan.


"Tegakkan kepalamu, karena sekarang dunia sudah tahu kalau kamu istriku, istri seorang Reivander," seru Reivan jumawa.


Bangga, sudah pasti. Namun, pro dan kontra selalu ada dimanapun mereka berada.


"Selamat ya, Reivan! Alesya." Rupa-rupanya keluarga Galen datang. Namun, hanya Wilson dan Liora.


"Makasih, Mbak, Mas!"


"Makasih, Tante, Om!" Alesya menatap Liora dalam. Sebenarnya, ia dan Liora sudah memiliki wacana sebagai mertua dan menantu. Namun, hal itu pupus bersama pengkhianatan Galen.


Liora memeluk Alesya erat, "Tante dan Galen minta maaf ya, Tante gagal didik Galen."


Alesya mengangguk, "Ale sudah cukup bahagia bersama Mas Reivan, Tante." Pelan dan lirih menjawab Liora.


Wilson menghampiri Bara untuk meminta maaf.


Karla yang melihat pergerakan orang tua Galen mendadak menelan ludahnya berat, mau menghindar pun percuma karena Liora sudah terlanjur melihat keberadaannya.


"Kamu ngapain disini?" cerca Liora menatap Karla tajam setelah mendekati gadis itu.


"Tante sendiri? Yang jelas saya sedang menghadiri pesta pernikahan sahabat saya," ujar Karla sinis.


Liora berdecak menatap sinis ke arah Karla. Namun, ia tak ingin memancing keributan di acara orang. Apalagi ini di acara Reivander, mantan adik iparnya.


"Jelas, kamu tahu. Meski Alesya tidak jadi menantu saya karena batal menikah dengan Galen. Saya tetap bersyukur karena dia menikah dengan adik saya," ujar Liora sepelan mungkin.


"Apa?" Mata Karla membulat sempurna, akan tetapi sejurus kemudian tersenyum mengejek.


"Oke, Tante! nikmati rasa syukurmu sekarang, salam buat Galen. Semoga kelak jika dia tahu anaknya lahir ke dunia ini, dia tak akan merengek meminta apalagi sampai melakukan segala cara untuk merebutnya," geram Karla. Ia meninggalkan Liora dan memilih pergi dari hotel itu.


Sialnya Karla tak sengaja berpapasan dengan Kenaan yang sedang menggandeng seorang wanita.


"Ck!" batin Karla pergi begitu saja.