SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 63



Keesokan harinya, Tama sudah kembali sehat dan masuk ke kantor. Aron menyambutnya dengan maaf sebab karena dirinyalah Tama jadi kelelahan dan sakit.


"Bagaimana kabar Bara, Pak?" tanya Tama selepas meeting.


"Bara baik, saat ini disana ada Mamanya dan Rea yang berjaga."


"Syukurlah, saya sebenarnya mau langsung kesana tapi..."


"Tidak apa, kamu sudah sangat membantu Bara terus menerus, jadi sudah saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri," ucap Aron seraya menepuk-nepuk pelan pundak Tama.


Tama mengangguk, ia senang akhirnya memiliki sedikit waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.


"Baik, Pak. Terima kasih banyak, bagimanapun baik Bara maupun Pak Aron adalah prioritas saya," ujar Tama.


Aron mengangguk, ia merasa sekali lagi bangga pada kesetiaan Tama.


"Kamu ini hebat, disaat anak muda sibuk dengan masalah percintaannya, kamu malah memikirkan saya dan anak saya," puji Aron.


"Tidak masalah, Pak. Saya bekerja sepenuh hati untuk Bara dan Pak Aron, masalah pasangan itu hanya tentang waktu, dan saya tidak terburu-buru akan hal itu," terang Tama.


Aron berdecak kagum pada asisten anaknya itu, meski Tama orang yang sama kakunya seperti Bara dalam hal wanita, belakangan ini Aron melihat aura Tama sedikit demi sedikit sudah mulai cerah. Bisa ditebak, mungkin Tama sudah mendapatkan wanita yang tepat.


"Kamu sudah punya pacar, Tama?" tanya Aron tiba-tiba saat mereka hendak berpisah untuk kembali ke ruangan masing-masing.


Tama menghentikan langkah, "maaf, Pak."


"Tidak masalah, Bara pacarmu bertemu Bara nanti sore," ujar Aron, sekali lagi menepuk pundak Tama.


"Hah?"


Tama terbengong, bahkan saat punggung tegap Aron menghilang, ia masih diam di tempat.


"Maaf Tante, Rea baru datang," ujar Rea mencium punggung tangan Rosa.


"Tidak apa sayang, lagian kan bentar lagi kamu cuti nikah. Masa mau sekarang bolos," ujar Rosa.


Rea melirik Bara yang tertidur, kemudian menghela napas lega, ikut duduk dan mengeluarkan beberapa makanan.


"Rea belikan camilan buat, Tante."


"Makasih sayang, kamu kok repot-repot. Padahal udah datang kesini buat Bara aja, Tante udah seneng banget." Rosa mengusap surai hitam Rea, ia tak menyangka Bara bertemu dengan gadis sepolos dan sebaik Rea meski statusnya adalah duda.


"Sama-sama Tante," balas Rea.


Bara terbangun, ia melihat Rea berada di sisinya tertidur dalam posisi duduk, bibirnya mengukir senyum.


Semakin hari, rasa cinta pada gadis itu semakin bertambah dan semakin pula ia takut kehilangan Rea.


***


"Makasih ya, kamu sudah mau jadi Ibu dari anak-anakku," ucap Bara mengusap-usap perut Rea yang sedikit membuncit. Laki-laki itu bahkan bukan hanya perhatian tapi dia juga berubah menjadi calon daddy idaman. Mengajak ngobrol calon bayinya yang bahkan masih berada dalam kandungan.


"Dulu, aku sempat berfikir menunda kehamilan, Mas. Gak taunya rezeki kita secepat ini," ujar Rea.


"Hm, dan aku seneng kamu mau nepatin janji kamu," ujar Bara, tangannya beralih mengusap-usap surai hitam milik Rea, menyelipkan di belakang telinga hingga nampak leher putih nan menggoda.


Mimpi itu terasa nyata, hingga Rea tersentak menatap Bara.


"Sudah bangun?" tanya Bara, tangan laki-laki itu memang sedari tadi berada di atas kepalanya, mengusap-usap rambutnya saat terlelap.


"Udah," ucap Rea, ia mengubah posisi dan melihat ke arah perut, ternyata memang cuma mimpi dan ia bernapas lega.


Tok... tok... tok...


Ketukan pintu terdengar, dan Bara yakin itu pasti bukan kedua orang tuanya.


"Masuk," titah Bara. Namun , pandangannya tak lepas dari wajah cantik Rea.


"Kamu kenapa Re, mikirin apa?" tanya Bara yang melihat Rea menatapi tubuhnya sendiri.


Bara terkekeh, "gendut juga masih muat di hatiku, Rea."


"Apaan sih, Mas. Mana bisa begitu?"


"Hai, Bara, Rea." Tama masuk bersama Amel yang membawa sesuatu di tangannya.


"Hai, Tam, Mel. Makasih sudah jengukin," ujar Bara.


"Ada makanan sedikit buat kalian, lagian kenapa bisa jadi cacat gini, Bar? kan kegantenganmu jadi berkurang 20%," ujar Tama seraya menunjuk-nunjuk kaki Bara yang di perban.


"Thanks, tau aja kita berdua butuh asupan banyak. Sebab makanan disini, gak ada rasa."


"Kok gak ada rasa sih, Mas? orang enak kok, malah kalau makanan dari RS itu biasanya terjamin gizinya," terang Rea setelah ia mengajak Amel duduk.


"Aku tebak habis ini gombalannya bakal keluar," bisik Amel di telinga Rea, setelah menelisik dapat Amel simpulkan bahwa Bara dan Tama hanya berbeda sebelas dua belas.


"Hm," lirih Rea.


"Ya emang gak ada, Rea. Kan rasaku cuma buat kamu."


Tama rasanya ingin mun tah mendengar ucapan Bara, sebab saat ini ia yang berada di dekat laki-laki itu sementara Rea bersama Amel duduk di sofa agak jauh dari ranjang.


"Receh banget, inget umur dah kepala berapa?" ejek Tama.


"Biar, lagian Rea gak keberatan. Dia malah seneng sama yang tua-tua tapi bergairah kaya aku," ujar Bara membanggakan diri.


Ptfffff...


Amel tak kuasa menahan tawa, sementara Rea mencubit sahabatnya itu.


"Gak sadar aja kalau mereka sebelas dua belas," lirih Amel.


"Hey, kamu jangan samakan aku dengan Bara. Aku tulus, dia modus," protes Tama.


"Siapa bilang, aku tulus sama Rea!" protes Bara tak terima.


"Sudah-sudah, fix kalian sama aja!" tegas Rea membuat Bara maupun Tama langsung terdiam dan saling pandang beberapa saat.


"Beda kok," ujar keduanya kompak.


"Hahahahaha..." Bara dan Tama sontak terbahak. Entah definisi beda dari ucapan keduanya hanya Bara dan Tama yang tau.


Tama dan Amel cukup lama berada disana, meski harus menahan tawa mendengar gombalan Bara untuk Rea. Menjelang malam keduanya pulang, kini gantian Aron berjaga sebab esok Bara baru boleh pulang ke rumah.


"Rea kalau mau pulang, gak apa-apa, nak. Kamu kan harus kuliah, Bara ada Om dan Tante yang jaga," ujar Aron.


"Iya sayang, kalau kamu nurutin Bara buat disini yang ada anak itu jadi makin tambah manja."


"Yah, Mama. Bara juga gak mau egois walaupun sebenernya pengen Rea tetap disini. Tapi ini udah malam, Bara gak tega lihat Rea pulang sendiri," ujar Bara yang sebenarnya tak mau ditinggal.


"Ada sopir, Papa yang akan minta supir mengantar Rea. Papa telepon supir sekarang untuk kesini menjemput Rea!"


"Eh, gak papa kok Om, Rea bisa pulang naik taksi," ujar Rea melirik Bara, laki-laki itu menatapnya lesu.


"Jangan, Rea. Sama supir Papa aja," ujar Bara akhirnya.


Rea mengangguk, dan malam itu ia pulang diantar oleh supir pribadi calon mertuanya.


"Terima kasih banyak, Pak. Sudah mengantar saya," ucap Rea begitu turun dari mobil.


"Sama-sama Non, selamat malam."


"Malam," jawab Rea sedikit tersenyum, sebab supir keluarga Bara sangat ramah padanya meski baru dua kali bertemu.


Lain halnya dengan Najira, ia menatap tak percaya lembaran hasil pemeriksaan Dokter, meremasnya kuat dan melemparnya ke sembarang arah, ia menangis histeris dan menenggelamkan wajahnya pada bantal.