
Jam kuliah pun usai, Rea keluar kelas disusul Amy dan Amel. Ketiga gadis itu melangkah bersama meninggalkan kelas, menyusuri koridor demi koridor hingga halaman kampus.
Namun, begitu akan sampai di gerbang keluar langkah Rea terhenti.
"Kalian ada liat Kanaya gak?" tanya Rea.
"Duh, ngapain sih Re masih ngurusin anak itu. Dia udah ga pernah masuk kuliah lagi bukan?" jawab Amy.
"Duh My my Amylove, sabtu kemarin aku lihat dia ngobrol sama Danis!"
"Oh ya?" tanya Rea, Amel pun mengangguk.
Rea berfikir sejenak, jika kali ini Danis hanya melakukan siasat untuk mencelakainya lagi, Rea janji akan buat perhitungan.
"Untung aku minta bantuan Mas Bara, kalian jangan ada yang pulang dulu. Kita pulang bareng ya?" pinta Rea.
"Yaudah ayo," ujar Amy.
"Bentar, aku masih ada perlu sama Danis. Kalian temenin deh, aku takut anak itu nekat lagi." mohon Rea. Amy dan Amel mengangguk kompak.
Brumm...
Suara motor Danis terdengar, tak berselang lama pemuda itu berhenti tepat di hadapan Rea dan kedua temannya.
"Ayo naik, Re?" ajak Danis, akan tetapi Rea tak bergeming membuatnya mematikan motor sebentar.
Rea mengeluarkan ponselnya, ponsel baru pemberian Revan itu menarik perhatian Danis.
"Ponsel kamu baru?" tanyanya penasaran.
"Hmm, hya."
"Pantas nomor lamamu gak aktif, kenapa ganti ponsel?"
"Kepo lu, Dans!" jawab Amel yang kesal dengan laki-laki bermuka dua itu.
Rea tersenyum, Bara memang bisa diandalkan. Bahkan hanya dalam hitungan jam ia sudah mengirim pesan dimana keberadaan Kanaya.
"Gak perlu, kamu jemput dia di hotel Florence jika benar kamu mencari Kanaya. Aku sudah membantumu, jadi urusan kita selesai," ujar Rea.
"Oh, oke thanks! Aku kesana sekarang," ujar Danis tanpa memperdulikan raut wajah kedua teman Rea yang kesal.
"Gess, kita pulang!" ajak Rea.
Amel dan Amy saling tatap, lantas keduanya terheran.
"Kok tumben Dansdan?" tanya Amel.
"Gak tumben, tu anak memang ada something sama Kanaya. Beberapa waktu lalu aku sama Rea mergokin mereka lagi kissing!" jelas Amy.
"What??" pekik Amel.
Rea hanya mengangguk dan membenarkan perkataan Amy.
"Parah sih itu, btw aku mau makan siang sama Mas Tama. Kalian mau ikut nggak?" tanya Amel, ia merasa tak enak sebab sudah janji pulang bersama Rea dan Amy, akan tetapi tanpa kabar lebih dulu Tama meluncur ke arah kampusnya.
"Hm, yaudah sana biar makin lengket."
"Kalian nggak mau ikut?" tanya Amel, sebab setahunya hanya makan siang biasa tak ada salahnya mengajak kedua temannya.
"Nggak!" ucap Rea dan Amy kompak.
"Dih kenapa?"
"Kita gak mau jadi obat nyamuk, ya kan My? lagian kita udah terlalu sering sama pasangan. Met have a fun aja deh, biar Mas Tama nggak nyesek melulu," ujar Rea seraya terkekeh.
"Yess!" Amy mengacungkan jempolnya.
Mobil Tama berhenti tepat di hadapan mereka.
"Hai?" Sapa Tama menurunkan kaca mobilnya.
"Kalian naik gih, sekalian aku anter?" ujar Tama.
Rea dan Amy akhirnya memilih menumpang mobil Tama. Amel duduk di depan sementara Rea dan Amy di belakang meski terasa sungkan.
"Jangan sungkan, Re. Anggap aja temen sebelahmu itu Bara!" ujar Tama membuat Rea seketika membola.
"OMG, Re aku masih normal!" rutuk Amy.
"Hahahaha."
"Dih balas dendam, awas ya aku aduin Mas Bar-bar." Rea melipat tangannya di dada.
"Balas dendam apa Mas?" tanya Amel penasaran.
"Bukan apa-apa, Mel."
Amel sebenarnya kepo, akan tetapi ia tak ingin memaksa Tama bercerita apalagi hal bercandaannya dengan Bara dan Rea. Ia tak ingin membuat pria itu ilfill karena terus menerus bertanya.
"Thanks Mas Tam," ujar Rea dan Amy barengan.
Tama mengangguk, selepasnya mobil melaju meninggalkan ujung jalan kosan Rea.
"Hei-hei kenapa cemberut," ujar Tama yang melihat Amel sedari tadi diam.
"Gak ada sih, aku sebenarnya cuma kepo aja."
"Soal tadi?"
Amel mengangguk.
"Cuma candaan biasa, Bara kan emang gitu kalau lagi sama Rea, labil ke yang lain." Tama fokus pada kemudinya hingga mobil mereka sampai ke sebuah restorant.
"Makan siang apa, ini mah kencan romantis. Mana mukaku dekil, aku kira cuma bakal makan di kedai biasa!" batin Amel.
"Mas aku kira makan siang biasa." Amel menatap Tama lekat.
"Memang makan siang biasa." Tama tersenyum, akan tetapi juga gugup.
"Tapi ini," ujar Amel, menunjuk buket mawar merah.
"Ini, hadiah untukmu."
"Aaaa... Makasih, aku tak pernah mendapatkan bunga dari laki-laki." Amel tak kuasa menahan euforianya.
"Kau sama polosnya dengan Rea haha, kalian ini satu server kah?" tanya Tama.
"Jadi begini rasanya jadi Bara? dihadapkan gadis polos sungguh menyenangkan," batin Tama senang.
Amel hanya meringis, laki-laki di depannya masih mengira dirinya sepolos Rea karena Amel masih dalam tahap mode kalem.
Mereka pun menikmati makan siang bersana, sebelum akhirnya Tama harus mengantar kembali Amel karena Bara terus menerus menghubunginya.
***
Tau nggak? nahan kangen itu lebih berat *ketimbang nahan lapar,
Lapar bisa hilang dengan makan, sementara kangen? gimana mau ilang kalau ketemu kamu malah nambah_
Rea*~
"Jadi Mas beneran sibuk?" tanya Rea tak sabar, akhir-akhir ini ia semakin uring-uringan tak jelas karena Bara tak kunjung datang menemuinya.
"Iya sayang, maaf ya?" ujar Bara dengan nada lembut, "aku sedang mengurus penjualan rumah dengan Najira." sambung Bara lagi membuat Rea seketika terdiam, lalu dengan sepihak memutuskan panggilannya.
"Huftt, sama Mba Najira rupanya!" gumam Rea.
Kesal sekali, melihat orang-orang berpacaran.
Tama yang rajin jalan sama Amel, Amy lebih sering mengobrol dengan Devan, sementara dia? Baru keluar ke supermarket buat ngadem kepala saja harus ketemu mantan, lagi masangin helm ke kepala cewek.
Siapa lagi kalau bukan Danis dan Kanaya, sejak hari itu mereka terlihat seperti pasangan kekasih.