
Malam itu Bara membiarkan Rea tertidur pulas. Menatap wajah cantik sekaligus lelah sang istri membuat dirinya tak henti menyunggingkan senyum.
"Selamat tidur sayang, mimpi indah ya." Bara berucap seraya mengusap-usap rambut Rea agar tidur sang istri semakin lelap.
Bara, membuka jendela dan menompang tubuhnya disana sebentar untuk merokok. Jam masih menunjukkan pukul sebelas dan suasana rumah mertuanya sudah sangat hening, akan tetapi sulitnya ia memejamkan mata membuatnya kerepotan karena sudah beberapa putung rokok ia habiskan akan tetapi kantuk tak kunjung menyerang.
"Mau melakukannya sekarang?" bisik Revan di telinga Najira.
"Jangan gila, Mas. Kita belum menikah dan aku tak yakin melakukannya disini," jawab Najira.
"Tidak apa, malam sudah larut honey. Mereka semua sudah tidur." Revan menarik tengkuk Najira dan me ***** bibirnya.
"Eunggg..."
"Hatimu menolak, tapi tubuhmu merespon. Bagaimana dong?" bisik Revan.
"Sttt... pelankan suaramu, Mas!" titah Najira.
"Mereka sudah tidur!" kekeh Revan.
"Baiklah, aku menantangmu!" Najira mengalungkan tangannya di leher Revan.
"Aku suka membuatmu tidak bisa berjalan," ujar Revan langsung menyerang Najira.
Wanita itu memekik sebab Revan langsung menyerangnya begitu saja tanpa pemanasan dan ampun.
"Ck!" Bara berdecak pelan, suara kamar sebelah membuatnya berulang kali memutar bola malas. Sepasang kekasih yang hingga saat ini masih membuatnya muak bukan karena tak bisa melupakan masalalunya, Bara hanya tak habis fikir dengan mereka.
"Mas, belum tidur?" tanya Rea mengernyitkan dahi, mengusap matanya sebab terbangun.
"Belum bisa tidur sayang," jawab Bara, sebab setelah menghabiskan hampir setengah bungkus rokok kantuk bukan menyerang tapi malah membuat matanya semakin lebar.
"Euh..."
Suara kamar sebelah terdengar meski samar membuat Rea seketika membulatkan mata.
"Mas dengar?" tanyanya dengan raut wajah masam juga khawatir.
"Dengar apa?"
"Bukan, bukan apa-apa." Rea bangkit dan langsung menutup telinga Bara dengan kedua telapak tangannya.
Ah sial, tembok rumahnya memang tak kedap suara membuatnya panik sendiri dan ingin rasanya mengumpat kasar kalau tak ingat ia sedang hamil.
"Tidak tahu malu," decaknya menahan kesal.
Bara meraih tangan Rea, "aku sudah pernah mendengarnya, dan tidak perduli. Sayang, kenapa kamu sekhawatir ini?" tanya Bara santai.
"Aku hanya tak habis fikir, Mas." Rea menunduk, sudut matanya mulai basah.
Ia tak bisa menghadapi hal ini lama-lama, ia tak bisa membiarkan kenangan Bara yang telah terkubur kembali.
"Hey hey, kenapa menangis?" tanya Bara khawatir dan mengusap sudut mata Rea dengan lembut.
"Aku mau pulang, aku mau pergi dari sini hiks..." Rea menangis, menenggelamkan wajahnya di da da Bara.
"Aku tau kamu mengkhawatirkanku. Tidak apa, aku tidak merasa sakit, aku baik-baik aja sebab ada kamu sekarang!" Bara mengusap-usap rambut Rea, menenangkan istrinya.
Dalam hati ia sedang berfikir, apa Rea menjadi sangat sensitif dan mellow karena hamil atau karena menempatkan diri di posisinya dulu. Entah, tapi melihat kekhawatiran Rea membuat cintanya semakin dalam.
"Sayang, kembali tidur. Jangan berfikir aneh-aneh apalagi mengkhawatirkan hal yang tidak penting!" tegas Bara.
Rea mengangguk, ia memeluk erat Bara dan mencium aroma tubuh laki-laki itu yang menenangkannya.
***
Matahari hampir tinggi, akan tetapi Rea dan Bara masih belum keluar kamar meski Revan dan Neya mengetuk pintu berusaha membangunkan.
"Tapi ini udah hampir siang, Revan. Jam sarapan sudah lewat, apa benar mereka belum bangun?" tanya Neya.
"Aku mana tau Bu, Ibu kan yang sudah pernah menikah jadi lebih tau bagaimana kehidupan pengantin baru." Revan memegangi bahu Neya.
"Ayo kita mengobrol di depan, mumpung aku dan Najira belum kembali ke Jakarta."
"Kalian mau pergi?" tanya Neya, bukan kepada Revan tapi lebih ke Najira. Neya sangat menyukai calon istri Revan itu sebab Najira selalu cekatan dalam hal dapur.
"Iya, Bu. Mungkin menjelang pernikahan kami baru kembali kesini," Najira tersenyum.
"Ibu bakal kesepian dong, kalian kembali dan Rea akan ikut suaminya?" Neya menekuk wajahnya.
"Setelah kami menikah, Najira akan disini bersama Ibu kok. Dan aku akan membantu Ayah mengurus toko," ucap Revan.
Sepagi tadi, Alex sudah pergi ke toko, sementara Neya memilih di rumah menikmati waktu bersama putra dan putrinya.
"Benar ya, kamu mau kan tinggal disini? walaupun rumah Ibu kecil, hanya bisa berharap kalian mau tinggal dan menemani Ibu di masa tua nanti."
"Ibu ngomongnya kenapa gitu?" Revan berubah muram.
Najira mendekat dan duduk di samping Neya, "Ibu tenang aja, kami pasti akan baik-baik disini menemani Ibu dan Ayah, kalaupun Rea nanti ikut Mas Bara, Ibu tak perlu khawatir karena Mas Bara orang yang bertanggung jawab."
"Dia sedang memuji mantan suaminya kah?" batin Revan, mendadak tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih, semakin hari Revan semakin tahu Najira masih begitu memperhatikan sang mantan suami, akan tetapi ia tak ingin menyerah, tak ingin membuat Najira menyesali keputusannya bercerai dan mengganggu hubungan Bara dan adiknya.
"Tak apa, asalkan adikku bahagia aku akan memupus keraguanku sendirian." batin Revan.
Di dalam kamar, Rea masih enggan bangkit dari ranjang. Ia tak ingin bangun dan tenggelam dalam pelukan Bara yang menenangkan. Rasa-rasanya aroma tubuh Bara adalah obat mujarab morning sickness-nya.
Buktinya, hari ini dia tak mengalami mual, pusing atau lemas, tidurnya pulas sebab sepanjang malam Bara memeluknya.
"Ayo bangun, kita mandi sayang. Mereka pasti khawatir karena hampir siang kita belum keluar kamar," ujar Bara.
Rea menggeleng, "nggak mau, lagi mager banget."
"Tapi kamu juga perlu bebersih, perlu asupan, agar anak kita sehat." bisik Bara.
"Huft... Yaudah iya, aku mau mandi tapi sama Mas!" rajuk Rea.
"Mandi bareng?" tanya Bara tak percaya, apa dia tak salah dengar dengan penuturan istri polosnya.
"Hm, iya. Menurut novel yang aku baca, mandi bareng suami itu akan menambah kadar cinta, keharmonisan, keromantisan dan menambah..." Rea tambah berfikir, mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Menambah anak," bisik Bara.
"Mas, gak gitu juga. Ini satu aja baru jadi masak mau nambah lagi?"
"Kalau bisa dua kenapa harus satu sayang, kan enak dua cowok dan cewek. Kamu satu, aku satu." Bara terkekeh, ia hanya berniat menggoda Rea saja sebab tak mungkin ia tega meminta dua disaat Rea sudah mengandung anaknya.
"I Love you Mas Bara."
"I Love you more sayang, sebelum mandi main sebentar boleh? kangen sama yang disini," ucap Bara mengelus perut datar Rea.
"Hm, pinter banget ini nyari alasan!" cibir Rea akan tetapi ia juga tak menolak saat tangan Bara menelusup masuk ke dalam piyamanya. Tak butuh waktu lama, Bara sudah berhasil memancing Rea dan mengung kung sang istri di bawahnya.
"Aku akan pelan-pelan nanti," ucap Bara membungkam bibir Rea dengan ciuman, menjelajah liar menunggu sang empu membalas.
Rea tak hanya diam, hanya beberapa kali ciuman kini ia sudah mahir membalas, bukan hanya itu, Bara juga sudah mengontaminasi otaknya dengan hal-hal gila yang menyenangkan.
"Eumh..."
"Luar biasa sayang, kamu... Oh, shittt....!"
Bara puas, sangat puas terlebih Rea punya cara sendiri untuk merespon setiap gerakan Bara. Hingga akhir keduanya saling memekik dengan peluh membasahi. Bara masih berada di posisi sama dengan tangan tertaut di jari-jari Rea.
Ia ambruk, sejurus kemudian bangkit dan berbaring di samping sang istri.