
"Hamil?" Rea dan Bara seketika saling pandang.
"Iya, lalu kenapa buru-buru menikah? Abangmu saja baru mengenalkan calon istrinya pulang?" cerca Alex dengan mata menyipit.
"Yah, Rea kan sudah dewasa. Ibu yakin, dia memutuskan sesuatu juga sudah dipikirkan lebih dulu. Pun juga dengan Revan, kalau bisa langsung dapat dua menantu kenapa harus satu?" Ucap Neya antusias. Sebab, ia akan mendapat dua menantu lagi, laki-laki dan perempuan.
"Tapi, Bu. Rea masih terlalu kecil untuk menikah. Kuliahnya juga belum selesai kan?" tanya Alex keberatan.
"Sementara Revan, dia sudah dewasa. Sudah sepantasnya dia menikah, tapi tetap Ayah tidak setuju jika Rea juga menikah. Nanti yang ada repot kuliah, dan masih harus ngurus anak!" sambung Alex lagi.
Rea melirik Bara, laki-laki itu hanya tersenyum masam membuatnya merasa tak tega.
"Aku hanya perlu restu Ayah dan Ibu untuk menjalin hubungan dengan Mas Bara. Tidak masalah jika kami harus mengalah dan menikah nanti..." Rea menjeda ucapannya, ia melihat ke arah Revan dan Najira. Semakin kecewa karena mereka hanya diam dan tak berusaha menjelaskan niat awal pulang ke Bandung.
"Hanya saja, Mba Najira adalah mantan istri Mas Bara. Kami butuh pendapat Ayah dan Ibu tentang masalah ini."
"Apa maksudnya Rea?"
"Mas Revan bisa ikut jelasin, kenapa dari tadi cuma diam?" pinta Rea tersenyum.
"Begini, Yah. Jadi Najira dan Bara itu pernah menikah akan tetapi mereka sudah bercerai. Hanya saja, kita tidak tahu kemana cinta itu akan berlabuh setelahnya. Bertemu tanpa sengaja, ini bukan aku yang minta. Aku sama sekali tak tahu kalau Rea menjalin hubungan dengan Bara begitupun sebaliknya, Rea sama sekali tak tahu kalau aku berpacaran dengan Najira."
"Lalu? kenapa kebetulan sekali?" tanya Alex dengan sorot mata tajam. Neya yang awalnya antusias pun kini hanya terdiam menatap anak-anaknya bergantian.
"Memang kebetulan, tapi ini bukan settingan Ayah. Aku bertemu dengan Mas Bara juga karena dia menolongku."
"Om, saya minta maaf jika keadaan ini membuat Om dan Tante berfikir negatif. Itu hal yang wajar karena saya dan Najira memang pernah menikah, tapi semua itu atas dasar perjodohan kedua orang tua kami. Memutuskan menikah tidaklah mudah, saya sudah sangat memikirkan hal ini matang-matang. Mantan istri saya sangat mencintai Revan pun sebaliknya, Revan bisa memberikan cinta dan ketulusannya untuk Najira. Dan saya tidak memaksakan dia untuk tetap berada di sisi saya karena saya sadar, saya tidak bisa memberikannya cinta seperti yang saya berikan untuk Rea. Jadi, yang kami butuhkan adalah restu kalian! seperti kata Rea, tidak masalah jika kami menikah nanti. Saya, cuma ingin dengar Om dan Tante mempercayakan Rea kepada saya, memberikan restu kepada saya untuk bersama Rea. Itu saja," ucap Bara.
"Ini agak rumit, bagaimana denganmu Revan?" tanya Alex.
"Aku setuju jika Rea bersama dengan Bara. Ayah tak perlu khawatir tentang hal ini bukan? masalahku dan Najira, kami akan sesegera mungkin mengurus pernikahan."
"Apa kalian bisa hidup berdampingan, terlebih kamu Najira?" tanya Neya, ia menatap Najira lekat-lekat. Hati seorang perempuan itu sangatlah sensitif, sebaik-baiknya kata ikhlas mungkin sangat sulit bagi perempuan hidup berdampingan dengan masalalu.
Najira mengangguk kaku.
"Iya Tante."
"Tentu saja bisa, Bu. Kami saling mencintai, lagi pula aku yakin Bara juga sangat mencintai Rea." Revan melirik ke arah Bara, bahkan pandangan laki-laki itu tak lepas dari adiknya.
"Kalau sudah begini, saya bisa apa? tapi, kalau sampai kalian melakukan ini semua untuk kamu dan kamu jalan rujuk. Saya tidak akan segan lagi!"
"Itu tidak akan pernah terjadi, Om!" tegas Bara.
"Sudah kan? kita makan siang dulu baru di bahas lagi," usul Neya, mengingat sedari awal datang mereka bahkan belum minum sama sekali dan malah langsung berdebat.
Baik Neya dan Alex memperhatikan interaksi mereka, tak ada yang aneh dan semua tampak normal. Hanya saja, Alex mencium ketidaksukaan putrinya kepada Najira.
"Rea, ikut Ayah ke kamar sebentar." perintah Alex setelah mereka selesai makan. Revan pun heran dan menatap Neya seolah bertanya lewat tatap mata. Namun, Neya mengedikkan bahu tak tahu karena memang ia tak tahu apa yang akan dilakukan Alex.
"Ada apa, Ayah?" tanya Rea begitu Alex mengajaknya berbicara di dalam kamar, bahkan Ayahnya menutup pintu rapat-rapat.
"Ayah tahu, kamu mencintai laki-laki itu. Ada banyak hal yang bisa orang lain tahu dari gerak gerikmu, termasuk ketidaksukaanmu dengan kekasihnya Revan."
Deg.
"Ya karena kamu tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan bencimu. Rea, kamu itu anak Ayah! Ayah yang bersamamu sedari kamu kecil hingga remaja, kamu ingat saat pacaran dengan Dimas?" tanya Alex.
Rea terdiam, sejurus kemudian menggeleng.
"Jangan bahas soal Dimas, Yah. Rea dan dia hanya cinta monyet."
"Ya baiklah, tapi jadikan cinta monyetmu itu pelajaran untuk hubunganmu yang sekarang, apalagi dia pria dewasa, duda dan pernah melakukan hubungan suami istri. Jaga batasan, jangan sampai melakukan hal terlarang." Nasihat Alex.
"Jadi Ayah setuju nih?" tanya Rea dengan raut wajah berbinar.
"Setuju, tapi kalian harus menunggu Revan menikah dulu. Baru kamu, paling tidak tunggu umur kamu genap tahun ini."
"Wah, Ayah memang luar biasa." Rea memeluk Alex senang.
"Satu lagi Rea, Ayah tidak mungkin bertanya kepada Abangmu. Tapi, hal apa yang membuatmu benci pada wanita itu?"
Rea menghela napas, selain bisa membaca geriknya rupanya Sang Ayah juga menuntut dirinya jujur tentang Najira.
Dengan sedikit gugup ia pun menceritakan semuanya kepada Alex, bagaimanapun Ayahnya harus tahu.
"Ayah tidak menyangka," gumam Alex dengab napas berat.
"Ini sudah bagian dari takdir, Yah. Mungkin, memang jalan jodohnya Mas Revan begini," Ucap Rea seraya mengusap bahu ayahnya.
***
Mereka keluar, tampak semuanya berbincang normal. Sementara Neya merasa heran, kenapa Alex bicara dengan Rea sangat lama.
"Ngobrolin apa?" tanya Neya.
"Bukan apa-apa, Bu. Ayah hanya menasehati Rea saja." Rea mendekat ke arah Neya dan memeluk lengannya dengan manja.
Lain halnya dengan Bara, ia meminta Tama menyusul ke Bandung tadi. Meski di dalam pesan, Tama harus mengomel panjang lebar karena perintahnya, Bara hanya bisa membujuk dengan iming bonus gaji dan kini mau tak mau Tama harus on the way Bandung sendirian.
"Saya ada satu lagi permintaan," ucap Alex tiba-tiba.
"Apa, om?" tanya Bara.
"Saya mau kamu pulang nanti bersama Najira, dan Rea akan kembali ke Jakarta besok bersama Revan, bisa?" tanya Alex berhasil membuat mereka semua terperanjat.
"Gak bisa gitu dong, Yah!" protes Rea. Enak saja, membayangkan Bara dan Najira satu mobil duduk di depan Bandung-Jakarta membuatnya hatinya panas.
"Untung aku suruh Tama kesini, firasatku benar-benar tepat sasaran." batin Bara.
"Itu salah satu syarat Ayah merestui kalian. Rea, jangan kekanakan jika kamu ingin segera menikah juga."
Rea diam tak lagi protes, ia menekuk wajahnya sembari menatap cemberut ke arah Bara.
"Tidak bisakah kamu tahu Mas, aku cemburu. Tapi sepertinya kamu biasa saja, atau kamu memang akan menikmati kesempatan momen ini," batin Rea berkecamuk.
"Ayah gak salah kan?" tanya Neya, ia melihat Revan dan Rea memendam kekesalan meski tak mengungkapkannya.