
"Kenapa harus Lombok? Kenapa nggak ke Bali aja, ke villa uluwatu atau liat sunset di Kute." Alesya memandangi informasi via online jika Reivan sudah memesan tiket liburan ke Lombok. Bahkan laki-laki itu juga sudah menyiapkan beberapa koper lengkap dengan toping isi-isiannya. Mulai dari baju untuk Alesya dan dirinya, perlengkapan dan semua kebutuhan kecil liburan termasuk kamera. Reivan ingin menciptakan momen indah dan mengabadikan bulan madu mereka lewat foto dan video.
"Ya kan aku pengen tempat yang lebih privasi gitu, keliling 3 Gili kan, jadi kita bisa fokus bulan madu!" Alibi Reivan.
"Tapi kan resort dan hotel sana itu kebanyakan dari kayu, Mas! Yakin?" tanya Alesya. Sebenarnya ia cuma sedang mencari sebab dan mencari alasan.
Membayangkan berdua dengan Reivan berhari-hari di tempat privat, yang ada laki-laki itu akan menghajarnya sampai habis. Bukan, bukan sampai habis lebih tepatnya sampai jadi dua.
"Ke Lombok nggak buruk lho, selain kamu bakal dimanjain suami juga bakal di manjain pemandangan alam yang indah, sepi dan tenang. Kalau Bali kan rame," bujuk Reivan.
"Kuliahku?"
"Sudah diurus sama Arsen!"
Alesya menggerutu, apalagi saat Reivander memintanya bersiap.
"Berdua doang?" tanyanya sekali lagi membuat Reivan merasa gemas ingin tertawa.
"Ya dong berdua, kalau se RT namanya rekreasi."
"Nggak ajak Arsen?" tanya Alesya, "atau ajak Mama sama Papa," usulnya membuat Reivan mengelus dada.
"Kalau barengan bukan bulan madu namanya Ale, tapi liburan keluarga."
Alesya menekuk wajah, sebenarnya ini hanya perkara gugup menghadapi Reivan. Meski laki-laki itu sudah menjamahnya, bagaimanapun ia belum menjadi istri sempurna. Nafkah batin yang diberikan masih setengah-setengah bahkan kemarin sempat menolak Reivan meski laki-laki itu tak memaksa.
Arsen mengantar mereka ke bandara, meski kehidupan Reivan sebagai CEO cukup baik. Ia bukanlah orang yang bisa dengan mudah pergi kemanapun menggunakan jet pribadi.
Satu setengah jam di dalam pesawat, dua sejoli itu akhirnya sampai di Bandara Internasional Lombok. Mereka masih harus ke resort dekat pantai yang dituju. Hingga langit mulai berwarna jingga, Reivan dan Alesya sampai di resort tempat mereka menginap.
"Disini?" tanya Alesya. Di luar ekspetasi nyatanya meski resort itu sebagian dari papan-papan tempatnya memang indah. Ada kolam renang pribadi dan sangat dekat dari pantai.
"Kalau gini sih diem di kamar juga betah banget," gumamnya pelan. Lain dengan Reivan yang sudah pernah pergi sebelumnya ia hanya mengamati ekspresi Alesya sambil tersenyum simpul.
"Silahkan, kamarnya di lantai atas dan untuk makanan akan diantar sesuai permintaan," seru pelayan resort itu sebelum akhirnya pamit undur.
"Terima kasih," jawab Reivan.
Reivan membawa kopernya masuk ke dalam kamar. Meski bukan tempat yang mewah, tapi ketenangan akan membawa bahagia. Terlebih saat melihat Alesya yang berubah antusias kala masuk ke kamar itu.
Alesya menyibak tirai putih yang menutupi kaca. Temboknya hanya terbuat dari papan tapi terlihat sangat estetic.
"Ah, ini sih definisi surga dunia," serunya. Apalagi di balkon melihat ke bawah ada kolam renam. Menatap ke depan meski terhalang beberapa bagunan yang tak tinggi dan pohon kelapa, terlihat hamparan laut yang sangat indah.
"Masih mau ke Bali?" tanya Reivan.
"Lumayan lah disini juga, lebih sepi dan tenang. Nyaman!" serunya sumringah. Alesya sampai lupa, tujuan Reivan mengajaknya bulan madu ke tempat yang lebih sepi karena ada udang dibalik batu.
"Kalau gitu, bisa dong kita mulai ritualnya," bisik Reivan sudah berada di belakang Alesya, bahkan melingkarkan tangannya ke pinggang Ale dengan posesif.
"Ck!" Alesya hanya mampu berdecak dalam hati, andai saja ia bisa dengan tega menginjak kaki Reivan atau berbalik dan menendang si juno yang terasa menempel keras di tubuh belakangnya.
"Mas aku mau mandi dulu, capek perjalanan bau asem," alibi Alesya meneluarkan jurus seribu alasan.
"Mandi? Ah, mandi bareng gimana?"
Senjata makan tuan, niat hati mau beralasan justru malah berakhir jebakan.
"Ya ya, malu dong!" Alesya ngeloyor begitu saja. Belum juga menutup pintu kamar mandi, Reivan sudah ikut masuk.
"Mas, ihhh!"
Meski ingin menolak, akhirnya Alesya tetap membiarkan Reivan ikut mandi. Bahkan dengan tak tahu malunya melepas pakaian di depan Alesya tanpa sungkan.
"Tuan me sum!" rutuk Ale, justru mendapati gelak tawa Reivan.
Alesya memandangi bathub yang penuh kelopak mawar itu dengan hati berdebar dan tubuh meremang. Namun, melihat wajah Reivan yang tak sabar menunggunya membuat Ale meloloskan napas berat kemudian membuka satu persatu penutup tubuhnya. Sempat menyilangkan kedua tangan. Dengan masih mengenakan dalaman ia ikut masuk ke dalam bathub menyusul Reivan.
Tubuh Ale menegang saat tangan nakal Reivan membuka tali belakang b*a miliknya.
"Massss," gumam Alesya.
"Apa? Masih mikirin Galen?" pancing Reivan.
Alesya menoleh horor, " nggak!" bantahnya.
"Bercanda, lagian bocah tengil kaya gitu dibanding denganku nggak ada apa-apanya!" ujar Reivan jumawa.
"Cih, pede!"
"Suamimu lebih ganteng lho, lebih h o t dan pastinya lebih gagah di,---"
"Apa, apa?" Alesya membulat, semakin hari omongan Reivan semakin tak bisa difilter.
"Lebih gagah di ranjang," bisik Reivan di telinga Ale.
"Hm, terserah. Mas Re sendiri emang gak De ja vu?" tanya Alesya.
"Soal?" Reivan menggosok-gosok punggung Alesya dengan sabun bahkan memainkan jarinya disana.
"Bulan madu," gumam Alesya.
"Enggak, aku gak pernah bulan madu sebelumnya! Ini yang pertama, kalau pun pergi ke Bali atau luar negeri itu karena perjalanan bisnis."
"Ketauan bohongnya, itu hidungmu sampai merah!"
Sontak Reivan meraba hidungnya, " mana?"
Hahahaha,
Tawa Alesya pecah, "nanya hal kaya gini sama duda, ish ish ish!"
"Emang kenapa? Kamu nggak percaya, hm? Aku sama Alira terlalu sibuk dengan dunia masing-masing. Gak ada hal spesial dari kenangan kami, kalau kamu cemburu bilang aja." Reivan tersenyum, ia sudah berhasil membuat kain penutup atas Alesya terlepas tanpa sadar.
"Astaga, malu aku Mas!"
"Gak apa-apa, ibadah tau! Dosa kalau nolak dan banyak alasan," ujar Reivan.
Alesya mengangguk pasrah, hanya bisa berharap segera selesai dan ia akan memilih tidur.
Definisi mandi tak benar-benar mandi, karena kenyataannya Reivan menghajar Alesya di kamar mandi. Meski kesusahan dan butuh perjuangan, akhirnya goal juga Reivan membobol pertahanan Alesya.
"Not bad," ringis Alesya menahan sakit saat juno terus menerobos bagian inti tubuhnya.
"Sakit nggak?" tanya Reivan.
Alesya mengangguk polos, ia membungkam bibir istrinya dengan luma tan agar sakit yang Alesya rasa teralihkan.
"Kita pindah ke kamar," putus Reivan menggendong Alesya ala bridal style.
.
.
.
.
Udah dulu ah, vanasππΌββππΌββππΌββ