SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 44



"Kode, kode apaan?" tanya Rea.


Bara tak kuasa menahan tawanya, "kode kangen. Sini, jangan jauh-jauh." Bara menepuk sekat duduk diantara mereka.


"Iya iya, Mas."


"Rea, kemarin Mama terus menerus minta nomor kamu, katanya mau ngajak jalan," ucap Bara setelah mereka selesai makan.


Rea menuangkan wine seperti yang dilakukan Bara, lalu meminumnya sedikit demi sedikit.


Rasa perpaduan antara manis dan pahit melewati tenggorokannya, mungkin karena ia belum terbiasa minum minuman beralkohol.


"Ya nggak gimana-gimana, kasih aja Mas! Lagian kan bagus kalau aku bisa deket sama Mama kamu, bukannya kalau mau sama anaknya harus deketin dulu Mamanya?"


"Prinsip dari mana lagi itu, yang bener kalau mau anaknya juga harus menerima orang tuanya." Ralat Bara.


"Salah kan ya, aku juga gak mau kamu deketin Mamaku, Mas."


"Haha, nggak ada! Mana boleh begitu? sewajarnya dan secukupnya aja."


"Mas tangan kamu kemana-mana!" omel Rea. Bara malah terbahak.


"Mana ada, Rea! tanganku dari tadi di belakang kamu terus." elak Bara, lalu membiarkan Rea menjadikan tangannya sebagai sandaran kepala.


"Ya, tapi kan tadi tanganmu nakal banget." cibir Rea, "kok aku pusing ya, kekenyangan nih pasti."


"Bukan, itu efek minuman ini." Bara kembali menuang untuknya sendiri.


"Tapi enak kok, mau lagi Mas."


"Nggak boleh."


"Oh ya, aku dah send nomor kamu ke Mama, coba cek ponselmu. Apa ada panggilan masuk?"


Rea kemudian mengaktifkan layar ponselnya, benar saja ada nomor baru masuk memanggil. Rea lupa, jika ponselnya dalam keadaan senyap.


"Ini bukan, Mas?" tanya Rea memperlihatkan nomor asing itu.


"Iya itu nomor Mama, kalau Mama ngajak ketemu yaudah gak papa, tapi jangan hari minggu." pinta Bara.


"Kenapa emang?"


"Ya, hari minggu kan jatah kamu sama aku."


"Padahal tiap hari kita kan juga udah ketemu, Mas. Udah malem pulang yuk?" ajak Rea.


Bara melihat jam di pergelangan tangannya kemudian mengangguk.


Saat keluar ruangan, keadaan club semakin ramai.


Pandangan Rea menelisik satu-persatu para pengunjung yang berjoget, area dance floor menarik perhatiannya, sepertinya menarik.


"Kayaknya seru Mas kesana?" tanya Rea saat mereka hendak keluar club.


"Jangan coba-coba, terlalu bahaya buat kamu."


"Mas kepalaku agak-agak pusing," gumam Rea.


"Naik ke punggungku sayang," pinta Bara dan dengan sigap Rea segera naik.


***


Bara menurunkan Rea tepat di depan mobil. Meski sempat menjadi pusat perhatian, Bara sama sekali tak menghiraukannya.


"Kamu polos banget, Re. Makin beruntung aku dapetin kamu sayang."


"Mas ngomong apa?" tanya Rea mendengar gumaman Bara yang tak jelas setelah laki-laki itu masuk ke dalam mobil.


"Aku bilang sayang kamu banyak-banyak Rea, ayo kita ke Bandung? gimana menurutmu kalau kita sama-sama jujur ke orang tua masing-masing?"


"Aku pasti akan jujur kok Mas ke orang tua aku, cuma lagi mikir aja."


"Mikir apa? aku yakin kok mereka pasti ngerti," ucap Bara.


"Aku sangat siap untuk itu, kita kan bisa tinggal disini kalau kamu nggak mau aku ada deket sama Najira."


"Tapi tetap aja, kalian akan sering bertemu dan berinteraksi." Rea memalingkan wajahnya, sejujurnya ia tak terlalu suka dengan Najira sebaik apapun wanita itu. Rea selalu merasa Najira masih memiliki tempat di hati Bara, entah sebagai mantan istri atau sebagai kenangan yang menyakitkan. Bagi Rea, hal itu sama saja seperti penyakit yang suatu saat bisa menjadi duri dalam hubungannya.


"Dari mana kalian?"


Suara familiar membuat Bara dan Rea yang baru keluar dari mobil terkejut.


"Kak Revan?"


"Rea, ini sudah hampir larut dan kamu masih keluyuran sama Bara? dari mana kamu?" Revan yang sedari tadi menunggu Rea di kos pun sedikit kesal saat Bara memulangkan Rea selarut ini.


"Aku habis mengajak Rea jalan, kenapa harus membentaknya?" protes Bara, sebab Rea sampai memegangi tangannya melihat sorot mata marah Revan.


"Aku tidak mempermasalahkan kalian mau jalan, tapi ini sudah hampir larut? dan ini, kalian bau alkohol?"


"Sudahlah, Mas. Urus saja Mba Najira, bukankah dia masih pemulihan." Rea yang merasa pusing pun semakin pusing melihat perdebatan kakaknya dan Bara.


"Rea sejak kapan kamu jadi seperti ini?" tanya Revan. Ia menarik tubuh adiknya menjauh dari Bara, dan mencengram pergelangan tangannya.


"Lepas, Mas. Aku capek, kalian pulanglah kepalaku mau pecah rasanya," ucap Rea kemudian buru-buru masuk dan membanting pintu dengan keras.


"Puas kamu udah merusak kepolosan adikku?" bentak Revan.


Namun, Bara sama sekali tak menggubris karena tak ingin memperpanjang masalah.


"Aku sama sekali tak merusak kepolosannya, dia seperti itu karena kecewa dengan kakak kesayangannya. Ini hanya masalah waktu, baik dia, maupun kamu hanya perlu saling memahami. Lain kali, pakai cara yang lembut atau dia akan semakin jauh sama kamu," ujar Bara.


"Oke sorry," ucap Revan.


"Hm, simpan maafmu. Aku hanya butuh kamu mengizinkan aku sama Rea, itu saja."


"Aku merestui kalian, hanya aku merasa tak terima Rea sekarang lebih dekat sama kamu dibanding denganku."


"Hanya masalah waktu, lagi pula kamu mendapatkan Najira bukan? dia lebih dari cukup untuk mengalihkan perhatianmu dari Rea. Lagi pula, Rea sudah dewasa dan dia pasti paham."


Bara dan Revan justru terlibat obrolan di depan, dua pria dewasa itu memilih duduk di kursi bawah pohon mangga sambil menunggu Rea membuka pintu.


"Pulanglah, aku akan menjaga Rea. Lagi pula, sebelahnya adalah kamarku," ucap Bara saat malam kian larut.


"Baik, tapi ingat pesanku. Kamu tidk boleh merusak adikku, dia adikku satu-satunya."


"Ck! kamu sama sekali tak mempercayaiku kah?" tanya Bara.


"Mungkin iya mungkin tidak."


"Kalau begitu, mari kita buktikan. Nikahi Najira dan aku akan menikahi Rea!" tegas Bara.


"Rea masih terlalu kecil untuk menikah!" Revan tak setuju jika Rea dan Bara segera menikah, paling tidak Rea harus menyelesaikan kuliahnya lebih dulu.


"Tapi, dia sudah sangat siap menjadi istriku."


"Kalau begitu, bagaimana kalau besok kita berempat ke Bandung dan meminta restu bersama?" ajak Revan.


"Deal!" Bara segera mengulurkan tangan sebelum Revan berubah fikiran.


***


Esoknya Revan, Najira, Rea dan juga Bara menuju Bandung. Keputusan untuk jujur kepada orang tua Rea dan Revan sudah bulat.


Dan untuk hasil, mereka hanya bisa berusaha dan pasrah.


"Masih pusing?" tanya Bara saat Rea terus menerus memegangi kepala.


"Dikit, semalem langsung tidur tapi malah kepala rasanya nggak karuan."


"Kita mampir sarapan dulu, kamu bisa kirim pesan ke Revan?" tanya Bara.


Rea mengangguk.


Mobil Revan jauh di depan, sebab Rea sungguh tak ingin satu mobil bersama kakaknya dan Najira. Entah, mungkin hanya masalah waktu akan tetapi sejauh apapun Rea berusaha menerima Najira, hatinya selalu bergemuruh tiap memikirkan masalalu wanita itu dengan Bara.