SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 91 -Bonus end



"Kamu tuh ngrepotin ya? dilupain gak bisa, di deketin nggak mau." Selena mengusap wajahnya kasar, mengomel sendiri di ruang kerjanya setelah melihat Revan yang mulai hari ini kembali bekerja di kantornya. Bahkan, Pak Damar dengan tanpa pertimbangan langsung mengumumkan Revan sebagai Wakil CEO dan ia sebagai sekertaris Revan.


"Ehm, bukannya yang selalu ngrepotin itu wanita ya?" ucap Revan tiba-tiba membuat Selena langsung mematung.


"Ngapain Bapak kesini?" tanya Selena terkejut, jantungnya berdegup kencang. Selena merutuk dirinya yang tak menutup pintu hingga tanpa sadar Revan masuk dan mendengar ucapannya.


"Gak boleh? Lain kali kunci pintunya kalau gak boleh." Revan membalikkan badan, ia bukan tanpa sengaja kembali bekerja di perusahaan Pak Damar. Akhir-akhir ini, Revan selalu kepikiran Selena dan hal itu pula yang membuat dirinya menarik kesimpulan bahwa hatinya tertarik pada gadis itu.


Namun, tak disangka jikalau respon Selena tak begitu antusias. Revan jadi ragu, apakah harus mendekati gadis itu atau membiarkan semua berjalan seperti arus air.


"T-tunggu," ucap Selena.


Revan langsung menarik sudut bibirnya, kemudian membalikkan badan.


"Hm, ya?"


"Nanti siang ada waktu? mau makan siang bareng?" tawar Selena.


"Akan aku pertimbangkan." Revan berlalu, tentu saja dengan senyum merekah di bibir setelah keluar dari ruangan Selena sebab ia tak ingin ketahuan senang karena diajak makan siang Selena.


"Udah jatoh banget ni harga diri, kalau dia nolak gue gak akan ngarep lagi," gumam Selena kembali merutuki kebodohannya.


Jam makan siang pun tiba, Selena masih menyibukkan diri memeriksa dokumen yang akan digunakan meeting nanti. Namun, Revan lagi-lagi mengejutkannya.


"Ayo," ucap Revan mengulurkan tangan.


Antara ingin dan malu, Selena akhirnya bangkit dan menerima uluran tangan Revan. Tak disangka, laki-laki itu menggandengnya terus bahkan sampai keduanya masuk ke dalam lift.


"Pak!!"


"Sel..."


Keduanya bersitatap lama, setelah sadar lalu saling membuang muka tanpa sepatah kata.


Dari kejauhan Pak Damar hanya bisa memperhatikan interaksi keduanya saat keluar lift bersama dengan senyum tipis tersungging. Andai anaknya masih hidup, mungkin ia akan seumuran dengan Revan, sayang anaknya meninggal saat masih sekolah menengah atas karena kecelakaan balap liar.


Damar sangat menyayangi Revan layaknya putra sendiri, sebab itulah ia mempercayakan perusahaannya pada laki-laki itu.


"Pak Damar," sapa Revan dan Selena bebarengan.


"Meeting nanti kalian handle ya, saya mau pulang. Atau kalian sekalian makan siang langsung ke lokasi saja," saran Pak Damar.


"Baik, Pak. Ah kalau begitu, saya ambil dokumen ke atas sebentar!"


"Terserah kalian gimana bagusnya saja, saya pamit."


"Baik, Pak." kompak Revan dan Selena.


"Biar aku yang ambil, kamu tunggu di mobil. Ini kuncinya," ujar Revan, mengedipkan sebelah matanya.


Selena mendadak mematung, hari ini sikap Revan seperti seorang pria yang sedang mengejarnya.


Segera membalikkan badan dan berjalan cepat menuju parkiran.


"Yeahhhh..." Selena ber-euforia di parkiran, hingga langkahnya terhenti di mobil Revan, ia memilih menunggu laki-laki itu ketimbang masuk ke dalam meski kunci sudah di tangan.


***


"Makan dimana?" tanya Revan setelah mereka sama-sama berada di dalam satu mobil.


"Sebenarnya hanya berselang satu setengah jam dari meeting," ujar Selena melihat jam di pergelangan tangannya.


"Hanya satu setengah jam, apa kamu terbiasa telat makan hanya demi sebuah meeting? Kita kan bisa makan lagi nanti!" tegas Revan.


"Aku..." Selena terdiam, meski kalimat Revan terdengar bukan seperti sebuah 'perhatian', akan tetapi entah kenapa ia merasa senang sekali mendengarnya.


"Hm, kita makan sekarang. Kau juga, mengajakku makan tanpa rencana makan dimana, sedikit konyol."


Lagi-lagi Selena hanya diam mendengar omelan Revan, ternyata sudah lama tidak bertemu, laki-laki itu mulai menampakkan sifat bawelnya.


Mereka makan siang di salah satu restorant pilihan Revan. Selena hanya bisa menurut, karena baginya, makan bersama Revan saja sudah membuat Selena teramat senang Apalagi kali ini, mulai hari ini kesempatan ia habiskan waktu dengan laki-laki itu semakin banyak meski sebatas rekan kerja.


Apa kabar perasaan? setelah sekian lama susah payah melupakan, dia justru datang dengan versi yang berbeda.


Selena memegangi dadanya, makan siang berlalu sedikit manis karena perhatian kecil laki-laki yang telah lama ia sukai. Namun, Selena bingung apakah itu awal yang baik atau jawaban akhir perasaannya sebagai penegasan bahwa mereka hanya sebatas partner, tidak lebih.


"Sudah larut, aku masuk dulu, Pak. Terima kasih sudah mengantar pulang, makasih juga untuk hari ini sudah mengajakku jalan dan..." Selena menjeda ucapannya.


"Sama-sama, besok apa ada waktu luang?" tanya Revan.


Selena mengangguk, sebab esok adalah hari minggu dan ia memang punya banyak waktu luang.


"Aku jemput jam tujuh pagi," ujar Revan.


"Nggak mau?" tanya Revan.


"Mau mau, iya siap, Pak!" ujar Selena yang masih menggunakan kata 'Pak' untuk Revan.


"Bisa nggak jangan panggil Pak atau Bapak, aku bukan Bapak kamu, Sel."


"Tapi Pak Revan calon Bapak untuk anak-anakku," gumam Selena.


Revan masih sempat mendengarnya, dan melihat Selena hendak membuka handle pintu mobil membuatnya segera menarik tangan gadis itu.


Cup.


Revan mencium bibir Selena tiba-tiba, membuat si empu langsung mematung tanpa sepatah kata.


"Good night," ujar Revan.


"Too, Mas."


Revan mengu lum senyum mendengar panggilan baru dari Selena, mendadak hati yang akhir-akhir ini gelisah mulai menemukan jawaban.


***


Pagi sekitar jam lima, Revan sudah sampai di depan rumah Selena. Seperti janjinya kemarin, ia akan mengajak Selena pergi. Revan tak ingin, kesempatan mendekati gadis itu hilang dan berakhir menyesal seperti tokoh pria dalam novel.


"Katanya jam tujuh, Mas? Aku sampai nggak pamit karena semua orang masih tidur." Selena menekuk wajahnya.


"Kalau jam tujuh kesiangan, nanti jadi jelek momennya."


"Memang mau kemana?"


"Melihatmu," ujar Revan.


"Ehm, jangan gitu dong. Kan aku jadi seneng." bak remaja yang sedang jatuh cinta, Selena dibuat merona oleh ucapan simple Revan.


Revan terkekeh, ia mempersilahkan Selena masuk dan mengajaknya segera berangkat.


Pagi itu, sunrise sedang cantik-cantiknya. Tak ingin melewati momen terbaik itu, Revan mengajak Selena menikmatinya.


"Mas."


"Sel."


Keduanya duduk menghadap pantai kemudian saling tatap.


Revan menghela napas, kembali menatap lurus ke depan. Deburan ombak yang menggulung mengalihkan fokus mereka. Hingga beberapa menit sama-sama diam, Revan kembali mulai bicara.


"Sel, aku tau tak akan cukup waktuku selama ini untuk menutup utuh masalalu. Tapi, akhir-akhir ini apa kamu nggak merasa capek?" mengubah posisi, menghadap ke Selena, menatap manik matanya lekat-lekat.


"Capek?"


"Capek karena lari-larian di pikiran aku."


"Astaga," gumam Selena, entah ia harus berekspresi seperti apa menghadapi Revan.


"Aku nggak bisa janji apapun sama kamu, tapi apa boleh aku mencobanya? Mencoba dekat sama kamu. Kamu nggak perlu melakukan apapun, cukup biarkan aku mengejarmu dengan caraku," aku Revan.


"Aku..." Selena bingung, otaknya menjadi lambat.


"Kamu cantik, kenapa aku baru menyadarinya? Apa Tuhan menghukumku dengan membutakan mataku, sampai nggak bisa lihat ada makhluk secantik kamu," ujar Revan.


Selena hanya bisa menunduk, ia malu, benar-benar dibuat malu oleh pengakuan Revan meski itu bukan pengakuan cinta.


"Mas, aku nggak pernah berharap apapun dari mencintai kamu. Aku tulus, aku..."


"Aku tahu, maka dari itu aku pernah berfikir kamu pantas mendapat laki-laki yang lebih baik. Semua keburukanku, kamu mungkin sudah tau bukan?"


Selena mengangguk.


"Hubungan sepasang kekasih bukan hanya perihal memahami, dipahami tapi juga menerima, dan aku selalu merasa kamu orang yang tepat, Mas. Kamu orang yang bisa memberikan tempat terbaik untuk diriku."


Revan menarik Selena ke dalam pelukan, perasaannya lebih baik sekarang. Revan tahu, ia tertarik dengan Selena, hanya waktu itu berusaha sekuat tenaga menutup kenyataan bahwa ia sudah berpaling dari sosok Najira begitu cepat.


"I love you, Mas!" gumam Selena.


"Too, sayang. I love you too," balas Revan.


TAMAT__


Assalamu'alaikum readers, mohon jejaknya di kolom like dan komen. Boleh juga sumbangin vote dan giftnya. Saya, mimah mohon maaf bilamana ending tidak sesuai ekspetasi kalian. Namun, saya sangat bersyukur dengan segala dukungan kalian, hingga novel ini rampung tepat sesuai target. Makasih banyak-banyak, semoga tidak bosan dan tunggu novelku selanjutnya😘