
Saat izin pamit, Danis bukan pergi ke toilet melainkan ke parkiran dimana mobilnya berada. Menyeringai tipis kala menemukan obat yang ia butuhkan. Danis melangkah cepat menemui pelayan caffe untuk membantu melancarkan aksinya.
"Boleh saya ngobrol dengan Rea, Tante? Kebetulan kami satu kampus!" Ujar Danis kepada Rosa.
"Oh iyakah? kebetulan sekali ya, yaudah kalian ngobrol dulu nggak apa-apa. Rea, kamu kenal sama Danis kan?" tanya Rosa memastikan, sebab yang ia lihat Rea merasa tak nyaman saat Danis mendekat ke arahnya.
"Tentu kenal lah jeng, udah ayo biarin mereka ngobrol sementara kita arisan," ucap Melly menimpali.
"Oh, begitu ya?" Rosa tampak ragu akan tetapi mengangguk juga. Dan kini Danis duduk tepat di sisi Rea.
"Kamu apa kabar, Re?" tanya Danis. Ia berharap Rea memutus obrolan mereka dan segera meneguk minuman di hadapannya.
"Baik, bagaimana kamu?" Rea memaksakan tersenyum.
"Juga baik, soal waktu itu..."
"Jangan lagi di bahas, aku sudah tak lagi memikirkan masalalu. Baik itu kamu ataupun masalah Kanaya!" tegas Rea.
"Oh, baiklah." Danis meneguk minumannya.
Rea pun meraih gelas orange jus miliknya. Melihat Danis terus memperhatikannya membuat Rea sedikit waspada kemudian dengan gerakan dibuat tak sengaja ia menumpahkan isi gelas itu hingga Danis menatapnya tak percaya.
"Aduh, tumpah." panik Rea.
"Yaudah, biar aku pesankan yang baru!" ujar Danis.
"Gak usah, Dans. Ini dressku juga basah." Rea menunjuk bagian ujung bawah dressnya yang terkena minuman.
"Kenapa sayang?" tanya Rosa bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah Rea.
"Ini, bajuku basah Tante! gak sengaja kena minum."
"Yaudah kamu bersihin dulu di toilet gih, Tante bentar lagi kelar nanti kita beli baju buat ganti kamu." Rosa menepuk pundak Rea.
"Baik, Tante."
Rea pun pamit ke toilet, dan Rosa kembali bergabung dengan teman-teman sosialitanya.
"Jeng, lihat deh. Anaknya Melly mencurigakan. Kayaknya dari tadi buntutin calon mantumu," bisik Novi.
Rosa kemudian mengarahkan pandangan ke arah Rea, tak jauh darinya berjalan Danis di belakang.
"Jeng Jeng semua, aku ke toilet bentar ya?" ucap Rosa buru-buru. Lantas ia mengikuti Danis yang semakin dekat dengan Rea.
Laki-laki itu bahkan sudah tak berjarak hingga Rosa membulatkan mata terkejut saat Danis dengan sigap membekap Rea dan menyeretnya ke tempat sepi.
"Bara, aku harus hubungi Bara." gugup Rosa berusaha meraih ponselnya, dan mencari nama sang anak di kontak telepon.
"Hallo, Ra!" ucap Rosa dengan napas tersengal, beruntung Bara tak sulit untuk di hubungi kali ini.
"Iya, Ma? ada apa kok panik?"
"Rea... Rea... dibawa anaknya Melly, laki-laki itu membekap Rea, kamu cepat datang ke caffe XX, Mama akan berusaha menyelamatkan Rea."
Tut!
Rosa mematikan teleponnya karena takut Danis akan menyakiti Rea jika ia tak langsung menyelamatkan gadis itu.
"Rea-Rea, kamu masih saja lemah dari dulu!" Danis menyeringai saat tubuh Rea pasrah diseret olehnya, ia melewati pintu samping caffe dengan gerakan seolah tengah memeluk kekasihnya sambil keluar.
"Pak-pak, tolong anak saya! dibawa," ucap Rosa.
"Mana mungkin Bu, mengada-ada saja!"
"Ish mengada gimana itu anak saya dibawa, dia yang pake jaket hitam!" kesal Rosa, merasa sia-sia meminta tolong, Rosa pun mencopot highellnya dan setelah berlari mengejar Danis dan Rea.
Rosa melempar tepat kepala Danis hingga mengaduh kesakitan, Rea terlepas dan hampir ambruk kalau Rosa tak segera menangkapnya.
"Astaga," gumam Rosa dengan sisa tenaganya. Ia lempar sebelah sepatunya lagi kepada Danis agar laki-laki itu tak lagi mengejarnya.
"Itu sepatu nggak ada apa-apanya, tapi kalau kamu kenapa-napa gimana?" Rosa khawatir, langkahnya tertatih membawa Rea sebab ia tak lagi mengenakan alas kaki.
"Bara mana sih ini," panik Rosa.
"Rea kenapa, Tante?" tanya Kanaya yang sedang menunggu Eriana di parkiran.
"Kamu kenal Rea?" tanya Rosa.
"Kenal lah Tante, Rea kan mantannya Danis."
Kanaya menyeringai, sepertinya ia punya kesempatan membuat citra Rea semakin buruk di mata siapapun.
"Tante teman arisan Mama kan?" tanya Kanaya.
"Iya, kamu kok tahu?"
"Iya sering lihat, ternyata Rea ponakan Tante ya? Baru tahu sih aku dia ikut acara kaya gini."
Rosa terdiam mendengarkan ucapan Kanaya yang bahkan menganggap Rea keponakannya.
"Duduk dulu Tante, bawa sini kebetulan aku bawa minyak kayu putih."
"Oh oke, makasih ya!"
Meski sebal, Kanaya tetap membantu Rosa menyadarkan Rea.
"Tante tau, Nggak? sebenarnya Rea itu jadi simpanan om-om." Kanaya berujar seraya memijat-mijat pelipis Rea.
"Hah? Maksudnya?" Rosa tak mengerti.
"Jadi ya gitu, dia sering ngampus dianterin sama laki-laki yang lebih cocok jadi Om-nya. Dan laki-laki tadi itu, mantannya Rea ini Tante, wajar lah dia kesal dan berusaha balas dendam."
"Gimana keadaan Rea, Ma?" Tanya Bara begitu nememukan Rea dan Mamanya di luar caffe.
"Gimana ini Ra, masih pingsan!" jawab Rosa.
"Mama?" Tanya Kanaya membulatkan mata.
"Kamu lagi? Mau apa lagi kamu, hah?" suara Bara berubah tinggi.
"A-aku hanya bantu," ucap Kanaya tergagap kemudian dengan mundur beberapa langkah dan langsung pergi.
"Sudah, lebih baik kita bawa Rea."
"Mama pulang aja sama sopir biar Bara yang mengurus Rea," ujar Bara.
"Begitu ya, tapi apa gak masalah. Kamu bisa mengatasinya, Mama gak tau kalau teman yang di maksud Melly adalah mantan."
"Tak apa-apa, Ma. Rea memang dalam kondisi kurang baik di kampus. Banyak teman mencari masalah dengannya," terang Bara. Setelah pamit berpisah dengan Rosa, Bara dengan segera membawa Rea ke apartemen.
***
"Auhhh!" Rea mengaduh sambil memegangi kepalanya saat efek obat biusnya habis dan ia sadar. Bara membawa Rea ke apartemen dan meminta Tama untuk memanggil Dokter pribadinya.
"Lain kali lebih hati-hati Ra, orang yang berusaha membius Rea menggunakan obatnya melebihi anjuran jadi dia pingsan terlalu lama." terang dokter yang tak lain juga termasuk salah satu teman Bara.
"Hya, aku heran. Laki-laki itu terus menerus mengincar Rea dan menghalalkan segala cara." Bara menatap tak berkedip wajah Rea, ia sangat khawatir karena makin kesini sepertinya makin tak aman untuk Rea bepergian sendiri.