
"Bapak Revan," panggil Suster pertama kali keluar IGD.
"Bagaimana keadaan kakak saya, Sus?" tanya Rea.
Bara mengusap bahu istrinya agar tidak ikut panik.
"Maaf, pasien menyebut nama Pak Revan terus menerus, apa bisa kami memintanya masuk sebentar. Untuk kondisi pasien masih dalam keadaan kritis, benturan di kepala belakang menyebabkan pendarahan hebat," ujar suster, terdengar helaan napas panjang setelah menjelaskan kondisi Najira saat ini.
Rea menutup bibirnya tak percaya, jika keadaan Najira separah itu. Sedih, entah bagaimana kakaknya menghadapi hal ini di hari-hari bahagianya sebagai pengantin baru.
"Sebentar, ehm kakak kami sedang mengganti pakaiannya," ujar Bara. Meski dalam hati terasa mual menyebut Revan sebagai kakaknya, ya walau sebenarnya memang betul, Revan adalah kakak iparnya.
"Bagimana keadaan istri saya, Sus?" tanya Revan setelah selesai mengganti pakaiannya.
Namun, wajahnya masih sama berantakan. Meski begitu, terlihat lebih baik setelah mengganti pakaian.
Suster menatap Revan, lantas menjelaskan keadaan Najira.
Revan mengangguk lemah kemudian mengikuti langkah suster menuju tempat dimana Najira terbaring.
"Na..."
Rupa-rupanya Najira masih belum sadarkan diri, hanya sesekali ia menyebut nama Revan dan suaminya itu menyaksikan sendiri keadaan Najira separah apa.
"Maafkan aku, andai aku tak marah semua ini nggak akan terjadi," gumam Revan.
"M-a-s R-e..." Najira bergumam tak jelas.
"Iya sayang, aku disini. Aku di samping kamu!" jawab Revan.
Tak ada sahutan setelahnya lagi, akan tetapi tubuh Najira bergerak kesakitan dan hal itu membuat Revan semakin dilanda panik.
"Sabar ya, aku panggil Dokter!"
"Maaf, Pak Revan sebaiknya anda tunggu di luar. Biar kami periksa keadaan Bu Najira lebih dulu," pinta Suster.
"M-a-s..."
Revan bimbang, ia tak ingin keluar. Jika boleh saja ingin di dalam menemani sang istri. Tak butuh persetujuan ia kembali mendekat ke arah Najira bersama dengan Suster.
Lagi-lagi helaan napas Suster terasa berat, "saya panggil Dokter dulu," ujar Suster.
Tak berselang lama Dokter masuk.
"Siapkan alat pacu jantung," titah Dokter.
Revan lemas, ia mundur dan terduduk di lantai sementara Rea dan Bara masih setia menunggu di depan.
"Bagaimana, Dok?" tanya Suster.
Dokter hanya menjawab dengan helaan napas dan menggeleng.
"Na..." lirih Revan tak kuasa menahan air mata kesedihannya. Apa yang menimpa Najira adalah kesalahannya, buah dari amarahnya. Revan sama sekali tak berfikir akan menjadi seperti ini akhir dari kemarahannya.
"Pasien semakin kritis," ujar Dokter.
Revan langsung mendekat, mengenggam jemari mungil Najira, tak perduli dengan Dokter dan suster yang melarangnya berada disana.
"M-a-a-f a-k-u b-u-k-a-n..."
"Kamu ngomong apa sih, Na. Kamu gak salah, aku yang salah, aku yang buat kamu jadi kaya gini. Aku yang minta maaf," ujar Revan.
"I-s-t-r-i y-a-n-g b-a-i-k."
Meski terbata dan dengan kondisi tak sadar, Revan bisa mendengar jelas kalimat apa yang diucapkan Najira. Hatinya perih, tersayat-sayat mendengarnya. Najira adalah wanita sempurna dimatanya, bahkan ia rela andaikan selamanya ia dan Najira tak memiliki keturunan, asalkan wanita itu kembali sehat, kembali ke sisinya seperti biasa.
Revan lemas, akan tetapi tangannya berusaha menggenggam jemari Najira.
"Innalillahi wa'innalillaihi ro'jiun!" ujar sang Dokter setelah memeriksa keadaan Najira.
Revan ambruk seketika, ia menangis histeris.
"Maaf, Pak Revan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin," ujar Dokter menatap iba kepada Revan.
"Kak," panggil Rea.
Tanpa terasa air matanya jatuh menetes melihat kakak laki-lakinya menangis histeris.
Benci, mungkin itu yang pernah Rea rasakan. Namun, sebenci apapun dirinya kepada sang kakak dan Najira, ia tetap punya hati, ia juga tak ingin hal seperti ini menimpa kakaknya.
"Rea..." gumam Revan disela tangisnya, ia ambruk di pelukan Rea.
"Kak, aku nggak tau mesti gimana biar kamu tenang. Aku nggak tau karena kehilangan orang yang paling kita cintai pasti sangat sakit."
Bara berdiri, membeku menatap tubuh Najira yang akan di tutup kain putih oleh dokter. Tak pernah menyangka, mantan istrinya akan pergi secepat ini. Segera ia mengalihkan pandangan ke Revan, suami baru Najira itu tampak sangat frustasi.
Inikah yang ia harapkan? babak akhir si pengkhianat yang mendapat balasan dari Tuhan?
Bara bukan orang sejahat itu, ia masih punya hati nurani, ia masih sangat menyayangkan kepergian Najira yang terlalu cepat setelah pernikahan kedua mereka.
Kedua kakak beradik itu terus menangis, dan Bara sangat kesusahan menenangkan keduanya. Ia kemudian meminjam ponsel Rea dan keluar ruangan untuk menghubungi mertuanya di Bandung.
"Hallo, Rea..."
Suara di seberang sana yang kemungkinan menurut Bara adalah Alex.
"Ini Bara, Ayah."
"Bara, ada apa Nak? apa terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya Alex dengan nada khawatir.
"Najira meninggal, Ayah. Ini kami sedang di rumah sakit, biar assisten Bara menjemput Ayah dan Ibu di Bandung. Karena..."
"Innalillahi... bagaimana bisa?" tanya Alex.
"Ceritanya panjang Ayah, Bara tak bisa menjelaskan dan Najira akan kami makamkan disini..." Bara menjeda ucapannya.
"Karena makam kedua orang tuanya disini," sambung Bara lagi disertai helaan napas kasar.
"Kami akan segera kesana, tolong kamu kirim alamatnya. Ayah akan bawa mobil toko," ujar Alex sebelum mematikan panggilan teleponnya.
"Iya, Ayah. Hati-hati," ujar Bara.
***
"Revan, bangunlah. Kamu mungkin sangat sedih karena kehilangan Najira, tapi dia tidak akan tenang disana nanti jika kamu seperti ini." Bara meraih tangan Revan agar berdiri, akan tetapi yang terjadi justru Revan pingsan.
"Van, Kak!" panggil Bara dan Rea terkejut.
"Bagaimana ini, Mas?" tanya Rea.
"Bagaimana lagi, aku akan menghubungi Papa sayang, kita nggak mungkin mengurusnya sendiri."
Siang itu Aron mendapat kabar mengejutkan dari Bara dan ia langsung pulang ke rumah menemui Rosa untuk meminta pertimbangan pemakaman Najira.
"Pokoknya Mama nggak setuju kalau harus dipulangkan ke rumah kita!" tegas Rosa.
"Ma, Najira itu mantan menantu kita. Anak sahabat Mama, apa mama nggak ingat? walaupun dia pisah dengan Bara seperti itu, setidaknya ia menantu yang baik kan buat Mama? kalian selalu akur dan kompak kemana-mana, iya kan?"
Rosa terdiam, menunjuk seraya memijat pelipisnya. Memang benar, apa yang dikatakan Aron. Tapi jujur, ia masih belum terima dan memaafkan kesalahan Najira yang dulu.
"Ma, biarkan Najira juga tenang. Setidaknya di atas sana, orang tuanya melihat kita sudah menjaga putrinya dengan baik!" pinta Aron.
Deg.
Rosa tertegun, ia sadar hatinya tertutup oleh rasa benci, perlahan ia mengangguk setuju.
"Tapi apa suaminya tak mempermasalahkannya, atau Rea? Mama takut, hal seperti ini juga akan berimbas ke hubungan anak kita, Pa?"
"Masalah itu, kita serahin ke Bara. Biar dia yang bicara ke Revan dan kasih pengertian ke istrinya. Papa yakin, mereka akan menelaah maksud baik kita," ujar Aron.
Benar saja, Bara yang harus mengurus semuanya. Sebab, kondisi Revan yang tak memungkinkan ia pun meminta Rea untuk tetap berada di sisi kakaknya.
"Sementara Aron dibantu para satpam dan Tama mempersiapkan segala sesuatunya di rumah keluarga Alnav. Tak berselang lama, jenazah Najira sudah dibawa pulang untuk persiapan pemakamannya.