
Tangis perempuan diciptakan agar laki-laki melupakan tangisnya sendiri,
Sekuat apapun laki-laki tegar yang merengkuhmu, jangan lupakan satu hal!
Bahwa dia juga manusia biasa yang memiliki hati dan sisi lemah terlebih saat menghadapi hal tersulit untuk wanita yang paling ia cintai.
Suasana menjadi hening. Revan dengan kekawatirannya sementara Bara dan Rea cukup prihatin melihat kondisi Najira dari kejauhan.
Sepasang kekasih itu saling pandang dengan lengan menyikut seolah berbicara lewat isyarat, hingga akhirnya Rea menatap Bara lekat dan laki-laki itu mengangguk untuk menghampiri Revan yang duduk tak jauh dari luar pintu ruang rawat Najira.
"Yang sabar, dia wanita kuat." Bara akhirnya bersuara dan memilih duduk samping Revan disusul Rea.
"Mas Revan jangan down, kita harus bisa menguatkan Mba Najira dari sini dengan berusaha tetap baik-baik saja." Rea mengusap-usap bahu Revan, ia tahu kakaknya sangat kalut.
"Hya dia kuat, dia harus kuat. Aku nggak tahu kalau dia hamil, gak bisa bayangin sakitnya dia kalau tahu hamil tapi anaknya udah nggak ada." Suara Revan semakin bergetar, bahkan kedua sudut mata laki-laki itu tampak basah karena air mata.
Bara terdiam, kenapa melihat Revan sesedih itu karena Najira begitu menohok dirinya?
Luka di hati masih tersisa, karena bagaimanapun Najira adalah mantan istrinya. Tapi hari ini, melihat Revan menangisi Najira ia semakin yakin bahwa perceraian mereka adalah hal yang sangat tepat. Bara menyadari, dirinya bukan orang yang bisa memperlakukan Najira seperti Revan memperlakukan mantan istrinya itu.
"Menurutmu, siapa ayahnya?" tanya Bara.
Revan menggeleng, "aku tidak tahu, kita tunggu Najira sadar baru membahasnya," ucap Revan.
"Oke semoga lekas membaik."
Tak berselang lama, seorang Dokter masuk setelah mendapat laporan dari suster yang merawat Najira.
Baik Revan maupun Bara langsung bangkit, tak berselang lama seorang suster keluar.
"Keluarga pasien?" tanya suster menatap Rea, Bara dan Revan bergantian.
"Saya..." ucap Bara dan Revan bersamaan.
"Oh, maaf tapi dokter hanya mengizinkan satu orang masuk saja dan tadi pasien terus menerus memanggil nama Bara, apa ada yang bernama Bara disini?" tanya suster kembali.
"Saya Bara? tapi..." Bara memandang Rea dan Revan. Sejujurnya Bara merasa tak enak dengan Revan, terlebih ia melihat bagaimana khawatirnya laki-laki itu pada mantan istrinya, Najira.
Bara semakin dilema, saat melihat raut di ceria di wajah Rea memudar setelah mendengar ucapan suster tadi.
"Re, boleh aku masuk?" tanyanya dengan kebimbangan yang melanda.
Rea mengangguk, "iya, Mas."
Meski begitu, tak bisa Rea pungkiri hatinya sedikit memanas mendengar Najira menyebut nama Bara bahkan mencarinya.
Bara perlahan melangkah masuk, sedangkan Rea melihat kakaknya mengusap wajah frustasi.
"Mas Revan," panggil Rea.
"Mas sudah makan belum? ayo makan dulu, tidak baik menyiksa diri," ajak Rea.
"Mas lagi gak kepengen makan, Re."
"Gimana mau jagain Mba Najira kalau jaga kesehatan diri sendiri aja Mas gak bisa," ucap Rea, ia berharap kakaknya paling tidak punya semangat meski wanita yang dicintainya sedang terbaring lemah.
"Kamu nggak akan ngerti rasanya jadi aku, Rea."
"Aku ngerti, Mas. Justru itu aku pengen kamu punya semangat, biar kamu juga bisa menyemangati Mba Najira. Aku ngerti, karena Mas Bara pernah di posisimu karenaku."
"Hah?" Revan mendongkak menatap adiknya penuh tanya.
"Makan dulu, nanti aku cerita."
Rea menarik Revan untuk mengajaknya pergi ke kantin. Ia tahu, kakaknya bahkan tak sempat memikirkan dirinya sendiri.
"Nah, makan yang banyak!" titah Rea begitu mereka berada di kantin, dan Revan sudah membawa satu piring berisikan nasi lauk dan sayur.
"Kamu nggak makan?" tanya Revan saat melihat Rea hanya menikmati teh hangat.
"Nggak, tadi udah sarapan sama Mas Bara."
Rea gelagapan, sejurus kemudian mengangguk.
"Hya, tapi Mas Bara nggak tinggal disana, dia pulang ke rumah orang tuanya."
"Kamu beneran menyukai Bara?" tanya Revan, "bagaimana dengan perasaannya ke kamu?"
"Iya, Mas."
"Seyakin itu kamu?" tanya Revan menggelengkan kepala.
"Seyakin perasaan Mas Revan ke Mba Najira, mungkin seperti itu," jawab Rea.
"Kamu nggak takut, kalau dia manfaatin kamu buat balas dendam ke aku?"
"Nggak ada, tadi aku bilang kan kalau Mas Bara itu pernah sekalut Mas Revan, sepele karena aku ninggalin dia sebentar. Tapi dari situ aku tahu kalau dia benar-benar trauma karena dikhianati Mba Najira."
"Separah itu?" tanya Revan, Rea mengangguk.
"Gimana kalau keadaannya dibalik, Mas Revan di posisi Mas Bara dan Mas Bara yang menjadi Mas Revan?"
"Hya kamu benar, Re. Aku sama sekali tidak bermaksud menghalangi kalian, ketakutanku ada di dirimu, aku takut Bara hanya menjadikanmu alat balas dendam, itu saja."
"Tidak akan, karena aku dan Mas Bara bertemu tanpa sengaja, bukan karena tau aku adikmu Mas."
"Kalau sudah begitu, aku serahkan semuanya sama kamu. Kamu sudah dewasa, tau mana yang baik atau tidak. Tapi hati-hati, aku melihat Danis masih tak terima putus denganmu."
"Danis? dia sudah berubah, Mas. Dan aku pikir, dia tak akan mengusikku lagi. Hanya saja akhir-akhir ini di kampus tersebar gosipku menjadi simpanan Mas Bara."
"Hah? Masalah sebesar ini, kamu nggak ada bilang sama Mas?" tanya Revan.
Rea menggeleng.
"Bara tau?"
"Enggak, nggak ada yang tahu. Entah besok seperti apa di kampus, aku sudah bertanya pada Danis dan bukan dia pelakunya." jelas Rea.
"Kamu bodoh sekali, Re. Kamu cukup bilang ke Bara dan ia akan mengurusnya, kamu bahkan bisa langsung tahu siapa dalang yang menyebarkan gosip murahan itu. Lagi pula dia kekasihmu bukan? kamu bisa menguji cintanya dengan masalah ini."
"Semudah itu?" tanya Rea dengan polosnya.
"Hya, semua mudah untuk Bara. Bahkan itu semua dalam hitungan menit."
"Ayo kita kembali," ajak Revan, lalu Rea teringat jikalau Bara yang diminta masuk ke ruangan Najira. Kira-kira apa yang mereka lakukan?
Di ruang lain, Bara hanya bisa berulang kali menghela napas saat melihat Najira terbaring lemah tak berdaya. Selain dari pada itu ada yang membuatnya lebih sesak lagi saat mendengar Najira terus meminta maaf padanya dari awal wanita itu sadar.
"Aku akan keluar, tenangkan dirimu dan fokus sembuh," ujar Bara.
"Aku minta maaf," ucap Najira, air matanya terus menetes sedari ia sadar dari tidur panjangnya.
"Aku bilang sudah tidak apa-apa, Na."
"Aku baru tahu aku hamil tapi anakku sudah pergi, apa ini karma. Mas, aku mau jujur satu hal sama kamu. Mungkin terlambat, tapi aku berharap perasaanku sedikit membaik setelahnya."
"Soal anak itu, siapa ayahnya?" tanya Bara.
Najira menarik napas, meski pada akhirnya hanya akan menambah kebencian Bara padanya.
"Itu anaknya Mas Revan, ya itu anaknya Mas Revan. Karena sejak dari awal menikah denganmu aku selalu mengkonsumsi obat penunda kehamilan. Aku tahu, kamu dulu sangat ingin memiliki anak. Tapi, aku selalu merasa ragu soal kita apa selamanya akan sama-sama, sampai aku bertemu Mas Revan..."
"Sudah cukup, Na." Bara meredam emosi meski tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku tahu ini menyakitkan buat kamu, Mas. Aku sudah mendapatkan balasannya," lirih Najira.
"Kamu tak perlu khawatir! Aku sudah ada Rea, dia segalanya dalam hidupku sekarang. Cukuplah kamu hidup dengan baik, dan tak mengulangi kesalahanmu setelah bersama Revan." Bara bangkit, ia kecewa, marah, kesal, tapi semua sudah berakhir.
Bukan karena ia masih memikirkan Najira, tapi ia kecewa karena merasa dibohongi sebegitu lamanya.
LIKENYA DITEKAN YA SAYANG🥲