SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 85



"Bu Rea, ada paket. Ini saya taruh dimana ya?" tanya Joan sambil membawa beberapa kotak paket berbungkus hitam.


"Dari siapa, Jo?" tanya Rea.


"Pak Revan, Bu!"


Rea mengangguk, "tolong kamu bawa ke depan televisi ya, aku mau buka disana sambil nungguin Pak Bara!" titah Rea.


Joan mengangguk, ia menaruh paket kiriman dari Bandung itu di atas sofa depan televisi.


"Non, apa mau dibuatkan camilan lagi?" tawar Bi Liam. Rea menggeleng, sambil mengusap perutnya yang buncit.


"Nggak, Bi. Akhir-akhir ini rasanya gampang banget kenyang jadi susah gerak!" keluh Rea.


"Makhlum non, kan udah delapan bulan lebih, jadi bawaannya begah, yang penting sehat dan pasti dedek di dalam sana aktif."


"Iya ya, Bi. Ada buah gak?"


"Ada, Non sebentar!" Bi Liam pergi ke dapur, tak berselang lama kembali.


Bi Liam membawa sepiring buah segar yang sudah dipotong kecil-kecil untuk Rea.


"Iya, Bi. Makasih ya buahnya," ujar Rea.


"Sama-sama, Non. Bibi ke belakang dulu, kalau ada apa-apa, panggil aja."


Rea mengangguk senyum sebagai jawaban.


Siang itu, ia habiskan membuka paket dari Bandung, rupa-rupanya kedua orang tua dan sang kakak mengirim beberapa keperluan bayi, sebab kemarin Rea bilang belum menyiapkan apapun.


"Oma perhatian banget sama calon cucunya hihi, mana lucu-lucu lagi!" gumam Rea tersenyum.


Sementara di kantor, Bara sedang sibuk-sibuknya. Pertemuan dengan beberapa klien membuatnya tak sempat mengabari Rea bahkan sekedar memegang ponsel untuk berkirim pesan.


"Tam, tolong kirim pesan ke Rea."


"Sudah, Bara. Kita langsung jalan?" tanya Tama, Bara mengangguk.


Hingga mobil mereka sampai di restoran tempat bertemu clien.


"Selamat siang, Pak Bara!" Ucap cliennya tersenyum manis seraya membusungkan dadanya.


"Siang," jawab Bara datar.


Ia tak begitu menanggapi clien satu ini, dari pertama datang matanya sudah kemana-mana membuat Bara risih.


"Jadi bagaimana? apakah Alnav group setuju bekerja sama dengan kami?" tanya wanita cantik itu.


"Saya menolak!" tegas Bara langsung


Wanita itu tampak syok dan terkejut, bukankah ia sudah menggunakan strategi yang sering digunakan sekertaris perusahaan pada umumnya, yakni menggoda clien?


"Kami bekerja sama berdasarkan kualitas perusahaan bukan penampilan clien, lain kali lebih baik jaga sikap karena tidak semua orang menyukai buah yang diumbar kemana-mana," ujar Tama setelah melihat Bara berlalu lebih dulu.


Hari-hari berikutnya Bara terus dihadapkan dengan clien yang berbeda-beda, sementara Rea mulai merasa suaminya sangat-sangat sibuk hingga tak ada sedikitpun waktu untuk menghubunginya di siang hari.


"Bi Li," Panggil Rea.


"Iya Non?"


"Bisa tolong antar ke kamar, perutku sakit sekali." Rea mengeluh, keringat dingin membasahi wajahnya, sementara bi Liam khawatir jikalau Nona mudanya akan melahirkan lantas berusaha menghubungi Bara.


"Minggu ke berapa Nona?" tanya Bi Liam.


"Ke berapa ya Bi, harusnya masih tiga minggu lagi tapi ini sakit banget, mules rasanya."


"Jangan-jangan mau lahiran, Non Rea? Pak Bara mana susah sekali di hubungi."


"Tolong telepon mama Rosa, Bi!" pinta Rea.


Bi Liam pun mengangguk, ia menghubungi Nyonya Rosa untuk memberi kabar. Beruntung, mama mertua Rea itu bisa dihubungi, kini Rosa dalam perjalanan ke rumah Rea.


Astaga!" Rea mengusap keringat di dahinya, dadanya berdegup kencang, hatinya mencelos, takut menghadapi lahirannya sendirian tanpa Bara.


"Mas, hiks..."


"Sayang," teriak Rosa buru-buru masuk ke dalam rumah.


"Ma, Perutku sakit banget!"


Joan mengangguk, ia menyiapkan mobil sementara bi Liam dan Mama Rosa memapah Rea masuk ke dalam mobil.


**


"Tam ke rumah sakit sekarang!"


"Tam lebih cepat."


"Tam ngebut sedikit, Rea-ku!" Bara mengusap wajahnya kasar. Menyesal karena bekerja mengabaikan ponselnya hingga Rea kesulitan pun, menghubungi mamanya lebih dulu dibandingkan dirinya yang sedari tadi ponsel dalam keadaan senyap, kini Bara menyesal dan juga dilanda panik sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


"Rea mana, Ma?"


"Masuklah, Rea menunggumu!" ujar Mama Rosa.


Bara mengangguk, sementara Tama berada di luar menemani Tante Rosa sambil menunggu Papa Aron.


"Sayang," lirih Bara, ia mendekat ke arah ranjang dimana Rea terbaring disana dengan sudut mata berair.


"Mas, sakit banget!"


"Sabar sayang, ada aku. Aku akan tetap berada disisi kamu, aku janji!"


Bara menautkan tangannya ke jemari milik Rea dan menggenggamnya erat, istrinya itu berulang kali meringis kesakitan.


"Baru buka dua ya, Bu. Sabar dulu, boleh kalau kuat sambil jalan-jalan," ujar sang dokter.


"Masih lama ya, dok! apa tidak ada cara lain agar istri saya tak kesakitan?"


"Sabar, Pak. Melahirkan ya memang sakit, kalau normal sakit di awal, kalau SC sakitnya setelah melahirkan."


"Hm, ya gimana lagi sayang, sakit semua bikinnya aja yang enggak sakit," gumam Bara, ia tangan satunya mengusap-usap rambut Rea agar sang istri tidak tegang.


"Mas, ishhhh."


Rea hampir saja tertawa kalau tak merasakan perutnya terus menerus sakit.


"Ayo mulai. Sus, tolong pengang bagian kanan. Dan Pak Bara, bantu kami agar Ibu Rea tetap dalam keadaan sadar!" perintah Dokter.


Bara mengangguk patuh.


Saat melihat Rea merasa kesakitan, ia tak tega. Namun, sumber kekuatan sang istri adalah dirinya, hingga pembukaan jalan lahir terus bertambah dan Rea semakin terus meringis.


"Ayo terus! Tarik napas, ejan." Dokter memberi aba-aba kepada Rea.


"Kamu bisa sayang, kamu kan calon ibu yang hebat." Bara tak kuasa menahan air matanya melihat Rea kesakitan sejujurnya ia juga sangat panik, takut, tak tega.


Jika bisa menggantikan, lebih baik ia yang merasakan sakit itu ketimbang melihat sang istri tersiksa.


"Ayo dikit lagi, kepalanya sudah kelihatan."


"Ughhhhh..."


Oekk... oekk...


"Wah bayinya laki-laki," ujar suster seraya menggendong bayi milik Bara dan Rea untuk melakukan IMD.


Rea tak kuasa menahan air matanya, akan tetapi bibirnya terus tersenyum menatap sang buah hati.


"Sayang, akhirnya mama ketemu kamu, nak!"


Rea bahkan sudah tak merasa sakit lagi meskipun harus dijahit, rasa sakit di tubuhnya hilang begitu saja saat bertemu makhluk kecil buah cintanya dengan Bara. Lega, haru dan bangga pada akhirnya ia bisa menjadi sosok istri yang sempurna untuk Bara, sosok yang bisa memberikan laki-laki itu keturunan seperti impiannya.


Bara, ia terdiam juga menangis sampai tak sanggup berkata apa-apa. Bangga kepada Rea? itu sudah pasti, istrinya memang super hebat, baik, dan mau mengertinya dari awal hingga menutup segala kurang-kurangnya.


"Mas bangga sama kamu sayang, kamu hebat! istriku hebat!" lirihnya dengan air mata berderai.


"Ganteng banget kan Mas dia, fotocopy-an kamu!"


"Iya ganteng, mamanya juga cantik kok. Makasih sayang, aku benar-benar nggak tau harus ngomong gimana, kamu udah buat aku jadi laki-laki sempurna dan sebahagia ini," ucap Bara menciumi wajah Rea.


Setelah IMD, suster membawa bayi laki-laki Rea dan Bara untuk dibersihkan.


"Mas aku tadi takut banget, kamu susah banget dihubungi."


"Maaf ya, janji gak akan aku ulangi." Bara mencium tangan Rea yang terpasang infus.


Bahagia itu sederhana, seperti sebuah cinta akan indah bila sepasang itu saling menerima, karena sebenarnya cinta itu adalah sepasang kekurangan yang saling melengkapi~