SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 86



"Hallo baby ganteng, sama Oma dulu ya? Mama biar istirahat bentar," ucap Rosa seraya menggendong bayi montok Rea untuk memenangkannya. Namun, tangis bayi itu bukan mereda malah justru semakin kencang.


"Gak apa-apa, Ma. Biar sama Rea!"


"Kamu istirahatlah bentar, lihat kantung matamu sampai coklat sayang. Bara kemana ya?" tanya Rosa.


"Mas Bara pulang sebentar ambil perlengkapan sekalian nanti bareng sama Ayah, Ibu dan Kak Re."


Rosa mengangguk-ngangguk, tak berselang lama bayi montok itu tampak terlelap di gendongan Rosa karena lelah menangis.


"Tuhkan tidur, asalkan udah kenyang asi gak apa-apa sayang sama yang lain dulu. Kan jadi Ibu juga harus istirahat, dulu Mama juga begitu, kantung mata panda, pipi sampai tirus, bahkan nih rambut dan body sampai meleyot sana sini, haha."


"Iyakah, Ma? Tapi Mama tetep cantik banget dan masih muda!"


"Itu karena kita wajib merawat diri, meski sudah berumur harus tetap terlihat menarik agar tidak ada celah bagi pelakor untuk datang! Hih, amit-amit deh, jangan sampai ya sayang. Semoga hubungan kalian adem ayem selamanya," ujar Rosa. Ia meletakkan si Baby montok ke dalam box bayi kemudian ikut duduk di sisi Rea.


"Aku yakin Mas Bara nggak kaya gitu, Ma."


"Iya sayang, Mama juga yakin dia itu sayang banget sama kamu," ujar Rosa.


Bara, dia baru sampai rumah setelah menjemput kedua orang tua Rea dan Revan untuk singgah lebih dulu di rumah barunya.


Setelah memastikan semua perlengkapan bayinya lengkap di dalam mobil, Bara kembali melesat menuju rumah sakit bersama Neya dan Alex.


"Aku nanti menyusul, ada beberapa barang yang harus aku beli," ujar Revan yang diangguki Bara dan Neya.


Revan melajukan mobilnya menuju mall terdekat, ia hendak membeli beberapa kado untuk bayi Rea.


Mobil mereka berpisah di depan rumah baru Bara dan Rea. Bara menuju rumah sakit, sementara Revan hendak ke Mall terdekat.


Revan sudah sering bolak-balik ke Bandung-Jakarta, akan tetapi ini pertama kalinya datang dengan perasaan jauh lebih baik. Sudah ikhlas dengan yang dulu, dan mungkin sudah waktunya ia menutup lembar coretan hidupnya dengan kertas putih yang akan terisi dengan tinta yang baru.


***


"Pak Revan," gumam Selena tanpa sadar saat dua mata itu bersitatap dalam jarak kurang dari dua meter.


"Sel..." Revan menggaruk-garuk kepalanya, kenapa juga ia harus bertemu Selena yang sedang berada di toko ligerie.


"Apa dia sudah menikah sekarang?" batin Revan. Sebenarnya ia tanpa sengaja melewati gerai itu, sedang mencari-cari gerai perlengkapan bayi justru membuat dirinya nyasar dan malah melihat Selena sedang membeli ligerie.


Keduanya terdiam, Revan enggan mendekat sementara Selena menunduk merasakan degup jantungnya berdetak tak karuan, perasaannya masih sama seperti dulu, hanya kali ini ia tak tau harus bersikap seperti apa. Lantas dengan keberanian diri Selena membalikkan badan untuk segera membayar ligerie yang ia beli untuk kado Amel.


"Makasih Mbak," ujar Selena membawa paperbag belanjaannya.


"Pak Revan masih disini?" tanya Selena tak percaya.


"Hm, lama tidak bertemu bukan lebih bagus menyempatkan saling sapa. Gimana kabar kamu, Sel?"


"B-baik, Pak!"


"Mau ngopi?" tawarnya dan langsung diangguki kepala oleh Selena.


Kini keduanya sudah duduk saling berhadapan di salah satu sudut food court mall.


"Bagaimana kabar kamu dan perusahaan?"


"Baik, perusahaan baik, Pak Damar juga baik! Pak Revan sendiri?" tanya Selena.


"Cukup baik, jangan panggil Pak. Saya sudah bukan lagi partner kerja kamu, panggil Revan saja, bukankah kita terlihat seumuran sekarang?"


Selena membuang napas kasar, keringat dingin dan kegugupannya masih belum sembuh.


"Baik, Pak Eh Revan." Selena segera menyeruput capucinnonya untuk menetralisir rasa gugup.


Astaga, ini pertama kalinya Revan bertanya perihal menikah padanya. Selena semakin tak bisa mengontrol debaran jantungnya.


"Belum," ujarnya menunduk.


"Hah? jadi belum? lantas kenapa membeli pakaian seperti itu?" Revan melirik paperbag yang dibawa Selena.


"Ini untuk Amel," lirih Selena.


"Hah kok bisa?" tanya spontan Revan tak percaya.


Selena pun menceritakan semua rentetan kejadiannya kepada Revan.


Flash back on.


"Apa yang kalian lakukan," ujar Mama Amel dengan nada tinggi.


Baik Amel maupun Tama sama-sama terkejut sebab mereka berfikir rumah sudah sepi. Tama hanya mencium Amel sebentar sebagai obat rindu, karena akhir-akhir ini ia semakin sibuk.


"Kami, kami tidak sengaja melakukannya, Ma." Amel terbata, sementara Tama menghela napas dengan jatung berpacu lebih cepat.


"Tidak sengaja? kalian sudah sering ya melakukannya?" Mama Amel berkacak pinggang, menatap sang putri dan Tama bergantian.


"Maaf, Tante. Aku yang salah. Jangan marahi Amel, karena aku yang tak bisa menahan diri. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi."


Tama masih menunduk dan enggan menatap wajah Mama Amel. Beruntung, Papa Amel sedang tak ada di rumah.


"Mama nggak mau tau, kalian harus menikah minggu depan!"


"Apa?" Amel dan Tama kompak saling pandang, akan tetapi bibir diam tak sanggup protes.


Flash back off.


***


"Jadi begitu? Amel akan menikah lebih dulu?" tanya Revan.


Selena mengangguk, "hari minggu mereka menikah, tapi baru akan ijab qobul."


"Tidak masalah, mau bagaimanapun acaranya. Menikah tetaplah menikah, sah dimata hukum dan agama." Revan menyeruput kembali kopinya sementara Selena hanya mengangguk-angguk.


"Sel..."


"Eh, iya Pak?" Selena mendongkak.


"Jangan panggil pak, kenapa panggil pak lagi, aku bukan bapakmu!"


Tapi kamu bapak dari anak-anakku kelak kan?


Selena hanya mampu membatin, hanya berani membayangkan hal itu tanpa mengungkapkannya kepada Revan. Selena malu, lebih dari itu ia juga tak ingin ditolak kesekian kali. Dan siang itu, Revan meminta Selena untuk membantunya memilih beberapa bingkisan untuk calon ponakannya.


Selena tak menolak, ia justru senang bisa dekat dengan orang yang ia sukai. Tak ingin membuang kesempatan, maka hari ini waktunya ia habiskan bersama Revan dengan keliling Mall dan membeli beberapa barang.


"Mau ikut ke rumah sakit?" tanyanya, sebab melihat jam di pergelangan tangan dan sadar sudah menghabiskan waktu cukup lama bersama Selena.


"Apa boleh?"


"Boleh, ayo!" Revan mengulurkan tangan, ini pertama kalinya Serena merasa Revan begitu manis padanya. Padahal jika dilihat, laki-laki itu masih bersikap biasa.


"Ah, iya." Selena menyambutnya.


Kini mereka berdua dalam perjalanan menuju rumah sakit. Meski ragu, Selena mencoba menyakinkan diri bahwa saat ini ia sedang menempuh jalan meluluhkan Revan, ataukah perjuangannya akan terbayar hari ini? dia hanya bisa pasrah. Terdiam di sepanjang jalan memang tak mengenakan, walau tangannya berjelajah ponsel menghapus kegugupan akan tetapi otak Selena sedang berfikir keras langkah selanjutnya.