
Hari yang Bara tunggu-tunggu pun tiba, hari dimana ia akan mengucap janji suci pernikahan bersama Rea. Beberapa hari sebelumnya, ia bahkan dilarang oleh Aron dan Rosa bertemu Rea dan hal itu membuatnya gelisah sepanjang malam karena rindu yang tak tersalurkan. Hari ini, dengan senyum merekah ia berada di salah satu kamar hotel di Bandung, dimana pernikahan ia dan Rea telah dipersiapkan.
Bara tak hentinya menatap cermin, memperhatikan jass putih yang melekat di tubuhnya dengan seksama sebab ia harus terlihat sempurna hari ini. Di pernikahan pertama, ia tak menggelar resepsi besar-besaran sebab saat itu keluarga Najira dalam keadaan berduka. Dan untuk kali ini, Bara ingin semua berjalan dengan sempurna.
"Kau sudah siap?" tanya Tama di ambang pintu kamar.
"Sebentar lagi, bagaimana dengan Rea-ku?"
"Dia sangat cantik!" Puji Tama, hanya ingin agar Bara tak sabar segera keluar.
"Kau beraninya memuji istriku," sinis Bara.
"Ck! Apa yang salah, aku hanya bilang Rea cantik," protes Tama.
"Tentu salah, kau tidak boleh memuji Rea, hanya aku yang boleh karena cantiknya Rea cuma milikku," desis Bara.
"Kau bahkan masih sempat mendebatku karena hal ini, hahaha. Kau terlalu posesif, Bara! Hati-hati, hal seperti itu akan membuat pasanganmu cepat bosan!" ejek Tama.
"Kau mendoakanku kah? Mau kupotong gajimu, hm?" ancam Bara.
"Aku hanya menasehatimu, heh! Kenapa kau gampang sekali emosi akhir-akhir ini, jangan-jangan..." Tama menatap Bara menyelidik.
"Jangan apa? kau juga tau aku orang seperti apa heh."
"Ck! Ya, kau benar. Namun, ini hari bahagiamu? apapun yang membuat emosi, aku harap kamu tahan termasuk diriku!"
"Kau memanfaatkan momen ini untuk meledekku kah? lihat, aku sudah menikah lagi dan kamu?" cibir Bara.
"Aku sedang penjajakan, yang pasti sebentar lagi aku juga akan menikah jika kau tak berniat memotong gajiku," dengus Tama.
"Oke, aku naikkan gajimu." putus Bara.
Mata Tama seketika berbinar, "ayo aku antar kau ke pelaminan."
Di kamar lain, Rea menatap pusing tubuhnya sebab punggungnya terekpost banyak meski bagian da da tertutup sopan. Waktu itu, ia kesal karena pertemuan Bara dan Eliza hingga tak memperhatikan bagian punggung gaunnya.
"Kau terlihat sangat cantik, Rea!" puji Najira dengan senyum. Sejujurnya Rea tak nyaman saat Revan meminta Najira menemaninya saat dimake-up.
"Terima kasih," balas Rea.
Sekesal apapun ia dengan Najira, Rea berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya. Namun, entah berdekatan dengan wanita itu lama-lama bisa menjadi racun dalam pikirannya. Tak habis fikir, Rea selalu saja membayangkan yang diposisinya saat ini adalah Najira, betapa mereka menjadi sepasang suami istri dulu.
"Sudah selesai, Mbak. Jangan kaku, senyum agar terlihat semakin cantik," pinta wanita cantik yang merias wajah Rea.
"Baik," ujar Rea seraya tersenyum.
"Ayo Rea, semuanya sudah menunggu." Najira mengulurkan tangan dan disambut Rea.
Sementara di ballroom, sudah ada Bara, ditemani Tama dan keluarganya, juga Revan dan kedua orang tua Rea yang telah menunggu. Tak lupa penghulu yang akan meng-akadkan mereka.
Deg.
Jantung Rea berdetak cepat, ia masih begitu tak percaya hari ini akan menjadi awal perjalanan cintanya dengan Bara. Rea masih tak menyangka, hari yang begitu ia impikan telah tiba.
Rea hanya menghela napas, apa dulu Mas Bara juga dibuat salah tingkah olehnya saat akad?
"Tidak ada, aku sama sekali tidak gugup! justru aku sangat bahagia saat ini, Mba!" elak Rea.
Mereka berdua akhirnya sampai di hadapan Bara.
"Baguslah, Mas Bara sangat beruntung mendapatkanmu Rea," bisik Najira terakhir kali sebelum mempersilahkan Rea duduk di sisi Bara.
Bara, ia tertegun memandang Rea begitu gadis itu melangkah mendekat bersama mantan istrinya. Dadanya berdesir, disaat yang bersamaan ia harus benci saat melihat sang mantan justru malah menggandeng calon pengantinnya.
Bara bahkan harus menahan rasa muak demi melihat berlian indah yang sebentar lagi akan ia miliki seutuhnya. Bara menjadi tak sabar untuk segera melangsungkan acara.
"Sudah siap?" tanya penghulu.
"Siap, Pak."
Bara mengangguk mantap, dan acara akad pun dimulai. Jantung Rea semakin tak terkontrol saat mendengar Bara mengucapkan kalimat demi kalimat dengan fasih dan lantang. Ada cairan bening menyeruak di sudut matanya. Entah, Rea ingin sekali rasanya menangis bahagia dan mendadak hatinya menjadi sangat mellow.
"Sahhhh..." Teriakan para saksi membuat Bara dan Rea tersenyum lega, sangat lega sebab ada yang membuncah tiba-tiba di dalam dada saat mereka sah resmi menjadi sepasang suami istri.
Bara menoleh ke arah Rea dan membiarkan gadis itu mencium punggung tangannya.
Kemudian dilanjut dengan penyematan cincin dan permohonan restu orang tua mereka.
"Tolong jaga anakku baik-baik, jangan membuat hatinya patah, apalagi air matanya luruh. Aku sangat mencintai putriku dan merawatnya dengan seluruh cinta yang aku punya..." Alex menjeda ucapannya, ia menatap Bara, laki-laki yang sah jadi menantunya dengan penuh harapan.
"Dia mungkin sedikit kekanakan, tapi entah kenapa saat gadisku memutuskan menerima lamaranmu, disanalah aku menemukan sisi dewasanya. Tolong bahagiakan Rea, andai suatu hari nanti kamu sudah tak sanggup, kembalikan padaku baik-baik," ucap Alex sambil menyusut sudut matanya dengan tisu.
Air mata Rea sudah luruh, ia akhirnya menangis haru karena mulai hari ini hidupnya akan berubah, ia sudah bukan lagi gadis kecil, sudah bukan lagi adik yang manja, melainkan sudah menjadi istri dari seorang Bara Alnav.
"Saya tidak bisa berjanji, Ayah. Tapi, saya akan membuktikan bahwa keberadaan Rea di sisi saya, di hidup saya memang untuk tujuan bahagia. Saya akan membuktikan bahwa kami adalah sepasang yang dipertemukan takdir untuk saling mencintai dan menerima." Janji Bara pada Alex.
Bara dan Rea beralih ke Neya, Aron dan Rosa untuk memohon restu.
Baik Alex, Neya, maupun Aron dan Rosa hanya bisa tersenyum haru melihat kedua anaknya.
Bara dan Rea kini duduk di pelaminan dengan wajah saling melempar senyum dan tangan bertautan.
"Mas, ini masih berasa mimpi." Rea bergumam, masih merasa tak percaya statusnya sudah berubah menjadi istri orang.
"Kamu cantik, kamu pengantin wanita paling cantik!" bukan menjawab Bara malah memuji Rea, menatapnya penuh cinta juga penuh goda.
"Selamat ya, kalian!" Revan mendekat, dengan tangan menggandeng Najira di sisinya.
"Makasih Kak Rev, semoga kalian juga diberkahi bahagia," ucap Rea. Revan melepas tangan Najira dan meraih Rea dalam pelukan. Bara nampak tak senang melihatnya, akan tetapi ia juga tak ingin membuat Rea tak nyaman dengan perasaan cemburunya pada Revan.
"Selamat, Mas Bara!" ujar Najira.
Bara tersadar, dia hanya mengangguk tanpa senyum menanggapi ucapan mantan istrinya.