SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 52



Kedepannya,


Apa yang menjadi milikku, hanya akan menjadi milikku.


Aku tidak akan berbagi lagi dengan siapapun, dan dengan alasan apapun.


Bara_


***


Rosa menatap tajam Bara dengan tangan terlipat di depan dada. Tak habis fikir, jikalau ternyata anaknya telah merusak masa depan seorang gadis belia seperti Rea, meski Bara adalah korban pengkhianatan sang istri bukankah tak seharusnya ia merusak dan melampiaskan semuanya pada Rea.


Namun, hal yang kembali mengusik Rosa adalah mendengar kenyataan jikalau Rea adalah adik selingkuhan Najira. Entah, ia harus bersikap seperti apa menghadapi benang kusut hubungan Bara.


Rosa melirik Aron, bahkan suaminya itu terlihat santai menghadapi Bara. Bukankah ini keterlaluan? Rosa bangkit, berkacak pinggang dan ingin rasanya mengomeli Bara.


"Mama kecewa sama kamu Ra," Ucap Rosa dengan nada rendah, akan tetapi tangannya sudah berubah posisi berada tepat di telinga Bara, tanpa basa-basi Rosa menarik kuat telinga anaknya.


"Sebel Mama sama kamu, Baraaaaa..." teriaknya.


"Ampun, Ma. Sakit," ucap Bara mengaduh.


"Mama cuma jewer kamu! Kesel, Mama gak pernah ngajarin kamu ngerusak anak orang, apalagi Rea masih kecil. Kamu boleh marah sama mantan istrimu tapi nggak dengan cara melampiaskan sama orang yang nggak tau apa-apa seperti Rea." Rosa tak kuasa menahan omelannya, sementara Bara hanya menunduk tak menjawab.


"Ma, sudahlah. Namanya juga laki-laki, kebutuhan biologis nomer satu," bela Aron.


"Apa?" sorot mata Rosa semakin menajam ke arah Aron, laki-laki berstatus ayah itu mendelik cari aman.


"A-aku juga gak sengaja, Ma." Bara berucap dengan wajah menunduk, dalam hati berharap agar Papanya sedikit memberi pembelaan.


"Gak sengaja?" Rosa meninggi.


"Sudahlah, Ma. Jangan marahi Bara, lebih baik kita nikahkan mereka," ucap Aron membela.


Bara tak bisa berkutik, sementara Rosa menjawab dengan helaan napas.


Lantas, ia berlalu tanpa sepatah kata membuat Bara langsung mendongkak dan saling pandang dengan sang papa.


"Gimana nih, Pa?" tanya Bara.


"Gimana lagi, bujuk Mamamu sana! Papa nggak ikut-ikut, nanti malah tidur di luar lagi, kan kebutuhan biologis nomor satu," ujar Aron.


"Hm, serah Papa."


Bara beranjak menyusul Rosa, beruntung kamar kedua orang tuanya tak dikunci, jadi ia bisa segera masuk menyusul Mamanya.


"Ma,-" Bara tertegun, kala Rosa duduk membelakanginya dengan tenang, ia melangkahkan kaki mendekat dan terkejut kala sang mama justru sedang sibuk membuka kotak-kotak perhiasan simpanannya.


"Ma, jangan marah ya?" Bara berjongkok di sisi Rosa duduk dan menatap wanita paruh baya itu dengan wajah memelas.


"Mama nggak marah." Rosa menjawab tanpa mau melihat wajah Bara.


"Tapi sikap Mama menunjukkan kalau Mama lagi marah. Ma, baik aku maupun Rea semua itu terjadi karena kecelakaan. Mama tau Danis kan? laki-laki yang terobsesi sama Rea?" tanya Bara, ia mencoba menceritakan awal mula semuanya terjadi. Barangkali, bisa membuat Rosa merestui hubungannya dengan Rea.


"Danis mantan Rea?" jawab Rosa di posisi yang sama.


"Mama mau dengar cerita?" tawar Bara dab Rosa mengangguk.


Bara menghela napas, "hari itu, tepat anniversary pernikahanku dengan Najira, Papa yang sudah tau perselingkuhan Najira memintaku pulang lebih awal dari Bandung. Mungkin rasa sakit itu sampai kapanpun tidak akan pernah hilang, tapi dari situ aku belajar bahwa dalam sebuah hubungan itu harus saling memahami. Alasan Najira memilih Revan karena dia punya cinta, sedangkan aku masih belum bisa memberikan cinta yang utuh untuk Najira. Ma, hari itu aku tak oulang ke rumah pun apartemen? Mama tahu kenapa? karena aku tahu Najira pasti akan pulang kesini dan memutar cerita, entah apa alasannya aku tidak tahu. Yang pasti, aku justru memilih tinggal di kos-kosan dengan harga hanya 800rb per-bulan. Kos-kosan dimana banyak anak-anak kampus termasuk Rea salah satunya..." Bara menjeda ucapannya, pandangannya menerawang ke memory waktu itu.


"Terus, gimana?" tanya Rosa. Perlahan rasa kesalnya memudar mendengar cerita panjang anaknya.


"Terus, Rea tanpa sengaja masuk kamar Bara karena menghindari Danis kekasihnya. Dari situ, aku juga tahu kalau hubungan mereka sudah tak baik-baik saja, bukan karena aku. Malam setelah hari itu, Danis datang lagi dan berusaha memperkosa Rea setelah mence kokinya dengan minuman yang dicampur obat. Karena kasian, aku pun langsung menyelamatkannya dan membawa Rea pergi dari Danis." Bara menghela napas, Rosa nampak terkejut dan mulai paham, alasan kenapa Danis kemarin berusaha mendekati Rea karena laki-laki itu masih terobsesi dengan calon menantunya.


"Bara nggak sengaja melakukannya, Ma. Rea dipengaruhi obat dan aku emosi, bayang-bayang Najira bersama laki-laki itu merusak otakku." Bara mengusap wajahnya kasar.


"Kamu laki-laki dewasa Bara, kamu sudah pernah menikah jadi..." Rosa menepuk pundak Bara dengan lembut.


"Mama nggak akan menghalangi kamu lagi, apapun pilihan kamu asalkan dia baik buat kamu, Mama terima!"


"Ma,-" Bara tak kuasa untuk tidak memeluk Rosa.


"Mama nggak bisa kasih kamu kebahagiaan selain dari pada merestui kalian. Mama menyesal telah menjodohkan kamu dengan Najira hingga seperti ini, Mama--"


"Mama yang terbaik," ucap Bara memeluk Rosa karena haru.


"Mama minta maaf, karena sudah memaksakanmu menikahi Najira."


"Mama nggak salah, karena aku juga tidak menolaknya. Asalkan kali ini Mama memberi restu aku akan baik-baik bahagia bersama Rea."


Rosa mengusap-usap punggung Bara, baginya sedewasa apapun sang anak tetaplah anak kecil dimata seorang ibu, seorang Mama.


"Hiks..." Rosa menangis.


"Ma, terharu ya?" tanya Bara.


"Bukan Bara, tapi sepatu Mama puluhan juta hilang buat lempar kepala Danis, kamu ganti ya nak."


"Astaga Mama."


"Mama bercanda sayang. Nikahi Rea ya, jangan menunggu dia hamil baru kamu nikahi."


"Sekarang, Ma?"


"Ya nggak sekarang juga, sudah sana Mama mau tidur!"


Bara pun seketika menepuk jidatnya karena teringat Rea.


"Ma, aku pulang ke apartemen ya. Rea aku tinggalin sendiri." Bara mencium kening mamanya sekilas kemudian berlalu dengan cepat.


"Astaga..." gumam Rosa, selepas kepergian Bara ia memandang sebuah gelang pemberian mertuanya dulu. Gelang yang harusnya ia berikan untuk Najira sebagai menantu, tapi malah ia simpan hingga sekarang.


"Takdir kadang memang suka bercanda ya!" gumam Rosa seraya memasukkan kembali gelang yang ia sembunyikan dari Bara ke dalam kotak.


***


Dua jam sebelumnya, Rea mondar mandir menunggu Bara karena laki-laki itu tak kunjung datang.


Karena lapar, Rea pun memutuskan membuat mie instan yang kebetulan ia beli sewaktu dulu menempati apartemen Bara beberapa hari. Dan kini, ia kembali dibuat tertegun karena sudah hampir larut dan Bara masih belum kembali.


"Mas, kamu dimana sih? Semoga gak sedang terjadi apa-apa!" gumam Rea khawatir, karena lelah menunggu dan kantuk menyerang ia pun tertidur di sofa.


Seburuk apapun kamu di luaran sana, ingat satu hal bahwa keluarga adalah sebaik-baiknya yang tak akan meninggalkan~