
Sebenarnya, Alesya malas di rumah. Namun, untuk keluar pun ia tak punya banyak teman. Teman yang paling dekat dengannya hanya Karla, tapi sejak video 19 detik itu, Karla masuk daftar black list dalam hidup seorang Alesya.
"Gak punya teman gak bakalan ma ti kan? mending ikut Mas Reivan ke kantor cuci mata," pikir Alesya.
Setelah mengiyakan, kurang lebih setegah jam mematut diri. Mengoleskan make up tipis ke wajahnya, tak lupa lipteen peach ia sapukan di bibir agar cetar membahana. Alesya terlihat sempurna dengan dress cantik yang Reivan belikan kemarin.
"Anggap aja nyenengin suami, seneng nggak seneng ya harus seneng!" Alesya masih sibuk bergumam hingga teriakan dari bawah menggema.
"Al cepet! Jam delapan aku ada meeting penting!" siapa lagi kalau bukan Reivander.
Alesya turun sampai ke bawah, Reivan malah menatapnya tajam. Lebih tepatnya melotot kebablasan karena pesona Alesya.
"Astaga, kita mau ke kantor bukan liburan!" gerutunya.
Alesya berdecak, "Mas kalau makin bawel aku aduin ke Papa, tau rasa sekalian!"
Arsen terkikik tapi tak berlangsung lama saat Reivan beralih menatapnya tajam.
"Siap sedia Tuan!" Jawab Arsen sebelum Reivan memarahinya, Arsen berjalan lebih dulu baru diikuti Reivan dan Alesya.
"Lain kali kalau ke kantor jangan pakai pakaian terbuka."
"Hm, iya!" singkat Alesya.
"Aku gak mau kamu jadi sasaran cowok-cowok gak jelas di kantor, ngerti!"
"Iya iya, bawel kan bajunya juga yang beliin, Mas!"
"Nih!" Reivan menyodorkan jassnya.
"Pakai ini," perintahnya.
Perdebatan itu masih berlanjut saat keduanya sudah berada di dalam mobil. Arsen tersenyum melihat sepasang pasutri itu dari kaca spion. Sialnya, perjalanan mereka tak selancar jalan tol antar provinsi yang anti macet. Berulang kali Arsen berdecak menghadapi ramainya ibu kota di pagi hari.
"Pagi, Pak!" sapa Resepsionis lobi.
"Hm." singkat Reivan.
Arsen berada di belakang bersama Alesya, wanita itu menatap sekeliling kantor suaminya. Pantas Papanya mengenal baik Reivander, rupanya pria itu memiliki perusahaan sebesar ini.
Namun, yang mengusik ternyata bukan cowok-cowok gaje menggodanya, tapi tatapan wanita-wanita kantor yang horor.
Masuk ke dalam lift, Alesya bersama Reivander ke lantai delapan dimana ruang kerja CEO serta jajarannya berada.
Sementara Arsen menatap tajam wanita-wanita pegawai kantor yang kepo dengan sosok Alesya.
"Ngapain kalian? Mau saya colok matanya? Kondisikan! Yang kalian lihat tadi adalah istri Pak Reivan!" bentak Arsen.
"Maaf, Pak!" jawab mereka bersamaan.
"Kembali bekerja."
***
"Sebentar lagi aku meeting, kamu masuklah dan tunggu di ruanganku. Jangan bandel, jangan aneh-aneh apalagi sampai turun tanpa aku!" pesan Reivan. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya lantas meminta ponsel Alesya.
"Kenapa?" tanya Alesya.
"Ini nomorku, jika ada apa-apa! langsung weha. Kasih tau aku," ujar Reivan lagi.
Bersama Arsen dan satu rekannya, Reivander pergi ke ruang rapat setelah memberikan kunci ruangannya ke Alesya.
Ceklek.
"Hm, seleranya lumayan." Alesya mengintari ruangan itu. Tak ada yang membuatnya menarik selain rak buku-buku dan melihat lalu lintas jalan Jakarta dari ruangan Reivan dimana bagian menghadap jalan berdindingkan kaca. Namun, baru setengah jam ternyata ia sudah bosan.
"Dia rapat apa pingsan? Lama banget!" Padahal baru setengah jam ia ditinggal.
"Mas sayang, aku haus!" pesan Alesya ke nomor ponsel milik Reivan.
Tidak tahukah Ale saat ini ponsel Reivan sedang tersambung ke layar proyektor untuk persentase meeting pagi.
"Tuan, ada pesan dari Nyonya," ujar Arsen. Sontak Reivander melihat ke arah layar dimana notif pesan Alesya ikut terpampang disana.
"Kamu lanjutkan!" perintah Reivander diangguki Arsen. Ia membawa ponselnya keluar ruang meeting. Wajahnya sudah memerah, apalagi saat orang-orang di ruangan itu menatapnya seperti seorang yang sedang kepergok selingkuh.
"Ck! Anak Bara satu ini memang agak lain," gumam Reivander. Ia berjalan cepat ke ruangannya tanpa membalas pesan singkat Ale.
Glekkk...
"Astaga!" Reivan menghempas kasar tubuhnya ke sofa. Ia melihat Alesya sedang mengacak-acak lemari bacanya.
Bahkan gadis itu sudah membawa beberapa tumpukan buku ke meja dan pura-pura sibuk disana.
"Aku haus, Mas! Jadi aku berinisiatif cari buku buat aku baca."
"Apa hubungannya haus dengan membaca, lagian kamu bisa keluar dan pergi sendiri bukan? Kenapa harus mengirim pesan disaat ponselku, ah..." Reivander sangat kesal, ia menangkup wajah Alesya dan membenturkan dahinya. Pasangan dadakan satu ini memang agak lain dari yang lain.
"Ishhh, sakit tau, Mas! Gak jelas banget," gerutu Alesya mengusap dahinya yang sakit karena ulah Reivander.
"Kan kamu tadi yang ngelarang aku turun sendiri, lupa? Atau jangan-jangan aku curiga kamu terkena penyakit pikun," decak Alesya.
"Omongan kamu bisa difilter sedikit nggak! Aku ini suami kamu lho, SUAMI!" sindir Reivan. Meskipun yang dikatakan Alesya benar adanya, tapi ego Reivan terlalu tinggi untuk mengakui kalau dia benar-benar pikun.
"Aku sudah ngizinin kamu turun, di samping ada mini market!" Reivan menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Oke!"
Alesya turun, sepanjang jalan menuju lift ia bersenandung seolah hidupnya tanpa beban.
Sampai di bawah, beberapa orang langsung menyapanya. Alesya hanya mengangguk senyum sebagai balasan. Ia bukan wanita arogan dan sombong juga gila CEO yang sekalinya dianggap istri akan ikut semena-mena. Alesya ya Alesya, lain dengan yang lain.
"Ramah banget ya, beda sama Bu Alira. Auranya benar-benar ceria. Gak kaya Bu Alira yang galak, melotot dan Arogan! Sampai matanya kadang hampir keluar," seloroh Lina.
"Beda lah ya, Bu Alira kan model, setiap jengkal tubuhnya berharga." Wulan tampak cuek.
"Model sih model, kalau attitude gak baik buat apa!" kali ini Xian menimpali.
"Ya ya, emang cuma model selebgram sih gak terkenal-kenal banget. Soalnya pas baru merangkak naik malah sakit parah."
"Berani taruhan nggak?" ajak Lina pada teman-temannya.
"Apa?" tanya Wulan.
"Kita minta foto yuk, kira-kira bakalan mau gak istrinya Pak Reivan?" usul Lina.
"Ck! Aku taruhan paling nggak, nggak mau dia!" ujar Wulan.
"Kayaknya mau deh, coba aja! Tapi aku ragu sih," seloroh Xian.
"Yeee! Kalau beliau mau, fix kalian berdua harus traktir aku makan siang dua kali gimana?" Lina tersenyum yakin.
"Oke, kecil itu mah." Wulan dan Xian serentak mengiyakan.
"Tapi kalau gak berhasil, kamu yang tlaktir kita! Dua kali, dua orang pula." Wulan menaik turunkan alisnya.
Perdebatan ketiganya terputus saat melihat Alesya masuk ke area lobi. Menenteng belanjaan dari indo april.
Lina berjalan mendekat, "permisi, Bu!"
"Ya?" Alesya menoleh.
"Boleh minta foto, saya dengar dari Pak Arsen kalau Ibu adalah istri Pak Reivander?" tanya Lina. Sementara dua temannya terkekeh melihat tingkahnya dari kejauhan.
"Oh, foto? Tapi saya bukan artis?" Alesya mengernyit.
"Gak papa, Bu! Kan gak mesti artis. Soalnya Ibu cantik banget." Lina tersenyum simpul, rayuan pertama, pikirnya.
"Ah, bisa aja! Yaudah ayo, sampe menuhin memory ponsel kamu juga boleh." Alesya tertawa, ia sungguh terhibur berada di kantornya Reivan.
"Ayo mari, Bu! Sama mereka." Lina menunjuk kedua temannya. Seketika Wulan dan Xian saling pandang.
"Apesnya kita bakal traktir Lina dua kali."
***
Merasakan Alesya lama sekali, Reivander mengerutkan kening. Apa istrinya itu kesasar? Pikir Reivan. Pekerjaan menumpuk membuatnya lupa kalau sudah lebih satu jam istrinya belum kembali. Dengan terpaksa ia turun ke bawah bermaksud menyusul Alesya ke mini market. Barangkali, dia memang kecantol di keranjang snack dan minuman saking hausnya.
"Ale, ngapain kamu disitu?" tanya Reivan saat melihat Alesya tawa haha hihi bersama karyawan-karyawannya.
"Ya sebagai ibu negara yang baik kan emang udah tugas aku ramah sama karyawan kamu, Mas! Emang salah?" Alesya mendekap barangnya lantas melewati Reivander begitu saja.
"Aleeee!" Reivander hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya.