SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
105. Sugar season 2



Sarah mendekati Alesya, "kamu kuliah dimana?"


"Eh, di UNS Ma!"


"Saya bukan mama kamu, ya! Jangan sembarangan panggil saya Mama." Sarah melirik sinis Alesya.


"Jangan lupa masak, nanti sore Papanya Reivan dan Richi akan datang!" perintahnya kemudian berlalu.


Alesya hanya bisa mengelus dada, benar sekali kata Reivan kalau Mamanya itu super galak. Lebih galak dari Ibu tiri, mungkin?


"Siap Tante!"


Alesya pun naik ke lantai atas, akan tetapi tertahan oleh panggilan Sarah.


"Mau kemana?"


"Mau ke Mas Reivan, minta duit buat belanja," Jawab Alesya.


"Astaga, perkara belanja saja kamu masih minta Reivan? Emang uang jatah bulanan kamu sudah habis?" oloknya.


"Sampai sekarang, Mas belum kasih saya uang sepersen pun!" jawab Alesya apa adanya. Enak saja pikirnya, mau menjatuhkan mental seorang Alesya.


Sarah kicep, ia teriak memanggil nama Reivan saking malunya. Sementara Alesya bersenandung dalam hati, menahan tawa agar tak keluar di sembarang tempat apalagi di hadapan Sarah.


"Ada apa sih, Ma? Baru beberapa jam di rumahku sudah bikin heboh. Jangan marah-marah terus, nanti tensi mama naik," peringat Reivander.


"Malu Mama, emang benar kamu nggak ngasih nafkah Alesya?" pekiknya frustasi.


Reivan beralih menatap Alesya, gadis itu tersenyum mengejek.


"Lupa, Ma!"


Reivan lantas merogoh dompetnya, lalu menyodorkan beberapa lembar uang merah.


"Sisanya Mas transfer!"


"Ok!" Alesya menerima uang itu dengan mata berbinar hijau.


***


"Mama ngapain Ale?" cerca Reivan begitu Alesya sudah pergi belanja bersama Arsen.


"Mama nggak ngapa-ngapain, cuma minta dia nyiapin jamuan buat Papa kamu sama Richi. Sekalian tes drive, apa gadis itu layak sama kamu! Tapi setelah Mama pikir-pikir, kayaknya malah kamu yang gak pantes buat dia!" Sarah bersedekap. Sebenarnya, ia tak bukan type orang yang akan mencampuri urusan anaknya. Hanya kali ini, ia tak ingin Reivan salah mencintai wanita.


"Mama juga mau menginformasi kalau sebenarnya Alira bukan sakit kangker!"


Jlebbbb....


"Maksud mama?" tanya Reivan.


"Reivan kamu ini gimana sih? Sudah tiga tahun dan kamu masih percaya kalau dia pergi karena sakit kangker? Kalau bukan Mama dan Papamu yang cari tahu, apa selamanya kamu akan jadi pria yang bodoh?"


"Jangan berbelit-belit, Ma! Katakan saja apa yang Mama tahu?"


"Pertama, kamu punya uang, punya kuasa tapi kenapa tak cari tahu? Istrimu hamil dan dia melakukan aborsi, jangan bilang kamu juga gak tahu?" Sarah mengusap wajahnya.


"Bodoh!" maki Sarah.


Sekarang tak perlu lagi menutupinya demi tak menyakiti hati sang putra. Apalagi saat melihat ada wanita lain di sisi Reivan membuat Sarah bertekad mengungkap kebejatan mantan menantunya.


"Astaga, itu gak mungkin Ma! Orang aku baca hasil pemeriksaannya!" tegas Reivan.


"Kamu baca, tapi apa kamu anter dia berobat? Kamu anter dia ke rumah sakit?"


Reivander menggeleng, ia memang tak selalu bisa di sisi Alira. Dan itu wajar karena dia harus ngantor. Reivan hanya datang di sore dan malam untuk menemani perawatan sang istri di sisa-sisa waktu terakhirnya.


"Mama nggak akan ngasih tau kalau nggak punya bukti. Selama ini mama diam karena tahu kamu sangat mencintainya, tapi sekarang ada wanita lain di sisi kamu. Mama rasa kamu harus tahu semuanya."


"Kenapa baru sekarang, Ma?" tanya Reivan frustasi.


"Karena Mama tak ingin merusak kebahagiaanmu! Mama tahu, kamu sangat mencintai Alira," jelas Sarah.


Kakak iparnya tentu tahu banyak hal, termasuk apa yang sebenarnya Alira sembunyikan.


Dengan kecepatan penuh Reivan membelah jalanan, butuh waktu hampir lima belas menit untuk sampai di kediaman Wilson.


Brakkk...


Reivan membuka pintu dengan kasar setelah berhasil masuk ke kediaman Wilson.


"Reivan? Apa kau tidak tahu, Masmu baru saja pemulihan jantungnya? Bisakah sopan sedikit, dimana etikamu saat bertamu!" kesal Liora saat tahu yang datang adalah Reivan.


"Aku tidak perlu beretika baik pada keluarga pembohong seperti kalian!" tegas Reivan. Matanya menyalang tajam.


Wilson memijat pelipisnya, kepalanya masih pusing, ia baru keluar dari rumah sakit kemarin.


"Katakan, apa perlumu sampai datang dengan emosi?" tanya Wilson.


"Apa? Apa saja yang kalian tahu tentang Alira? Dia tidak sakit kangker bukan?" cerca Reivan.


Glekkk...


Liora dan Wilson saling pandang dengan wajah menegang.


Galen datang dari dapur, menatap tajam Reivan datang-datang langsung menyerang Papanya.


"Cukup, Om! Apa tidak puas mengambil Alesya dariku, kenapa harus mengungkit masalah Tante Alira?" sinis Galen.


"Kau! Kau tau apa tentang urusan orang dewasa. Dan ya, aku tidak pernah merebut Alesya, tapi kamu sendiri yang membuatnya pergi, bocah ingusan!" maki Reivan.


"Reivan, apa yang ingin kau tau? Soal Alira, dia memang tak sakit kangker. Tapi dia pergi juga karenamu, karena kamu yang tak pernah punya waktu untuknya. Alira sudah cerita banyak hal, dia memilih jalan salah juga karena kamu selalu sibuk dengan urusanmu!" jelas Liora.


"Ohho, apa sekarang kalian mau bilang aku yang salah? Aku yang menyebabkan dia pergi?"


"Cukup! Aliraku sudah pergi. Jadi lebih baik kamu jalani hidup kamu yang sekarang,"pinta Wilson dengan nada lemah seraya memegangi dadanya.


"Aku pasti akan merebut kembali milikku," ancam Galen.


Ingin rasanya Reivan mendaratkan bogeman pada Galen akan tetapi ia masih menghormati Wilson.


"Oke, aku tidak akan tanya apapun! Aku tidak akan mengungkit apapun soal Alira. Dari awal, dia sudah cukup mengecewakanku." Reivan berbalik, rasanya percuma ia mengunjungi rumah Wilson. Emosinya justru semakin naik, akan tetapi saat mendengar pengakuan mantan kakak iparnya. Reivan mulai percaya, mungkin yang dikatakan mama Sarah ada benarnya juga.


Reivan pulang, saat sampai rumah tak ada tanda bahwa Alesya sudah pulang dari belanja.


"Ale belum pulang, Ma?" tanya Reivan.


Sarah yang sedang membaca koran pun mendongkak, "belum."


"Ck!" Reivander berdecak menghempas tubuhnya di sofa.


Tak berselang lama, suara Alesya dan Arsen baru datang dari belanja.


"Kemana aja? Kenapa lama?" sambut Reivan dengan omelan. Tak tahukah ia, bahwa Alesya dan Arsen hampir saja kecelakaan.


"Namanya belanja sudah pasti lama, kalau cepet-cepet namanya lari," ketus Ale.


Saat menaruh bahan di dapur, Reivan melihat Alesya kesusahan membawa barang-barangnya.


"Pelayan pada kemana?" keluh Reivan.


Alesya juga bingung, sedari tadi ia tak melihat seorang pun pelayan di rumah.


"Mama sudah memecatnya!" seloroh Sarah tanpa dosa. Sontak Alesya dan Reivan melotot saking terkejutnya.


"Ma, kenapa dipecat?" cerca Reivander.


"Kan ada itu?" Sarah menunjuk Alesya dengan dagunya.


Alesya ingin rasanya mengumpati Sarah dengan sumpah serapah, ia memang tak suka dilayani. Tapi, bukan begini konsep yang Alesya ingini.