SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 80



Jujur ku tak ingin engkau pergi


Tinggalkan semua usai di sini


Tak tertahan air mata ini


Mengingat semua yang t'lah terjadi


Ku tahu kau pun sama s'perti aku


Tak ingin cinta usai di sini


Tapi mungkin inilah jalannya


Harus berpisah


Terluka dan menangis tapi ku terima


Semua keputusan yang telah kau buat


Satu yang harus kau tahu


Ku menanti kau tuk kembali


ho...ho...


Tinggalkan semua usai di sini


Ku tahu kau pun sama s'perti aku


Tak ingin cinta usai di sini


Tapi mungkin inilah jalannya


Harus berpisah...


( Keisya Levronka - tak ingin usai )


***


"Sabar, sabar, ikhlaskan istrimu." Neya terus mengusap-usap bahu putranya. Melihat sang anak hancur, ia tentu juga merasa sakit, air matanya turut mengalir meski sudah berusaha ikhlas dan menerima. Jalan takdir memang sulit ditebak, bisa jadi hari ini kita bahagia entah dengan esok? Mungkin akan merasakan pula jatuh sejatuh-jatuhnya, tak ada yang tahu bukan?


Sementara di sisi kanan Revan, Rea berusaha membesarkan hati sang kakak. Tidak ada manusia yang tidak sedih jika ditinggalkan orang yang dicintai untuk selama-lamanya.


Rea memahami hal itu dan melihat kakaknya begitu down hingga tak sedikitpun memiliki tenaga untuk bersuara membuatnya sangat-sangat sedih. Nyatanya, bahu yang sering menjadi tempat ia bersandar dulu semasa remaja kini berubah menjadi sosok yang sangat rapuh. Pandangannya kosong, wajahnya pucat meski berusaha menunjukkan ketidak apa-apaannya.


"Aku tidak ikut ya, Bu?" ucap Rea, sebab ia sedang hamil dan tak mungkin ikut ke pemakaman.


"Tak apa, biar para laki-laki yang ikut kesana." Neya mengusap surai putrinya. Meski sudah menikah, ia masih saja menganggap Rea adalah putri kecilnya.


Meskipun putri kecil itu sudah berubah menjadi sosok dewasa dan menjelma menjadi seorang istri.


"Rea khawatir sama Mas Revan, Bu!"


Neya menghela napas, "ada suamimu kan."


Rosa menghampiri besan dan menantunya, "istirahatlah dulu di kamar Jeng, kami sudah menyiapkan semuanya. Rea sayang, antar ibumu istirahat. Tamu-tamu sudah pulang, tinggal menunggu mereka yang pulang dari makam," ujar Rosa.


"Iya, Ma. Makasih udah ngizinin Ayah dan Ibu tinggal."


"Sama-sama sayang, kita kan satu keluarga." Rosa mengulas senyum, ia membiarkan Rea dan Neya masuk ke dalam kamar sementara Rosa bersama para pembantu menyiapkan beberapa makanan untuk kirim doa nanti malam.


Revan hanya bisa menatap gundukan tanah itu dengan mata yang basah, pandangannya kosong. Memori kebersamaannya dengan Najira memukul paksa otaknya. Sedih, sesak sekaligus sakit ia rasakan sendiri, sebab kini tempatnya berbagi bahagia dan sakitnya sudah pergi.


Harus seperti apa hidupnya nanti? apakah ia sanggup menjalani hidup tanpa keberadaan Najira di sisinya, sementara hingga saat ini satu-satunya wanita yang bertahta dari pertama kali mengejar cinta hanyalah Najira.


"Hm, baik, Pa."


Satu-persatu pelayat yang menyaksikan pemakaman Najira sudah pergi. Kini tinggalah Bara dan Revan yang berada disana.


"Van, ayo pulang!" Bara berjongkok dan menepuk-nepuk pundak Revan yang tengah memeluk nisan Najira.


"Pulanglah lebih dulu, aku masih ingin disini."


Jawaban Revan membuat Bara menghela napas pelan, menggeleng secepat kilat.


"Kamu bisa mengunjungi Najira setiap hari, dia mungkin pergi dari hidupmu tapi tidak dengan cintanya. Orang tua kita pasti sangat khawatir," ucap Bara sekali lagi berharap ia tak perlu bicara panjang lebar untuk membujuk Revan pergi.


Alex, ayah mertuanya pulang bersama papanya sebab ingin memberi ruang untuk Revan yang sebenarnya masih belum mengikhlaskan kepergian Najira.


"Baiklah, aku membujukmu juga karena istriku. Dia sangat mengkhawatirkanmu dan aku sangat mengkhawatirkannya!"


Revan mendongkak, menghembuskan napas kasar. Pandangannya teralih pada gundukan kecil samping makam Najira serta dua makam lagi di sisi gundukan kecil itu.


"Selamat jalan," gumam Revan menatap nanar. Meski dirinya belum sepenuhnya bisa mengikhlaskan kepergian Najira, akan tetapi melihat Najira mungkin kini sudah bersama orang tuanya disana membuat Revan sedikit lega.


"Sampaikan salamku untuk mereka, orang tuamu dan anak kita Na! aku tidak tahu, apakah aku bisa melanjutkan hariku dengan baik setelah kepergianmu," batin Revan.


Ia memalingkan wajah, mengusap kembali sudut matanya yang berair lantas mengikuti tubuh tegap Bara, berjalan melewati setapak demi setapak tanah yang di tumbuhi ilalang liar. Hatinya miris dan sakit harus pulang dan menjalani hidup dengan kehampaan.


"Kadang takdir selucu ini, aku minta maaf telah merebut paksa darimu, dan sekarang aku juga sedang merasakannya."


"Aku tidak lagi memikirkan hal itu sekarang. Revan, kamu mungkin tak pernah menyangka pertemuanku dan Rea juga berawal dari kecelakaan." Bara fokus pada kemudinya, ia melirik Revan dan menunggu ekspresi laki-laki itu.


"Aku tahu, aku percaya ucapan Rea dan semua itu karena Danis, bukan salahmu atau Rea."


"Kau sungguh tak marah? Rea sedang mengandung anakku sekarang," ucap Bara.


Sejujurnya ia hanya ingin mengalihkan perhatian Revan, pikiran Revan dari Najira.


"Selamat, selamat itu semua adalah anugrah untuk kalian. Aku sudah menerima karmanya sekarang. Semua berawal dari diagnosa dokter tentang Najira yang kemungkinan tak bisa mengandung lagi, aku kecewa, marah dan meninggalkannya hingga ia mengejarku kemudian jatuh." Revan menunduk, sudut matanya lagi-lagi harus kembali basah.


"Tak apa, polisi tidak akan menyalahkanmu. Hanya butik itu harus ditutup, aku akan mengurus semua untukmu!"


"Aku mengerti," ujar Revan.


Hingga tak terasa mobil Bara sudah memasuki pekarangan rumah keluarga Alnav, ia mengajak Revan turun meski laki-laki itu nampak canggung, ia membiarkan Revan menempati kamarnya yang dulu untuk bebersih.


Malam hari, mereka berkumpul untuk kirim doa sebelum makan malam untuk Najira.


Selain keluarga, malam itu para tetangga juga hadir disana.


Namun, selepas acara Revan pamit. Ia memilih pulang ke apartemennya karena merasa sungkan dengan orang tua Bara.


"Tak apa, biarkan dia sendiri dan menenangkan diri lebih dulu," ujar Rosa pada Neya di obrolan malam mereka.


"Hm, saya juga percaya Revan tak akan melakukan hal bodoh karena ditinggal istrinya," timpal Alex.


"Dia sangat mencintai Najira, yang saya lihat dari setiap gerakan tubuhnya." Aron berpendapat.


"Rea sini sayang," pinta Rosa.


Rea mengangguk, ia ikut duduk di antara Rosa dan Neya sang ibu, mendengarkan cerita-cerita mereka.


Lain halnya dengan Bara, sebagai laki-laki ia merasa Revan sedang kacau balau. Memutuskan pulang dalam keadaan paling hancur bukan pilihan yang baik.


Haruskah ia meminta Tama untuk mengawasi kakak iparnya itu? Namun, tiba-tiba perkataan Amel saat dirinya mengantar Rea ke kampus terakhir kali terngiang di kepala.


"Aku nggak boleh egois dan mengganggu waktu Tama di luar jam kerja," gumamnya seraya menghela napas panjang.