SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
116. Sugar season 2



"Oke mama janji gak akan maksa kamu, apalagi abangmu! Tapi, katakan dimana Galen sekarang?"


"Aku nggak tahu, Ma, Abang. Aku sudah tak ada hubungan lagi dengannya sejak,---"


"Sejak apa?" cerca Abang Karla.


Karla mengerjap, ia tak mungkin bilang sejak mama Galen melempar segepok uang padanya bukan?


"Sejak dia memutuskan gak mau tanggung jawab, Aku sudah nggak mau mengurusi lagi kehidupannya, Ma." aku Karla menunduk.


Sebagai Ibu, tentu ia tahu apa yang dirasakan putrinya.


"Ya sudah, kalau kamu maunya gini. Tapi, kabari kami kalau kamu butuh sesuatu, apapun itu."


Karla mengangguk, "Iya, Ma."


Setelah kepergian dua orang tersayangnya, Karla duduk termenung. Namun, belum juga masuk seorang ibu-ibu datang menghampirinya.


"Aduh neng, jadi yang bener yang mana? Suami kamu ke luar atau sebenarnya kamu nggak punya suami?" selidik Romlah pemilik kontrakan saat tanpa sengaja mendengar debat Karla bersama keluarganya.


"Su-a-mi saya,---" Karla bingung harus menjawab apa, mau berbohong pun sudah kepalang basah. Bu Romlah sudah mendengar pembicaraannya dengan mama di depan kontrakan. Harusnya Karla tadi mengajak mereka masuk dulu baru bicara, kenapa dia gegabah?


"Jangan-jangan kamu nggak punya suami? Hamil di luar nikah ya? Terus kabur dah itu laki," sungut Bu Romlah.


"Jangan bilang siapa-siapa ya, Bu! Aku mohon," bujuk Karla memelas.


"Eeeh gimana attuh ya? Kalau nggak bilang nanti dikira saya yang nutup-nutupin kenyataan. Kamu juga sih jadi awewe gak bisa jaga diri, kan rugi kalau udah melendung ditinggalin," terocos Bu Romlah.


Karla menunduk, sejujurnya ia hanya ingin hidup tenang jauh dari orang-orang yang dikenalnya.


"Paling nggak kasih saya waktu, Bu! Kalau saya nggak bisa bujuk laki-laki saya, Ibu baru boleh ambil keputusan. Saya mohon, Bu."


Bu Romlah mendelik sinis, meski begitu ia tetap punya sedikit empati pada wanita hamil di hadapannya saat ini.


***


Alesya dan Reivan sudah dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Bulan madu mereka putuskan sudahi karena insiden Galen kemarin membuat Alesya sampai terluka di lengan kanannya. Meski bukan luka serius, tapi Reivan khawatir hal itu akan membuat Alesya dalam bahaya jika mereka terus berada disana.


"Kok perut aku enggak enak banget ya," gumam Ale. Merasakan tubuhnya bereaksi aneh saat naik pesawat dan mual mendera tiba-tiba.


"Kenapa? mana yang sakit?" tanya Reivan khawatir.


"Enggak, aku cuma pengen mun,-- hoek," Alesya merasa semakin mual tapi tak ada yang berhasil ia keluarkan dari mulut.


Reivan mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya, tak menemukan apapun. Lantas seseorang memberinya minyak kayu putih karena melihat kondisi Alesya yang pucat.


"Terima kasih," ucapnya setelah selesai mengoles di tengkuk dan tubuh Alesya agar mualnya mereda.


"Pakai saja, Pak!"


Pria itu mengangguk.


"Mas, aku lemes."


"Ya, bentar lagi sampai," ucap Reivan menariknya ke dalam pelukan.


"Mas, sakit tau... Nggak tau kenapa kok pengen ngeluh."


"Ngeluh itu wajar, lagian kamu ngeluhnya sama aku, jadi nggak masalah."


Jika orang lain akan ber- euforia saat melihat pemandangan tanah air dari dalam pesawat, hal itu tak berlaku bagi Alesya. Karena pada kenyataannya Ale lebih banyak memeluk Reivan dan menenggelamkan wajahnya di leher pria itu. Gejolak perut mampu teredam karena aroma tubuh Reivan.


Kenaan terpaksa memutar stir mobilnya saat mendengar Alesya akan sampai di soetta jam sembilan pagi. Ia yang tadinya akan ke kantor menyusul Bara memilih ke Bandara menjemput sepasang pasutri pulang belah duren itu. Namun, yang pertama kali Kenaan lihat bukanlah adiknya dan sang suami. Melainkan Galen yang pulang dalam kondisi wajah yang entah, babak belur bekas kebiru-biruan.


"Bang Kenaan?" Galen menyapa saat tanpa sengaja berpapasan dengan abang-nya Alesya.


"Hm."


Galen tak ingin lagi berulah, setelah basa-basi singkat ia langsung meneruskan langkahnya pergi.


"Bang Keeee!" teriak Alesya melambaikan tangan. Wanita itu terlihat lebih sehat setelah turun dari pesawat.


"Kalian satu pesawat sama Galen?" cerca Kenaan.


"Enggak!" kompak Reivan dan Alesya menjawab. Tapi sejurus kemudian saling tatap, mungkin memang iya tapi mereka tak sadar.


"Ya sudah, ayo. Kalian mau pulang kemana?" tanya Kenaan.


"Rumah!" jawab mereka bareng.


"Ya rumah siapa? Rumah mantan?" sinis Kenaan.


"Antar aja dulu," Reivan membawa Alesya masuk, keduanya duduk di kursi belakang. Sementara Kenaan dengan muka masam masuk ke kursi kemudi mirip sopir dadakan.


Alesya melepas jaketnya, dari situlah bekas luka beberapa waktu lalu terlihat.


"Tanganmu kenapa?" tanya Kenaan melirik sinis.


"Nggak dijagain suamimu?"


"Hm, apaan sih bang. Ini kena..."


"Kena sayat Galen," jawab Reivan. Membuat Alesya sontak melotot sempurna, bisa dipastikan Kenaan akan mengadu pada Papa mamanya bahkan Oma dan Opanya.


"Kok bisa? Gimana ceritanya? Jangan bilang kamu nggak jagain Ale," cibir Kenaan.


"Ya kita mana tahu kalau Galen ngintil kesana bang," bela Alesya.