
"Kamu ngapain? Cari kesempatan, ya?" pekik Alesya setengah berteriak saking terkejutnya.
Ia meraup selimut dengan segera untuk membungkus tubuh, mengintip sebentar. Tak ada luka atau tanda apapun di tubuhnya. Lalu kesadarannya kembali saat merasakan basah sprei ranjang yang menyentuh permukaan kulitnya.
"Ck! Apa aku tertidur?" lirihnya.
"Kamu pingsan. Berdirilah, pindah ke sofa atau pakai baju biar aku yang mengganti sprei."
Alesya terdiam beberapa saat,
"Oke, spreinya ada di lemari kanan paling atas," ujar Alesya memberitahu.
Layaknya superhero di malam pertama, Reivander mengangguk. Ia mencari keberadaan sprei sesuai interupsi istrinya. Namun, sejujurnya Reivander kebingungan cara memasang sprei. Terbiasa diurus pelayan sekaligus Arsen membuatnya tak bisa melakukan hal-hal kecil dalam rumah. Kecuali perihal masak, ia ahlinya ahli.
Berbekal melihat pemasangan sprei semula, ia mencoba mengingat detail-detailnya secara singkat lalu menyibak sprei lama dan menggantinya dengan yang baru.
Ale tengah mencari gaun apa yang akan dikenakannya. Setelah menemukan yang cocok ia berjalan ke ruang ganti.
"Jangan dikunci, nanti kamu pingsan lagi!" peringat Reivan saat melihat Alesya masuk ruang ganti.
"Hm." Jawaban singkat dari dalam pertanda Alesya mendengar ucapan Reivan.
Alesya sudah selesai, wajahnya masih memucat karena suhu tubuhnya yang tinggi. Namun, ia tetap berusaha terlihat baik-baik saja. Dahinya mengernyit melihat ranjang yang masih berantakan.
"Bukan gitu, gini caranya!" Alesya meminta sprei yang sedari tadi berusaha Reivan rapikan. Namun, bukan rapi pria itu malah membuat ranjangnya semakin berantakan.
Dalam hitungan satu menit, Alesya sudah berhasil mengganti sprei dengan benar.
"Mama meminta kita turun! Semua orang sudah menunggu," ujar Reivander.
"Hm, ayo turun!"
Saat hampir membuka pintu kamar, Ale berbalik menatap Reivan. "Soal malam itu, Jangan sampai Papa dan Mama tahu, Om!" pintanya.
"Tapi aku penasaran, bagaimana kalau kita melakukannya? Bukankah saat itu kau terus menggodaku?"
"Ck! Mimpi saja. Itu bukan aku, aku dijebak, emang dasar nasibku saja yang sial waktu itu," gerutunya. Mereka malah berdebat sepanjang menuruni tangga.
"Sahabatmu itu yang menawarkanmu padaku, cuma-cuma! Bayangkan saja? Jadi saranku, jangan pernah berhubungan lagi dengan wanita ular itu," peringat Reivan.
"Mantan sahabat, bukan sahabat!" tekan Alesya tak terima. Ia sudah tak ingin lagi mengingat apapun yang berkaitan dengan Karla si pengkhianat.
Baru sampai di pertengahan tangga dan melihat lantai bawah sepi, Alesya membalikkan badan menghadap Reivan di belakangnya dengan mata memicing.
"Lalu Om? Bagaimana bisa berada di pernikahanku dan Galen? Om mencari tahu tentangku? kenapa bisa-bisanya menggantikan Galen?"
"Galen adalah ponakanku, jadi sudah sewajarnya aku datang di acara pernikahannya," jawab Reivan.
Glekkk!
Kenapa dunia sesempit ini, pikir Alesya terkejut dengan pengakuan Reivan barusan. Ia berjalan lebih cepat menuruni tangga tanpa kata, sementara Reivan berusaha menyamai langkah istrinya menuju taman samping rumah dimana anggota keluarga Alnav berkumpul.
Pemandangan itu tak luput dari penglihatan seorang pelayan, ia melaporkan kejadian barusan pada mantan kekasih Alesya.
Reivan dan Alesya bergabung dengan Bara, Rea dan keluarga lainnya di taman. Ada Oma Rosa, Papi Aron bahkan kakek nenek Ale dari Bandung turut hadir disana.
Mereka sontak menatap Alesya sedih dan memeluk gadis itu satu persatu.
"Sabar ya sayang, Tuhan maha baik telah membuka aib calon suamimu lebih dulu." Nasihat Rosa, diangguki setuju oleh Mama Rea.
"Benar, coba bayangkan kamu tahu pengkhianatan Galen setelah menikah?" tanya Rea.
Alesya mengangguk haru, keluarganya benar. Bagaimana jika dia tahu pengkhianatan Galen setelah menikah? Bukankah sakitnya berkali-kali lipat dari sekarang.
***
Galen tiba-tiba mengepalkan tangannya, ia mendapatkan informasi jikalau pernikahan Alesya tetap terlaksana. Itu Artinya, Alesya sudah menikah sekarang.
Di koridor rumah sakit ia terduduk di kursi tunggu. Papanya dirawat di ruang ICU, Alesya menikah dan sekarang? Ia bahkan telah menjadi manusia paling memuakkan untuk keluarganya.
"Galen!" suara Liora terdengar lirih, tangannya mengusap bahu putranya. Entah sejak kapan Liora berada disana, Galen rasa hanya sang Mama satu-satunya orang yang mampu memakhumi kesalahannya disaat yang lain terus menghakimi.
"Alesya menikah dengan Om Reivander, Ma!" gumam pelan Galen. Mendesah berat soal kenyataan yang telah menghantam sesak dadanya.
"Apa sesakit ini, Al?" batin Galen.
Mencintai Alesya, tapi ia malah jadi orang yang menyakiti gadis itu paling dalam. Galen pikir, masih ada ampun untuknya. Galen pikir, ia akan punya kesempatan kedua? Galen pikir, Alesya tetap akan kembali dan memujanya seperti sedia kala, saat kesalahan demi kesalahan terus Galen perbuat.
"Reivander? Abberico?" tanya Liora tak percaya. Seketika Liora mengatupkan bibirnya saking terkejut.
"Jangan sampai Papamu tahu," ujar pelan Liora setelah terdiam beberapa saat.
"Tapi, Ma! Kenapa harus Om Reivander?" tanya Galen.
Liora menghela napas, beberapa hari lalu Wilson memang memberi kabar mantan adik iparnya kalau Galen akan menikah. Melihat kesuksesan Reivander sekarang, Liora pikir tak ada salahnya meminta sedikit hadiah mengingat Reivan sangat mencintai adik kecil mereka, Alira.
Reivander tak lagi menikah setelah Alira pergi, akan tetapi kabar ini tentu sangat mengejutkan bagi mereka. Apalagi ingatan bagaimana Alira juga sangat mencintai Reivander masih melekat dalam ingatan keluarga Wilson.
"Mama tidak tahu, apa dia datang awalnya karena ingin menyaksikan pernikahanmu dengan Alesya. Sebab, beberapa waktu yang lalu Papamu memberi kabar kalian akan menikah dan kebetulan..." Liora menghela napas.
"Reivander mengenal dekat keluarga Alnav," sambungnya lagi.
***
Keesokan harinya, Alesya terbangun lebih dulu. Masih pagi, masih pukul lima dan udara pagi itu sedang dingin-dinginnya. Disibaknya tirai yang mengarah ke balkon. Alesya membuka pintu yang terbuat dari kaca, matahari masih malu-malu muncul. Menatap ke bawah, dimana sisa pesta kemarin masih terpasang di halaman rumahnya.
"Pagi!" suara berat dan khas mengejutkan Alesya. Rupanya Reivan sudah bangun menyusulnya ke balkon.
"Sudah bangun?" tanya Alesya mengernyit.
Reivander mengangguk datar lalu duduk di kursi.
"Mau minum apa? Kopi atau susu?" tawar Alesya.
"Boleh!"
"Ck!" Alesya berdecak lalu turun ke bawah, tepatnya ke dapur untuk membuatkan Reivan minum.
"Pagi, Non Alesya!" sapa pelayan mengangguk sopan.
"Pagi, Am! Masak apa hari ini?" tanya Alesya pada Amber, wanita muda yang bekerja sebagai pelayan di keluarga Alnav.
"Anu, Non!"
"Anu apa, Am! Anu kan banyak artian. Sudahlah, aku mau buat kopi untuk Reivan!"
Amber mengangguk, mempersilahkan Nonanya. Lantas memilih lanjut memotong sayur yang akan ia masak bersama pelayan lainnya.
Sepeninggal Alesya, Amber merogoh ponselnya kembali mengirim pesan pada Galen.
"Tuan, nama suaminya Reivan!"
"Sudah tau! Awasi terus mereka, laporkan padaku," perintah Galen membalas pesan Amber.