SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 49



Lewat tengah malam, Bara mengantar gadisnya pulang setelah mengajaknya keliling dan berwisata kuliner Kota Bandung.


Rea sangat seang lantaran selain Bara tak jadi satu mobil dengan Najira, rupanya laki-laki itu juga mengejutkannya malam ini.


"Makasih, Mas. Hati-hati di jalan kalau pulang!" ucap Rea sebelum turun. Namun, dengan gesit Bara meraih tubuh Rea yang lebih kecil dan meraup manis bibirnya.


Rea tak menolak, jika biasanya ia akan mendorong tubuh laki-laki itu jika menciumnya lama kali ini ia justru membalas pagu tan Bara dengan lembut.


"Udah ya, aku masuk! Dadah, Mas."


"Hati-hati sayang, jangan sampai ketauan." pesan Bara dengan lengkungan senyum yang manis saat Rea melambaikan tangannya.


Rea tersenyum lalu mengacungkan jempolnya, setelah memastikan kekasihnya hilang dari pandangan Bara segera melesatkan mobilnya kembali ke hotel.


Rea bernapas lega setelah berhasil masuk ke dalam kamar susah payah lewat jendela.


"Demi cinta kan, hahaha ini tindakan konyolku yang pertama demi seorang laki-laki," gumam Rea merasa lucu dengan dirinya sendiri.


Rea pun membuka kunci pintu kamarnya sebelum benar-benar ambruk ke kasur untuk tidur. Bahkan dalam sekejap ia sudah terlelap bersama mimpi indahnya.


***


"Revan, tolong kamu bangunkan Rea untuk sarapan sayang." pinta Neya yang tengah menata sarapan di meja makan.


Bersamaan dengan Ayah yang datang kemudian duduk di sisi Neya berdiri.


"Baik, Bu." Revan berlalu menuju kamar Rea.


Ketukan pintu berulang-ulang sama sekali tak mengusik tidur Rea pagi itu, karena tak sabar Revan membuka kamar Rea dan terkejut dengan adiknya yang tidur mengenakan gaun.


"Re, bangun dek." Revan menunjuk-nunjuk lengan Rea dengan jemarinya, bahkan adiknya masih mengenakan sepatu flat saat tidur dan hal itu membuat Revan sedikit curiga.


"Reaaaa..."


"Ahiya hiya..." Rea terbangun dengan posisi terkejut.


"Aih, Mas Revan ngagetin," ucap Rea seraya menguap karena kantuk yang belum usai.


"Kamu yang ngagetin, dek! Mana ada tidur pakai gaun seperti itu, mana pakai sepatu?" Revan tampak berfikir.


"Ahhh..." Rea menatap diri, kemudian menggaruk kepala yang tidak gatal, mendadak otaknya buntu tak menemukan alasan yang masuk akal. Sementara Revan, ia duduk di sisi ranjang, tepatnya di hadapan Rea dengan mata memicing curiga.


"Jawab jujur, kenapa kamu tidur pakai gaun seperti itu? seingat Mas, kemarin pas makan dan pamit tidur kamu pakai piyama warna biru."


"Aih, Mas ini curigaan mulu. Itu karena..." Rea terdiam memikirkan alasan yang tepat.


"Karena aku mencoba gaun hadiah dari Mas Bara, lihat ini bagus nggak? saking kangennya sampai gak mau lepas gaunnya terus ketiduran sampai pagi."


"Dih bucin, dah cepet sana mandi, Ayah sama Ibu udah nunggu!" titah Revan.


"Yey, emang Mas Revan gak pernah bucin apa? orang situ lebih parah," cibir Rea.


Revan hanya tersenyum tipis mendengar ledekan adiknya.


Sarapan pagi ini mereka lewati dengan nikmat, Rea sempat mengajak kakaknya mengunjungi toko sang Ayah yang berada di Mall. Bersyukur, meski tak sebesar outlet lain tapi pembeli tetap ramai dan rezeki mengalir terus untuk kedua orang tuanya.


"Tetap jaga Rea, awasi dia meski kalian tinggal berpisah. Dan kamu Rea, tetap jaga batasanmu sebagai wanita." Nasihat Alex.


"Iya Ayah, aku pasti jaga Rea!" jawab Alex seraya merangkul bahu sang adik.


"Iya kan Re, lagian Rea ini nggak akan macam-macam Pa. Dia sudah dewasa dan bisa membedakan mana baik buruk."


"Hm." Rea hanya ber-hm seraya mengangguk.


Ia memilih memeluk erat Neya seolah akan lama lagi bagi Ibu dan anak itu untuk bertemu.


***


Di kantor Alnav Group, Bara yang baru sampai langsung diminta Aron bertemu dengan clien untuk pengajuan kerja sama. Sialnya, clien yang dimaksud Aron adalah Erlangga. Orang yang dulu menjadi saingan bisnis Alnav Group kini datang dengan sendirinya memohon. Sebab, karena Kanaya Bara jadi meminta seluruh koneksinya untuk memutus kerja sama dengan perusahaan Erlangga.


"Pak Bara, saya mohon bantu perusahaan saya!"


Erlangga terpaksa merendah demi nasib perusahaannya.


"Iya, saya bisa pastikan gadis bodoh itu tidak akan mengulangi perbuatannya." mohon Erlangga.


"Ck!" Bara berdecak, ia masih sangat kesal perihal masalah Rea.


"Yang anda sebut gadis bodoh itu bukankah anak anda?" Bara menaik turunkan alisnya.


"Ya, tapi dia hanya anak tiri saya!"


Bara semakin dibuat ilfill dengan sikap Erlangga, sikap yang sama sekali tak mencerminkan sosok Ayah yang baik. Pantas jika Kanaya tumbuh dengan sifat arogan dan buruk.


"Jadi? saya harus gimana?" tanya Bara.


"Apa yang bisa kamu tawarkan agar saya setuju?" tanya Bara.


"Keuntungan 30% bagaimana?" tawar Erlangga.


"50% atau tidak." Bara melipat tangannya di dada.


Sementara Tama menyeringai, Erlangga sudah dipastikan akan mundur membujuknya jika seperti ini.


"Anda mau merampok?" wajah Erlangga berubah kesal.


Lagi Bara dan Tama hanya mengedikkan bahu dengan kompak.


"Saya permisi!" Erlangga bangkit dan pergi dengan raut wajah kesal karena penolakan Bara.


"Hahahaha." Bara dan Tama terbahak.


"Mlempem," cibir Tama merasa puas karena tanpa bertindak, bahkan Erlangga sudah menyerah lebih dulu.


"Gimana anaknya gak breng sek, bapaknya aja kaya gitu hah!" Bara mendekus kesal.


"Bayar billnya, kita balik!" titah Bara ke Tama.


"Oke."


Sesampainya di kantor, Bara kembali melanjutkan pekerjaannya setelah memberitahu sang Papa jika kerja samanya berhasil batal. Bisa dipastikan, jika jalan satu-satunya Erlangga adalah kembali memohon kepada Alan, orang yang pernah membeli Kanaya.


***


Seminggu kemudian, Bara semakin disibukkan dengan pekerjaannya dan Rea semakin sibuk dengan tugas kuliahnya. Namun, hubungan keduanya semakin baik terlebih saat ini Rosa tak sabar untuk mengajak Rea quality time berdua.


Bara pun mengiyakan dengan syarat, selain hari minggu. Dan Rosa hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala dengan tinggah anaknya yang sudah tua tapi kembali labil karena bucin.


"Kemana kita Rea?" tanya Rosa setelah bertemu dengan Rea di tempat janjian depan kampus.


"Tante mau ngajak aku kemana memang?" tanya Rea setelah bersalaman dengan Rosa.


"Kemana, banyak agenda. Tapi, Tante mau arisan dulu bentar kamu gak papa kan? deket dari sini kok."


Rea mengangguk.


Rosa pun meminta sopir mengantar ia dan Rea ke salah satu caffe tempat janjian. Dan Rea kembali terkejut saat harus berhadapan dengan Danis dan Mamanya disana.


"Wah jeng Rosa, makin cantik aja." Melly, Mamanya Danis memuji akan tetapi dengan pandangan mata melirik ke arah Rea. Rea hanya bisa mengangguk sopan sebagai sapaan.


"Wah, makasih loh jeng Melly juga makin cantik. Ini putranya ya? tumben diajak."


"Iya, Danis sapa dulu sama Tante Rosa." Pinta Melly.


Danis hanya bisa menurut, saat matanya menangkap ada Rea disana mendadak ia punya ide.


"Aku pamit ke toilet dulu, Ma."


"Ya, Dans. Jangan lama!" ujar Melly saat anaknya berlalu begitu saja.


Danis kembali bersama pelayan mengantarkan minuman untuk Rosa dan Rea, selain Melly disana ada juga Eriana, Revi, Novi dan beberapa ibu-ibu sosialita yang tergabung dalam arisan saranghe.


Rosa pun tak sungkan mengenalkan Rea sebagai calon menantunya dan hal yang membuat Rea tersenyum adalah saat teman-teman sosialita Rosa sama sekali tak menyinggung status sosialnya. Entah karena keluarga Alnav yang hebat atau memang mereka yang sebenarnya baik.