
"Kalian..." Bara melihat ekspresi Rea dan kedua temannya.
"Aduh, kayaknya kita balik ke kamar ya, My." Amel melirik Amy, mengkode agar segera beranjak dan pergi.
"Loh kok balik?" tanya Rea, meski sebenarnya dalam hati senang karena prank darinya berhasil membuat Bara datang.
"Salah sendiri ngajakin LDR-an, padahal deket!" batin Rea bereuforia.
Bara tersenyum tak enak saat Amel dan Amy pamit melewatinya, setelah memastikan kedua teman Rea masuk ke dalam kamar barulah Bara masuk ke dalam.
"Mana tespecknya, kok bisa beda?" tanya Bara langsung duduk di hadapan Rea.
Rea diam, tangannya mengambil tespeck yang ia sembunyikan di bawah kasur.
"Kok kamu umpetin bawah kasur, Re?"
"Tadi mereka langsung masuk, jadi aku umpetin Mas. Ini," jelas Rea seraya menyodorkan dua buah tespeck ke arah Bara.
"Kok aneh ya?" Bara menatap Rea menyelidik, sementara Rea sedang berusaha menahan tawa.
"Biasanya kalau positif itu garis yang tebel yang pertama, kenapa ini yang kedua?" tanya Bara sambil berfikir.
"Mungkin negatif sebenarnya," ucap Rea ikut memperhatikan garis tespeck hasil perbuatannya.
"Apa mungkin?"
"Ya bisa jadi kan Mas?"
"Ayo ke dokter kandungan," ajak Bara yang membuat mata Rea seketika membola, kenapa ia tidak berfikir bahwa Bara bisa melakukan apapun.
"Ehm, nggak usah Mas. percuma, nanti hasilnya negatif hehe." Rea meringis.
"Hm," Bara menatap Rea penuh curiga.
"Heheehe, karena garis satunya aku yang nambahin. Tadaaaa...." Rea menunjukkan spidol merah yang terletak tak jauh darinya.
"Astaga." Bara menepuk jidatnya, "iseng banget kamu Re, aku sampai ngebut kesini cuma kamu prank." Bara menekuk wajahnya, sejurus kemudian menyerang Rea dengan menggelitiki tubuhnya.
"Ampun, Mas ampun!" pekik Rea.
"Kamu iseng banget ya, seneng bikin aku panik?"
"Canda Mas, kalau nggak aku prank juga kamu nggak dateng kan, aku kangen loh!"
Bara terdiam, sejujurnya ia senang sekali mendengar ucapan kangen Rea barusan.
"Hehe, maaf ya Mas. Habis kamu sibuk," ucap Rea dengan tangan menarik-narik kemeja Bara.
"Kan sibuk juga demi kamu loh!"
"Iya deh iya, yaudah sana pulang gih! sibuk katanya."
"Ayo jalan-jalan bentar, mau gak?" tawar Bara.
"Kemana?" tanya Rea antusias.
"Mau kamu kemana? ke laut, atau ke eropa?"
"Ke hatimu, Mas!" goda Rea.
"Hm, makin pinter sekarang ya? udah ngeprank ga tanggung jawab sekarang hobi banget gombalin."
"Dikit, terus aku mesti gimana?"
"Ayo, siap-siap. Mau nonton film? atau ke club? udah makan belum?"
Rea menggeleng, "bentar aku cari baju dulu."
Rea beranjak ke arah lemari plastik di sudut kamar kosnya, sementara Bara dengan setia menunggu.
Rea melangkah kecil ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Tak butuh waktu lama, ia keluar dengan tampilan lebih rapi.
"Mas aku baru mau dandan loh, gak bisa gerak nih." gerutu Rea saat Bara malah melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
"Mana ada hukuman dipeluk," cibir Rea.
"Terus mau gimana? mau coba bikin anak lagi?" ucap Bara blak-blakan.
"Ish pikiran kamu tuh ya!" Rea mencubit lengan kekar Bara.
"Deket-deket kamu makin lama makin meresahkan, Mas."
"Hahahaha, B aja Re, mungkin efek kamu kangen jadi ya gitu. Ngaku deh, tujuan prank kamu itu karena gak bisa jauh-jauh dari aku kan?"
"Enggak." elak Rea. Namun, ekspresi wajah dan ucapan bibirnya berbeda.
"Ngaku nggak, kalau nggak aku pulang nih?" ancam Bara, lalu menyenderkan kepalanya di bahu Rea dari belakang, tangannya semakin mengerat tanpa penolakan.
"Ayo, aku udah cantik masa mau ditinggal pulang. Ayo lepas dulu, Mas."
"Gak mau, hari minggu masih lama ya?" tanya Bara menggoda Rea.
"Masss... Aku ga bisa gerak, ayo dong."
"Oke, pegang tanganku sugar." Bara mengulurkan tangannya untuk digenggam Rea, sampai di luar tampak sepi padahal jam masih menunjukkan pukul delapan kurang.
"Kok sepi ya, Mas?" tanya Rea setelah masuk ke dalam mobil akan tetapi pandangan matanya tak lepas dari sekeliling kos yang nampak sepi.
"Pada di dalam mungkin, kan dari awal aku masuk Ibu negara bilang boleh bawa pasangan asal pintu ditutup, aturan dari mana itu?"
"Ibu negara apaan? lebih cocok jadi suhu dia." cibir Rea.
"Kok bisa?"
"Ceritanya panjang. Mas ga perlu tahu!"
"Hm, pelit banget Rea."
"Bukan pelit, hanya hemat! Mending bahas yang lain, masa depan kita misalnya," Ucap Rea seraya memalingkan wajahnya.
Ia sedang berusaha menahan tawa karena lagi-lagi harus menggoda Bara.
"Sayang makin pinter, siapa yang ngajarin hm?"
"Hehehehe." Rea terkekeh pelan akhirnya. Mobil mereka pun sampai di salah satu tempat hiburan milik Lauren.
"Tempat apa ini, Mas?" tanya Rea penasaran.
"Warung makan, hehehe."
Bara menggandeng Rea masuk ke dalam, sejauh ini Rea tak merasa aneh. Saat Bara membuka pintu yang lebih mirip kulkas itu barulah Rea membulatkan mata heran.
"Kok bisa ya?" gumam Rea.
"Bisa dong, ayo!" ajak Bara kemudian memesan ruang VIP.
"Waow, aku kira di club itu bakalan penuh cewek-cewek seksi, Mas. Ternyata ada ruang khusus juga, bagus sih tapi emang ruang khusus kaya gini enak? kan jauh dari DJ dan dance floor?" tanya Rea.
"Nggak juga, itu bagian sana. Kalau aku sama Tama seringnya ke ruang VIP, lebih tenang. Ayo masuk?" Bara menarik tangan Rea masuk untuk duduk di sofa, tak berselang lama pelayan club datang membawa buku menu.
"Keren parah sih ini, bisa dinner disini juga kah?"
"Bisa sayang," ucap Bara.
Selang beberapa menit mereka memutuskan memesan beefsteak dan wine kesukaan Bara.
"Mau minum yang lain?" tawar Bara.
Rea tampak berfikir sejenak, kemudian menggeleng.
"Mau pesenin kamu es teh, tapi kamu sudah manis!" bisik Bara.
"Mas, mulai usil deh. Apaan sih niup-niup telinga?" tanya Rea dengan wajah polos.
"Hahahahah, kode sayang!" bisik Bara.