SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
97. Sugar season 2



Cahaya kuning keemasan menjadi pemandangan paling indah pagi ini, ditemani wanita cantik khas muka bantal bangun tidur dan harumnya kopi yang menguar. Reivander benar-benar kembali menikmati hidupnya dengan benar. Meski tak tahu apakah ia bisa mencintai Alesya atau tidak? ia hanya menjalani semuanya seperti air yang mengalir.


Alesya sudah berdiri, ia akan masuk untuk bebersih sebelum turun sarapan. Namun, tiba-tiba gerakan Reivan mencekal pergelangan tangannya.


"Aku ingin bicara." Reivan menatap sebentar Alesya.


"Oke." Alesya kembali duduk dan menatap lurus ke depan.


"Bicara saja," sambungnya.


"Aku harus kembali ke rumah, apa kamu keberatan?" tanya Reivan.


"Rumah?" Alesya mengerjap beberapa saat.


"Hm, kamu sementara bisa disini,--" Reivan menjeda ucapannya.


"Aku ikut," potong Alesya cepat.


Kening Reivan mengkerut, "jangan dulu!" Alesya langsung menoleh dan menatap tajam Reivan.


"Kenapa? Apa kamu punya istri di rumah?"


Uhuk,-- Reivan tersedak ludahnya sendiri saking terkejut, pertanyaan macam apa yang Alesya lontarkan?


Permasalahannya sekarang, foto-foto pernikahannya dengan Alira terpampang besar-besar menghiasi para tembok di rumahnya.


Sedangkan Arsen, sedari tadi assistennya itu sulit untuk dihubungi.


"Matilah," batin Reivander.


"Tidak ada, istriku sudah meninggal!" pungkas Reivan.


Alesya terkejut, meski benar dugaannya kalau pria setua Reivan tak mungkin belum pernah menikah. Namun, Ale masih tak menyangka jika pria sesempurna Abberico Reivander menyandang status duda ditinggal mati.


"Maaf," lirih Alesya.


"Tak masalah, kau belum mengenalku dengan baik. Tapi, bisakah mulai sekarang panggil aku, Mas? Aku suamimu!" pinta Reivan.


"Tapi, Om..."


"Alesya, masa kamu memanggilku Om! Aku bukan Om-om," gerutunya mencebik.


"Aku ikut pulang ke rumahmu!" tegas Alesya. Ia bukan ingin memaksa ikut Reivan, tapi sebagai istri ia wajib mengikuti kemana suami pergi kecuali memang benar-benar harus ditinggal. Itulah yang Bara ajarkan padanya.


"Aku ke bawah dulu," pamit Alesya.


"Oke."


Namun, Alesya tak benar-benar ke bawah. Ia membersihkan diri lebih dulu, membasuh wajahnya agar tak terlihat kumal barulah turun setelah mengganti pakaiannya dengan setelan rumahan.


Alesya turun, ia menghampiri Rea yang sibuk menata piring di meja makan. Sementara pelayan menyiapkan hidangannya.


Keluarga besar tengah berkumpul dan sejujurnya Alesya butuh tempat yang sunyi untuk menenangkan diri. Mungkin, mengikuti Reivander adalah putusan yang tepat.


"Kak," sapa Alesya pada Kenaan.


Kenaan menoleh, lalu menghampiri Ale. Menggeret adiknya ke kamar, lalu mengunci pintu.


"Kenapa?" tanya Alesya tak mengerti.


"Kamu baik-baik aja?" Gurat khawatir tercetak jelas di wajah Kenaan. Ia sungguh mengkhawatirkan adik kesayangannya, Ale.


"Tak apa! Sakit hati itu udah biasa, sebentar juga sudah lupa," ujar Alesya berusaha menutupinya dari Kenaan.


"Jangan bohong!" Kenaan menarik hidung adiknya hingga merah.


"Kakak!" keluhnya meringis.


"Pria itu? Bagaimana?" cerca Kenaan kemudian.


"Om Reivan?" tanya Ale, Kenaan mengangguk.


"B aja!" singkat Alesya hingga ingin sekali Kenaan mecubit hidungnya kembali.


Mereka asyik bercerita hingga melupakan Bara dan Rea yang sudah menunggu di meja makan pun dengan Reivander yang celingukan.


"Di kamar Kenaan."


Reivan menggaruk kepalanya, bagaimana tidak ia terlihat mati kutu di hadapan Bara dan Rea. Canggung sekaligus aneh, menyebut dua pasutri di hadapannya dengan panggilan Papa dan Mama seperti yang Alesya lakukan.


"Kapan rencana kamu mengesahkan pernikahan?" tanya Bara tiba-tiba. Reivander tegang, rasanya seperti ditagih hutang deb collector saat ia tak memiliki hutang, seperti itu.


"Aku akan mengurus secepatnya, Bara!"


"Panggil aku, Papa! Mulai sekarang aku mertuamu," decaknya menahan tawa.


Sontak Rea mencubit pinggang Bara karena sudah membuat Reivander semakin canggung, akan tetapi ia tak kalah jailnya dengan suami.


"Dan panggil aku Mama, bagaimanapun aku adalah mamanya Alesya, putriku sekarang istrimu Reivan!"


"Astaga, iya iya Papa dan Mama, puas!"


Alesya keluar kamar bersama Kenaan, dua kakak beradik itu saling melempar senyum dan ketawa haha hihi tanpa menghiraukan keberadaan Reivan yang menatap Alesya tak berkedip.


"Cantik kan? Putriku memang cantik!" aku Bara berbangga.


"Yuhu, siapa dulu Mamanya!"


"Jangan lupakan! Aku papanya, benihnya dariku," usul Bara.


Pasutri gaje tak ingat umur itu benar-benar tak mengerti situasi dan kondisi.


Alesya duduk di samping Reivan, sementara Kenaan bersebrangan. Tepatnya di samping Rea.


Makan pagi berlalu dengan hening, akan tetapi Alesya tak melupakan tugasnya sebagai seorang istri. Ia melayani Reivander layaknya istri sungguhan.


Tiba-tiba mata pria itu memanas menahan tangisnya. Bagaimana tidak? Alira saja tak pernah melayaninya seperti ini. Reivan terlalu sibuk mencintainya hingga apapun perlakuan mantan istri adalah hal yang lumrah.


"Sayang sekali, Oma memilih tak menginap. Sesekali kalian kesanalah, tak jauh rumah Oma dari sini, kemarin malam karena dipikir akan ramai jadi mereka memutuskan pulang," jelas Bara.


"Oke, Pa! Tapi, aku akan ikut Mas Reivan pergi," sahut Alesya santai sambil mengunyah makanannya.


Uhuk! Reivan tersedak, saat itulah Alesya dengan sigap menyodorkan gelas berisi air putih untuknya.


Bara menatap Reivan seolah meminta kejelasan, "kau tak bilang apa-apa padaku?"


"Aku berniat pulang sebentar, ada hal yang harus aku urus bersama Arsen. Sebenarnya, Alesya akan lebih aman disini."


"Aku ikut!" kekeh Alesya.


Bara dan Rea membulat tak percaya, sementara Kenaan merasa aneh dengan sikap adiknya yang terkesan tanpa canggung pada Reivander.


"Terserah kalian! Asal, jika aku mendengar putriku terluka sedikit pun, ingat!" Bara menatap Reivander dengan isyarat menggorok leher.


Artinya Papa dari Alesya tak akan main-main jika Reivan sedikit saja membuat luka putrinya.


"Siap Papa mertua!" jawab Reivander.


Rea tak kuasa menahan gelak tawanya, meski begitu bukankah hal yang wajar jika Reivander memanggil suaminya dengan sebutan Papa mengingat usia Bara sudah hampir kepala lima sementara Reivander baru 38 tahun.


***


Mengemasi sebagian barangnya, Alesya kemudian turun bersama koper miliknya yang dibawa Reivan. Pamitan penuh drama mulai, Rea sungguh berat melepas putri semata wayangnya ikut dengan suami meski itu seorang Abberico Reivander.


"Hati-hati sayang!" Rea memeluk putrinya erat, pelukan seorang Mama yang terasa berat.


Alesya mengangguk dalam pelukan, "jaga kesehatan Mama, aku pasti baik-baik saja! Mama tenang saja," ujarnya menenangkan.


Bara bergantian memeluk Alesya kemudian Kenaan.


"Jaga putriku!" pesan Bara pada Reivander.


Mereka dijemput oleh Arsen yang akhirnya bisa Reivan hubungi. Langit senja kemerahan mengiringi kepergian mereka. Keduanya terdiam dengan padangan sama-sama keluar jendela.


"Tuan, apa kita pulang?" tanya Arsen.


"Ya, apa kau sudah membereskan perintahku?" tanya Reivander.


"Hah? Maaf Tuan, tapi belum!"


"Kalau begitu antar kita ke hotel," perintahnya berhasil memancing Alesya ingin tahu.


"Ngapain ke hotel? Kita pulang, ke rumahmu!"


"Tapi Al, rumahku berantakan! Kamu pasti tak akan nyaman!" jelas Reivan.


"Aku akan membereskannya, kenapa kau terlihat gugup?" Alesya menaik turunkan alisnya. Sementara menyadari sesuatu, Arsen menepuk jidatnya.


"Yang Tuan katakan benar, Nona! Lebih baik kalian menginap di hotel, saya akan membereskan rumahnya lebih dulu."


"Tidak mau, aku mau pulang ke rumahnya!"


Reivan berdecak pasrah lalu mengangguk pada Arsen pertanda mereka akan pulang.


Sampailah mereka di kediaman Reivander yang sangat besar. Seperti perkiraan Alesya, rumah itu terlihat sepi akan tetapi penuh ketenangan. Tak ada banyak orang, seperti yang terlihat.


"Tuan." Dua pelayan menyambut kedatangan mereka dengan senyum merekah seperti biasa.


Reivander turun lebih dulu kemudian membuka pintu mobil untuk Alesya.


"Perkenalkan, dia Alesya! Nyonya baru kalian, mulai hari ini layani dia dengan baik!" perintah Reivan langsung diangguki para pelayan.


Takjub, itulah yang Alesya rasakan saat memasuki rumah megah Reivan. Namun, rasa takjub itu tak berlangsung lama saat matanya menangkap foto berukuran besar menyambutnya di ruang tamu.


Deg.


"Apa itu istrinya yang telah meninggal? Apa aku menikahi pria yang masih terjebak di masalalunya?" pikir Alesya menerka-nerka.


"Aku akan membereskannya! Kamu istirahatlah, pelayan akan mengantarmu ke kamar."


Alesya mengangguk tanpa kata, terlebih saat salah seorang pelayan membawa kopernya, "mari Nyonya!"