SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 88



Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku


Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu


Tujuh hari dalam seminggu


Hidup penuh warna ku coba mendekatimu


Memberi tanda cinta


Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan


Wajahmu mengalihkan duniaku~


***


"Mas boleh minta tolong?" tanya Amel ragu-ragu, antara takut dan juga gugup. Akhirnya waktu berlalu cepat, pesta usai dan kini? ia harus berulang kali menelan salivanya saat berada dalam satu kamar dengan Tama, laki-laki yang kini telah sah menjadi suami sekaligus teman berceritanya mulai hari ini.


"Tolong apa, hm?" Tama mendekat, memegang kedua bahu gadis yang telah resmi jadi istrinya.


Menghela napas panjang-panjang, Amel meraih tangan Tama, ia tersenyum kaku lantas membalikkan badan.


"Tolong bantu buka kancing kebayaku, ini semua gara-gara Mama, jadi ribet kan!"


"Hm, baiklah."


Tama membuka satu persatu kancing belakang kebaya yang dikenakan Amel. Memang ribet, tapi jujur saja Tama sangat suka.


Ia jadi lebih leluasa memandangi punggung putih mulus yang kini sudah terekpos matanya, bahkan si istri pun tak merasa keberatan saat telapak tangannya mengusap lembut punggung tersebut.


"Mel..."


Amel memejamkan mata, memegangi dadanya yang berdegup kencang, mendapat perlakuan seperti itu pertama kalinya dari Tama, dari suaminya.


Amel mengatur napas, "boleh kok, Mas. Bukankah kewajiban istri adalah melayani suami, apapun itu."


Tama tercengang, bahkan dia belum bilang apapun. Tama sedang merangkai kata yang tepat untuk meminta, dan tak disangka Amel seperti sedang menunjukkan sikapnya sebagai istri, Amel begitu memahami dirinya.


"Beneran boleh? kamu nggak akan nyesel dengan kata-katamu barusan?" tanya Tama.


Amel mengangguk spontan, ia merasakan jemari Tama sudah menelusup masuk menyentuh kulit tubuhnya dengan lembut. Sensasi aneh menjalari sekujur tubuhnya, padahal jelas Tama hanya menyentuh bagian punggung ke perut. Lalu detik-detik berikutnya dengan gesit Tama menanggalkan satu persatu kebaya hingga menyisakan kain penutup terakhir tubuh atas Amel.


Tama menelan salivanya, napasnya mulai memburu sebab melihat keindahan terpampang di depan mata.


"Mel, aku tidak tahu harus memulainya dari mana?" gumam Tama, dia hanya mengandalkan insting seorang laki-laki, dia hanya mengikuti alur tangan dan respon tubuhnya.


Amel membalikkan badan, menatap Tama dalam, mengalungkan tangannya ke leher Tama kemudian mendekatkan bibirnya dengan bibir sang suami.


"Mari melakukannya sambil belajar, Mas."


Tama tersenyum, dibelainya wajah sang istri, kemudian pandangan terakhirnya tertuju pada bibir semerah delima.


Dengan lembut Tama mencium bibir itu, menye sap, melu matnya hingga berhasil membuat Amel mematung. Namun, hal itu tak berselang lama sebab Amel membalas ciuman itu.


Aku bantu buka," ujar Amel dengan napas terengah-engah setelah ciuman panas mereka.


Tama mengu lum senyum, ia membiarkan Amel membantunya membuka jass dan kemeja putih yang masih melekat.


"Astaga," gumam Amel berdecak memandang perut sispack Tama yang lebih mirip roti sobek.


"Kenapa?"


"Sepertinya enak," gumam Amel tanpa sadar hingga membuat Tama tertawa.


"Begini," ujar Tama menarik tangan Amel dan memintanya menyentuh bagian perut.


Amel tak bisa menahan euforianya, bayangan menyentuh roti sobek yang sering meracuni otaknya sudah ia rasakan. Merasa ge li, ia menarik tangan, menghempas tubuhnya ke atas ranjang dan menenggelamkan wajahnya yang memalu.


Tama menggaruk kepalanya, lantas menyusul Amel naik ranjang. Tidak tahu, kenapa tiba-tiba istrinya seperti itu.


"Aaa... aku malu, Mas."


Tama semakin gemas dengan tingkah Amel yang malu-malu tapi mau. Saat membalikkan badan, Amel terkejut karena keberadaan Tama di atasnya, mengung kungnya dengan tatapan sayu.


"Boleh kan? apa mau menundanya?" tanya Tama. Meskipun ia harus menahan diri dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin setelah ini, ia rela. Baginya tak ada yang lebih penting dari pada kenyamanan Amel saat ini.


"Boleh." Amel memalingkan wajahnya, pipi bersemu merah dan ia tak kuasa menghadapi Tama yang menatapnya lekat-lekat.


Sekujur tubuh Amel meremang saat Tama menyentuh setiap inci dari kulitnya. Merasa diperbolehkan, Tama membuka kain penutup terakhir sang istri hingga berhasil membuat gai rahnya kian tinggi.


"Kamu boleh memukulku kalau sakit," ujar Tama.


"Benar sakit kah?" tanya Amel.


Tug, Tama mengetukkan dahinya di dahi Amel.


"Sakit nggak yang?" tanyanya kemudian.


"Ish sakit, Mas."


"Hahaha, ya mungkin seperti itu sakitnya. Aku kan belum pernah," ujar Tama terkekeh.


"Pelan-pelan kalau begitu!" cibir Amel, Tama mengangguk dan mulai memposisikan diri.


Mungkin agak kaku, tapi setelah melewati beberapa drama dengan sang istri, susah payah akhirnya ia bisa menjebol pertahanan Amel. Ada rasa bangga menyeruak, ia ingin teriak senang tapi melihat Amel memekik sakit membuatnya urung kembali dan berfikir sepertinya memang sakit.


"Maaf ya, sakit banget ya?" Tama mengusap-usap pucuk kepala Amel.


Amel mengangguk,


"Kalau begitu kita istirahat sebentar sebelum mandi, besok-besok lagi." Tama melingkarkan tangannya ke perut Amel, menutup tubuh polos mereka dengan selimut.


"Hah? setiap hari?" tanya Amel dengan polosnya.


"Memang, bahkan kadang ada yang sehari tiga kali," ujar Tama seraya terkekeh.


"Hah, astaga!" Amel menghela napas panjang, apakah ia sanggup melayani sang suami setiap hari. Jika hanya ia yang merasa sakit, rasanya tak adil.


Lain halnya di kediaman Bara dan Rea. Pria dewasa itu tengah memandangi istri dan anaknya yang terlelap padahal malam belum larut.


"Euh... Mas, maaf aku ketiduran." Rea bangun, duduk bersandar di kepala ranjang kemudian mengusap kedua matanya.


"Capek banget pasti, ngurusin Kenaan. Apa perlu aku cariin babysister biar kamu nggak capek sayang?" tawar Bara, ia baru selesai mandi setelah tadi dari pernikahan Tama dan Amel langsung pergi karena ada urusan dan pulang lebih dari jam tujuh. Melihat sang istri pulas tanpa pergerakan membuat Bara merasa bersalah sebab ia tahu mengurus bayi kecil tak semudah ketika membuatnya.


"Nggak capek kok, Kenaan tau mamanya repot. Jadi its'oke dia nggak rewel sama sekali, Mas. Lagian ada Ayah, Ibu sama Kak Revan yang bantu jaga."


"Syukurlah, yaudah kamu lanjut tidur gih. Aku pijitin."


"Mas udah makan?" tanya Rea.


"Belum sayang," ujar Bara.


"Ayo makan dulu, aku juga nungguin Mas. Bik Liam juga tadi masak beberapa lauk!"


"Hm, kenapa nungguin sayang. Kamu kan harus su suin Kenaan. Kamu harus banyak makan lho, jangan nunggu-nunggu aku apalagi sampai jam segini."


"Iya iya Mas, ini makan ke empatku kok bukan ketiga." Rea nyengir kuda.


Sejak memiliki baby, ia memang lebih sering makan, hanya untuk porsi dan jenis makanan ia menguranginya. Rea lebih banyak makan sayur agar asinya lancar.


"Gak apa, mau berapa kalipun kamu makan. Bahkan jika badan kamu melebar aku nggak keberatan kok, Rea." goda Bara selepas makan.


"Mas doa'in aku gendut ya?"


"Nggak doa loh, cuma sedang nunjukin kalau aku beneran terima kamu apa adanya."


"Uhum." Rea tersenyum, hatinya lagi-lagi dibuat meleyot sang suami.