
Taukah kamu, kenapa Tuhan mematahkan hatimu lebih dulu? memberikan luka dan kesedihan bahkan air mata? karena Tuhan tahu, kamu kuat, kamu bisa dan kamu akan bahagia bersama orang yang paling tepat.
Jika saat itu tiba, kamu tak akan ada lagi kesempatan melihat ke belakang, kamu tak akan punya waktu bahkan tuk sekedar mengingat apa-apa yang sudah terlewat meski itu kenangan manis sekalipun.
Kamu hanya akan melihat ke depan, melihat bahagiamu yang sekarang di pelukan dan mensyukuri apa yang kamu punya saat ini.
Sebab yang terlewat, sudah pasti bukan yang terbaik bukan?
***
• Labuan bajo, 06.15 WITA.
"Ini liburan ketiga kita, Mas. Bertiga sama Kenaan."
"Liburan pertama!" ralat Bara yang disambut kekehan tawa Rea.
"Aaaa, seneng banget. Liat Kenaan Mas, sepertinya dia juga sangat bahagia." Rea menunjuk ekspresi Kenaan yang tampak menggemaskan.
"Dia mana udah ngerti sayang?"
"Udah dong, ih. Nggak ngerti juga Kenaan bisa ngerasain pasti," gumam Rea. Ia senang sekali melihat ekspresi Kenaan, bak mempunyai boneka hidup.
Dulu, Rea pernah membayangkan akan ada fase seperti ini, keinginan sederhananya adalah memiliki anak bersama Bara dan kini?
Ia sangat bahagia, walau hanya sekedar melihat senyum tersungging di bibir mungil Kenaan. Perlakuan lembut Bara menjadi pelengkap keinginannya itu, mereka bahagia.
Bara hanya tersenyum melihat kehebohan sang istri, mereka bahkan baru melihat view labuan bajo dari balkon villa, belum turun atau berkeliling menikmatinya. Namun, Rea terlihat sudah sangat senang.
"Perlengkapan Kenaan gak ada yang kurang kan sayang?" tanya Bara.
"Nggak, Mas. Aku juga udah siapin baju tebal, tau kan angin disini over sejuk. Liburan juga harus mastiin Kenaan aman dan nyaman!" jelas Rea.
"Pintar sekali istriku, jadi gak sabar." Bara mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum devil.
"Aihhh kamu tuh, Mas. Liat Kenaan, dia aja masih anteng digendongan kamu senyum-senyum."
"Yaudah berarti nunggu Kenaan tidur ya? Kenaan kamu tidur gih, Mama sama Papa mau pacaran," ujar Bara seolah Kenaan paham akan pembicaraannya padahal bayi mungil itu hanya tersenyum dan menggeliat.
Hingga tak butuh waktu lama, angin sejuk itu berhasil membuat Kenaan terlelap. Bara dan Rea membawa Kenaan masuk, menutup sebagian korden putih agar tak terlihat dari luar kegiatan mereka.
Meskipun villa yang mereka pesan cukup privat.
Bara sengaja memesan villa yang kamarnya disediakan box bayi untuk Kenaan agar aman. Sebab ranjang dewasa meskipun lebar tak menjamin keamanan sang putra.
"Rea, kamu bahagia gak nikah sama aku?" tanya Bara di sela momen romantisnya bersama sang istri, sebab kadang ia merasa tak pede jika bersama Rea yang jelas-jelas masih sangat muda.
"Bahagia, kenapa nggak?"
"Aku kadang takut kamu kepincut laki-laki yang lebih muda," gumam Bara.
"Mereka mana mau sama aku, Mas. Lihat nih?" Rea menatap tubuhnya yang sedikit berisi karena bagian da danya yang lebih besar karena efek menyu sui.
"Sekarang giliranku, boleh kan nyicip punya Kenaan dikit?" bisik Bara mendorong pelan tubuh sang istri kemudian menyibak gaun yang dikenakan oleh Rea.
Rea hanya mengangguk pasrah.
"Boleh dimulai dong bulan madu kita," bisik Bara tak sabar.
"Hm, boleh deh. Aku mana bisa menolak," ujar Rea tersenyum malu-malu, lalu mengalungkan tangannya di leher Bara saat laki-laki itu berada tepat di atasnya.
"Euhmm..." Rea hanya bergumam saat bibir Bara mengabsen setiap inci dari tubuhnya.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah sama-sama polos. Rasa rindu saling menyentuh membuat keduanya terlena. Namun, Bara masih bisa mengendalikan diri agar tetap bersikap lembut sebab ini pertama kali baginya setelah Rea selesai nifas dua bulan lalu.
"Kamu siap sayang?" tanya Bara memastikan kesigapan Rea.
"Pelan-pelan ya, Mas."
"Pasti, aku mana tega itu kan pernah buat jalan kepala Kenaan."
"Kalau sakit bilang aja, aku bakal berhenti."
Rea hanya menanggapi dengan tawa.
Namun, saat Bara berusaha menerobos miliknya, ia sedikit ngilu. Rasanya seperti baru pertama kali melakukan hingga berhasil membuat dahinya mengkerut kesakitan.
"Dikit, Mas."
"Oke, aku stop dulu." Bara mendaratkan ciuman di kening Rea sebelum akhirnya bangkit dan berlalu ke kamar mandi.
"Huffh..." Rea menghela napas, merasa bersalah karena lagi membuat sang suami bermain sendiri.
Di balik itu, Rea juga bersyukur sebab Bara membuktikan kesabaran dan cintanya.
Hari pertama di Labuan Bajo mereka gunakan untuk percobaan dan istirahat. Hari kedua, Bara dan Rea menaiki kapal besar phinisi dan berkeliling. Tak ada rasa lelah, sebab view yang terlihat diluar ekspetasinya.
Sangat indah, sampai Rea berulang kali takjub.
"Kenaan, Coba kamu lihat indahnya dunia ini sayang. Kelak, kamu juga akan mengelilinginya dengan puas setelah dewasa nanti." Rea mencium pucuk kepala Kenaan yang berada di gendongannya.
Saat ini, Bara mengajaknya merasakan indahnya menaiki kapal mewah pinisi, selain aman dan nyaman buat Kenaan, di Bajo memang terkenal dengan wisata kapal.
Meski bayi kecil itu hanya bisa menggeliat dan tertawa sebagai ekspresi.
"Aduh anak Mama lucu banget."
"Anak Papa juga, ini kan potocopy-anku hehe." Bara terkekeh.
"Menurut buku yang aku baca, kalau wajah anak cenderung mirip salah satu diantara kita artinya dialah yang memiliki cinta yang paling besar, emang bener Mas?" tanya Rea.
"Wah wah, jadi kamu mau bilang cintaku lebih besar sayang, hm?"
"Nggak, cintaku juga besar lho!" protes Rea.
"Cinta kita sama-sama besar, sekalipun Kenaan mirip aku atau mirip kamu. Bagiku, itu bukan tolak ukurnya sayang. Yang jadi tolak ukur itu ini." Bara menunjuk di hatinya.
"Hati Mas Bara cuma ada aku kan?"
"Gimana ya, sekarang kan ada Kenaan juga. Masa kamu gak mau berbagi sama si ganteng ini?" Bara menciumi pipi Kenaan berulang-ulang.
"Ya kalau Kenaan kan gak masuk itungan, maksud aku nggak ada wanita lain kan?"
"Mana ada, kalaupun ada itu Mama Rosa. Tapi, Mama kan ada di hatinya Papa, nggak mungkin juga pindah ke hatiku!" canda Bara.
"Kamu tuh ya, Mas."
"I love you sayang, Jatuh cinta padamu adalah ketidaksenagajaan yang paling indah. Meskipun rasa sayang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, biarkan aku melakukannya sesekali," bisik Bara.
"Ampun deh, meleleh aku nanti. Ini Kenaan sampai tidur lagi gara-gara dengerin Papanya gombal." Rea terkekeh, akan tetapi pipinya tak bisa menyembunyikan rona merah yang tercetak karena mendengar kata manis Bara.
"Sini biar aku tidurin," pinta Bara.
"Eh?" Rea langsung menatap Bara.
"Hahaaha, maksudnya kita ke kamar sayang."
Rea mengangguk, matanya tak henti takjub melihat fasilitas kapal pinisi yang begitu memanjakannya, meski tahu Bara tak sedikit mengeluarkan uang untuk membuatnya bahagia. Meski sebenarnya, tanpa itu Rea sudah sangat bersyukur dipertemukan suami sebaik Bara.
Setelah menaruh Kenaan di ranjang dan memastikan sang putra benar-benar lelap, Bara langsung menarik pinggang sang istri dan menyerang bibir Rea dengan lembut, pun sebaliknya Rea berusaha mengimbangi dan membalas perlakuan suaminya.
Kali ini, ia tak ingin membuat Bara tersiksa.
"Uhm."
Keduanya terkekeh bersama setelah melepas ciuman, dengan gesit menutup jendela kapal dan melanjutkan aktivitas panas mereka.
***
Definisi kebahagiaan adalah ketika kita memiliki seseorang yang bisa mencintai kita melebihi diri sendiri~
Rea.
TAMAT
•Untuk kisah Bara dan Rea selesai sampai sini ya, gomawo buat pembaca setia atas dukungan banyak-banyaknya.
Jangan lupa gift vote dan like komen terbaiknya.
Untuk Bab selanjutnya aku lanjut Revan dan Selena, nggak panjang kok cuma buat tambahan bonus chapter saja. I LOVE YOU SO MUCH ALL😘