
"Alesya, aku mencintaimu! Kita akan jadi pengantin yang paling bahagia. Saat hari itu tiba, akulah yang paling tak sabar menjadikanmu milikku seutuhnya!"
"Al, gaunnya kamu suka yang mana? kalau aku lebih suka yang model seperti ini, ada kancing di belakang," bisik Galen menggoda.
Pipi Alesya bersemu merah, ia tahu betul maksud perkataan Galen.
"Sabar dulu, tunggu kita sah baru kamu boleh!"
Galen tersenyum penuh arti, "kamu satu-satunya ratu yang ada di hatiku, sampai kapanpun! Bahkan kerikil kecil akan aku singkirkan jika ia menghalangi kita."
Galen memeluk Alesya dari belakang, dimana gadis itu sedang mencoba gaun yang akan digunakan untuk pernikahan mereka.
"Aku juga mencintaimu Galen, sangat mencintaimu! Terima kasih sudah membuktikan cinta itu. Aku suka gaun yang ini, apa kamu juga suka? Karena pilihanku sudah tentu yang harus kamu sukai." Alesya mengukir senyum.
"Semua pilihanmu aku juga suka," ucap Galen.
***
"Al, kamu kenapa? jadi mana yang kamu suka?" tanya Reivan kala melihat istrinya melamun dengan mata menatap kosong cermin besar di hadapannya.
Alesya meremas gaun di tangannya dengan perasaan entah. Tiba-tiba pikiran Ale dipenuhi kenangan tentang Galen. Bagaimana Galen menemaninya memilih baju pengantin saat itu.
"Aku membencimu, Galen! Aku membencimu dengan segenap hatiku, aku membencimu," batin Alesya ia merosot ke bawah dan hal itu sangat tak terduga oleh Reivan.
"Hey? Are you okey?" tanya Reivan khawatir.
Reivan berjongkok, bahkan ia berusaha membantu Alesya berdiri. Namun, Alesya malah menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Maaf," cicitnya pelan. Berusaha mengusap bulir bening tanpa terlihat oleh Reivan. Namun, hal itu mustahil mengingat Reivan berada tepat di hadapannya.
"Aku pilih yang ini, kamu harus suka apapun yang aku suka," ujar Alesya setelahnya.
"Kamu nggak apa-apa? Kita ke dokter bagaimana?" tanya Reivan.
Alesya menggeleng.
"Bantu aku berdiri, aku lemes tau."
Reivan malah tersenyum hangat meraihnya, "jangan dipendam sendiri, aku suamimu! Kamu bebas berkeluh kesah padaku. Meski aku tak memiliki solusi, tapi aku bisa jadi pendengar yang baik untukmu! Begitulah setidaknya."
"Hm." Alesya berdehem kalem.
"Dewasa banget sih mirip bapak-bapak," ejek Ale. Padahal baru saja beberapa detik lalu ia menjadi wanita yang sangat menyedihkan tapi secepat itu pula dirinya berubah menjadi ceria.
"Dari pada kamu, labil! Ayo, aku bantu berdiri." Reivan kembali mengulurkan tangan akan tetapi singkat Ale menepisnya.
"Aku bisa sendiri," gerutunya sebal tak terima dikata labil.
"Ck! Dasar wanita."
Alesya mematut dirinya di cermin. Entah kenapa, meski perasaan luka dari Galen belum sembuh, ia bahagia melihat dirinya mencoba gaun pengantin.
"Apa aku bisa mencintai Mas Reivan?" gumamnya lebih bertanya pada diri sendiri.
Hati kecilnya merasa nyaman dan cocok dengan pria dewasa itu meskipun Reivan terbilang pria yang cuek dan kaku.
Namun, dibalik sikap adanya Reivan kadang hati Alesya menghangat dengan perhatian-perhatian kecilnya.
***
Di sisi lain, Kenaan yang tanpa sengaja bertemu dengan Karla bersikap acuh dan tak kenal. Ia membenci gadis yang telah merusak kebahagiaan adiknya. Hingga langkah tertatih Karla berusaha menyamainya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Bang!" panggil Karla.
Kenaan memang menoleh, raut wajahnya datar dan tak berniat membalas sapaan Karla.
"Gimana kabar Alesya?" tanya Karla. Ia menunduk mere mas kantong kresek putih berisi tespeck miliknya.
"Kamu naenya?" Kenaan menaikkan alisnya. Ia sejujurnya tak ingin meladeni Karla apalagi sampai beradu mulut. Bukankah lebih baik Kenaan adu pukul dengan Galen atau mematahkan tangan laki-laki itu. Orang yang telah menyakiti Alesya dan membuat adik kesayangannya sakit.
"Aku cuma,---"
"Cuma apa? Penasaran dengan kehidupan adikku? Lalu setelah tahu, kamu akan merebut pria yang dicintainya lagi. Cih, murahan sekali," ujar Kenaan yang berhasil membuat Karla langsung bungkam.
"Yang salah Galen, Bang!" cicit Karla.
Menyesal menyakiti Alesya? Tentu tidak. Namun, Karla harus bisa menarik simpati Kenaan. Kandidat kedua jikalau Galen tak mau bertanggung jawab. Masalah bagaimana caranya, itu hal yang mudah untuk Karla.
"Terus? Heh, mau Galen atau kamu yang salah! Namanya rumah gak akan kemasukan tamu kalau yang punya gak ngasih pintu. Sedangkan kamu, buka pintu lebar-lebar, ckck! Adikku terlalu berharga untuk bersaing sama kamu, beda kelas," seru Kenaan jumawa.
"Bukan gitu, aku---"
"Hih, sia lan!" makinya. Buru-buru Karla pulang ke rumah. Karla sampai melempar tespecknya ke sembarang arah dan masuk ke dalam kamar saking kesal.
"Arghhhh, kenapa nasibku seperti ini," decaknya frustasi.
Kenaan tanpa sengaja berpapasan dengan mobil Galen. Namun, karena banyak kerjaan ia jadi urung membuat perhitungan pada mantan calon adik iparnya itu.
Hari yang dinanti tiba, pesta yang Reivan dan keluarganya agung-agungkan terlaksana meriah di salah satu hotel berbintang milik Reivan. Biaya yang dikeluarkan untuk menikahi Alesya pun tak sedikit. Mulai dari wedding organizer yang gak kaleng-kaleng, gaun pengantin dengan harga fantastis, belum lagi hiburan dan segala keperluan catering, serta souvenir undangan.
Alesya sampai dibuat terkaget-kaget karena nyatanya sang suami dan keluarga berhasil menyiapkan itu semua dalam waktu seminggu. Sungguh hal yang diluar duga bagi Alesya.
"Sudah siap?" tanya Kenaan menyembulkan kepala. Jika kemarin ia masih belum bisa menerima Reivan sebagai suami Alesya, kali ini restu turun bersamaan pembuktian Reivan.
Dipilih Tuhan
Kau yang pertama
Untuk masa depan dan selamanya
Dialah cahaya
Tuntunan ke surga
Dengarkan mereka tak berhenti berdoa
Aku yang kau pilih
Kamu yang kupilih
Cinta ini milik kita selamanya
I'm gonna marry you
(Aku akan menikahimu)
I know that you'll be mine
(Aku tahu bahwa kamu akan menjadi milikku)
I'm gonna give my world
(Aku akan memberikan duniaku)
You're the only one
(Kamu adalah satu-satunya)
Tell them everything
(Beri tahu mereka semuanya)
This is just beginning
(Ini baru awal)
Jangan tinggalkan aku di saat ku jatuh
You're the only one
(Kamulah satu-satunya)
Kupilih kau jadi imamku
Bukan yang lain
Cinta ini hanya untukmu
Kau bukan main
Bersamamu aku hadir
Selamanya hingga akhir
Terima kasih tuk semua rasa
Yang kau berikan untukku.
(Hari bahagia - Aurel atta)
***