
Kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau, selagi itu baik untukmu~
Sudah dua hari ia tinggal di rumah orang tuanya, hari ini Bara berniat mengajak Rea untuk pindah ke rumah baru agar mereka memiliki privasi dan Bara juga ingin menikmati waktu-waktunya bersama Rea sebagai pengantin baru. Namun, menjadi pengantin baru tak bisa membuat ia terus memaksa sang istri melayani.
Hingga keputusan Rea untuk menunda kuliah membuat Bara benar-benar merasa bersalah.
"Aku pamit, ya Ma?" ucap Bara pada Rosa, kemudian beralih ke arah Aron sang Papa.
"Pa..."
"Hati-hati, jaga istrimu dengan baik. Boleh ajak dia ke kantor, kalau memang Rea mau cuti kuliah dulu selama hamil."
Bara mengangguk, sementara Rea tertunduk malu sebab pada akhirnya Bara memutuskan jujur perihal kehamilannya.
Namun, yang membuat ia tak habis fikir ekspresi mereka justru biasa saja, tak marah bahkan cenderung senang.
Mana ada orang tua yang senang anaknya menghamili gadis sebelum menikahinya. Namun, di keluarga Bara semua terasa santai. Bahkan Rea tak mendapat tekanan seperti apa yang ada di kisah romansa novel-novel.
"Jaga diri baik-baik ya sayang, kalau butuh apa-apa jangan sungkan hubungi Mama. Sepertinya memang kamu lebih bagus cuti kuliah, Mama sangat setuju. Sebab, ingat dengan teman-temanmu yang nekad itu," ucap Rosa, ia memeluk Rea sebelum Bara membawanya pergi.
"Makasih Mama, Rea pasti baik-baik saja. Makasih sudah melahirkan laki-laki sesempurna Mas Bara. Rea selalu merasa beruntung menjadi bagian dari kalian."
Acara pelukan itu berakhir, Bara menggandeng Rea masuk ke dalam mobilnya.
Aron dan Rosa melambaikan tangan, meski berat dengan pilihan sang anak untuk memilih tinggal sendiri, Rosa tetap harus legawa toh jarak rumah Bara yang baru tak begitu jauh dari rumahnya, ia bisa setiap hari kesana bertemu menantu kesayangannya.
"Mas, mangganya gak lupa kamu bawa kan?" tanya Rea.
"Nggak sih kayaknya!"
Rea mengangguk-ngangguk, ia memperhatikan Bara yang fokus pada kemudinya, kemudian beralih menatap jalanan.
Tak butuh waktu lama untuk Bara sampai di rumah barunya.
"Mas ini? rumah segede ini cuma kita berdua?" tanyanya masih tak percaya.
"Iya, biar lebih leluasa kan," goda Bara.
"Ishh, belum juga masuk. Eh, gak boleh sering-sering begitu, Mas. Aku takut," ucap Rea jujur.
"Yaudah, besok siang kita sempetin USG dan konsultasi dulu sebelum Mas sibuk dengan urusan kantor," ucap Bara.
"Aku sendirian di rumah?"
"Terus gimana? mau nemenin aku kerja tiap hari juga aku gak keberatan. Ruang kerja aku lengkap ada kamar istirahat dan TV juga, bahkan kamu bisa sambil nonton drakor disana."
"Boleh deh, Mas."
"Permisi Tuan, selamat datang!" sambut Joan, satpam jaga rumah Bara yang baru.
"Siang, kamu tolong bantu bawa barang bawaan kami masuk ya," titah Bara, Joan mengangguk lantas tersenyum, sepeninggal Joan, Bara menggerutu.
"Ck! tebar pesona. Harusnya gak usah senyum-senyum gitu sama kamu!"
"Mas, dia cuma bersikap baik sama kita lho!"
"Dia senyumnya sama kamu sayang, bukan sama aku! itu namanya cari perhatian." Bara mendumel tak jelas, entah kenapa keberadaan Joan seperti ancaman baru baginya. Muda, tampan dan memiliki senyum memikat meski seorang satpam.
"Mas, kamu percaya kan sama aku, aku itu sukanya sama kamu lho!" bujuk Rea, ia tahu Bara sedikit terganggu dengan sikap dan senyum Joan.
"Sudah Tuan, barang-barang anda dan Nyonya saya letakkan di kamar utama!" Ujar Joan.
"Ya sudah kembali bekerja!"
"Baik Tuan!" Joan mengangguk dan berlalu.
"Mas,.jangan galak-galak," protes Rea.
"Siapa yang kamu bilang galak sayang, aku cuma tegas sama Joan biar dia nggak punya nyali ngelirik istriku yang cantik ini," ujar Bara.
"Astaga, Mas. Belum tentu juga Joan itu jomblo, barangkali dia sudah punya pacar atau bahkan anak istri di rumah."
"Baiklah, lagi pula aku percaya pandangan Papa dan istriku," ujarnya mengalah.
Sejujurnya ia tak mempermasalahkan Joan yang masih muda, Bara hanya tak suka melihatnya senyum kepada Rea, ia cemburu dan merasa kesal, itu saja.
Hari itu mereka gunakan untuk istirahat, sebelum Bara benar-benar sibuk kerja. Beruntung ia memiliki orang tua yang pengertian, turut menyiapkan segala sesuatu untuknya dan Rea mulai dari satpam dan art di rumah baru.
***
"Serius Rea?" tanya Amel dan Amy bebarengan, mereka saling memeluk sebab Rea memutuskan cuti kuliah sementara ia hamil. Namun, alasan itu masih ia simpan rapat untuk dia dan Bara juga kedua mertuanya. Bahkan hingga saat ini, kedua orang tuanya masih belum tahu perihal hamilnya Rea.
"Maaf ya, kalian kalau kangen langsung cuss rumah ya, aku dan Mas Bara pasti seneng dengan kalian main kesana."
"Benar, ajak juga Tama dan Devan. Kalau Tama pasti sih itu, bakal sering-sering aku suruh datang ke rumah," ujar Bara.
"Mas Bara jangan keras-keras dong sama calon suamiku, dia juga butuh waktu buat nyenengin aku," gerutu Amel yang dibalas gelak tawa Bara dan Rea.
"Ya kalau tanggalnya udah ditentuin sih, gak bakal-bakal lagi deh isengin Tama. Kalau belum ya gimana aku mau percaya," jawab Bara, ia pun pamit sebentar untuk masuk ke kampus mengurus izin cuti Rea.
"Oke sukses ya!" ucap Amel dan Amy bebarengan.
Tak butuh waktu lama bagi Bara, sebab ia kenal dengan kepala kampus dan Aron rupanya menjadi salah satu jajaran donatur kampus dimana Rea menimba ilmu.
"Huh, akhirnya." Rea bernapas lega.
"Kakak kamu bakal marah gak ya?" tanya Bara.
"Kenapa, kan sekarang aku udah hak sepenuhnya Mas Bara!"
"Tapi kan, dia yang masukin kamu kuliah, Rea. Bagaimanapun, aku ini tetap orang baru di keluarga kamu, takutnya Revan merasa aku udah kuasain kamu atau apalah. Seorang kakak laki-laki akan merasa sangat kehilangan saat adik perempuannya sudah menemukan bahu ternyaman lain," jelas Bara.
"Mas Revan gak akan punya waktu buat mikirin aku lagi, Mas Bara tenang saja!"
Melihat raut wajah Rea yang murung lantas membuat Bara menggenggam jemari Rea agar istrinya kembali tersenyum.
"Hidup itu berfase, ada kalanya kamu dengan kakakmu begitupun sebaliknya, ada kalanya kita tenggelam dengan pasangan masing-masing. Kalau aku sih percaya, Revan sangat sayang sama kamu, walaupun saat ini dia sedang sibuk mungkin, kan kamu tau sebentar lagi kakakmu juga akan menikah."
"Astaga, lupa. Kita bakal balik Bandung lagi kan Mas."
Bara mengangguk, "tentu, asal kamu selalu sehat. Jangankan ke Bandung, mau ke Hawaii pun aku turuti!"
Mereka berjalan menuju mobil, belum sempat masuk sebuah panggilan kembali membuat Rea menoleh.
"Rea..."
"Dans, Kay..." Rea mengerutkan kening.
"Mau apalagi kalian?" sinis Bara begitu melihat mantan kekasih dan sahabat Rea itu mendekat.
"Maaf," ucap Kanaya, ia kembali mundur dan membentur tubuh Danis yang berada tepat di belakangnya.
"Kami mau minta maaf, Mas Bara. Mungkin, aku dan Kanaya, kesalahan kami terlalu fatal. Hanya, kami tak ingin hidup dengan rasa bersalah terus menerus!" terang Danis.
"Hm!" Bara hanya berdehem, sementara Rea terdiam melihat Danis dan Kanaya bergantian.
"Maaf Rea, tapi kami benar menyesal pernah jahat sama kamu!" ulangnya.
"Baik, sudahlah lupakan. Aku sudah menikah sekarang, jadi kesalahan terdahulu sudah bukan hal yang penting lagi. Asal kalian baik-baik menjalani hidup, aku juga akan memaafkan kalian!" Ujar Rea kemudian berlalu.
"Permintaan kalian tidak sah, catat 1000 kali di kertas agar kami percaya kalian benar-benar menyesal, jangan lupa bubuhi tanda tangan dan materai!" tegas Bara sebelum akhirnya menyusul Rea ke mobil.