
Bara akhirnya mengantarkan Rea ke kampus meski sebenarnya ia ingin hari ini kekasihnya itu istirahat saja di apartemen. Mengingat, pagi sekali ia menggempurnya hingga lelah dan Bara tak tega terlebih Rea masih merasa kesakitan.
"Beneran gak apa-apa?" tanya Bara khawatir, sebab raut wajah Rea terlihat sangat lelah. Kini mereka sudah sampai di depan kampus Rea, akan tetapi Bara kembali dibuat ragu, ia sungguh kasian dengan Rea.
"Gak apa-apa, aku gak mau keseringan bolos! Lagian belum terlambat ini, aku belajar dulu ya?" pamit Rea sebelum akhirnya ia keluar dari mobil Bara untuk memasuki gerbang universitas.
"Itu dia," gumam Bara ketika melihat Danis berada tak jauh dari mobilnya, sedang berdiri bersama teman-temannya sambil mengesap rokok.
Tangan Bara mengepal, ia turun dari mobil dan berjalan cepat ke arah Danis sebelum laki-laki itu menyadari keberadaannya.
Bugh... Bugh...
"Dasar breng sek!" maki Bara seraya melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Danis.
"Hei-hei, siapa lo datang-datang ngamuk, cerca teman Danis berusaha melerai.
Danis mengusap bibirnya yang luka karena pukulan Bara dengan wajah menyeringai.
"Om, berani datang ke kampusnya Rea apa tidak takut membuatnya malu!" sinis Danis.
"Siapa yang kamu kata Om, dasar laki pengecut!" maki Bara, tangannya mengepal gatal ingin segera melayangkan kembali pukulan ke wajah Danis. Namun, tertahan oleh kedua teman Danis yang melerai mereka.
"Lepas, kalian gak usah ikut campur, atau aku lenyapkan kalian sampai habis." bentak Bara membuat kedua orang itu mendelik seketika dan berlindung di balik punggung Danis.
Bara mencengkram kaos Danis, "berani sekali lagi gangguin Rea, aku bukan hanya membuat wajahmu hancur tapi juga keluargamu!" bentak Bara sebelum menghempaskannya dengan kasar.
"Silahkan saja, aku tak perduli. Asal bisa.tidur dengan Rea apapun cara akan aku lakukan," teriak Danis, Bara yang berlalu menjadi mengepalkan tangan geram dan berbalik.
"Mati sana." kembali memukuli Danis kali ini dengan tak sabar.
"Sudah, Mas. Sudah! Dans lo gila," pekik temannya yang melihat darah segar keluar di sudut bibir Danis. Bara ingin memukul sekali lagi akan tetapi dihalangi kedua teman Danis.
"Mas pergi aja, saya yang akan jamin kalau Danis gak akan macam-macam dengan Rea," ujar teman Danis meski dengan tubuh bergetar.
"Oke, sekali lagi kamu mengusik Rea. Aku bunuh kamu!" maki Bara kemudian berlalu.
Huft...
Kedua teman Danis menghela napas, "kamu ada masalah apa sih Dans, heran aku? udahlah lupakan Rea. Demi cewek yang gak seberapa itu kamu hampir boyok dipukuli." kedua teman Danis menasehati.
Danis terdiam, ia masih tak terima Rea lebih memilih dengan laki-laki itu ketimbang dengannya.
"Dans... Dans... dasar bodoh, demi cewek mura han Rea kamu bahkan babak belur begini, huh! Aku nggak habis fikir apa spesialnya dia hingga semua orang begitu memuja. Dan kamu Dans, lihat perlakuan duda kaya tadi? kamu tidak lihat dia membela Rea sampai begitunya? apa kamu masih berfikir akan mendapatkan kesuciannya Rea sedangkan dia menjadi kekasih seorang duda?" ejek Kanaya berjalan mendekati Danis, ia menarik dagu Danis agar mendongkak dan meneliti wajahnya.
"Diam, aku nggak butuh pendapatmu! Apa bedanya sama kamu, setelah kejadian waktu itu kemana kamu beberapa hari ini? atau jangan-jangan kamu tak ada bedanya sama Rea?" sinis Danis.
"Kemana? hahahha, sama sekali bukan urusanmu setelah kamu kabur dari caffe begitu saja." Kanaya melepas dagu Danis dengan kasar, ia menjadi muak saat tahu laki-laki itu ternyata begitu pegecut dan selalu menggunakan cara kotor untuk menjerat wanita.
"Damn it!" Danis mengumpat kesal saat Kanaya mencampakkannya.
***
Di sisi lain, Najira sedang termangu menatap kebaya pengantin miliknya yang sudah jadi. Ia sudah memantapkan hati untuk menerima Revan dan berdamai dengan masalalu, meskipun sulit. Meski sulit baginya menerima, bahwa ternyata Bara mantan suaminya bisa memperlakukan wanita lain dengan banyak cinta.
Tok tok tok...
"Mbak Na, ada yang nyari?" karyawan butiknya mengetuk pintu.
"Oh, ya siapa Rin?" tanya Najira seraya membuka handle pintu ruangannya.
"Entah Mbak, coba temui." Rini mengulas senyum.
Najira mengangguk, ia berjalan ke depan untuk tahu siapa yang mencarinya.
Deg.
Jantungnya berdebar semakin kencang saat melihat mantan mertua menemuinya.
"Mama...Tante Rosa," lirih Najira, terbiasa memanggil wanita itu dengan sebutan Mama membuatnya sedikit kikuk.
"Sibuk?" tanya Rosa dengan raut wajah datar.
Tak ada cipika cipiki, Rosa hanya menyambut uluran tangan Najira dan menariknya lagi. Najira membawa Rosa ke sofa yang biasa ia gunakan untuk menerima tamu, atau pelanggan butik yang ingin memesan gaun. Sebab, di lantai satu hanya ada sofa itu dan beberapa ruangan yang ia pergunakan untuk bekerja, sementara separuh bagian depan terdapat beberapa macam baju gaun-gaun desain terbarunya.
"Silahkan duduk, Tante!" ucap Najira dengan senyum, ia lantas meminta Rini menyiapkan minuman untuk Rosa.
"Tante ada sedikit perlu bicara, mengenai Bara dan Rea."
Deg.
Najira tertegun, Rea bahkan sudah dikenalkan pada orang tua Bara.
"Hm, tante pasti sudah tahu masalahnya. Aku harap, tante tak akan pernah mempermasalahkan status Rea sebagai calon adik iparku," ujar Najira.
"Ya, aku tau. Aku tidak mempermasalahkan siapa Rea. Dia wanita pilihan Bara dan aku percaya pada putraku. Apa yang terjadi diantara kalian juga termasuk kesalahanku, tapi aku harap sekalipun kalian nanti akan kembali menjadi keluarga, tolong jaga batasanmu."
"Tante berfikir aku akan kembali menggoda Bara?" tanya Najira yang tau maksud dari perkataan Rosa.
"Itu hal yang mungkin bukan?"
"Hya itu benar, tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan orang yang memperlakukanku datar-datar saja." Najira memaksakan senyum.
"Aku mempunyai banyak cinta dari Revan, itulah sebabnya aku meninggalkan Bara. Dan Tante harus tau, apa yang sudah aku buang tidak akan pernah aku pungut kembali."
"Kau!!" Rosa mengepal kesal.
"Kau fikir anakku apa? Ceh, Bara tidak akan pernah menyesal kehilangan istri macam kamu, ingat baik-baik itu! Aku akan menikahkan Bara dan Rea secepatnya," ujar Rosa dengan nada tinggi.
"Silahkan saja Tante, tapi yang aku tahu orang tua Rea tidak akan setuju gadis itu menikah muda!" Najira tersenyum.
"Oke, kita buktikan!" Rosa berlalu pergi dengan kesal dari tempat Najira.
Rosa tak terima, ia harus segera meminta Bara melamar Rea bahkan jika memungkinkan untuk menikah bulan ini juga.