
Hari ini hari ulang tahunmu
Bertambah satu tahun usiamu
'Ku doakan bahagia selalu untukmu
Tercapai segala cita-citamu
Selamat ulang tahun, 'ku ucapkan untukmu
Semoga bahagia 'kan mengiringi langkahmu
Tiada yang bisa 'ku beri
Hanyalah doa dan rasa cinta
Yang tulus dariku 'tuk dirimu
Selamat ulang tahun, 'ku ucapkan untukmu
Semoga bahagia 'kan mengiringi langkahmu
Tiada yang bisa 'ku beri
Hanyalah doa dan rasa cinta
Yang tulus dariku 'tuk dirimu
Hanyalah doa dan cinta 'tuk dirimu
( Gelen - selamat ulang tahun )
Bara kembali datang dengan membawakan kue tart di hadapan Rea sambil bernyanyi. Seingat Rea, laki-laki itu tadi pamit ke toilet begitu sampai di sebuah meja yang telah disiapkan dan tak disangka Bara malah mengejutkannya setelah sedari tadi belum mengucapkan apa-apa.
Tes...
Air mata Rea tak kuasa jatuh, ia menangis sambil tersenyum haru saat lilin-lilin di atas tart itu menyala di hadapannya, terlebih lagi suara Bara menyanyikan lagu untuknya, terasa mengalun merdu di telinga.
"Aaa... Makasih, Mas."
"Sama-sama, ayo cium eh tiup," ujar Bara menyunggingkan senyum.
"Ish, iya iya aku mau berdoa dulu," ucap Rea sebelum akhirnya ia meniup lilin berangka dua puluh dua yang menyala.
"Selamat ulang tahun sayang," ucap Bara setelah meletakkan kue tart itu ke atas meja, ia menarik Rea ke dalam pelukan dan setelahnya menghujani wajah Rea dengan ciuman.
"Makasih, Mas. Aku seneng, kamu bahkan mengingatnya tanpa bertanya sama aku, huaaa aku terharu jadi pengen nangis," ujar Rea yang tak kuasa menahan air mata bahagianya.
Beberapa tahun yang lalu, ulang tahun menjadi momen putusnya ia dan Dimas, ada rasa sedih menyeruak tiap kali momen ini datang, bagaimanapun pertama kali Rea merasa jatuh cinta adalah dengan laki-laki itu, pertama kalinya ia merasakan bahagia yang membumbung tinggi kemudian dipatahkan sepihak olehnya. Memang, menaruh ekspetasi terlalu tinggi pada seseorang kerap kali berakhir kekecewaan, jadi Rea tak berharap hal seperti ini akan Bara lakukan akan tetapi kenyataannya, laki-laki itu membayar kesedihan masalalunya dengan kebahagiaan berkali-kali lipat.
"Loh, kenapa nangis, hm?" Bara melihat lelehan bening dari ujung mata kekasihnya. Rea tak menjawab apapun, ia hanya tersenyum dan menatap Bara lekat-lekat.
"Duh, jadi nangis kan. Harusnya bilang I love you gitu biar aku seneng, kok malah nangis." Bara mengusap air mata Rea dengan jemari, lalu memintanya duduk.
"Aku baper, Mas."
"Yaudah karena kamu laper, kita makan dulu baru potong kuenya," ucap Bara.
"Mas, bercanda terus ih." Rea cemberut, sementara Bara justru tergelak. Namun, rona merah pipi Rea tercetak jelas bahwa saat ini ia tengah memalu.
Bara meminta pelayan menghidangkan makanan, dan Rea kembali dibuat takjub dengan laki-laki di hadapannya yang mempersiapkan segala sesuatu untuknya.
Sambil menunggu, Rea termangu menatap Bara.
"Kado buat kamu, Rea."
"Mas, aku udah dikasih kejutan bertubi-tubi dan kamu masih nyiapin kado buat aku?" tanya Rea tak percaya. Bara hanya tersenyum penuh arti, bahkan setelah ini ia masih memiliki satu kejutan untuk kekasihnya.
Bara meminta Amel dan yang lain menyiapkan pesta kejutan kecil di kos untuk Rea setelah ini.
"Bukan apa-apa, dibanding kamu ini semua gak ada artinya, Rea."
"Duh, aku mau pingsan nih. Makin meleyot sama kamu Mas."
"Potong kue atau makan dulu?" tanya Bara.
"Potong dulu yuk, kan buat Mas Bara juga. Aku mau mode romantis masa nggak bisa diabadikan?"
"Gampang, yaudah aku suruh Mbak-mbaknya yang foto," ujar Bara menunjuk pelayan yang tak jauh dari mereka, makhlum saja Bara memesan lantai atas khusus untuk dirinya dan Rea, tidak ada pengunjung lain.
"Ya boleh Mas."
Bara pun meminta tolong kepada pelayan untuk mengambil foto mereka berdua. Rea memotong kue bersama Bara, kemudian saling menyuapi menjadi momen romantis mereka. Terlebih saat Bara memakaikan liontin, kado untuk Rea. Gadis itu semakin tak kuasa menahan bahagianya.
Kejutan, makan malam romantis, kado dan sikap manis Bara membuat Rea berangsur melupakan kesedihan kenangan ulang tahunnya, dengan tersenyum ia merangkul tangan Bara seolah tak ingin melepaskan laki-laki itu barang sedikitpun. Andai ia punya satu permintaan yang bisa langsung terkabulkan, maka Rea akan meminta menjadi istri Bara saat ini juga.
"Langsung pulang Mas?"
"Hm, nanti kamu juga tahu sayang."
Di sisi lain, Tama yang mengantar Aron dan Rosa ke Bandung terkejut dengan rencana pasangan pengusaha itu yang datang menemui orang tua Rea untuk menentukan tanggal pernikahan mereka.
Sial sekali bagi Tama, selangkah keduluan oleh Bara membuatnya gagal mendapatkan hadiah mobil, belum lagi laki-laki itu pasti akan mengejeknya terus menerus jika benar akan menikah lebih dulu. Memang nasib, bahkan Bara sudah mau menikah dua kali dan ia baru aktif berkencan itupun selalu terhalang pekerjaan dari mereka.
"Jadi Rea menikah lebih dulu, Bu?" tanya Revan dari ambang pintu yang terkejut mendengar penuturan Aron dan Rosa.
Neya menatap Revan, dia bahkan datang sendirian lalu meski ragu ikut bergabung dalam pembicaraan mereka.
"Hya, saya hanya ingin yang terbaik untuk mereka. Lagi pula, Bara juga sudah tak sabar menikahi Rea. Saya dan istri saya juga yakin kalau Rea tak jauh berbeda dengan Bara."
"Baik kalau begitu, kami akan mulai atur segala sesuatunya," ujar Alex dan Neya.
Revan tertegun, akan tetapi wajahnya mengangguk setuju. Terlebih saat melihat Alex dan Neya orang tuanya sama sekali tak keberatan.
Revan sudah menentukan tanggal, akan tetapi tanggal itu dua bulan lebih setelah tanggal yang ditentukan untuk pernikahan Bara dan Rea.
"Tak apa, jika dia mencintaiku tentu tak akan keberatan dengan keputusan ini. Toh, pernikahan Bara dan Rea cepat atau lambat pasti terjadi," batin Revan, meski agaknya ia sering melihat Najira diam-diam memperhatikan Bara jika bersama Rea. Ia berusaha menguatkan hati dan yakin, bahwa wanita itu tak pernah mengingkari janji.
***
"Surprizeee..." teriak Amel, Amy, Devan begitu Rea mau masuk ke dalam kamar, ketiga orang itu keluar dari kamar Amy sambil membawa cup cake coklat dengan lilin diatasnya.
"Happy birthday, bestie."
Rea menutup mulutnya tak percaya, sementara Bara di belakang Rea diam-diam mengacungkan jempolnya untuk mereka, untuk usaha mereka.
"Aaa... thanks, ya ampun kalian."
"Hehe, sorry Rea. Tadi pagi kami emang sengaja kan gak ngungkit masalah ultah kamu, rencananya sih sore eh kamunya malam malah baru pulang sama Mas Bara." Terang Amel.
"Iya, aku pikir kamu bakal hibernasi seharian di dalam kamar kos," ujar Amy.
"Pokoknya happy birthday, wish u all the best Rea sayang," ujar mereka hampir bebarengan.
Devan pun turut mengucapkan, meski sebenarnya masih agak canggung karena bagaimanapun ia pernah menaruh rasa dengan Rea.