
Bahagia itu kita yang buat, mau seperti apapun hidup asal sama kamu, aku rasa aku bahagia~
Rea_
Pipinya semakin bersemu merah karena telah menjadi pusat perhatian banyak orang, terlebih tangan Bara sedari tadi tak lepas dari tautannya membuat Rea berulang kali menghela napas merasakan perasaan campur aduk. Haru, senang, bahagia yang membuncah di dada, satu persatu temannya hadir semakin membuatnya ingin menangis histeris.
"Congrats, Bro!" Devan datang bersama Amy, pun juga Amel yang terpaksa berangkat sendiri sebab Tama harus mengurus pernikahan Bara bersama orang kepercayaan Alnav.
"Selamat, Kalian. Ah aku seneng lihat kalian nikah, semoga Mas Bara sama kamu dikasih banyak anak, biar dijauhkan dari pelakor-pelakor." Amel menyunggingkan senyum, menjabat Bara kemudian berganti memeluk Rea.
"Makasih, Amel, Amy."
"Utuuuu Rea sayang, habis ini baik-baik sama lakimu ya, jangan lupa kado dari kita dipakai dinas!" bisik Amy.
Rea hanya memutar bola matanya malas karena tak paham perkataan Amy.
"Mas Bara, pasanganku mana?" tanya Amel menekuk wajahnya, sebab belum melihat keberadaan Tama.
Bara hanya terkekeh tanpa dosa, sebab ia menyuruh Tama menyiapkan peristirahatan untuk keluarganya juga kamar pengantin untuk Rea.
"Sebentar lagi juga bertemu," ujar Bara.
"Eh kami tinggal dulu," sambungnya menarik tangan Rea sebab harus menyambut tamu-tamu lain yang mulai berdatangan.
Bara menghampiri kedua orang tua dan mertuanya. Meski kewalahan, mereka akhirnya bisa bernapas lega sebab para tamu sudah duduk dengan tenang.
"Banyak banget tamunya, Mas?"
"Hya, mereka teman bisnis Papa sayang, apa kamu sudah lelah?" tanya Bara.
"Hm, kakiku dan perutku sakit," ujar Rea.
Bara hanya bisa menatap iba Rea yang sesekali meringis merasakan sakit. Namun, untuk mundur masih belum memungkinkan sebab tamu-tamu masih banyak dan acara belum usai.
Alunan musik clasik menemani, dan Bara dibuat terkejut oleh MC yang memintanya untuk berdansa dengan Rea di depan.
"Aku mana bisa, Mas?" Rea tampak ragu, akan tetapi Bara menyakinkannya.
"Kamu cukup ikuti gerakanku dengan tangan kita begini," ujar Bara seraya menggenggam tangan Rea.
"Aku gugup!"
"Sabar, ini nggak akan berlangsung lama," ujar Bara yang lebih mirip bisikan dan mengedipkan sebelah matanya.
Bara menggenggam tangan Rea, mengajaknya bergerak mengikuti alunan lagu romance.
Beberapa pasang mata yang melihat tampak terkagum, sebab meski Rea dalam keadaan gugup di mata para tamu mereka adalah pasangan yang sempurna.
"Kapan ini berakhir, Mas?" tanya Rea.
"Apa kamu sudah tidak sabar, hem?" goda Bara. Rea seketika memalingkan wajahnya bersama dengan itu tanpa sengaja ia menangkap Najira terdiam memperhatikannya.
Rea tak melihat keberadaan Revan di sisi wanita itu, apakah Najira sengaja menyendiri untuk melihat ia dan Bara lalu mengumpatinya sepanjang acara, bisa saja kan? pikiran Rea memang seburuk itu, sekritis itu jika menghadapi Najira.
"Jangan memikirkan apapun tentang Najira, aku akan membawamu pergi jauh darinya setelah ini," ujar Bara seolah tahu apa yang membuat Rea merubah ekspresinya.
"Hm, iya Mas."
Rea tersenyum, melapangkan dada. Asalkan wanita itu tak berusaha mengganggu ia dan Bara, Rea akan mencoba menerima.
Terlebih, melihat Bara sama sekali tak perduli dengan mantan seharusnya cukup menjadi bukti bahwa mereka benar-benar usai.
Acara pun hampir selesai, tamu-tamu mulai berkurang dan Bara mengajak Rea menghampiri ke empat orang tuanya.
"Ma..." panggil Bara pada Aron.
"Iya sayang, kalian lelah ya?" Rosa menoleh, ia seperti tahu apa yang akan dibicarakan oleh Bara dan Rea. Sedangkan Aron sibuk menyapa sebagian koleganya yang masih berada disana.
"Iya, Rea sakit perut dan aku tak tega..."
"Benarkah?" tanya Rosa, ia menatap Rea yang sedikit meringis.
"Iya, Ma."
"Tapi, aku belum pamit sama Ayah dan Ibu," ujar Rea.
"Tak apa sayang, biar nanti Mama yang bilang ke Ayah dan Ibumu."
"Makasih, Mama baik!" puji Bara tersenyum, lalu dengan tak sabar mengajak Rea pergi.
"Mas aku udah nggak kuat nih, kayaknya bukan cuma perutku yang sakit kepalaku juga mulai pusing," keluh Rea.
Bara berhenti, ia menatap Rea yang sudah tak sesegar tadi. Meski polesan make-up Rea membuatnya terlihat sangat cantik, tapi Bara bisa melihat sorot mata istrinya yang sangat kelelahan.
"Naiklah ke punggung, biar kugendong kamu sampai kamar." Bara maju selangkah, membungkukkan badan, akan tetapi Rea tak merespon dan hanya diam di tempat.
"Mas, ribet banget mana gaunnya gini masa mau gendong," ujar Rea bingung.
Bara menoleh, ia mengerti kesulitan Rea kemudian membalikkan badan dan mendekat pada sang istri.
"Ini hanya masalah kecil, suamimu kuat dalam hal apapun bukan," ujar Bara sebelum akhirnya menggendong Rea ala bridal style.
Meski malu-malu, Rea akhirnya mengalungkan tangannya di leher Bara. Merasa beruntung dan bahagia menjadi istri laki-laki itu hingga tak mampu mengucapkan sepatah kata pun mewakili rasa syukurnya. Yang pasti Rea berharap, sikap Bara tak akan berubah padanya sebulan lagi, setahun lagi, dua tahun lagi dan tahun-tahun seterusnya.
"Sudah sampai," ujar Bara, Rea yang sedari tadi fokus pada wajah suaminya terkejut saat mendapati ranjang pengantin penuh dengan bunga mawar.
"Wahhh, apakah ini?"
"Kejutan, malam ini milik kita," bisik Bara merebahkan Rea ke atas ranjang. Namun, wajah Rea mendadak semakin pucat dan keringat dingin keluar padahal AC sedang menyala.
"Rea?"
Rea diam tak bergeming, pikirannya melayang memikirkan, apakah Bara akan kecewa jika ia menolaknya malam ini, sebab entah mengapa tubuhnya sangat lelah dan lemas.
"Ahh, maaf Mas. Aku sungguh kelelahan," ujar Rea.
"Apa aku perlu panggilkan Dokter?" tanya Bara khawatir. Ia bukan sedang mengkhawatirkan malam pertamanya, akan tetapi ia sedang mengkhawatirkan Rea yang semakin pucat meski bermake-up.
Rea menggeleng, "maaf tapi tubuhku lemas sekali, Mas."
"Tidak apa, aku tidak memaksamu, sayang. Katakan apa yang kamu rasain? bilang sama aku." Bara meraih telapak tangan Rea dan meletakkannya di pipi.
"Lemas, pusing."
"Tunggu bentar sayang," ujar Bara bangkit, ia membiarkan Rea beristirahat kemudian mencari ponselnya untuk menghubungi Tama.
***
Drttttt...
Tama berdecak, ia baru saja melepas ciumannya karena mendengar dering ponsel. Sedari pagi, ia sudah repot mengurusi Bara dan baru sebentar memiliki kesempatan bersama Amel, laki-laki itu menghubunginya lagi.
"Kenapa tak diangkat?" tanya Amel, pipinya masih merona karena Tama yang tiba-tiba menariknya ke tempat sepi dan menciumnya.
"Dia sungguh pengganggu!" kesal Tama.
Amel mengusap bahu laki-laki itu, "Mas Bara itu bossmu, Mas. Angkat, kali penting. Lagian ini hari pengantin mereka, untuk apa dia jahil menghubungimu kalau tidak ada sesuatu yang ugrent."
"Ah baiklah, aku akan mengangkatnya!"
"Hallo?"
"Ck! Kau ini lama sekali, Tam! Panggil Dokter dan Bawa ke kamar pengantinku!" titah Bara.
"Ada apa?"
"Cepat atau aku pecat kamu!"
Tut..
Bara menutup telepon sepihak membuat Tama kembali berdecak.
"Benar-benar," keluhnya menggelengkan kepala.