
Andai karma semanis kurma, kepergianmu sama sekali bukan penyesalanku. Tapi, apakah sesuatu yang berawal dari kesalahan masih boleh berharap bahagia?
Segalanya menjadi semakin rumit sekarang~
Najira_
***
Perkataan dokter terus berdengung di kepala, dengan keraguan ia membaca lembar pemeriksaannya siang tadi. Hya, Najira melakukan pemeriksaan tanpa sepengetahuan Revan dan Dokter bilang, ia tak lagi punya kesempatan mengandung pasca keguguran kemarin, kalaupun ada mungkin itu keajaiban sebab vonis Dokter membuat kepalanya terasa berat.
Pikirannya hanya satu, bagaimana jika Revan menginginkan anak darinya? apa yang harus ia katakan?
Najira menangis, ia menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal dan meremas kuat kertas itu sambil terisak. Cukup lama, hingga ia melempar kertas tak beraturan itu ke sembarang arah, dia kesal, dia marah, dia kecewa dengan dirinya sendiri.
Andai dia tak mengkhianati Bara, mungkin Tuhan tak akan menghukumnya seperti ini? Najira merasa, karma mulai berproses padanya.
"Mas, maafkan aku," lirih Najira di sela isaknya. Ia menangis meratap, hingga pagi menjelang matanya bengkak karena air mata semalam.
"Kamu kenapa? kok lesu gitu?" tanya Revan, pagi ini ia berencana mengajak Najira mulai mengurus segala keperluan untuk pernikahannya, meski tanggalnya masih jauh, Revan dan Najira sudah mulai mempersiapkannya mulai dari sekarang, sebab ia bukanlah Bara yang bisa melakukan segalanya dengan mudah. Namun, pagi ini mendung menghiasi wajah Najira membuat Revan menatap wanita itu lekat-lekat, memecah tanda tanya di kepala, ada apa sebenarnya dengan sang kekasih?
"Hanya kurang tidur, Mas. Semalam kepalaku berat banget," ujar Najira.
"Kamu sakit, kalau kamu sakit istirahat aja ya, gak perlu dipaksa." Revan mencoba memeriksa dahi sang kekasih.
"Hm, gak apa-apa. Ayo, mungkin sedikit makan jauh lebih baik," ujar Najira, ia menyunggingkan senyum.
Revan menghela napas, lalu menarik jemari itu agar menggenggam tangannya dan berjalan ke arah mobil. Revan tahu, Najira sedang menyembunyikan sesuatu, entah apa.
Saat ini, ia hanya bisa percaya pada wanita itu dan menutup kecurigaannya dengan sikap.
"Apa dia mulai menyesali keputusannya menikah denganku?" batin Revan. Namun, hal itu sama sekali tak terlontar, Revan memilih menerka-nerka sendiri dalam hati.
Revan mengajak Najira ke Bandung, menyiapkan segala keperluan mulai dari tempat, wedding organizer, hingga pesan catering. Revan sungguh tak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Sebagai lelaki, memutuskan menikah maka ia sudah mempersiapkan banyak hal.
"Huh leganya, semua udah siap," gumam Najira menatap Revan.
"Hm, meski agak sedikit repot tapi ada bangga disini," ucap Revan menepuk dadanya.
"Makasih, Mas."
Revan menatap ke depan, fokus pada kemudi hingga bibirnya memberanikan diri menanyakan keraguannya dalam hati.
"Kamu bahagia, honey? apa kamu akan menyesal nanti menikah dengan laki-laki sepertiku?" tanya Revan, ia sengaja tak memandang ke arah Najira, tak ingin menebak jawaban dari sorot mata wanita itu.
"Aku bahagia, Mas. Sangat-sangat bahagia, justru aku takut kamu yang akan menyesal menikahi wanita sepertiku. Di luaran sana, banyak wanita sempurna, cantik dan tentunya masih gadis," ujar Najira.
"Sejak awal aku udah milih kamu, Honey. Kalaupun wanita lain lebih sempurna, itu karena mereka mendapatkan laki-laki hebat, tidak sepertiku!" tegas Revan.
Najira hanya bisa tersenyum menanggapi Revan. Menurutnya, laki-laki itu lebih dari sempurna meski tak dipungkiri kadang rasa kesal menelusup saat melihat Bara begitu manis terhadap Rea, tapi cintanya lebih besar ke Revan, ia akan lupa dengan masalalunya jika sudah berdua dengan Revan.
Revan mengajak Najira mampir ke rumah orang tua sementara istirahat sebelum kembali ke Jakarta.
***
Sisi lain, Bara sudah diperbolehkan pulang. Namun, ia harus menjalani pemulihan di rumah sampai benar-benar sehat.
"Rea mana, Ma?" tanya Bara saat hanya Aron dan Rosa yang mengurus kepulangannya.
"Rea kuliah, kenapa? mau nunggu dulu?" tanya Rosa.
Bara mencoba mengirim pesan pada gadis itu akan tetapi nihil tak ada balasan.
"Kita pulang," ucapnya.
"Astaga, iya, Pa."
"Jangan iya-iya aja Bara, mau menikah sudah pasti banyak godaannya. Entah itu dari orang lain, atau emosi dalam diri kita karena hal-hal sepele. Terus kendalikan dirimu, kasih pengertian dan ruang ke Rea karena bagaimanapun dia masih muda dan kamu..." Rosa menjeda ucapannya seketika lalu terdiam.
"Ya, aku sudah tua," dengus Bara.
Rosa terbahak, ia mencoba membantu Bara duduk di kursi roda sebelum mendorongnya ke parkiran. Meski bisa jalan, jarak bangsal ruang rawat Bara ke parkiran cukup jauh jadi mereka memutuskan mendorong Bara menggunakan kursi roda.
"Kau cukup sadar rupanya, Boy!" ejek Aron.
"Hmmm." Bara hanya bisa memutar bola matanya. Tidak Rea, tidak orang tuanya kenapa hobi sekali mengejeknya tua padahal Bara selalu meyakinkan diri meskipun tua dia tetap mempesona.
Bara diam, matanya fokus pada ponsel dimana ia berusaha menghubungi Rea. Namun, bahkan sampai di rumah gadis kecil itu masih belum bisa dihubungi.
"Nona, mobil Mas Bara sudah datang," ucap Art.
Rea langsung tersenyum sumringah. Tadinya ia hendak datang ke rumah sakit dan ikut menjemput akan tetapi Rosa menghubungi dan meminta dirinya untuk menunggu di rumah dan membuat kejutan untuk Bara.
"Selamat datang kembali, Mas." Rea menyambut Bara dan kedua orang tuanya di ambang pintu rumah besar itu bersama para pekerja di rumah orang tua Bara.
"Re, ternyata kamu disini." Bara menatap Rea tak percaya, berusaha menghubungi gadis itu dan ternyata malah bekerja sama dengan orang tuanya di rumah untuk menyambut.
"Udah pandang-pandangannya, ayo masuk!" titah Aron, membuat Bara tersadar.
"Papa kaya nggak pernah muda aja," bela Rosa.
Wanita paruh baya itu menuntun Bara untuk duduk.
"Aku bisa sendiri, Mam!" tolak Bara.
"Berlagak kuat di depan Rea," cibir Aron.
"Sudah-sudah ayo duduk. Rea, tolong bantu Bara duduk ya," pinta Rosa.
Rea mengangguk, ia langsung menuntun Bara dan putranya itu sama sekali tak menolak. Rosa yang melihat itu semakin melebarkan senyum, sayang senyum itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba ia kedatangan tamu tak diundang.
"Hai, Tante, Om."
Rosa berubah masam, ia meminta Rea agar mengantar Bara ke kamar tamu yang berada di lantai bawah, sementara dirinya akan menghadapi Alea.
Setelah memastikan Bara dan Rea hilang dari pandangan, wanita paruh baya itu mulai bersedekap dada dan menatap sinis Alea.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Rosa.
"Ma, jangan emosi!" Aron memperingati.
"Tante, bukannya Tante janji mau jodohin aku sama anak Tante, kok sekarang gini? aku tentu datang menagih janji Tante Rosa padaku." sungut Alea.
"Kamu mungkin lupa, kalau aku pernah bilang tidak bisa memaksa Bara menerima kamu. Ya kalau Bara maunya sama yang lain, bagaimana? kamu mau menikah sama orang yang sama sekali gak mau memandang kamu?" tanya Rosa dengan nada sinis.
"Cinta itu kan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, asal Tante sama Om mau melanjutkan perjodohannya, aku yakin lambat laun Bara akan cinta sama aku."
"Hahahaha, pemikiran kamu kuno sekali," ujar Aron sambil terbahak, Alea seketika mendelik.
"Bara sudah punya pilihan, dan kami sudah menetapkan tanggal pernikahannya. Lebih baik kamu pulang, pikirkan bagaimana caranya membersihkan nama kedua orang tuamu!" tegas Rosa.
Alea bangkit, "baik, aku akan pulang tapi bukan berarti aku akan berhenti!" tegas Alea kemudian melangkah pergi.
Rea yang di dalam kamar bersama Bara dalam keadaan pintu tertutup pun ingin tahu, sayang tembok rumah Bara tak seperti tembok kos-kosan miliknya yang bisa menyalurkan suara. Rea bahkan tak mendengar apapun, dan itu membuatnya sangat penasaran.
"Mas, kamu tuh habis sakit bisa-bisanya ya cari kesempatan?" omel Rea saat tubuh Bara menguncinya dibalik pintu saat Rea berusaha menguping.