SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 74



"Kalian istirahat dulu deh, biar Mama yang lihat Papa," ucap Rosa setelah mereka sampai di ruang santai.


"Nemmm, kamu tolong bawa barang-barang Bara dan istrinya ke dalam kamar ya," teriak Rosa.


"Hah, iya Nyonya! Mohon maaf kamar yang sebelah mana?" tanya Inem agak ragu.


"Kamar Bara dong, siapa lagi."


Bara dan Rea saling pandang.


"Em, kamar tamu saja Ma. Bara mau pindah kamar sekalian mau beresin barang-barang di kamar lama. Inem, kamu tolong bawa masuk barang-barang di bagasi," titah Bara.


"Baik, Pak Bara."


Inem berlalu, sementara Rosa mendekati menantunya.


"Mau istirahat dulu apa makan, kalian sudah makan?"


"Udah, Ma. Aku sama Rea istirahat saja," jawab Bara.


Rosa mengangguk, "Mama susul Papa dulu," pamitnya mengusap-usap punggung Rea.


"Mas, kok bisa kebetulan gini di rumahmu ada mangga. Tapi aku pengen makan mangga dulu," ujarnya dengan wajah puppy eyes.


"Ayo ke belakang kalau begitu!" ajak Bara.


Mereka membiarkan Inem memasukkan barang-barang Rea ke dalam kamar. Tidak banyak, tapi cukup membuatnya kerepotan.


"Ck! Menyusahkan saja. Beda sekali sama Bu Najira yang mau bawa barang-barangnya sendiri dan gak manja," batin Inem, art rumah Bara yang masih muda.


***


"Pa, sudah dapat? Rea dan Bara sudah datang tuh. Siap kita eksekusi?" ujar Rosa dari bawah.


Aron bersama satpam rumahnya sedang memanjat pohon mangga yang kebetulan sudah berbuah. Mangga bibit unggul yang sengaja Aron minta tanam beberapa tahun lalu di belakang rumah agar bagian belakang rumahnya sedikit teduh.


"Iya ini, Papa sudah mau turun kok."


Tak berselang lama, Aron sudah mendarat dengan selamat bersama si satpam yang ia tugaskan membawa mangganya.


"Hati-hati Jov, jangan sampai lecet mangganya!" titah Aron pada Jovi.


Sejak rumah Bara di jual, ia kembali bekerja di rumah besar Alnav, sebab Najira menolak mempekerjakannya meskipun gaji bulanan ditanggung Aron.


"Ini hanya mangga Tuan," gumamnya.


"Jov, itu mangga spesial. Di toko buah tidak ada," gerutu Aron.


Baru juga turun, Bara dan Rea sudah menghampiri mereka.


"Katanya kalian mau istirahat?" tanya Rosa, sepertinya misi kali ini bersama Aron akan berhasil.


"Rea mau mangga, Ma." Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ragu, akan tetapi demi istri tercintanya ia rela jika setelah ini Papa dan Mama akan mengintimidasinya habis-habisan.


"Rea mau mangga, biar Mama buatkan rujak buat kamu sayang," ucap Rosa antusias.


"Hah, iya Ma. Tapi..." Rea melirik Bara, suaminya itu mengangguk.


"Rea ikut ke dapur ya, Ma."


"Ayo kalau begitu, Jovi kamu letakkan dimana mangganya tadi?" tanya Rosa.


"Di dapur Nyonya, tanya saja sama Maya atau Inem kalau tak ketemu!" Jovi cengengesan, pandangannya menatap ke arah Rea.


"Memang jauh dari Bu Najira, gadis ini cenderung imut dan sepertinya sangat menyukai Pak Bara," batin Jovi. Ia menjadi salah satu saksi tertinggal pengkhianatan Najira pada Tuannya, sebab pembantu yang memergoki mantan nyonya mudanya sudah dipecat lebih awal.


Mama dan menantu itu sibuk membuat rujak di dapur, sementara Maya membantu mengupas dan Bibi memasak untuk makan malam.


Lain halnya dengan Inem yang bertugas di bagian kebersihan.


"Enak banget kayaknya, Ma." Rea mencium aroma rujak menyengat hidungnya, membuat Rea menelan salivanya karena tak sabar untuk menikmati rujak mangga asam manis pedas buatan Mama mertua.


Rea mengangguk, tanpa sadar ia sudah sangat akrab dengan Rosa hingga langsung mengikuti Mama mertuanya ke belakang tanpa Bara di sisinya.


Rea sedikit menyunggingkan senyum, meski malu-malu akhirnya ia mencicipi rujak buatan Rosa.


"Kalau mau, masih banyak mangga yang Papa petik," ujar Aron tiba-tiba.


"Papa, kamu pikir Rea sedang nyidam apa sampai doyan banget mangga," ucap Rosa dengan maksud memancing Rea.


"Uhuk... Uhuk... " Rea terbatuk lalu dengan cepat meraih air mineral dekatnya.


"Kenapa sayang?" Rosa khawatir.


"Gak apa-apa, Ma. Kepedesan!" Rea tersenyum canggung.


"Yaudah lanjutin makannya," ujar Rosa.


***


Rea menatap Bara, "apa kita bilang aja ya Mas ke mereka? Orang tua kamu?" ujar Rea.


"Bilang, ya?"


Rea mengangguk,


Namun, Bara masih ragu untuk memberitahu Aron dan Rosa perihal kehamilan Rea.


Bahkan ketika makan malam berjalan, Bara masih enggan jujur.


"Tak apa, ini hanya masalah waktu. Kelak, mereka semua akan aku beritahu satu-satu."


"Sayang ini bukannya gift box dari temanmu ya?" tanya Bara saat laki-laki itu membereskan beberapa barang bawaannya dari Bandung.


"Iya, Mas."


Rea yang sedang merebahkan diri hanya mengiyakan.


"Nggak kamu buka?" tanya Bara.


Rea sontak mengerutkan keningnya, "belum aku buka ya?" tanyanya lantas bangkit dan mendekati Bara.


"Buka aja, Mas."


Bara kemudian membuka kotak itu, karena penasaran apa isinya.


"Hah?" Rea langsung meraih dari kotak itu.


"Kenapa, bukankah cuma baju dinas malam?" tanya Bara.


"Ish, Mas. Malu..."


Rea mendelik, ingin sekali mengumpati Amy dan Amel jika bertemu sebab kedua sahabatnya memberikan kado tiga potong ligerie transparan yang sangat seksi.


"Bagus dong, aku kan memang suka yang berfariasi," ujar Bara menggoda.


"Aku nggak mau pakai," gumam Rea, tiba-tiba jadi membayangkan ia mengenakan pakaian seperti itu di hadapan Bara, bukankah ia menjadi sangat memalukan bukan?


***


Brakkkkk!


Eliza melempar koran tepat di hadapan Alea, ia mendekus sebal ke arah gadis yang sengaja ia peralat untuk balas dendam ke Bara. Namun, kini kenyataannya justru laki-laki itu sudah menikah lagi.


"Aku sudah pernah bilang kan gunakan apapun untuk memikat Bara, bahkan jika perlu mengungkit kisah kelam kita!" tegas Eliza.


"Kau, aku sudah mengorbankan semuanya. Bahkan nama baik orang tuaku, aku rela melakukan apapun! tapi, kamu masih terus menyalahkanku hah?"


"Itu karena kamu bodoh! bukankah ajak dia makan, kasih obat dan tidur bersama itu mudah sekali? tapi kamu, bahkan mendekatinya pun tak bisa," kesal Eliza seraya mendekus sebal dan memasang wajah masam.