SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
Bab 37



Bara membiarkan Rea terlelap tuk kemudian ia duduk menghadap luar kaca dimana ia bisa melihat laut lepas malam hari, rintik hujan mulai reda bersamaan dengan geloranya yang membara hilang, terkikis kabar yang mengejutkan.


Najira hamil? berapa bulan? pikiran Bara menerawang, mencoba mengingat-ingat sesuatu. Anak Revan-kah? atau anaknya, mungkin saja.


***


Pagi hari, di sudut koridor rumah sakit, Revan memandang hasil tes dari Dokter lekat-lekat. Najira hamil dua bulan, dan kini ia keguguran? Revan tak kuasa meneteskan air mata, bagaimana kalau Najira sendiri belum mengetahuinya? mengetahui kenyataan dia hamil? Ia termenung sambil menunggu proses kuretase untuk mengurus janin yang sudah tak bernyawa itu. Hya, Revan pikir memang ia yang harus mengurusnya karena Najira sudah tak memiliki siapa-siapa, sedang untuk melakukan tindakan menunggu Najira sadar itu lebih tidak mungkin lagi.


"Kamu yang bernama Revan?" tanya laki-laki paruh baya berwajah tegas, dialah aron. Pagi-pagi sekali datang ke rumah sakit, karena menurutnya Najira masih tanggung jawab keluarga Alnav meski pernikahannya dan Bara sudah usai.


"Ah, Maaf. Saya kurang memperhatikan sekitar, hya saya Revan. Anda mengenal saya?" tanya Revan.


"Saya Papanya Bara, kamu tentu sudah tahu siapa Bara kan?"


Deg.


"I-iya, saya hanya tau," jawab Revan canggung, bagaimana ini, pikirnya? Revan sedang kalut dan sekarang harus berhadapan dengan mantan mertua Najira, bukankah itu sama saja cari mati.


"Saya minta maaf," ucap Revan menunduk.


"Hm." singkat Aron.


"Saya yang sudah menyebabkan Bara dan Najira bercerai, saya mengaku salah,--"


"Saya tahu," ucap Aron dengan ekspresi dingin.


Merestui Bara dengan Rea bukan berarti ia membenarkan tindakan Revan dan Najira. Meski begitu, ini bukan saat yang tepat untuk membahas hal-hal yang sudah lewat.


"Saya titip Najira, nanti saya kembali. Kamu baik-baik menjaganya," ucap Aron, ia datang untuk sekedar mampir sebelum berangkat ke kantor. Aron ingin melihat bagaimana keadaan Najira, dan ternyata mantan menantunya itu masih belum sadarkan diri.


***


Manusia tetaplah manusia, sebaik apapun ia bersikap selalu memiliki sisi kurang.


Manusia tetaplah manusia, sebanyak apapun berusaha menjadi baik ia adalah tempatnya rasa kecewa.


Manusia tetaplah manusia, meski sesempurna apapun itu, akan ada masanya nampak sisi cacat.


Revan hanya mampu menelan getir saat menerima bungkusan kafan putih itu dengan tangan gemetar. Matanya menatap nyeri tubuh Najira yang masih belum sadarkan diri, lalu dengan berat meninggalkannya untuk mengurus pemakaman.


"Mari ikut saya, Tuan Aron memerintahkan saya membawa anda ke pemakaman di daerah X," ucap orang kepercayaan Aron.


"Terima kasih." Revan hanya bisa menurut.


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di pemakaman itu.


"Keluarga Bara secepat itu mempersiapkannya?" Tanya Revan dalam hati tak percaya.


"Mari." Lagi suara orang itu membuyarkan lamunannya, kemudian dengan segera memakamkan janin tak berdosa itu layaknya manusia sungguhan.


Hati Revan merasa pilu, firasatnya mengatakan ada ikatan darah dengan janin itu, atau mungkin memang Najira sebenarnya mengandung benihnya?


"Nak, siapapun Ayahmu, aku berharap kamu tidak akan pernah membenci apa yang terjadi diantara kami. Kamu adalah anugerah terindah, meski pada akhirnya tak dapat kami rengkuh. Berbahagialah, dan doakan Mamamu dari atas sana, agar ia kembali sehat dan mengunjungimu kesini," lirih Revan.


Orang kepercayaan Aron hanya bisa membiarkan Revan setelah selesai memakamkan dan berdiri di jarak lebih dari satu meter.


"Aku harus pergi, Mamamu sendirian. Maafkan aku, aku pasti kembali," gumam Revan seraya mengusap-usap gundukan kecil yang belum ia beri nama itu. Dengan berat hati Revan akhirnya bangkit dan meninggalkan area pemakaman dengan perasaan entah.


Sementara Bara dan Rea sedang dalam perjalanan pulang dari penginapan. Semalam Bara tak bisa tidur alhasil pagi ini wajahnya berantakan. Meski begitu, ia memaksakan diri terlihat baik-baik saja di hadapan Rea.


"Sudah ada kabar, Mas? dari Rumah Sakit?" tanya Rea.


"Sudah, Najira masih belum sadar, sayang. Berdoa saja yang terbaik untuknya," ujar Bara dengan pandangan fokus mengemudi.


"Iya, Mas. Aku berharap Mba Najira lekas membaik," ucap Rea tulus. Seulas senyum terbit di bibir Rea.


Seperti disuguhkan teh manis, Bara tentu tak akan menyia-nyiakannya. Dengan segera menepikan mobil sebentar.


"Mas, hobi bener ngagetin!"


"Hehe ciuman selamat pagi, tadi terburu-buru jadi aku tak mendapatkannya." Bara berujar dengan santai lantas kembali mengemudikan mobilnya.


"Kamu tuh, Mas!" Rea memalingkan wajah, malu.


"Itu baru di pipi Rea, kenapa mesti malu-malu kalau kamu sendiri mau." goda Bara.


"Ih, Mas makin nyebelin." Rea menekuk wajahnya.


"Dikit, Re. Harusnya ciuman selamat pagi ku dapat di pipi kanan kiri, kening dan bibir." aku Bara.


"Nggak akan," jawab Rea.


"Nggak akan nolak kan," ucap Bara, menarik jemari Rea dan meletakkannya di dada.


"Kenapa lagi, Mas?" tanya Rea polos.


"Jantung aku mulai bermasalah lagi, rasain deh. Iyakan?"


"Astaga, Mas." Rea menghela napas melihat tingkah Bara.


"Hahaha, pipi kamu merah sayang." goda Bara.


Rea hanya bisa memayunkan bibir mendengar ucapan-ucapan Bara di sepanjang jalan, ia benar-benar menikmati waktunya bersama laki-laki itu.


Setelah mampir sarapan, mereka langsung menuju rumah sakit dimana Najira di rawat. Bara hanya bisa menurut saat Rea kekeh ingin kesana tanpa pulang lebih dulu.


"Re, aku harap apapun kenyataannya nanti tak akan membuat rasa sayang kita berkurang," batin Bara yang mulai menegang saat mobilnya memasuki pintu masuk rumah sakit Permata Medika.


Rea dan Bara turun dengan tergesa, melihat orang kepercayaan Papanya tak ada disana membuat Bara memutuskan bertanya kepada resepsionis.


"Permisi, Sus. Mau tanya ruang rawat atas nama Najira?" tanya Bara.


"Oh, silahkan lurus kesana dan naik ke lantai dua, di bangsal nomor dua."


"Baik, terima kasih."


Bara menarik pelan Rea, hingga sampailah ia di depan ruang rawat Najira.


"Mas." Rea menepuk pundak Bara saat laki-laki itu terpaku menatap Najira dari balik kaca pintu.


"Iya, Rea." Bara membalikkan tubuh kemudian menarik Rea ke dalam pelukan. Dari jaauh, Revan yang baru saja datang terkejut melihat keberadaan adiknya dan Bara disana.


"Sejauh itukah hubungan Rea dengan Bara?" Revan bertanya-tanya, langkahnya ia percepat agar segera sampai.


"Ehm." Revan berdehem, membuyarkan Bara dan Rea.


"Mas Revan." pekik Rea kemudian mendorong bara pelan.


"Lepaskan adikku," ujar Revan datar.


"Tidak akan, kau mendapatkan mantan istriku dan aku mengambil adikmu. Bukankah itu impas?" tanya Bara.


"Kau!" kesal Revan, ia tak berniat bertengkar dengan Bara, tapi keadaan mendesak emosinya tiba-tiba.


"Sudah-sudah, jangan bertengkar! Mas Revan juga, kekanakan!" kesal Rea.


"Kok jadi aku sih, Re. Kamu lupa perkataanku tempo hari?" tanya Revan.


Rea terdiam.


"Rea mengingatnya, hanya saja dia kekasihku sekarang," ucap Bara yang berfikir, bahwa Revan kemungkinan meminta Rea menjauh darinya.