
"Syukurlah, kamu sudah sadar Mas." Rea mengu lum senyum, berdiri di sisi Bara tepatnya di samping Rosa.
"Lain kali hati-hati, seburu apapun kamu mengejar waktu. Tetap harus jaga keselamatan, lihat nih calon mantu Mama sampai gak mau makan gara-gara kamu," omel Rosa.
"Heheheh iya Mama, bawel banget sejak dapat mantu baru," ucap Bara melirik Rea yang nampak salah tingkah karena Mama dan anak tersebut.
"Bawel juga gara-gara kamu," ketus Rosa, pura-pura ngambek.
"Udah Tante, yang penting Mas Bara gak kenapa-napa," ujar Rea lembut.
Aron hanya menghela napas melihat drama Bara, anak laki-lakinya itu menjadi sangat menyebalkan setelah jatuh cinta. Namun, jauh dalam hatinya juga senang, Bara mendapatkan wanita yang tulus mencintainya, bahkan takut kehilangannya. Aron hanya bisa berharap kelak jika mereka menikah, kebahagiaan akan selalu membersamai meski harus bersisihan dengan orang dari masalalu.
Aron keluar, ia memilih pergi sebentar untuk merokok, sementara Rosa membiarkan Rea menunggu Bara di dalam.
"Aku juga akan keluar sebentar, ehm itu cari makanan. Rea, Tante titip jaga Bara ya?" ucap Rosa beralasan.
"Kan tadi kita habis makan, Tante?" tanya Rea.
"Oh, iya ya, kalau gitu aku akan cari udara segar sebentar," Ucap Rosa melirik Bara.
"Rea, Mama pasti penat. Udah biarin aja," ujar Bara.
Rea mengangguk, setelah Rosa pergi ia duduk di kursi, menghadap ke arah Bara dengan perasaan lega sekaligus senang.
"Mas Bara mau apa? atau mau aku suapin makan?" tawar Rea.
"Nggak ada, cuma mau kamu disini."
"Aku dari tadi juga disini kok!" Rea memalingkan wajahnya salah tingkah.
"Sayang, maaf ya udah buat kamu khawatir."
"Hm, iya Mas. Aku lega banget kamu udah sadar," ucap Rea, meski harus susah payah menetralkan debaran jantungnya.
"Aku gak kenapa-napa, hey! Aku bahkan denger kamu ngomong apa aja, jadi beneran sudah siap?"
Deg.
Rea terdiam, ia menatap Bara lekat dengan pipi bersemu merah, membayangkan laki-laki itu mendengar semua janjinya tadi membuat Rea seketika malu.
"Jadi kamu beneran denger, Mas?"
Bara mengangguk senyum, ia mengisyaratkan Rea agar mendekat dan gadis itu menurut saja.
"Peluk," pinta Bara.
Rea hanya bisa menurut, menenggelamkan wajahnya di dada Bara dengan gerakan perlahan, sebab ia takut akan membuat laki-laki itu kesakitan jika terlalu antusias.
Tangannya mengusap lembut bulu tipis yang tumbuh di rahang tegas nan mempesona itu, sambil memejamkan mata, Rea berharap waktu berhenti sebentar dan membiarkannya berlama-lama berada di pelukan Bara.
"Mas," lirihnya.
"Hm, iya sayang?" Bara mengusap surai hitam Rea dengan perlahan, terlebih tangan satunya terpasang selang infus membuat laki-laki itu kesusahan bergerak.
"I Love you," ucap Rea.
Bara terdiam, akan tetapi bibirnya tersenyum tipis sambil tangannya terus tergerak mengusap pucuk kepala Rea.
"Mas, kok gak di jawab?"
Rea mendongkak, wajah mereka bertemu di jarak hanya beberapa centi. Dan Bara, dengan gesit meraup bibir itu tanpa permisi.
Rea membeku, ia terkejut karena Bara langsung menciumnya. Namun, detik berikutnya ia turut membalas ciuman itu hingga bibir itu saling bertaut melepas rindu.
"Mas, aku malu ini di rumah sakit." Rea mendapati kesadarannya setelah ciuman itu terlepas.
"Hahah, gak apa-apa. Gak akan ada yang lihat sayang, itu jawaban dari ucapanmu!"
Bara menarik hidung mancung itu dengan gemas, "i love you too."
Dari balik kaca jendela, Rosa melihat Bara terlihat sangat bahagia bersama Rea, ia juga melihat kalau Bara sangat mencintai gadis itu.
"Mama pulang sebentar ya, Pa? Mau minta bibi masak buat makan disini sekalian mandi," pinta Rosa.
"Mau Papa antar, Ma?" tawar Aron.
Rosa menggeleng tak setuju, "Bara gimana?"
Huft, Aron mendekus. Andai istrinya tahu kalau Bara sudah sangat sehat untuk ditinggal, andai Rosa tahu kalau anaknya itu pemain drama handal.
"Sudahlah, biar Papa antar! Toh hanya sebentar, Bara sudah besar, Ma. Saat sakit bahkan ia tetap jadi superman-nya Rea, apalagi kalau sehat. Lagian..." Aron menjeda ucapannya, ia hampir saja keceplosan.
"Lagian apa, Pa?"
"Lagian mereka butuh waktu buat berdua," ucap Aron seperti menemukan alasan yang tepat, dan Rosa akhirnya setuju.
"Papa benar, yasudah ayo."
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran, disambut hormat oleh supir Aron. Sepasang suami istri itu lantas masuk ke mobil, kemudian berlalu dari rumah sakit.
***
"Aku dengar Mas Bara masuk rumah sakit," ucap Amel saat ia mengunjungi Tama yang terserang demam sejak dari Bandung kemarin.
"Iya, sebenarnya aku juga ingin kesana. Tapi masih sedikit pusing," ujar Tama.
"Tunggu sembuh dulu, Mas. Lagian kamu sakit bukan kasih kabar ke orang rumah malah menyendiri di apartemen, kalau aku gak datang siapa yang bakal merawat? jalan aja kamu sempoyongan," ujar Amel yang mulai bawel kepada Tama.
"Hah, jadi seperti ini rasanya dibawelin cewek," batin Tama, bukan marah ia malah tersenyum mengamati Amel yang sedang mengomel sambil memeras kain kompres dan meletakkan di dahinya.
"Makasih, Mel." Tama menatap Amel sambil tersenyum.
"Sama-sama, lain kali kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang, Mas. Walaupun kita dekat hanya karena perjodohan tapi..." Amel menjeda ucapannya sebentar untuk meletakkan mangkok kopres ke atas nakas.
"Tapi aku serius sama kamu," potong Tama yang membuat Amel seketika terdiam.
"Sudah istirahat, Mas. Nanti lepas makan aku pulang, jangan maksa ngajak jenguk Mas Bara kalau kamu belum sembuh," ujar Amel.
"Jangan, eh iya!" jawab Tama.
"Kamu makin lama makin bawel ya?"
"Baru tahu kalau aku sebenarnya bawel? bukan hanya itu, aku juga galak. Kalau dibandingin Rea, jauh. Rea itu lemah lembut," ujar Amel.
"Kalau kamu manis, iyakan? mau selembut apapun Rea, kalau sukanya sama kamu gimana?" tanya Tama, membuat Amel lagi-lagi terdiam karena ucapan Tama yang terkesan gombal.
"Jangan gombal."
"Kamu nggak tau aja, kalau aku sebenernya gak bisa gombal. Boro-boro gombalin kamu, pacaran aja belum pernah. Kalau lihat orang pacaran sudah terlalu sering," ucap Tama terus terang.
"Masa? Masa cowok sekeren Mas Tama gak pernah pacaran, bisa geger dunia perhaluan," cibir Amel.
"Aku serius, kamu yang pertama." Tama meraih tangan Amel dan sedikit menariknya saat gadis itu berusaha menjauh dari jangkauannya, tubuh Amel limbung hingga hampir terjatuh di atas tubuh Tama.
"Aaaa apaan sih, Mas Tama!" Pipi Amel merona, ia memalingkan wajahnya karena malu.
"Mari kita pacaran, Mel. Kita mulai semuanya dari awal, dari hati bukan dari kita sebagai pasangan yang dijodohkan, gimana?"
"Mas Tama, gak romantis!" maki Amel.
"Udah ah, aku mau pulang! Dadah, Mas! Makanannya udah aku siapin buat Mas Tama," ujar Amel seraya meninggalkan Tama karena tak tahan lagi dengan modus laki-laki itu.