SUGAR Hot Duda

SUGAR Hot Duda
115. Sugar season 2



Alesya berusaha melepaskan diri, apalagi saat mendengar suara itu sudah jelas kalau suara Galen.


Tubuhnya terseret ke suatu tempat, dan membentur pintu, ia sampai tak fokus melihat ke arah mana dibawa. Berusaha memberontak, meski pun susah, Ale sedang memikirkan cara melawan Galen. Namun, sekuat apapun Ale hanyalah seorang wanita, tenaganya kalah jauh dengan tenaga Galen.


"Empt..." Alesya berusaha teriak meski terbungkam, akan tetapi memang dasar resort bawah dalam keadaan sepi.


Galen membawa Ale masuk ke resortnya dan bergegas mengunci pintu.


Deg.


Jujur saja ada ketakutan dalam diri Alesya, Galen si pemaksa itu sudah berubah menjadi pria jahat yang gila. Bukan mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Karla tapi dia malah sibuk membuntuti dirinya dan Reivan.


"Semoga Mas Reivan sadar aku menghilang," batin Alesya semakin dilanda cemas.


Masih menyeret Alesya naik ke lantai atas, bahkan lengan Ale sudah memar karena cengkraman tangan Galen satunya. Sementara bibir itu masih terbungkam, andai pergerakan Ale sedikit luas ia ingin menendang Galen atau paling tidak bisa menggigit tangan mantan luck nutnya itu.


"Al? Al kamu dimana?" Reivan menyusuri bawah resort, apa istrinya jalan-jalan ke pantai? Tapi apa mungkin secepat itu menghilang?


Reivan sampai bertanya pada orang yang kebetulan lewat tapi mustahil, tak ada yang melihat istrinya.


"Ck!" decaknya. Reivan kembali ke lantai atas dan mengecek cctv disana. Tak butuh waktu lama, setengah berlari dilanda panik membuat Reivan cepat bergerak.


"Tuan ada apa sampai harus mengecek cctv?"


"Istriku hilang, cepat buka cctv luar." perintahnya tak menerima penolakan.


Pegawai keamanan itu mengangguk, sejurus kemudian mereka sudah berada di ruang pantau cctv.


Reivan memperhatikan layar laptop yang terhubung dengan cctv luar resort. Ia melihat Alesya dibekap seseorang.


"Ck, kaya gak asing," seru Reivan. Berdecak saat tahu istrinya digeret dengan kasar dan dibawa masuk ke resort depannya.


Dengan emosi yang hampir meledak ia turun dan menuju resort sebelah.


Sementara Alesya berhasil membuat Galen tak lagi membungkamnya. Ale menendang junior Galen hingga tersungkur, akan tetapi saat itu juga sebuah benda tajam menggores lengannya hingga berdarah.


"Ishhh, jahat kamu Gal. Masih belum puas nyakitin aku, hah?" teriak Alesya meringis.


Galen melempar pisau kecilnya ia tak menyangka akan sampai melukai tangan Alesya, karena dirinya sedang diliputi obsesi.


"Bukan ini tujuanku!" lirih Galen.


Brakkk...


Saat itu juga pintu mereka berhasil di dobrak oleh Reivan setelah berhasil menerobos pintu bawah.


"Mas Reivan." Alesya langsung menghambur ke dalam pelukannya.


"Aku takut, Mas!" cicitnya menahan air mata, tak memperdulikan rasa sakit lengannya.


Reivan merasa ada sesuatu basah menyentuh tangan saat mengusap lengan istrinya. Menyadari itu darah, dengan memba bi buta ia menghajar Galen.


"Bia dab," makinya diliputi emosi.


"Kau menculik istriku, membawanya kesini, kau pikir aku akan diam hah? Ma ti kau."


Alesya semakin terisak kencang, sementara Galen mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan Reivan.


Bugh...


Mencoba melawan meski pukulannya tak sekuat Reivan.


"Mas, udah Mas." Alesya ingin melerai akan tetapi Reivan mengisyaratkan agar diam.


"Gal, stop. Atau aku bakalan benci kamu seumur hidupku," seru Alesya.


Glekk...


Galen menghentikan pukulannya, sementara Reivan memberikan bonus dua bogeman mentah.


Dan yang terakhir, Reivan hampir mematahkan leher Galen kalau tak mendengar jeritan Ale.


"Mas tanganku sakit."


Reivan menoleh, memang benar darah di lengan Alesya masih mengalir. Tanpa basa-basi, Reivan melepas kaos putih miliknya dan merobeknya menjadi dua bagian.


Reivan mengikat luka lengan Alesya dengan kaosnya. Sementara Galen hanya membeku melihat mereka yang berangsur menjauh.


"Ale, kamu beneran sudah mencintai Om-ku!" decaknya sambil meringis.


***


"Al, sakit banget kah?" tanya Reivan khawatir. Mereka sudah sampai di resort. Reivan meminta Ale duduk di sofa.


Lantas pria itu ke atas untuk mengambil kaos lebih dulu.


Tak berselang lama, Reivan turun. Ia bergegas meminta pelayan resort membawa obat p3k.


Dengan telaten membuka balutan kaos di lengan. Sejenak, Ale menatap Reivan ia bersyukur suaminya itu segera menemukan keberadaannya.


"Nggak sakit, Mas! Perih dikit, untung gak dalem."


"Nggak dalem gimana? Lihat ini, mantan kamu itu beneran gila apa, Al." Dengan cekatan pula Reivan membersihkan luka dan darah kering bekas balutan kaos itu dengan alkohol.


"Awww..." ringis Alesya.


"Sakit ya?"


"Ya sakit, Mas! Pelan-pelan," desisnya menahan perih.


Setelah mengoles obat dan menutupnya dengan kasa, Reivan menyandarkan punggungnya di sofa. Meminta Alesya jangan jauh-jauh darinya, bila perlu Reivan akan ikut kemanapun Alesya pergi bahkan jika itu ke toilet.


"Gak aman disini, bisa-bisanya aku kecolongan." Reivan masih marah, masih tak terima Galen mengacaukan honeymoonnya.


Dengan kesal menghubungi Arsen.


"Ya, Tuan?" jawab Arsen di seberang sana.


Reivan melirik Alesya, gadis itu cemberut menatapnya. Dengan kesal Reivan mematikan panggilan tanpa sepatah kata.


"Jangan campur adukan masalah pribadi sama kerjaan," lirihnya.


"Iya iya, nggak jadi." Reivan mengusap kepala Alesya.


"Mau ke dokter?" tawarnya.


Alesya menggeleng, "cuma luka kecil gini. Aku tadi cuma biar kamu berhenti aja Mas. Serem tahu kalau kamu lagi marah gitu."


"Yaudah maaf kali udah buat kamu takut. Sekarang mau ke kamar? Ayo ku gendong, nanti ilang lagi."


"Ishhhh..." Alesya melipat bibirnya.


***


Karla tanpa sengaja bertemu mamanya. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kesedihan, kerinduan juga kekecewaan. Dipeluknya Karla tanpa kata.


"Anak mama," gumamnya pelan.


Karla terdiam tak membalas, apalagi saat melihat abangnya juga ada tak jauh darinya. Seketika ia membeku, "maaf, Ma!" cicitnya pelan.


"Maaf sudah bikin mama malu," lanjutnya lagi.


"Sudah bikin Papa dan abang kecewa, maaf."


"Ayo kita pulang, abang janji akan menghajar pria itu jika menemukannya."


Karla menggeleng, "percuma, bang. Mau menuntut tanggung jawab pun Karla gak akan bahagia. Udah gini aja, biarin Karla hidup di luar dan mandiri."


"Nggak, pokoknya abang harus kasih pacar kamu itu pelajaran." kekehnya.


"Mamanya bang, Mamanya yang menyuruhku menjauh. Jadi percuma, aku cuma bakal direndahin dan dimaki lebih banyak lagi."


Mama dan abang Karla sontak menghela napas, "ya sudah, kamu gugurkan saja bayinya."


Glekkk....


"Nggak, nggak," tolak Karla keras, ia menatap perutnya yang masih datar.


"Biar aja, biar aku rawat sendiri!" seru Karla.


"Kamu cuma akan dapat malu Karla," seru Mamanya.


Karla mundur, "Mama sama abang pulang aja."


Meski dilanda bingung dan serba salah, Karla tak ingin menghilangkan nyawa calon anaknya. Bagaimanapun dia tak bersalah dan berhak mendapatkan kesempatan hidup.