
Brakkk!
Wilson menggebrak meja, Liora sampai terperanjat saking terkejutnya. Setelah semalam menghilang dan pagi tadi kabur dari pernikahan, sore nya Galen pulang ke rumah.
Deru mobil sport yang terparkir di garasi membuat pendengaran sekaligus mata Wilson menajam.
"Seret anak sia lan itu kemari," pekiknya berusaha menahan emosi.
Liora mengusap-usap dada suaminya agar tak meledakkan amarah. Bagaimanapun, mereka adalah orang tua Galen dan Galen adalah putra mereka satu-satunya.
Dengan lesu Galen keluar mobil dan masuk rumah. Namun, terhenti saat di ambang pintu orang suruhan Wilson menyeretnya ke ruang kerja.
"Lepas, aku bisa sendiri!" makinya pada Jalfer asisten ayahnya.
"Saya hanya mengikuti perintah Tuan Wilson!" jawab datar Jalfer membawa paksa Galen.
Galen berulang kali berdecak, ia sudah menduga Papanya akan marah besar.
Baru saja langkahnya masuk ke ruang kerja Wilson, tamparan keras mendarat di pipi Galen.
Plakkk!
"Anak sia lan! Tak tahu diri, memalukan!" pekik Wilson meluapkan amarahnya.
Jalfer menyodorkan tablet dimana video 19 detik Galen dan Karla diputar.
"Apa ini? Kau sungguh melempar kotoran ke wajahku, hah?" bentak Wilson seraya memperlihatkan kelakuan nakal Galen di tablet milik Jalfer.
"Pa, jangan kasar sama Galen!" bela Liora.
"Lantas? Aku harus berlaku lembut pada anak tak tahu diri ini? Yang sudah mencoreng wajahku, membuatku malu karena menyinggung keluarga Alnav? Apa kamu pikir kita masih punya muka menghadapi keluarga Bara di luar sana?" teriak Wilson.
"Dari awal aku bilang? Pikirkan baik-baik menikah dengan Alesya. Pikirkan baik-baik mencintai gadis itu tapi kamu,---" Napas Wilson tersengal sambil menunjuk-nunjuk wajah Galen yang menunduk. Jalfer berusaha menenangkan Tuannya berharap penyakit jantung pria itu tak kambuh.
"Mama tahu, kita dengarkan dulu alasan Galen!" pinta Liora.
Wilson terduduk, memijat pelipisnya yang mendadak pusing karena ulah Galen.
"Aku khilaf, Pa! Karla menjebakku, dia---" Galen terdiam beberapa saat.
"Dia? Dia apa?" teriak Wilson sekali lagi berdiri membuat suasana ruang kerjanya semakin mencekam.
"Tuan, pikirkan kesehatan anda!" peringat Jalfer.
Brukkk!
Wilson ambruk karena serangan jantung. Semua panik saat melihatnya tak sadarkan diri di pelukan Jalfer. Ya, Jalfer sempat menangkap tubuh kekar Wilson sebelum benar-benar jatuh ke lantai. Sementara Liora dan Galen langsung dilanda panik dan ketakutan mengikuti Jalfer membawa Wilson ke rumah sakit.
***
"Apa kau mau mandi? Atau aku dulu?" tanya Alesya tanpa menatap Reivander.
"Mandilah."
"Oh, oke! Jika perlu apa-apa katakan saja," ujar Alesya kemudian melangkah lebar masuk ke dalam kamar mandi. Dilanda gugup sekaligus malu luar biasa apalagi berhadapan dengan Reivander mengingatkannya sekali lagi pada malam yang hampir membuat Alesya gila waktu itu.
Setengah jam menunggu, Alesya tak kunjung keluar sementara Reivander tengah mendapatkan kabar dari Arsen jikalau mantan kakak iparnya masuk rumah sakit karena serangan jantung.
Reivan menaik turunkan alisnya, "benar-benar pintar membuat ulah!" desisnya melempar ponsel ke atas ranjang begitu saja.
Pernikahannya dengan Alesya masih belum sah dimata negara. Mereka bahkan hanya melakukan ijab qobul di depan penghulu demi menutup malu karena ulah Galen. Dan sekarang? Reivander yakin Wilson sedang marah meratapi kelakuan putranya.
"Om! Tolong!" lirih Alesya.
Ia melongokkan kepalanya sedikit ke luar pintu kamar mandi. Melihat Reivander mengusap wajah membuatnya mencebik sebal, tapi tak ada pilihan lain selain meminta tolong pada pria itu.
"Hm, ya?"
Percayalah, Reivander sudah tersenyum meski tipis sekali mendengar permintaan Alesya.
"Oke."
Reivander mendekat dan masuk ke dalam kamar mandi. Alesya membelakangi Reivander, memintanya membuka kancing kebaya yang memang kancingnya terpasang di belakang oleh si pembuat atas permintaan Alesya. Desain kebayanya sendiri sengaja dibuat demikian karena impian malam pertama manis Alesya dengan Galen. Namun, nyatanya impian itu hancur seketika oleh pengkhianatan.
"Breng sek kamu Galen!" umpat Alesya dalam hati.
Merasakan jemari Reivander menyusuri punggung membuka satu persatu kancing kebaya membuat Alesya teringat sang kekasih. Tangannya mengepal erat, matanya memejam hingga tanpa sadar air matanya turun.
"Keluar!" ujar Alesya dengan nada sedikit tinggi.
Reivander mengernyit, akan tetapi merasakan tubuh Alesya berubah menegang membuat kakinya memilih mundur.
Alesya membanting pintu, lalu menanggalkan satu persatu kain yang melekat di tubuhnya. Meringsek masuk ke dalam bathub yang berisi air dingin. Menenggelamkan kepalanya beberapa saat berharap pusing, sakit hati dan kecewa yang didera olehnya sedikit menghilang.
Tak ada malam pertama indah, tak ada Galen yang ia cintai, tak ada pernikahan impian seperti yang ia bayangkan beberapa waktu lalu. Semua sirna, rusak, hancur oleh dua orang yang bahkan sangat berarti dalam hidup Alesya.
Satu jam lebih Reivan menunggu, tak ada suara. Bahkan gemericik air pun tak terdengar dari luar? Apa karena tembok rumah Bara ini kedap suara? Tapi seharusnya suara air di kamar mandi masih bisa terdengar dari luar, bukan?
"Al, Alesya?" panggil Reivan merasa istrinya terlalu lama di dalam kamar mandi.
Istri? Hah, duda setengah mateng itu setengah berdecak dengan keputusan singkatnya mengajukan diri menggantikan Galen.
Tok tok tok...
Belum selesai membuat Alesya keluar kamar mandi, ketukan pintu luar kamar terdengar nyaring.
Dengan wajah kusutnya, Reivander membuka pintu.
"Rea? Ehm, maksudku..." Reivan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana tidak? ia harus memanggil istri Bara dengan sebutan Mama? Mama mertua? Sungguh menggelikan.
"Alesya mana? Kalian turunlah, semua sudah menunggu di taman!"
Reivander mengangguk, sementara Rea masih melongokkan kepalanya harap-harap cemas dengan kondisi metal putrinya karena ulah Galen.
"Dia sedang mandi, sepertinya syok berat." Menyadari kekepoan Rea, akhirnya Reivander angkat bicara.
"Baiklah, ajak dia turun kalau sudah selesai!" pinta Rea.
"Oke."
***
Brakkk! Dalam satu dobrakan, Reivan berhasil membuka pintu kamar mandi setelah berulang kali memanggil Ale untuk segera keluar.
"Oh sh***..." Reivan memekik, mendapati Alesya terpejam dengan wajah pucat pasi.
Sialnya, wanita itu masih tak mengenakan sehelai benang pun. kepalanya bersadar di kepala bathub.
"Al, bangun Al. Jangan bikin geger," decak Reivan. Mengesampingkan gai rah yang sudah diujung tanduk, ia membopong Alesya dan merebahkannya pelan-pelan di atas ranjang. Tak perduli spray yang sudah kebasahan oleh tetesan air dari tubuh Alesya.
Tanpa basa-basi ia meraup bibir ranum itu untuk memberi napas buatan.
Uhuk uhuk,--
Alesya tersadar, sementara Reivan menyusuri laci demi laci untuk menemukan sesuatu yang bisa mengurangi paling tidak rasa sakit yang didera oleh Alesya.
Sshhhh...
Alesya memegangi kepalanya yang semakin nyeri, tubuhnya bahkan menggigil dingin. Reivan lupa kalau Alesya belum memakai pakaian barang sehelai pun.
"Uhukkk, Aaaaa..." Alesya berjingkat kaget saat menyadari tubuhnya polosan.